
Akhirnya Laura pun mengantar Damar kedalam kamarnya. Dan perlahan Laura membaringkan tubuh Damar di atas tempat tidur.
" Terima kasih," ucap Damar.
" Sama-sama, aku senang kok bisa membantu kamu," jawab Laura tersenyum manis.
" Maaf sudah merepotkan mu berkali-kali," ucap Damar.
" Aku sudah mengatakan aku tidak merasa di repotkan. Jadi tidak ada yang perlu di maafkan," ucap Laura dengan senyum manisnya. Yang sepertinya sengaja terlihat baik dan tulus di depan Damar.
" Kenapa aku merasa pernah bertemu dengan wanita ini ya," batin Damar yang terasa asing dengan Laura dia bahkan terus memperhatikan Laura seakan mengamati wajah Laura dan mencoba mengingat-ingat di mana dia menemui wanita itu sebelumnya.
" Kenapa dia melihatku seperti itu. Apa dia merasa curiga dengan ku," batin Laura juga merasa was-was.
" Ehemm, kalau begitu aku pulang dulu," ucap Laura yang ingin berpamitan.
" Iya, sekali lagi terima kasih sudah membantuku dan aku harap kita bisa bertemu di lain kesempatan lagi," ucap Damar. Laura mengangguk tersenyum yang sepertinya Damar memang masuk kedalam perangkatnya.
" Iya aku juga berharap seperti itu. Ya sudah aku pulang dulu," ucap Laura kembali berpamitan Damar mengangguk dan Laura pun tersenyum. Lalu perlahan keluar dari kamar Damar.
" Tidak sulit ternyata," batin Laura yang keluar dari kamar itu dengan langkah yang manis dan senyumnya yang penuh kemenangan.
Laura menuruni anak tangga di mana ternyata Rebecca sudah berada di bawah dengan tangannya di lipatkan di dadanya dengan wajahnya yang marah menatap sinis Laura yang menuruni anak tangga seakan ingin menerkam Laura.
" Ngapain sih nenek tua ini ada di sini," batin Laura yang berusaha dengan tenang melihat tatapan nenek sihir di depannya yang dia yakin pasti sedang menunggunya.
" Heh kamu!" ucap Rebecca dengan ketus saat Laura sudah menuruni anak tangga dan sekarang ada di depannya.
" Iya Tante?" jawab Laura dengan sopan. Walau dia harus melakukan semuanya dengan terpaksa.
" Siapa kamu, apa yang kamu lakukan kepada anak saya?" tanya Rebecca yang langsung marah-marah. Dan lihatlah expresi kebingungan Laura. Layaknya gadis yang polos.
" Apa maksud Tante?" tanya Laura.
" Jangan bertanya. Jika saya bertanya," gertak Rebecca.
__ADS_1
" Tapi saya tidak tau apa yang Tante katakan. Saya tidak mengerti Tante," ucap Laura dengan suaranya yang lembut.
" Maaf Tante, saya hanya tidak sengaja bertemu Damar dan saya membawanya kerumah saya. Karena Damar mabuk saat itu," ucap Laura.
" Apa katamu. Damar mabuk," sahut Rebecca tampak kaget dan Laura hanya mengangguk-angguk saja.
" Dan kau membawanya kerumahmu!" teriak Rebecca. Laura kembali mengangguk yang mengatakan apa adanya.
" Lalu apa yang kau lakukan kepadanya!" teriak Rebecca.
" Lantam sekali kamu sampai membawanya kerumahmu. Kau pikir kau siapa?" teriak Rebecca.
" Maaf Tante, jika apa yang saya lakukan salah. Saya membawanya Kerumah saya. Karena saya tidak tau di mana rumah Damar dan saya tidak punya pilihan lain selain membawanya pulang kerumah saya," jelas Laura.
" Tetap saja kau sangat kurang ajar," teriak Rebecca menunjuk tepat di wajah Laura yang tidak terima dengan apa yang di lakukan Laura. Apalagi tadi Damar mengacuhkannya dan malah memilih Laura. Jelas dia tampak begitu panas dengan Laura.
" Ada apa ini Rebecca," sahut Harison dengan menggertak karena merasa ada keributan dengan suara Rebecca yang kuatnya Nauzubillahminzalik.
" Siapa dia?" tanya Harison mempertanyakan Laura, " Laku kenapa kamu malah teriak-teriak tidak jelas di rumah ini," lanjut Harison bertanya lagi.
" Damar. Kenapa kamu bisa mengantarkan Damar?" tanya Harison heran dan Rebecca tampak panik. Jika Laura memberi tahu kalau Damar mabuk.
" Tidak apa-apa pa," sahut Rebecca yang mencegah dengan cepat.
" Tidak apa-apa kamu bilang. Lalu kenapa kamu sampai marah-marah dengan dia?" sahut Harison dengan kebingungan.
