
Karena mendengar perkataan Felly masalah kehamilan. Akhirnya Laura memutuskan untuk mengecek kondisinya. Benar atau tidak dia hamil. Laura pergi ke apotik dan membeli tespeck.
Laura sudah berada di kamar mandi dan sekarang menunggu hasil tespeck yang sudah di cobanya. Tangannya sangat dingin dan pasti sangat panik menunggu hasil tespeck itu.
" Kenapa lama sekali, bukannya keterangannya hanya sebentar," gumam Laura yang terus gelisah menunggu tespeck tersebut.
Tidak lama akhirnya Laura mengambilnya dan rasanya sudah cukup waktunya menunggu. Laura memejamkan matanya dengan tespeck di tangannya. Lalu Laura membuka matanya dengan menyipit yang tidak berani melihat hasil dari tespeck yang di cobanya.
Sampai akhirnya Laura membuka matanya sempurna. Betapa terkejutnya Laura yang melihat hasil tespeck tersebut yang mana ternyata 2 garis biru. Laura menganga dengan menutup mulutnya dengan tangannya dan air matanya langsung menetes. Karena memang benar dia sedang mengandung.
" Tidak mungkin!" lirihnya dengan napas yang sesak. Laura yang semakin bergetar yang meyaksikan dengan matanya sendiri jika dia memang hamil.
" Tidak. Ini tidak mungkin. Apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mungkin hamil. Ini tidak mungkin," batin Laura yang seakan tidak menerima kehamilannya. Meski anak yang di rahimnya adalah benih dari Pria yang di cintainya. Tetapi tetap saja dia hamil tanpa pernikahan akan membuatnya kebingungan.
" Laura! Laura!" Laura di kagetkan dengan suara yang semakin dekat yang tak lain itu adalah suara mamanya. Dengan cepat Laura mengusap air matanya membuang tespeck tersebut di kloset menyiramnya dan Laura merapikan dirinya. Seolah dia tidak terjadi apa-apa.
" Iya ma," sahut Laura yang langsung keluar dari kamar mandi dan memang benar. Lusi mamanya sudah memasuki kamarnya.
" Kata Felly kamu sakit," ucap Lusi.
" Hmmm, nggak kok mah, hanya tidak enak badan," jawab Laura mengelak dan berusaha untuk tenang.
" Ya sudah ayo kita ke Dokter, mama juga sekalian mau cek kesehatan," ajak Lusi. Jelas hal itu membuat Laura kaget.
" Tidak, aku tidak boleh ke Dokter. Mama bisa tau. Kalau aku hamil," batin Laura yang kepanikan sendiri.
" Laura kenapa masih berdiri di sana. Ayo!" ajak Lusi.
" Hmmm, ha, itu ma. Aku sudah minum obat dan sekarang sudah enakan. Jadi nggak perlu ke Dokter," jawab Laura dengan gagap.
" Kamu yakin?" tanya Lusi merasa ada yang aneh pada Laura.
" Iya ma, aku yakin. Mama pergi saja. Biar Laura istirahat di sini," ucap Laura yang berusaha untuk tenang.
" Hmmm, ya sudah kalau begitu. Kamu istirahatlah, mama pergi dulu," ucap Lusi yang akhirnya pamitan.
" Iya ma," sahut Laura. Setelah kepergian Lusi, Laura membuang napasnya perlahan. Dia merasa sudah benar-benar aman.
" Untung saja. Untung saja. Aku tidak jadi ke Dokter. Lalu bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan. Damar, dia entah kemana dan aku hamil anaknya. Bagaimana aku menghadapi semua ini. Jika mama tau aku hamil. Ini akan menjadi masalah besar," batin Laura yang kepanikan sendiri.
Laura memang harus menerima resiko akibat cinta indah yang di anggapnya. Ayah dari bayi di kandungannya bahkan tidak tau di mana.
***********
Laura masih tidak percaya jika dia benar-benar hamil. Laura pun memutuskan ke Dokter untuk memperjelas. Apa kah benar dia hamil atau tidak.
" Bagaimana Dokter?" tanya Laura yang duduk di depan Dokter.
" Ya, Bu Laura mengandung 2 Minggu," jawab Dokter. Laura sudah tidak bisa mengelak lagi yang memang kenyataan dia hamil.
" Selamat ya Bu Laura. Kandungan Bu Laura masih sangat lemah. Jadi Bu Laura harus menjaga janinnya dengan baik," ucap Dokter memberikan saran. Namun Laura sama sekali tidak menanggapi apa kata Dokter. Dia hanya murung yang penuh dengan melamun.
" Ini resep untuk menghilangkan mual-mual," ucap Dokter memberikan pada Laura. Laura masih bengong dan bahkan mengangguri apa yang di berikan Dokter.
__ADS_1
" Bu Laura!" tegur Dokter membuat Laura tersentak kaget.
" Hah, iya kenapa Dok?" tanya Laura kaget.
" Ini resepnya," ucap Dokter.
" Oh iya, makasih Dok!" sahut Laura yang langsung mengambilnya.
tok-tok-tok-tok.
tiba-tiba pintu di ketuk.
" Masuk!" perintah Dokter yang ternyata seorang suster.
" Ada apa suster?" tanya Dokter tersebut.
" Pak Aditya dan Bu Felly sudah sampai," jawab suster tersebut.
Mendengarnya Laura kaget dan matanya bahkan sampai melotot.
