
Elia masih terkejut melihat kehadiran Bion yang tiba-tiba saja datang dan belum lagi Bion dengan seorang wanita yang membuatnya penasaran siapa wanita itu sebenarnya.
" Aku tidak percaya bisa bertemu dengan non Elia," batin Bion.
" Bion!" tiba-tiba terdengar suara yang tak lain adalah Aditya.
" Tuan Aditya," sahut Bion ketika membalikkan tubuhnya. Wajah Bion tampak berseri dengan ke hadiran Aditya dan Bion refleks memeluk Aditya dengan erat.
" Kamu apa kabar?" tanya Aditya pada Bion yang masih memeluk Bion. Sementara Felly tersenyum melihat pemandangan manis itu. Lain dengan Elia yang masih fokus pada wanita hamil yang bernama Gina itu.
" Kamu tinggal di mana sekarang?" tanya Aditya yang sudah melepas pelukan itu.
" Saya tinggal di Jakarta tuan," jawab Bion.
" Kamu jangan memanggil dengan panggilan itu lagi. Kita bukan atasan dan bawahan lagi. Kamu panggil saja saya Aditya," sahut Aditya.
" Baik, tu... Maksud saya Aditya," sahut Bion yang tampak aneh dengan panggilan namanya.
" Sudah lama kamu tinggal di Jakarta?" tanya Aditya.
" Baru beberapa Minggu dan memang akan menetap di Jakarta," jawab Bion.
" Siapa ini Bion?" tanya Felly yang mewakili pertanyaan Elia.
" Ini Gina," sahut Bion.
" Hay, saya Gina," sahut Gina dengan mengulurkan tangannya menyapa Felly dengan senyum manisnya yang Ramah.
" Saya Felly, kamu juga hamil," ucap Felly yang menyambut uluran tangan itu.
" Iya, saya hamil memasuki bukan ke-5," jawab Gina. Elia masih belum mendapatkan jawaban yang jelas dengan status wanita itu. Tapi dari wajah Elia dia menebak-nebak jika wanita itu adalah istri dari Bion.
" Semoga kandungan kamu baik-baik saja. Biasanya kalau bulan ke- 5 itu agak ribet," ucap Felly.
" Kamu benar Felly. Tapi untuk mas Bion selalu ada. Jadi bayi dalam kandunganku juga tidak terlalu rewel. Karena ada mas Bion," sahut Gina. Elia mendengarnya menelan salavinanya.
" Jadi benar Bion sudah menikah dan istrinya sedang hamil," batin Elia dengan matanya berkaca-kaca dan Elia bahkan terasa sulit bernapas dengan dadanya yang terasa sesak.
__ADS_1
" Hmmm, ya sudah kalau begitu. Saya seperti harus pergi," sahut Bion.
" Oh iya silahkan. Semoga kita bisa bertemu lagi nanti. Jadi nanti bisa makan barang," sahut Aditya.
" Iya semoga saja. Hmmm kalau begitu kami permisi dulu. Mari," sahut Bion mengangguk.
" Kalian hati-hati ya," ucap Felly. Bion mengangguk dan Bion melihat ke arah Elia sebentar. Namun Elia langsung mengalihkan pandangannya entah kemana-mana.
Tidak ada pamitan dengan Elia Bion dan Gina pun langsung pergi dengan Gina menggandeng lengan Bion dan itu hanya di saksikan Elia dengan perasaannya yang bergemuruh di dalam sana.
" Kamu sudah selesai belanja sayang?" tanya Aditya.
" Belumlah!" sahut Felly, " ayo kak Elia belanja lagi," ajak Felly yang membuat Elia tersentak kaget. Namun Elia langsung mengangguk dan mengikuti Felly. Walau perasaannya sudah tidak tenang.
************
Setelah seharian belanja tinggal Felly yang membereskan belanjaan itu di bantu Aditya dan juga Elia. Tetapi Elia terlihat begitu murung tangannya memang bergerak. Namun pikirannya kemana-mana. Seketika Aditya menoleh ke arah sang kakak dan melihat perubahan kakaknya.
" Kak Elia!" tegur Aditya. Namun Elia tidak menjawab dan tetap saja bengong. Felly pun sampai melihat ke arah Elia yang memang terlihat bengong.