" Itu salah saya," sahut Laura, " saya tidak sengaja bertemu Damar di Club malam. Dalam keadaan mabuk parah, saya tidak mungkin membiarkan dia menyetir. Apa lagi Damar sempat tidak sadarkan diri dan makanya saya membawanya pulang kerumah saya dan saya tidak tau apa yang saya lakukan ternyata membuat Tante marah, maafkan saya," ucap Laura yang menjelaskan dengan lancar yang membuat Harison kaget dan Rebecca geram dengan penuh emosi yang sedari tadi ingin melakban mulut Laura.
" Damar mabuk," sahut Harison melihat Rebecca dengan tajam.
" Sialan wanita ini dia malah memperjelas kepada papa masalah Damar," batin Rebecca yang kepanikan.
" Rebecca, bukannya kamu mengatakan kalau Damar tidak minum alkohol. Lalu dia sampai mabuk apa maksudnya," Sahut Harison yang awalnya Rebecca memang selalu membuat nama baik sang anak bersih. Agar berbeda dengan Aditya yang hidup berantakan dan penuh kebebasan.
" Pa, Damar memang tidak pernah minum dan ini pasti gara-gara wanita ini yang menjebaknya untuk minum. Karena dia yang mungkin sangat handal dalam minum," sahut Rebecca yang melempar kesalahannya pada Laura.
__ADS_1
" Apa maksud Tante, kenapa Tante malah menyalahkan ku," sahut Laura lama-lama tidak tahan dengan Rebeca yang ingin langsung meninju Rebecca.
" Sudah kamu mengaku saja. Kamu pasti wanita bebas yang sering minum-minuman beralkohol iya kan!" teriak Rebecca memojokkan Laura.
" Tante, jangan asal menuduh, saya tidak pernah minum sama sekali. Kalau Tante tidak percaya ayo kita tes urin dan sekalian juga Damar dan juga Tante biar jelas siapa yang peminum sebenarnya," ucap Laura yang menantang Rebecca. Dan Rebecca terlihat panik mendengarnya.
" Anak ini benar-benar berani," batin Rebecca yang mengepal tangannya kuat penuh kebencian pada Laura. Namun Laura menyembunyikan senyumnya yang berhasil membuat Rebecca tidak berkutik lagi.
" Rebecca, kamu ini benar-benar ya. Kamu mengatakan Damar tidak pernah minum. Jika Laura menjebaknya. Dia tidak mungkin bisa mabuk. Itu berarti Damar sering minum," sahut Harison.
" Tidak pah, ini pasti ada kesalahan," sahut Rebecca yang masih membela diri.
" Kalau tidak terjadi ada kesalahan. Ayo kita tes seperti apa yang di katakan Laura," sahut Harison membuat Rebecca melotot.
" Kamu tidak beranikan," sahut Harison, " Itu mempertandakan jika selama ini kamu hanya menutupi kebiasaan buruk Damar, sebagai ibu bukannya kamu mencegahnya. Tetapi malah membuatkannya. Padahal sekarang Damar menghadapi banyak masalah. Tetapi kamu malah membiarkan Damar minum-minuman," ucap Harison dengan marah-marah.
" Atau kamu yang malah menyuruhnya untuk menenangkan diri dengan cara yang salah," sahut Harison lagi yang membuat Rebecca kaget, sementara Laura sudah tidak tahan. Dia ingin sekali tertawa terbahak-bahak.
" Papa jangan asal menuduh," sahut Rebecca tidak terima.
" Sudahlah, tidak ada gunanya bicara dengan kamu. Karena semua yang kamu katakan hanya kebohongan tanpa ada kebenaran," sahut Harison seakan ingin lepas tangan dari Rebecca.
" Laura, terima kasih kamu sudah mengantarkan Damar. Dan jika kamu ingin pulang maka pulanglah," ucap Harison dengan lembut.
" Baik kek, saya permisi pulang dulu. Terima kasih untuk semuanya," sahut Laura. Harison mengangguk dan Laura membungkukkan tubuhnya lalu pulang dengan penuh kemenangan yang berhasil membuat Rebecca di marahi.
" Papa sudah lelah dengan kamu," ucap Harison yang langsung meninggalkan Rebecca.
Dan Rebecca hanya berdesis kesal dengan mengepal kuat tangannya dengan kejadiannya hari ini yang membuatnya benar-benar tidak percaya. Jika dia bisa di pojokkan.
Sementara di sisi lain Elia mendengarkan pertengkaran itu dan menikmati dengan pemandangan indah itu.
" Bagaimana rasanya Rebecca saat kamu bicara. Namun tidak ada yang mempercayai. Itu hanya fitnah kecil. Belum lagi hal yang akan lebih banyak yang akan kamu terima," batin Elia menyunggingkan senyumnya yang puas dengan Rebecca yang di marahi Harison.
Bahkan Rebecca di tuduh menyuruh Damar ke Club untuk mabuk-mabukan. Padahal Rebecca tidak melakukan hal itu. Rebecca memang akan sering mendapatkan imbas dari kesalahan yang bukan di lakukannya. Seperti apa di masa lalu sering di lakukannya ke pada Elia dan keluarnya.
__ADS_1
Bersambung