
Aditya meninggalkan Felly tetap dalam keadaan tertidur. Tidurnya yang pasti sudah di tapikan Aditya. Dengan tangannya yang melipat di atas perutnya. Air mata keluar dari kelopak mata Felly.
Dia tidak bangun sama sekali. Tetapi air matanya keluar seolah mendengar kata-kata Aditya yang seperti perpisahan untuknya. Mungkin Felly benar-benar lelah sampai tidak terbangun.
Aditya tidak pamitan lagi kepada ibu mertuanya. Dengan matanya yang bergenang dan beberapa kali air matanya jatuh, Aditya langsung menuju mobilnya.
Aditya membuang napasnya perlahan dan melihat ke arah rumah Felly. Dia sangat berat meninggalkan rumah itu.
" Aku mengira, aku bisa seperti manusia biasa pada umumnya yang bisa merasakan indahnya jatuh cinta. Seandainya pertemuan kita tidak dengan cara seperti ini. Aku yakin mungkin kita bisa membangun hubungan dengan cinta," batin Aditya dengan mata yang memerah itu.
" Dendam ku. Telah melibatkan mu yang aku berpikir semuanya akan biasa saja. Tetapi aku tidak menyadari jika menempatkan di rimu di dalam hidupku. Melibatkan pada dunia ku. Membuatmu terluka dan pada akhirnya kamu hanya hidup menderita,"
" Felly, aku telah membebaskan mu malam ini. Kau berhak melanjutkan hidupmu dan biarkan aku mengambil sedikit hatimu yang menemaniku sampai mati," batin Aditya dengan meneteskan air matanya.
Aditya kembali membuang napasnya panjang dan langsung menarik gas mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Ternyata selain menemui istrinya mobil Aditya juga berhenti di pemakaman. Aditya berdiri di pemakaman sang mama.
" Ini saatnya, Aditya akan membalas semuanya. Mama tolong bantu Aditya. Semuanya akan berakhir. Masalah 17 tahun lalu akan berakhir mereka akan mendapatkan balasan dari perbuatan mereka. Saatnya untuk orang-orang biadap seperti mereka. Mati dengan perlahan. Mati, mati dan mati," batin Aditya mengepal tangannya.
" Aditya juga akan menemui mama. Kita akan bertemu secepatnya. Setelah aku menyelesaikan mereka," batin Aditya lagi dan Aditya langsung pergi dari depan makam sang mama.
Mungkin Aditya akan menjalankan misi penyerangannya kepada orang-orang yang sudah menghancurkan keluarganya.
***********
Tidak berapa lama akhirnya Aditya sampai ke depan sebuah markas yang dia bisa mengetahui jika Leon dan William sedang ada di sana.
Saat mobil itu berhenti. Beberapa anak buah yang berjaga di depan rumah itu saling melihat dan curiga dengan orang yang berada di dalam mobil.
2 anak buah penjaga rumah itu saling berbisik menatap heran pada mobil itu dan melangkah untuk menyelidiki isi mobil itu.
Aditya di dalam mobil tampak tenang. Dan memantau 2 orang yang mencoba untuk menghampiri mobilnya dan saat salah satu dari mereka ingin membuka pintu mobil itu. Tanpa basa-basi Aditya langsung menarik pelatuk pistol nya.
Dorrr.
__ADS_1
Peluru pertama mengenai dada bodyguard itu yang di tembakkan dari kaca mobilnya.
" Aakhk," pria itu memegang dadanya yang penuh darah dan langsung tergeletak.
Sontak hal itu membuat semua bodyguard kaget dan langsung dengan bergegas mengeluarkan senjata mereka dan langsung dengan cepat melakukan tembakan pada mobil Aditya.
Dorr Dorr Dorr Dorr Dorr Dorr Dorr.
Tembakan peluru memenuhi mobil itu mereka menembaki sesorang yang berada di dalam mobil itu yang sudah menembak temannya. Sampai isi peluru mereka habis dan kalau di perkirakan pasti orang yang berada di dalam mobil itu sudah tewas berlumur darah.
Tembakan itu mereka hentikan ketika menyadari jika orang yang di dalamnya sudah mati.
