
Setelah kepergian Aditya kekamar mandi. Felly langsung membuka anting itu dari telinganya dan meletakkannya di atas meja di depan cermin.
" Aku sama sekali tidak menginginkan ini. Tapi dia bahkan mengatakan panjang lebar tanpa mencari tahu dulu," batin Felly yang mengoceh.
Felly beralih keranjang dan membersihkan tempat tidur. Mengambil apa yang tadi di buang Aditya dengan sembarangan. Kata-kata Aditya memang pedas dan pasti melukai hatinya.
Tetapi hatinya bisa saja tidak terluka. Jika dia tidak mencari masalah terlebih dahulu. Memang dia yang mencari gara-gara. Aditya memang benar dia adalah istri dan apapun status pernikahannya yang sebenarnya. Dia adalah seorang istri.
Dan hal tadi memang sangat tidak pantas di lakukannya. Walau kata-kata tradisi. Seharusnya dia juga bisa menjaga dirinya. Agar kejadian tadi tidak terulang lagi.
Tidak berapa lama Aditya sudah keluar dari kamar mandi. Dengan menggunakan pakaian santainya. Sebenarnya masih sore hari Aditya sudah pulang. Tetapi pulangnya yang kecepatan malah menampilkan sesuatu yang membuatnya marah.
Felly melihat sebentar dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Aditya melangkah ke depan cermin untuk mengeringkan rambutnya dan melihat anting yang tadi di pakaian Damar kepada istrinya ada di atas meja.
" Kenapa melepasnya?" tanya Aditya dengan suara dinginnya.
" Aku sudah mengatakan aku tidak menyukainya. Jadi untuk apa aku memakainya," jawab Felly.
" Lalu kenapa menaruhnya di sini?" tanya Aditya yang melihat dari Felly dari cermin.
" Aku akan mengembalikannya nanti," jawab Felly.
" Kau mencari alasan untuk menemuinya dan berbicara kepadanya. Makanya ingin mengembalikannya," ucap Aditya yang langsung sentimen pada Felly.
Felly mendengarnya menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan dan melihat Aditya yang melihat dirinya dari cermin.
" Apa kau tidak bisa. Tidak berpikiran buruk kepadaku. Sekali saja. Selalu saja menuduhku yang tidak-tidak," sahut Felly yang sangat muak dengan Aditya yang terus menuduhnya. Aditya membalikkan badannya menghadap Felly.
" Karena tidak ada perbuatanmu yang tidak membuatku berpikiran buruk kepadamu dan kau tidak pernah menyadari hal itu," sahut Aditya sinis.
" Lalu apa yang harus aku lakukan. Agar kau berhenti menuduhku yang tidak-tidak?" tanya Felly.
" Jangan bertanya jika kau tau apa yang harus kau lakukan. Kau tau apa yang tidak aku sukai. Tetapi kau sengaja melakukannya. Agar aku marah. Semua perkataanku tidak pernah kau dengarkan," ucap Aditya menekan suaranya.
Felly tidak tau harus berbicara apa lagi. Karena percuma bicara Aditya akan selalu benar. Mereka diam saling menatap dengan perasaan kekesalan masing-masing.
tok-tok-tok. Ketukan pintu membuat lamunan pasangan itu tersadar.
" Siapa?" tanya Aditya dengan suara lantang.
" Saya tuan. Ingin mengantarkan belanjaan tuan," sahut suara seorang wanita.
__ADS_1
Aditya langsung melangkah mendekati pintu kamar dan melewati Felly dengan cuek. Aditya membuka pintu kamar dan melihat para pelayan yang membawa kantung plastik dengan 1 merek.
" Ini tuan, belanjaan tuan sudah di keluarkan semua dari mobil," ucap salah satu pelayan yang paling depan yang mungkin yang mengetuk pintu.
" Bawa masuk!" perintah Aditya. Pelayan mengangguk dan langsung memasuki kamar tersebut. Yang juga diikuti pelayan lainnya berjejer masuk bergantian meletakkan belanjaan itu di atas lantai.
" Sedang apa mereka," batin Felly kebingungan.
Felly heran dengan tumpukan kantung plastik itu yang seperti ingin membagikan sembakonya. Membuatnya yang tadi kesal menjadi bingung dan bertanya-tanya apa isi kantung plastik itu? dan kenapa banyak sekali.
" Apa ini, kenapa banyak sekali, apa akan ada pesta lalu kenapa di letakkan di sini," batin Felly kebingungan.
Kebingungan Felly sama sekali tidak terjawab sampai barisan pelayan sudah tidak ada lagi dan Felly dan tumpukan belanja yang semakin banyak bisa di katakan memenuhi kamar.
Aditya menutup pintu kamar ketika pelayan sudah keluar dari kamarnya. Aditya melihat kearah Felly yang di penuhi kebingungan.
" Susun dengan benar dan gunakan sebaiknya," ucap Aditya tampak ketus.
Felly bingung dengan perkataannya. Tetapi Felly berjongkok dan melihat apa isi kantung plastik itu. Sedari tadi dia sangat penasaran.
