
Harison memang sangat terbiasa dengan pertengkaran di meja makan. Dia memang terus melihat cucunya dan menantunya yang tidak pernah akrab.
Dan pasti pertengkaran akan selalu ada. Apa lagi Aditya yang menikah dengan Felly yang pasti membuat suasana setiap hari akan semakin panas. Karena pasti ada saja yang menjadi masalah.
" Sarapan dengan benar, jangan membuat kegaduhan," ucap Harison dengan suara menekan. Aditya berdiri dan meraih tangan Felly membuat Felly bingung dan mengangkat kepalanya ke atas melihat Aditya.
" Berdiri!" ucap Aditya.
" Mau kemana kamu Aditya. Kita masih sarapan?" tanya Harison.
" Aku tidak bisa membiarkan istriku. Tidak nyaman dalam kesehariannya. Aku menikahinya untuk memberikannya kebahagian bukan untuk ketidaknyamanan," jawab Aditya sinis menatap Rebecca.
Kata-kata yang keluar dari mulut Aditya memang seakan benar-benar mencintai Felly. Padahal kata-kata manis itu dikeluarkan untuk sebagai sandiwara saja.
" Anak ini jika bicara pasti melihatku. Lama-lama aku benar-benar akan mencongkel matanya," batin Rebecca yang sangat sinis.
" Apa rumahku tidak nyaman?" tanya Harison.
" Rumah ini sangat nyaman. Tetapi penghuninya yang tidak nyaman dan akan mengganggunya. Jadi aku dan Felly akan tinggal di Apertemen. Kami tidak akan tinggal di sini," ucap Aditya mengambil keputusan. Mendengarnya Felly terpekik kaget.
" Apartement. Apa itu rumah yang kemarin. Apa itu artinya aku dan dia akan tinggal ber-2 di sana," batin Felly yang menerka-nerka. Jika rumah yang di maksud Aditya adalah tempat dia kemarin. Saat Aditya yang pelit dengan makanannya.
" Sial. Jika wanita itu tidak tinggal di sini. Aku akan kesulitan untuk menghabiskannya. Aditya pasti akan melindunginya. Jika seperti itu terus. Lama-lama rencanaku akan berantakan dan jika aku tidak secepatnya melenyapkan wanita itu. Wanita itu bisa mengandung anaknya dan semuanya akan selesai," batin Rebecca yang mencemaskan hal itu.
" Kau sudah berjanji akan tinggal di sini setelah menikah!" ucap Harison merasa Aditya pernah mengatakan hal itu.
" Aku tidak pernah berjanji! aku hanya mengatakan akan tinggal di rumah ini. Jika penghuninya yang penuh kepalsuan sudah tidak ada. Karena aku tidak bisa tinggal bersama orang-orang yang penuh sandiwara," sahut Aditya penuh sindiran yang pasti sindiran itu untuk Rebecca dan Damar.
" Aditya cukup!" gertak Baskoro yang memang akan naik pitam jika istrinya di salahkan. Felly langsung melihat papa mertuanya itu yang sangat memihak pada Istrinya dan Damar. Aditya mendengar gertakan itu menyunggingkan senyumnya.
" Kau tidak bisa berbicara dengan benar sekalipun. Kenapa kau selalu mencari gara-gara. Kau selalu menimbulkan masalah. Kapan kau bisa berubah," ucap Baskoro menguatkan Volume suaranya.
" Jangan menyuruhku berubah. Jika kau saja tidak bisa berubah," sahut Aditya dengan lantang.
" Kau," sahut Baskoro geram dan langsung berdiri mungkin ingin melayangkan tangan pada Aditya. Rebecca terlihat tersenyum melihat tontonan yang pasti menarik itu.
" Tante Rebecca selalu terlihat sangat suka. Jika Aditya dan papanya ribut," batin Felly yang tidak mengerti dengan situasi itu.
" Hentikan!" bentak Harison.
__ADS_1
" Ayo Felly berdiri!" ucap Aditya yang malas mencari ribut dan lebih baik pergi. Felly yang juga tidak ingin suasana semakin ricuh langsung berdiri.
" Maaf kek, Felly pergi sebentar!" ucap Felly menundukkan kepalanya. Aditya yang tidak menyukai basa-basi. Langsung membawa pergi. Harison geleng-geleng melihat punggung menantu dan cucunya itu.
" Apa dia takut. Jika aku akan merebut Felly. Sampai dia ingin membawanya lari," batin Damara yang tersenyum miring.
" Baskoro. Aku sudah mengatakan berkali-kali. Berhenti bermain tangan pada Aditya," tegas Harison.
" Aku tidak bisa mengendalikan diriku. Jika anak itu tidak kurang ajar," sahut Baskoro masih di penuhi amarah.
" Pa. Mas Baskoro. Punya kesabaran. Aditya memang sangat keterlaluan. Dia membenciku dari dulu. Dan sampai kapanpun dia akan terus menganggap aku salah," sahut Rebecca memanas-manasi.
