
Aditya menggendong Felly sampai keluar dari kamar. Felly terus memberontak dengan menggoyang-goyangkan kakinya yang benar-benar kesal dengan Aditya.
" Turunkan aku! turunkan!" ucap Felly yang terus memberontak. Namun tidak di pedulikan Aditya. Aditya menuruni anak tangga dengan tetap menggendong Felly yang terus berteriak-teriak.
Beberapa bodyguard yang ada di sana sudah memperhatikan mereka. Para bodyguard itu mungkin heran dengan pasangan yang aneh itu. Sangat alay mungkin menurutnya.
" Lepasin aku! lepas," geram Felly yang terus memberontak untuk di lepaskan.
" Jangan bergerak, kau bisa berguling ke bawah, kalau kebanyakan bergerak," ucap Aditya mengingatkan.
" Makanya lepaskan!" ucap Felly kesal. Aditya tidak peduli dan melanjutkan langkahnya. Dan Felly terus memberontak sampai Elia yang merasa berisik keluar dari kamar dan melihat Aditya yang menggendong Elia.
" Kenapa lagi mereka, setiap hari selalu bercanda," gumam Elia geleng-geleng. Dia selalu menganggap Aditya dan Felly bercanda. Dia tidak tau saja kalau pasangan itu sedang bertengkar.
" Memang dasar ada-ada saja," gumam Elia yang hanya bisa melihat saja.
Aditya sudah sampai kemeja makan dan sampai mendudukkan Felly di meja makan.
" Kau ini," geram Felly memukul Aditya yang berdiri di sampingnya.
" Ambi makannya!" perintah Aditya pada pelayan yang ada di sana. Dan pelayan yang ada di sana pun langsung bergerak, mengambil makanan untuk Felly.
" Aku sudah katakan tidak mau makan!" tegas Felly berdiri. Aditya mendudukkannya kembali.
" Aku tidak menyuruhmu makan. Tetapi anakku, jadi jangan membuatnya kelaparan," tegas Aditya.
" Tetap saja, makanannya dari mulutku," geram Felly. " Aku yang mengandungnya," sambar Felly semakin emosi dengan Aditya.
Pelayan sudah menata makanan di depan Felly. Wajah Felly masih kesal-kesal saja. Melihat makanan dia semakin muak dan ingin muntah.
" Ayo makan!" suruh Aditya yang duduk di samping Felly.
" Kenapa kau tidak suruh saja dia makan," ucap Felly sinis. Mendengarnya Aditya menaikkan 1 alisnya heran dengan ucapan Felly.
" Siapa maksudmu?" tanya Aditya.
__ADS_1
" Siapa lagi kalau bukan si Laura-Laura itu, sana suri dia makan," sambar Felly. Tetapi Felly langsung menutup mulutnya yang keceplosan.
" Issssh Felly, kenapa mulutmu selancar itu," batinnya yang penuh penyesalan.
Sementara Aditya sudah tertawa kecil mendengar ocehan Felly yang jelas menunjukkan kecemburuan.
" Jadi dugaanku benar. Kau benar-benar cemburu dengan wanita itu. Apa karena itu juga kau suka kepo sampai memgintip- ngintip kami ber-2?" tanya Aditya tersenyum penuh kemenangan.
" Aku tidak mengatakan apa-apa," sahut Felly yang masih mengelak.
Wajahnya sudah memerah yang ketahuan oleh Aditya. Aditya mendekatkan wajahnya pada Felly membuat Felly refleks memundurkan kepalanya.
" Kalau kau menyukaiku, kenapa kau berteriak-teriak saat aku menyentuhmu," ucap Aditya dengan suara serak, membuat Felly geram.
" Siapa bilang aku menyukaimu. Aku tidak bicara sama sekali," ucap Felly yang masih menutup perasaannya.
" Lalu kenapa kau tampak sensian saat ada Laura, kau segitu marahnya dengan dia sampai anakku tidak makan?' tanya Aditya tersenyum miring.
" Aku jelas kesal dengan. Kau seenaknya mengarang cerita, mengatakan aku demam, agar aku tidak ikut kepemakaman mamamu. Tapi kau tidak punya alasan untuk dia yang ikut saja. Istrimu aku atau dia," ucap Felly yang sekarang menuntut statusnya.
