
Sesampai di dalam kamar. Tangan itu sama saja. Masih tetap berada di pundak Felly. Tetapi Felly langsung menyinggirkan tangan Aditya dari pundaknya. Karena sudah tidak ada Harison lagi.
" Kau tidak perlu melakukan itu. Jangan bersandiwara. Kakek sudah tidak ada," ucap Felly dengan sinis mengusap-usap pundaknya. Seakan najis dengan Aditya.
" Kau sangat cepat marah. Jika kalah denganku," sahut Aditya tersenyum miring membuka jasnya dan melemparnya as di tempat tidur.
" Aku tidak akan kalah denganmu," tegas Felly.
" Benarkah! kita lihat saja nanti," sahut Aditya yang sekarang melonggarkan dasinya. Lalu membukanya dan melemparnya sembarang tempat.
Aditya juga terlihat membuka kancing kemejanya satu persatu. Membuat Felly yang berdiri di hadapannya panik.
" Apa yang kau lakukan?" tanya Felly. Aditya menyunggingkan senyumannya.
" Kenapa. Apa kau pikir aku akan menyentuhmu," sahut Aditya dengan sinis.
" Aku berharap kau tidak melakukan itu. Kau sudah berjanji padaku. Walau kita sekamar dengan pertanyaan mu yang menjebak itu. Tetapi kau harus tetap pada janjimu," ucap Felly mengingat kan Aditya.
" Kau dengar ya Felly. Mungkin aku memang suka dengan tubuhmu. Tetapi itu hal yang normal bagiku Banyak wanita yang juga kutiduri dan membuatku kecanduan. Jadi kau jangan berpikir. Jika tubuhmu itu satu-satunya yang menjadi candu ku. Lagi pula aku sudah mengatakan kepadamu. Aku tidak akan menyentuhmu. Jika kau tidak mengemis untuk memintanya. Jadi jangan kepedean aku akan menyentuhmu. Meski tidur sekamar denganmu itu tidak akan terjadi. Jadi jangan memperingatiku," ucap Aditya dengan sinis menegaskan pada Felly.
" Kau hanya wanita yang penuh kepalsuan dan sok jual mahal. Membuatku tidak bernafsu untuk menyentuhmu," lanjut Aditya dengan kata-kata yang pedas.
" Baguslah jika begitu. Aku hanya berharap. Kau menepati janjimu," sahut Felly yang memang jelas sangat bersyukur.
" Terserahmu! sahut Aditya berdecak kesal lalu berlalu dari depan Felly menuju kamar mandi. Lama-lama berbicara dengan Felly hanya akan membuatnya kesal.
" Dia pikir aku akan seperti apa yang di katakannya. Semua itu tidak akan mungkin. Felly bersabarlah dalam 9 bulan kedepan. Setelah itu kau benar-benar akan terbebas dari Pria seperti Aditya," batin Felly.
" Kamu bisa Felly. Kamu bisa menghadapi masalah ini. Semuanya akan selesai. 9 bulan waktu yang singkat kasi bersabarlah," Felly hanya bisa menguatkan dirinya sendiri.
**********
Aditya keluar dari kamar mandi sudah menggunakan pakaian santainya. Dia melihat Felly sudah berbaring miring dengan selimut yang menutup sebagian Tubuhnya.
Meski Felly memejamkan matanya. Tetapi Aditya sangat tau. Jika Felly hanya pura-pura tidur. Bahkan Felly terlihat sangat gelisah. Mungkin saja dia takut jika Aditya akan macam-macam padanya.
" Wanita ini benar-benar," gumam Aditya mendengus. Lalu langsung beranjak tempat tidur ke samping Felly membuat Felly semakin takut. Saat merasakan Aditya sudah berada di ranjangnya.
Aditya pun memiringkan tubuhnya membelakangi Felly. Mereka memang tidur saling membelakangi.
" Dasar kepedean. Apa dia pikir aku akan memperkosanya," batin Aditya bergerutu kesal di dalam hatinya.
__ADS_1
" Semoga dia memang tidak macam-macam kepadaku," batin Felly berusaha menenagkan dirinya.
**********
Pagi hari kembali tiba. Harison, Damar dan Rebecca dan Baskoro sudah berada di meja makan. Mereka belum memulai sarapan. Karena mungkin masih menunggu Aditya dan Felly yang belum bergabung.
" Apa mereka sudah bangun?" tanya Harison pada pelayan yang berdiri di belangkang nya.
" Sudah tuan. Saya juga sudah memanggilnya untuk turun mengikuti sarapan," jawab pelayan tersebut.
" Lama sekali," desis Rebecca dengan sinis.
" Namanya juga mereka baru menikah. Jadi wajar mereka lama keluar dari kamar," sahut Baskoro suaminya. Mendengar perkataan papanya membuat Damar panas. Bagai ada api di sampingnya yang membuatnya kepanasan.
Tidak berapa lama akhirnya Aditya dan Felly p
menghampiri meja makan. Semua mata mengarah pada mereka. Aditya dan Felly berjalan memang layaknya sebagai pengantin baru.
