
Felly yang masih berada di dalam ruangan itu mencari jalan ke luar agar dia bisa meloloskan diri. Felly berada di depan pintu dan dan mencoba membuka pintu dengan menggunakan kawat kecil.
" Ya Allah aku mohon berikan aku kemudahan agar pintunya bisa terbuka dan aku bisa meloloskan diri dari tempat ini. Aku mohon ya Allah, tong selamatkan aku dan juga bayiku. Aku tidak ingin berada di tempat ini," batin Felly yang terus berusaha untuk membuka pintu.
Memang sangat kecil kesempatan untuk membuka pintu itu. Bahkan tidak mungkin akan terbuka dan dia bahkan sudah cukup lama untuk membukanya tetapi tidak ada hasil juga.
" Apa lagi yang harus aku lakukan. Aku tidak mungkin membukanya hanya dengan benda ini. Mungkin sampai berhari-hari juga tidak akan terbuka," ucap Felly yang menyadari jika apa yang di lakukannya tidak akan membuahkan hasil dan malah akan membuang waktu banyak.
Akhirnya Felly menghentikan kegiatannya yang memakan waktu. Felly mengusap keringatnya yang ada di dahinya dengan lengannya dan melihat lagi tempat itu dengan kepalanya yang berkeliling. Mata Felly melihat ada pantulan cahaya sedikit dengan tumpukan kardus yang banyak dan beberapa barang rongsokan.
Tidak tau apa yang di pikirkan Felly. Felly melangkah mendekati hal yang mencuri perhatiannya itu.
" Apa mungkin ada jalan keluar di sini," gumamnya mengusap perutnya dengan tatapan matanya yang begitu sendu.
" Sayang, kamu tenang ya. Kita secepatnya keluar dari tempat ini. Kamu jangan rewel ya," ujar Felly dengan suaranya yang serak di mana Felly sebenarnya sudah sangat lelah bahkan sudah tidak bertenaga karena tidak di isi dengan apapun. Bahkan dia begitu hidrasi.
Felly tidak ingin membuang-buang waktu dengan cepat dia mengangkat kerdus-kerdus itu dari timbunan yang banyak. Kerdus yang ada yang berat dan ringan. Tetapi sekuat tenaga dia melakukannya agar bisa meloloskan diri dari tempat itu.
Pasti apa yang di lakukan Felly akan menguras seluruh tenaganya dan dan dia juga semakin berkeringat. Tetapi tampaknya usahanya kali ini membuahkan hasil, semakin tumpukan kerdus dan beberapa barang-barang rongsokan itu tersinggir.
Semakin cahaya melebar dan bahkan tubuh Felly sudah terang oleh cahaya dan membuatnya benar-benar semangat dan sampai akhirnya Felly Felly berhasil melakukan pekerjaannya dan memang benar cahaya itu berasal dari lubang yang cukup besar tetapi lumayan tinggi.
" Sepertinya tubuhku akan muat di dalam lubang itu," batin Felly dengan percaya diri.
Dengan cepat Felly pun akhirnya mencari alat untuk bisa memanjat agar bisa lolos dari tempat tersebut dan Felly bersusah paya mendorong meja yang cukup besar.
" Ahhh," lirih Felly saat tidak sengaja perutnya terkena sisi meja dan membuatnya cukup kesakitan sampai berjongkok memegang perutnya.
" Maafkan mama sayang. Mama ceroboh. Kamu harus bertahan sayang. Kamu harus bertahan," ucap Felly menahan sakit dan kembali mencoba berdiri dengan memegang meja bahannya untuk bisa berdiri kembali.
__ADS_1
Dengan tenaganya yang kuat. Felly menaiki meja tersebut dan berusaha untuk memanjat agar bisa lagi untuk melewati lobang tersebut. Saat tubuhnya sudah masuk lobang itu dan memang benar cukup karena memang dia sangat kecil.
Felly baru bisa menghirup udara segar ketika dia berada di lobang tersebut dan melihat alam luar yang ternyata tempat itu berada di sekitar hutan karena Felly langsung melihat hutan.
Felly melihat di sekitarnya. Tempat itu sangat sepi dan bahkan tidak ada siapa-siapa dan memang benar-benar hanya hutan saja. Felly melihat ke bawah yang cukup tinggi dari tempatnya berada.
Felly benar-benar kebingungan dan juga ragu apakah dia harus melompat. Dia menyadari jika dia benar-benar hamil dan jika dia melompat yang ada bayinya akan terluka.
" Bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan. Bagaimana caranya aku untuk melewatinya," batin Felly dengan penuh kebingungan.
" Sayang, kamu harus kuat ya. Mama tidak punya pilihan lain kita harus melewati semua ini. Karena tidak akan ada yang membantu kita. Jadi kita berdua harus melewati semua ini," ucap Felly yang berbicara pada bayi di dalam kandungannya.
Felly melihat terus kebawah, menarik napasnya panjang dan membuangnya dengan perlahan.
" Bismillah," ucapnya yakin dan tanpa berpikir Felly pun akhirnya melompat sampai ke bawah sampai ke-2 lututnya menyentuh tanah.
" Aaaaaa," lirih Felly saat merasakan sakit di perutnya semakin parah bahkan air matanya menetes mungkin sangking sakitnya.
Dengan sekuat tenaganya Felly pun akhirnya mencoba kembali untuk berdiri dan melangkah tertatih-tatih dengan sekuat tenaganya dan terus memegang perutnya yang terasa sangat nyeri.
" Aku harus segera meloloskan diri dari tempat ini," batin Felly yang terus berusaha melangkah.
Felly melewati belakang gedung yang mungkin mengasari jalan keluar atau depan utama gedung yang mungkin akan menemukan jalan keluar.
" Apa dia aman?" tanya seorang wanita yang membuat langkah Felly terhenti.
" Tenang saja. Wanita aman dan sebentar lagi kita akan mendapatkan dokumen itu dari Aditya," sahut Leon.
" Siapa mereka," batin Felly yang belum melihat wajah yang berbicara itu dan Felly berusaha untuk melihat orang yang berbicara itu dengan melihat dari sela-sela jendela.
__ADS_1
" Tante, Rebecca, Leon dan Pria itu William pengacara papa yang dulu berhiyanat," batin Felly yang kaget ketika mengetahui dalang penculikannya adalah orang-orang yang di ketahuinya dan pasti Felly juga mengetahui jika orang-orang itu sangat berbahaya.
" Kenapa mereka menculik ku dan Aditya, dokumen apa maksudnya," batin Felly yang penuh kebingungan.
" Kamu yakin dia tidak akan menyerahkan dokumen itu?" tanya Rebecca.
" Iya aku yakin dia tidak akan menyerahkan apa yang di dapatkannya pada Harison. Karena saat aku menelponnya. Aku bisa mendengar dari suaranya jika dia begitu ketakutan," sahut Leon dengan yakin.
" Bagus jika begitu. Kalau begitu aku bisa sedikit lega. Rencanaku tidak akan berantakan dan sampai kapanpun Aditya tidak akan pernah menang dari ku. Laki-laki bodoh itu akan terus seperti itu dan sampai mati tidak akan bisa mendapatkan apa-apa," ucap Rebeca dengan senyum nakalnya di wajahnya. Leon dan William juga tersenyum dengan penuh kemenangan.
" Jadi Tante Rebecca dan mereka mempunyai rencana buruk. Aku harus bisa meloloskan diri dari sini," batin Felly yang cukup panik.
" Bos dia tidak ada di gudang," sahut suara seorang Pria yang terlihat sangar memberi laporan membuat Felly kaget.
" Aku harus segera pergi," batin Felly yang langsung lari dengan hati-hati.
" Apa katamu?" tanya Rebecca.
" Wanita itu kabur," jawab Pria yang berbadan tegap itu.
" Kurang ajar," sahut Rebecca dengan mengepal tangannya yang penuh kegeraman.
" Beraninya dia kabur, kenapa kalian tidak bejus menjaganya," sahut William yang ikut-ikutan marah.
" Cepat cari, dasar bodoh," sahut Leon yang langsung menegaskan dan semuanya mengangguk dan langsung bergerak mencari Felly.
" Kenapa wanita itu bisa kabur. Aku juga tidak bisa membiarkan Felly melihatku. Tidak. Felly tidak boleh tau jika kita yang sudah menculiknya," ucap Rebeca yang seketika panik. Padahal Felly sudah tau semua kejahatan Rebecca selama ini.
" Ayo kita cari dia," ajak William. Leon mengangguk dan mereka langsung bergerak.
__ADS_1
" Bisa berantakan semuanya jika wanita itu benar-benar tidak temukan," batin Rebecca penuh kemarahan.
Bersambung