" Aditya dan Felly. Apa mereka ingin cek kandungan. Gawat jika mereka menemuiku di sini," batin Laura panik.
" Hmmm, Dokter saya permisi dulu!" Laura langsung berdiri dengan buru-buru sebelum di temui oleh Felly dan Aditya.
" Oh, iya baiklah. Jaga pola makan yang sehat ya," ucap Dokter mengingatkan.
" Iya Dok," sahut Laura yang langsung pergi.
**********
Laura ternyata tidak pulang. Laura berdiri di depan pintu salah satu perawatan yang mana ternyata ada Felly yang di temani Aditya yang sedang memeriksa kandungan.
Hati Laura tersentuh ketika melihat di depan matanya. Bagaimana Felly yang tersenyum saat Aditya mengusap-usap perut Felly dan beberapa kali menciumnya.
Laura menjadi sedih. Karena sejatinya. Laura tidak bisa seperti itu. Dia juga hamil. Tetapi ayah dari bayinya entah di mana dan dia juga tidak tau apa reaksi Damar ketika mengetahui kehamilannya.
Laura belum bisa membayangkan bagaimana nasibnya selanjutnya. Jadi Laura hanya bisa sedih dengan memegang perutnya yang masih ramping. Laura kembali meneteskan air mata dan memilih untuk pergi sebelum Felly dan Aditya melihatnya ada di sana.
**********
Aditya dan Felly setelah selesai memeriksa kandungan. Mereka keluar dari ruangan Dokter.
" Kita mau kemana sekarang?" tanya Aditya.
" Hmmmmm," Felly tampak berpikir kemana lagi tujuannya setelah ini. Aditya masih saja menunggu jawaban istrinya itu yang menggemaskan itu.
" Hey, katakan kemana?" tanya Aditya yang gemas.
" Kemana ya," sahut Felly masih berpikir-pikir. Aditya harus sabar dengan istrinya itu.
" Bagaimana kalau kita makan," jawab Felly.
" Makam?" tanya Aditya memastikan. Felly mengangguk.
__ADS_1
" Memang kamu mau makan apa?" tanya Aditya.
" Aku mau makan siput," sahut Felly.
" Itu berarti kita harus cari Restaurant di dekat pantai," sahut Aditya.
" Hmmm, kamu benar," sahut Felly mengangguk dengan wajahnya yang tersenyum lebar.
" Ya sudah, ayo kita cari," sahut Aditya tanpa masalah. Felly mengangguk dan mereka pun pergi dengan tangan mereka yang saling menggenggam.
************
Tidak lama Felly dan Aditya akhirnya menemukan tempat makan yang mereka cari. Ya di mana lagi kalau bukan di pantai. Sebelum memesan makanan ternyata Felly dan Aditya harus memilih-milih siput-siput yang segar-segar dulu sebelum di konsumsi.
" Yang ini aja," tunjuk Felly pada lobster. Aditya mengangguk dan mengambilnya.
" Yang mana lagi?" tanya Aditya yang tampak ingin memanjakan istrinya.
" Ini, juga boleh, yang ini, ini, ini," Felly pun memilih semua yang di inginkannya. Aditya pun menurutinya. Karena memang hari ini semua di serahkannya pada Felly.
" Ada lagi?" tanya Aditya.
" Nggak ada lagi. Sudah cukup," sahut Felly mengangguk tersenyum.
" Pak yang ini semua ya. Kami di meja sana. Jadi nanti antarkan," ucap Aditya memerintahkan pelayan Restaurant.
" Baik pak," sahut pelayan itu.
" Kamu mau minum apa?" tanya Aditya pada Felly.
" Air kelapa!" jawab Felly.
" Baiklah, ayo kita cari," ucap Aditya Felly mengangguk.
Setelah menunggu hampir setengah jam akhirnya jenis siput yang di pesan Felly sudah masak dan sudah terhidang di meja mereka.
Felly makan begitu lahap dan Aditya hanya makan santai. Namun pasti dia sangat kenyang melihat istrinya yang maka lahap. Antara lahap dan rakus.
" Pelan-pelan Felly makannya," ucap Aditya.
" Ini juga pelan-pelan kok. Lagian kalau aku terlalu pelan. Kasian anak kita dia tidak akan kebagian," sahut Felly yang mencari alasan.
" Hanya kamu yang makan. Jadi mana mungkin dia tidak kebagian. Dia juga satu-satunya di dalam perut kamu. Jadi mana mungkin dia tidak makan," sahut Aditya.
" Sayang. Anak kita berebut dengan cacing-cacing bandel diperutku. Jadi jelas dia tidak akan kebagian. Lalu aku pelan-pelan makannya," ucap Felly yang memberikan alasan lagi. Aditya mendengarnya hanya tersenyum geleng-geleng.
" Kamu kenapa tersenyum. Kamu tidak percaya. Kamu sih tidak hamil. Jadi mana tau," sahut Felly dengan wajah merengutnya.
" Aku percaya. Kalau begitu makanlah yang banyak. Agar anak kita kebagian. Dia tidak akan kelaparan," sahut Aditya. Felly tersenyum mendengarnya dan langsung memejamkan wajahnya pada suaminya dan membuka mulutnya.
" Mau di suapi," ucap Felly manja. Aditya tersenyum dan langsung menyuapi istrinya dengan tangannya.
" Enak?" tanya Aditya. Felly mengangguk.
__ADS_1
Makanlah yang banyak!" ucap Aditya.
Bersambung