" Hah! iya kenapa?" sahut Elia yang langsung tersentak.
" Apa kakak baik-baik saja?" tanya Aditya.
" Hmmm, iya_ aku_ aku lelah. Aku mau kekamar dulu," sahut Elia yang langsung berdiri dan bergegas pergi ke dalam kamar.
" Ada apa dengan kak Elia?" tanya Felly heran.
" Aku juga tidak tau. Dia tadi padahal begitu semangat. Namun tiba-tiba jadi murung seperti ada sesuatu saja," sahut Aditya heran.
" Hmmm, kamu benar. Ada apa dengannya sebenarnya," sahut Felly yang penuh dengan tanda tanya.
" Sudahlah sayang. Mungkin saja memang kak Elia capek. Kita lanjutkan saja beres-beresnya," ucap Aditya yang berpikir positif.
" Oke," sahut Felly kembali semangat dan mereka kembali beberes perlengkapan bayi yang sudah banyak mereka beli.
*********
__ADS_1
Di sisi lain Bion dan Gina sampai ke Apartement. Di mana memang mereka tinggal di sana selama berada di Jakarta. Mereka masuk dan Gina meletakkan kantung-kantung yang di bawanya tadi di atas meja.
" Siapa mereka tadi?" tanya Gina.
" Pria yang tadi itu adalah bos ku," jawab Bion sambil membuka tasnya.
" Wanita yang bersalaman dengan ku tadi istrinya?" tebak Gina.
" Iya nona Felly adalah istrinya," sahut Bion membenarkan.
" Lalu wanita yang tadi siapa?" tanya Gina. Bion diam sejenak. Namun Gina menunggu jawaban dari Bion.
" Dia kakak dari Aditya," jawab Bion.
" Hmmm, tapi terlihat aneh. Dia hanya diam dan tidak menyapaku. Apa dia memang sombong," ucap Gina mengeluarkan pendapatnya mengenai kesan pertamanya bertemu dengan Elia.
" Tidak Gina. Nona Elia memang orangnya diam," sahut Bion sedikit membela.
" Ohhhhh, begitu rupanya. Ya sudah aku mau mandi dulu," ucap Gina yang langsung pergi dengan membawa kembali belanjaannya yang ada di atas meja. Bion melonggarkan dasinya lalu duduk di sofa dengan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya.
" Kenapa Elia tiba-tiba muncul di pikiranku," batin Bion dengan wajahnya yang terlihat gelisah. Dia mengingat wajah Elia yang tadi di temuinya di Mall.
" Dia bahkan tidak bicara sepatah katapun. Lalu apa yang harus aku bicarakan jika pada akhirnya akan bertemu lagi dengannya. Karena aku akan menetap di Jakarta. Jadi pasti banyak kesempatan untuk berteman dengannya," batin Bion yang kelihatan begitu resah.
**********
Sementara Elia yang berada di dalam kamar yang menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dengan kakinya yang lurus membentang.
Elia masih terlihat murung dan beberapa kali ingatan tentang Bion dan Gina melintas di pikirannya.
" Jadi Bion sudah menikah. Dan memang benar dia berhenti bekerja dari Aditya. Karena ingin menikah. Dia pergi karena ingin membuka lembaran baru dalam pernikahan dan sekarang istrinya sedang hamil. Lalu apa lagi Elia. Apa yang kau tunggu sudah tidak berarti. Dia sudah milik wanita lain. Kenapa Elia kamu tidak pernah sadar dari dulu. Jika kamu tidak mungkin di terima oleh Pria," batin Elia yang begitu sedih.
" Elia stop mengharapkannya dia sudah memliki istri. Percuma pertemuan ini. Pertemuan dalam penantian ini ternyata begitu menyakitkan. Semuanya sangat menyakitkan. Aku tidak percaya jika perasaan ini akan aku rasakan. Sungguh ini luar biasa begitu sakit," batin Elia dengan meneteskan air matanya.
Elia dan Bion sama-sama memikirkan hal itu. Ke-2nya sama-sama mengkhayal dengan posisi masing-masing. Elia yang berada di dalam kamarnya dan Bion yang berada di ruang tamu. Namun sudah berpindah juga memasuki kamar yang mana juga mengingat tentang Elia.
Bersambung
__ADS_1