" Buka pintunya!" perintah salah satu bodyguard yang tampaknya lebih berkuasa. Salah satu bodyguard pun mengangguk dan langsung membuka pintunya dan saat tangannya membuka pintu mobil.
Dorrrrrrr.
Ledakan terjadi dan sontak membuat orang-orang yang di dekat mobil itu terkena ledakan.
Suara ledakan itu terdengar sampai ke penjuru dalam dan membuat beberapa bodyguard lainnya keluar dari rumah itu dan kaget melihat terjadi ledakan dan rekan-rekannya banyak yang sudah tewas.
Pria itu langsung memasuki rumah dengan cepat.
***********
Di dalam rumah tersebut terlihat di dalam sebuah ruangan terlihat Leon dan William sedang minum di temani beberapa wanita.
Ruangan itu seperti ruangan karaoke yang juga kedap suara dan pasti tidak akan terdengar bagi mereka apa yang sudah terjadi di luar sana. Yang mungkin juga jika rumah itu meledak tidak akan terdengar oleh mereka.
Leon dan William tampak bersantai-santai dengan wanita-wanita yang mengelilingi mereka sambil berbyanyi-nyayi dengan meriah.
Brukkk.
Pria yang tadi memerintah beberapa orang untuk mencari perusuh itu masuk dengan cepat tanpa mengetuk pintu dan membuat, orang yang ada di dalamnya kaget.
" Apa kau tidak punya sopan santun masuk sembarangan," sahut Leon dengan suaranya yang menggelegar marah dengan perbuatan anak buahnya. William yang ada di sana langsung mematikan musik karaoke.
__ADS_1
" Maaf tuan, saya tidak bermaksud mengganggu kesenangan tuang. Tetapi terjadi bahaya di luar," sahut Pria itu dengan menunduk.
" Apa maksudmu?" tanya William dengan wajah kagetnya.
" Ada orang yang menyerang tempat ini. Di luar terjadi penembakan dan juga ledakan," sahut Pria itu dengan bicara terbata-bata.
" Apa katamu," sahut Leon dengan menekan suaranya, sementara 2 wanita yang di kiri dan kanannya masih terus memebelai-belai dirinya seakan tidak peduli apa yang di bicarakan di sana.
" Siapa yang melakukannya?" tanya William yang juga emosian.
" Saya tidak tau tuan," sahut Pria itu.
" Kurang ajar berani sekali dia melakukannya. Cepat kamu cari orang itu. Siapa dia apa dia pikir pistol yang di milikinya bisa membuat orang berhenti bernyawa," ucap Leon dengan mengepal tangannya dengan suara menekan.
Dorrr.
Terdengar tembakan yang ternyata pada kepala Pria yang melapor itu dan Pria itu langsung telungkup tanpa bernyawa.
" Aaaaaaa," teriak para wanita yang berada di dalam sana saat melihat mayat yang berlumur darah dan para wanita itu langsung berlarian keluar dari ruangan itu. William dan Leon langsung berdiri dengan wajah mereka yang tersentak kaget dan penasaran siapa yang menembak anak buahnya.
Perlahan dan pasti Aditya menunjukkan dirinya dengan mengarahkan pistol kepada 2 orang itu. Hal itu membuat Wiliam dan Leon kaget.
" Peluru yang kumiliki jelas sangat mampu menembus jantung dan kepala siapapun. Apa kau sudah percaya," ucap Aditya dengan sinis.
" Aditya!" lirih mereka serentak yang langsung saling mendekat perlahan sehingga bahu Leon dan William saling bersentuhan.
" Apa yang kau lakukan di tempatku!" teriak Leon.
" Aku ingin membunuhmu," jawab Aditya dengan santai.
" Kurang ajar kamu. Kamu pikir kamu bisa melakukannya hanya dengan kata-kata," sahut William. Aditya mendengus kasar.
Dorr.
Aditya kembali menembakkan peluru. Ternyata bukan kepada William atau Leon tetapi ke arah kaca yang ada di sana dan kaca itu langsung pecah. Tetapi apa yang di lakukan Aditya berhasil membuat William dan Leon tersentak kaget dan pucat bahkan bergetar.
__ADS_1
Bersambung