" Sudah jangan di bahas lagi," sahut Harison yang tidak ingin membahas masalah itu. Harison pun sudah tidak bernafsu untuk sarapan lagi dan memilih untuk pergi.
**********
Aditya masih memegang tangan Felly yang ternyata sampai kedepan pintu kamar Felly.
" Kemasi barang-barang mu!" perintah Aditya melepas genggaman tangan itu.
" Apa kita memang akan pergi dari sini?" tanya Felly pelan.
Dia jelas masih kesal dengan situasi tadi. Makanya Felly menjadi imbasnya untuk kemarahannya.
" Kau selalu berpikiran jelek kepadaku. Padahal aku hanya bertanya. Sekali-kali otakmu kau cuci agar pikiranmu bisa jernih dan tidak mengataiku sesukamu," ucap Felly dengan mengkerutkan wajahnya.
Memang terbiasa mendapat tanggapan buruk dari Aditya. Tapi lama-lama dia juga pasti kehabisan kesabaran.
" Makanya jangan banyak bertanya. Cepat masuk dan kemasi pakaian mu," ucap Aditya menegaskan pada Felly. Felly masih diam berdiri di depan pintu kamar.
" Apa lagi. Kenapa masih diam. Cepat masuk!" tegas Aditya. Merapatkan giginya. Lama-lama Aditya geram dengan Felly yang masih diam saja.
" Aku mau_ aku_aku mau_" ucap Felly terbata-bata.
" Aku apa?" tanya Aditya. Yang melihat Felly seperti menginginkan sesuatu.
" Perutku terasa tidak enak. Aku mau kerumah sakit," jawab Felly. Dia memang merasa aneh dengan perutnya.
Aditya berpikir sejenak. Dia memang lupa membawa Felly untuk kerumah sakit. Padahal Felly baru mengalami kejadian yang cukup mengerikan dan mungkin berpengaruh pada kandungannya.
__ADS_1
" Apa aku boleh kerumah sakit sebentar?" tanya Felly yang tampak ragu.
" Ya sudah. Aku akan mengantarmu!" ucap Aditya yang sepertinya tidak keberatan mengantar istrinya memeriksa kandungan.
Felly mengangguk. Dia merasa lega. Karena Aditya juga mengantarnya. Karena kejadian kemarin juga membuatnya takut. Dan secara tidak langsung dia seperti merasa Aditya bisa melindunginya. Perasaan percaya itu muncul begitu saja.
**********
Tanpa berpamitan pada Harison dan yang lainnya Aditya dan Felly sudah berada di depan pintu rumah.
" Kita tidak pamitan dulu?" tanya Felly.
" Sudah masuk!" jawab Aditya yang masuk terlebih dahulu.
Dia sudah terlanjur kesal dengan situasi tadi. Jadi jangan harap dia juga berpamitan pada kakeknya. Felly membuang napasnya perlahan. Dia merasa tidak enak. Jika pergi tanpa berpamitan.
Tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dari pada Aditya mengurungkan niatnya dan tidak mau menantunya. Jadi dia memilih mengikut saja.
**********
Aditya tidak menggunakan supir atau Bion dia menyetir sendiri. Mengantarkan Felly keruang sakit untuk cek kandungan.
Felly yang duduk di samping Aditya terlihat beberapa kali menoleh kearah Aditya. Seperti ada yang ingin di katakannya. Tetapi mungkin tidak berani bertanya.
" Aku sangat penasaran akibat perselisihan Antara Aditya dan keluarganya. Aku jelas melihat Aditya menyimpan kebencian yang sangat besar pada keluarganya dan papanya. Apa lagi Tante Rebecca. Tidak jarang Aditya berbicara terang-terangan dengan Tante Rebecca yang jelas menunjukkan ketidak sukaannya,"
" Lalu kakaknya. Kenapa harus terpisah dengan keluarganya. Aku sangat tidak mengerti dengan teka-teki keluarga Aditya,"
" Sangat terlihat jelas. Jika papanya juga sangat berpihak Damar dan istrinya. Seakan memojokkan Aditya. Apa karena ucapannya yang sangat kasar," Felly terus bergerutu di dalam hatinya. Ingin mengetahui apa yang terjadi.
Tetapi tidak berani untuk menanyakannya. Sebelum menikahi dengan Aditya. Felly juga sudah mencari tau tentang Aditya. Tetapi artikel yang sempat di bacanya tidak menunjukkan apa-apa.
" Apa kau sudah mulai menyukaiku, makanya matamu tidak bisa lepas menatapku?" tanya Aditya menoleh kearah Felly.
Membuat Felly terpekik dengan pertanyaan itu. Felly langsung mendengus kasar mendengarnya.
"Aku tidak tau jika orang seperti mu bisa kepedean seperti itu," sahut Felly dengan menaikkan ujung bibirnya langsung sewot dengan Aditya.
Bersambung.....
__ADS_1