Bahkan Felly dan Aditya sama-sama keramas. Seperti pasangan itu selesai melakukan hubungan wajib.
Padahal tidak. Aditya memang terbiasa keramas saat ingin berangkat bekerja. Sementara Felly memang kegerahan dan memilih keramas.
" Sialan. Wanita ini dan anak sialan ini memang sengaja membuatku marah. Jika semakin di biarkan. Lama-lama wanita ini akan mengandung anak dari Aditya. Dan ketika semua itu terjadi. Itu adalah awal dari kehancuran ku," batin Rebecca yang menakutkan semuanya terjadi.
" Jadi mereka benar-benar layaknya pasangan suami istri. Aku tidak peduli Aditya. Kamu dan Felly melakukan hubungan seperti apapun. Bagiku Felly tetap milikku dan kau merebutnya dariku. Dan aku aku akan kembali mengambilnya dari mu," batin Damar mengepal tangannya. Menatap Felly dengan tatapan yang pasti masih menginginkan Felly tetap bersamanya.
" Apa kami sangat lama dan sudah membuat kalian jenuh," sahut Aditya membuka obrolan.
" Bisa di katakan seperti itu," sahut Harison.
" Kalau begitu aku minta maaf. Aku tidak tega membangunkan Felly. Karena dia sangat lelah. Kami baru tidur satu jam," sahut Aditya tersenyum miring. Sengaja memanas-manasi Damar dan Rebecca.
" Apa yang di katakannya. Kenapa dia tidak jadi aktor saja. Dia sangat pintar bersandiwara," batin Felly kesal dengan Aditya.
" Sarapan lah. Jangan membahas masalah kamar di meja makan," sahut Harison. Aditya menganguk dengan tersenyum dia memang sengaja membuat Damar kepanasan.
Mereka pun mulai mengambil sarapan masing-masing. Felly masih sangat canggung dengan situasi itu. Karena memang ini awal dia sarapan di rumah itu.
Dia juga tau Rebecca dan Damar sangat membencinya. Jadi dia harus terbiasa tidak tenang dalam setiap apapun. Termasuk sarapan kali ini.
Di mana Rebecca yang terus menatapnya tajam seakan ingin menerkamnya membuatnya takut dan memilih menunduk. Ternyata Aditya menyadari semuanya.
__ADS_1
Dia melihat bagaimana Felly yang berada di sampingnya sangat gelisah dan melihat ke arah Rebecca yang di depan Felly yang melihat Felly dengan sinis.
" Apa sarapannya ada di wajah istriku, sampai bola matamu ingin keluar melihatnya," sahut Aditya sinis menatap Rebecca. Rebecca tersentak kaget dan mengalihkan pandanganya.
" Aku hanya melihat menantuku saja. Apa itu salah?" tanya Rebecca dengan santai.
" Kau melihatnya seperti ingin memakannya," sahut Aditya dengan sinis.
" Sialan," batin Rebecca sinis.
" Ada apa Aditya. Kenapa harus memunculkan keributan. Bahkan saat sedang makan," sahut Baskoro.
" Tanyalah pada istrimu. Bagaiman dia menatap istriku bak seperti seorang pembunuh," sahut Aditya sinis. Mendengar kata pembunuh membuat Rebecca tersentak kaget dan bahkan langsung panik.
" Apa yang kau katakan. Kau menyamakan mama dengan seorang pembunuh," sahut Damar yang langsung pasang badan.
" Tidak menyamakan. Tetapi sama," sahut Aditya menegaskan.
" Kau," Damar langsung berdiri. Tidak terima dengan perkataan Aditya.
" Hentikan!" gertak Harison.
" Apa yang kalian lakukan. Kalian ingin membuat sarapanku berantakan dengan obrolan kalian yang kemana-mana," ucap Harison.
" Kakek bisa dengar sendiri bagaimana ucapannya. Dia mengatai mama sembarangan," sahut Damar mencari pembelaan.
" Aku mengatainya kalau tidak berdasarkan bukti," sahut Aditya dengan geram.
" Aditya sudah cukup!" sahut Baskoro.
" Pawangnya berbicara," desis Aditya sinis.
" Aditya," gertak Baskoro.
" Sudah cukup hentikan! apa kalian benar-benar tidak akan menghargaiku lagi?" tanya Harison menguatkan Volume suaranya.
" Apa semua ini sering terjadi. Di mana mas Damar dan Aditya juga Tante Rebecca bertengkar. Bahkan Aditya juga bertengkar dengan papanya dan tidak jarang juga dengan kakeknya. Pasti Aditya mengalami sesuatu yang sangat besar. Sehingga dia bisa membenci keluarganya," batin Felly yang sangat penasaran apa yang terjadi pada keluarga suaminya itu.
" Apa Aditya membenci papanya. Karena sangat berpihak pada mas Damar dan Tante Rebecca," batinnya lagi menerka-nerka.
Bersambung......
__ADS_1