Felly kaget melihat banyaknya susu ibu hamil. Buah-buahan dan beberapa makanan dan juga vitamin-vitamin.
" Apa kau buta. Apa kau tidak bisa mengetahui apa itu," ucap Aditya sinis.
" Apa semua ini semua untukku?" tanya Felly mengangkat kepalanya melihat Aditya.
" Lalu untuk siapa lagi. Memang aku yang hamil," sahut Aditya dengan kesal.
" Banyak sekali," gumam Felly yang masih schok dengan apa yang di berikan Aditya kepadanya.
" Makanya lain kali. Kalau Dokter bilang apa langsung di kerjakan. Jangan menunda-nunda. Kau ingin bayi itu kelaparan. Makanya kau sangat spele sampai tidak memberinya makanan yang sehat. Apa susahnya hanya membeli itu. Kalau kau tidak punya bilang. Jangan menjadi istri miskin," ucap Aditya mengoceh seperti ibu tiri.
Tetapi ocehan itu berupa perhatian yang di sampaikan dengan cara berbeda membuat Felly seakan tersentuh bahkan mengukir senyum tipis.
Saat Aditya perduli dengan kandungannya. Bukannya Felly tidak mendengarkan kata Dokter. Tetapi dia sangat tabu untuk mencari produk-produk yang sekarang ada di depannya. Dan yang paling utama yang di katakan Aditya. Dia tidak memiliki uang untuk membeli sebanyak itu.
" Kenapa diam! cepat susun semuanya. Jangan membuat menumpuk tidak jelas. Awas saja. Jika kamu sampai boros dengan semua ini. Itu di beli pakai duit bukan pakai daun," ucap Aditya dengan menekankan yang benar-benar sangat perhitungan.
" Iya," jawab Felly. Dia tidak banyak bicara lagi. Jika banyak bicara yang ada dia akan ribut dengan Aditya.
Felly pun membuka semua isi kantung plastik itu dan menyusun kedalam rak yang kebetulan ada di kamar itu. Felly menyusun dengan rapi di mulai dari susu ibu hamil.
__ADS_1
Sementara Aditya. Memilih menaiki ranjang dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dan meletakkan laptop di pahanya. Aditya juga mengerjakan pekerjaannya yang terbengkalai.
" Apa ini memang susu yang benar," batin Felly yang melihat kotak susu itu. Dia juga membaca keterangan kotak itu. Sebelum mengkonsumsi dia harus memastikan kebenarannya dulu.
" Ternyata memang benar. Aku tidak tau. Jiak orang sepertinya bisa membeli semua itu," batin Felly masih tidak percaya dan kembali menyusun dengan rapi. Dari susu, vitamin-vitamin dan biskuit dengan berbagai macam.
Felly sudah selesai menyusunya dan merapikan kantung plastik. Tetapi Felly menyisihkan beberapa kantung plastik yang masih penuh dengan isinya. Lalu berdiri dan membawa kantung plastik itu.
" Mau kemana?" tanya Aditya.
" Aku mau kedapur. Mau menyusun buahnya kedalam kulkas," jawab Felly. Karena kalau tidak di dalam kulkas lama-lama akan rusak.
" Tidak usah. Letakkan saja di situ. Semua itu untukmu. Bukan untuk orang lain. Jadi letakkan di situ," ucap Aditya.
" Tapi.."
" Bisa tidak kalau aku bicara. Sekali saja jangan di bantah," ucap Aditya menaikkan 1 alisnya.
" Ya sudah," sahut Felly yang tampak tidak ikhlas. Felly kembali menyusun buah-buahan itu.
Aditya Menyinggirkan laptop dari atas pahanya dan membuka laci di sampingnya. Saat ingin mencari sesuatu. Aditya menemukan dokumen yang membuatnya penasaran dan langsung mengambilnya.
" Apa ini," gumamnya pelan. Aditya langsung membukanya dan melihat isinya.
..." Surat pengalihan Tanah kepada Felly Valeria Baskoro,"...
Aditya melanjutkan membaca isi dokumen itu dengan teliti.
" Jadi benar kakek memang memberikan tanah pabrik itu kepada menantu pertama. Dan Felly sudah menerimanya," batin Aditya.
Mengingat tanah itu sangat di inginkannya untuk membangun rumah sakit dan saat meminta pada kakeknya.
Kakeknya menolak dengan alasan akan memberikan pada menantu pertama. Aditya juga ribut dengan sang kakek yang beranggapan kakeknya hanya melakukan itu. Karena Damar yang akan menikah.
Tetapi kakeknya memang memberikan tanah itu kepada cucu menantu pertama dan sekarang di berikan kepada istrinya.
" Jadi tanah itu benar-benar menjadi milik Felly,' batin Aditya.
" Aku tidak tau kenapa kakek memberikan itu," ucap Felly tiba-tiba membuat Aditya kaget. Ternyata Felly sudah menyelesaikan pekerjaannya dan melihat Aditya membaca surat tanah itu.
Bersambung......
__ADS_1