" Kau mengatakan apa. Kau istriku?" tanya Aditya.
" Itu bukannya kenyataan, jika aku istrimu dan bukan dia," sahut Felly.
" Lalu jika kau istriku, kenapa tidak melakukan tugas utamamu sebagai istri," ucap Aditya dengan tatapannya yang benar-benar sangat menusuk. Felly mendengarnya menelan salavinanya.
Dia tidak mampu menjawab apa-apa lagi. Tidak ada yang salah jika seharusnya kewajibannya di laksanakan. Justru yang salah adalah ketika dia tidak melaksanan kewajiban sebagai istri. Tetapi mungkin perasaannya yang belum sepenuhnya terbuka untuk Aditya membuatnya belum siap untuk hal itu.
" Makanlah! jangan membuang waktu. Kita akan pergi setelah ini," ucap Aditya yang menjauhkan diri dari Felly.
" Aku tidak mau kemana-mana," ucap Felly yang langsung menolak.
" Jangan membantah. Kau akan menyesal jika tidak iku," ucap Aditya yang seakan membuat Felly penasaran.
" Cepat makan! sebelum aku memasukkannya kedalam mulutmu secara paksa," ucap Aditya mengancam Felly kembali.
__ADS_1
Felly pun terpaksa makan. Dia mengingat janin di dalam rahimnya dan memang harus di beri makan. Jangan hanya gara-gara kesal dengan Aditya. Dia harus mengorbankan janinnya tersebut.
Aditya tersenyum miring melihat Felly yang akhirnya makan. Walau dia tau Felly masih ngambek dan makan pun terpaksa.
" Dasar aneh," batin Aditya tersenyum miring, dengan geleng-geleng melihat Felly yang terpaksa makan.
************
Setelah selesai makan. Felly dan Aditya pun keluar rumah. Awalnya Felly sangat heran dengan Aditya yang menyuruhnya mengemas pakaian seperti ingin pergi tetapi tidak tau kemana pergi.
Felly yang masih cuek-cuek saja mengikuti. Bion memasukkan koper ke dalam mobil dan juga membukakan pintu mobil untuk Felly. Felly pun masuk kedalam mob duduk paling depan. Karena Bion membukakan pintu mobil di bagian depan.
Setelah itu Bion menghadap Elia.
" Ingat, jaga kak Elia, jangan sampai terjadi apa-apa padanya," ucap Aditya mengingatkan Bion.
" Baik tuan," jawab Bion menundukkan kepalanya. Aditya pun langsung pergi dari hadapan Bion, memasuki mobil duduk di kursi pengemudi di samping Felly.
" Kemana lagi dia membawaku," batin Felly yang kebingungan. Walau bingung dia tidak bertanya seperti biasanya. Karena dia cukup malas untuk bertanya. Dia masih kesal dengan Aditya. Jadi dia tidak akan bertanya.
Aditya yang memakai sabuk pengamannya, dan melihat Felly sebentar. Dan melajukan mobilnya tanpa bicara apa-apa. Walau dia tau Felly sangat penasaran.
**********
Lama di perjalanan bahkan sudah sampai 4 jam. Felly yang masih tetap mematung duduk di tempatnya tanpa bersuara. Melihat di sekelilingnya yang kebingungan dengan jalanan yang di hafal nya. Tetapi tetap otaknya tidak mampu mencari tau di mana keberadaannya.
" Kalau kau lelah, kau tidur saja," ucap Aditya yang memberi saran. Felly tidak mempedulikannya dan kepalanya tetap melihat. Keluar jendela.
Sampai akhirnya lama di perjalanan, mobile Aditya melewati jalanan yang terlihat pantai yang membuat Felly benar-benar heran dengan Aditya.
" Kenapa jalanan ini terasa tidak asing," batin Felly yang merasa tidak asing dengan beberapa lintasan yang di lihatnya.
Dari perumahan yang sangat tidak asing, apalagi mobil Aditya, sudah memasuki jalan perkampungan yang apa di pikirannya semakin bisa di tebaknya.
" Kita mau Kerumah mama?" tebak Felly. Aditya diam saja dan fokus menyetir Tetapi dugaan Felly sepertinya tidak salah memang dia sedang ketempat mamanya.
__ADS_1
Bersambung