
Felly dan keluarganya sedang menikmati makan malam bersama. Felly terlihat tidak bersemangat, memang seperti itu lah wajahnya semenjak datang kerumah itu tampak tidak bersemangat dan selalu murung.
" Felly!" tegur Sabila.
" Iya ma," jawab Felly.
" Kenapa Aditya tidak menjemput kamu?" tanya Sabila heran.
" Dia sedang ke Luar Negri," jawab Felly dengan cepat yang langsung berbohong pada sang mama.
" Lalu kapan dia kembali?" tanya Sabila.
" Tidak tau," sahut Felly dengan ketus membuat Sabila merasa ada yang aneh dengan putrinya yang menjawab seperti tidak ikhlas.
" Kamu sedang ada masalah dengan suami kamu?" tanya Sabila yang bisa menebak langsung. Felly yang tadinya menunduk mengangkat kepalanya dan melihat sang mama.
" Ada apa Felly, kamu sedang bertengkar?" tanya Sabila memastikan lagi.
" Tidak apa-apa ma. Mama jangan memikirkan yang lain-lain. Jika pun Felly ada masalah dengan Aditya. Itu urusan Felly dan sebaiknya mama jangan ikut campur," ucap Felly menegaskan. Lalu Felly langsung berdiri.
" Felly sudah selesai makan," ucapnya langsung pergi.
" Ada apa dengannya?" tanya Andre bingung melihat sikap sang adik.
" Kayaknya mama benar deh, kak Felly sama kak Aditya sedang ada masalah. Makanya kak Felly sangat sensitif saat membahas kak Aditya," sahut Aqni menebak-nebak.
" Aneh sih memang. Semenjak aku membawa Felly dari rumah Aditya. Felly sudah sangat aneh dan terlihat menyembunyikan sesuatu. Dan Felly mengatakan jika Aditya keluar Negri. Padahal Aditya tidak di luar Negri, jelas kemarin aku bertemu dengannya apa mungkin memang mereka sedang bertengkar dan Felly pulang hanya karena bertengkar dengan dengan suaminya," batin Andre yang mulai merasa ada yang tidak beres dengan adiknya yang terlihat jelas mengarang banyak cerita.
***********
__ADS_1
Felly berada di kamarnya dan berdiri di pinggir jendela dengan meletakkan tangannya di dadanya sambil mengusap-usap lengannya yang satu tangannya memegang ponselnya.
Tidak tau sejak kapan. Mobil Aditya ternyata berada di depan rumah Felly yang sedikit jauh dari depan rumah itu.
Aditya berdiri menyandarkan tubuhnya di dinding mobil ke-2 tangannya berada di sakunya. Dan matanya fokus kekamar Felly yang jelas melihat Felly yang berdiri didekat jendela yang di mana jendela itu tertutup horden putih.
Walaupun seperti itu. Tetapi Aditya jelas melihat istrinya. Istrinya yang 2 hari tidak di lihatnya. Aditya memang memilih untuk mengawasi Felly dari jauh dari pada harus menghampirinya dan bicara kepada Felly yang mungkin akan membuat Felly kembali marah dan yang adanya akan histeris lagi ketika mengingat luka yang di ciptakannya.
" Kau akan menunggumu Felly, sampai kamu benar-benar memberikanku kesempatan," batin Aditya yang terus melihat kearah Felly dengan wajahnya yang begitu sendu.
Felly masih tetap berdiri dan tidak menyadari keberadaan Aditya, dia hanya melihat-lihat seisi kamarnya yang pasti juga melihat bayangan Aditya ada di sana. Karena Aditya pernah menginap di kamarnya dan Felly hanya beberapa kali membuang napasnya panjang kedepan.
Felly meraba perutnya. Kehilangan bayinya masih kehancuran untuknya dan mungkin menjadikannya alasan untuk tidak semudah itu memberikan Aditya kesempatan. Air matanya kembali jatuh tetapi langsung di hapusnya yang berusaha untuk menguatkannya.
Felly kembali menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan dan tangannya membuka horden jendela dan mata itu langsung menangkap pada sosok yang berdiri di sana.
" Aditya," lirihnya yang tidak percaya melihat Aditya dan Aditya pun melihatnya. Mereka saling melihat dari kejauhan dengan hati mereka yang mungkin saling bicara.
" Aku tidak akan memaksamu Felly. Aku akan menunggumu sampai kapanpun," batin Aditya yang terus melihat Felly. Mata Felly yang masih terlihat sangat membencinya.
Di tengah pandang memandang itu. Tiba-tiba hujan turun dan Felly langsung tersadar dari lamunannya dan melihat ke atas di mana hujan semakin deras dan Felly melihat Aditya masih tetap diam dengan posisinya tanpa masuk kemobilnya.
Meski membenci Pria itu tetapi terlihat Felly begitu panik saat suaminya tersiram air hujan. Tetapi egonya dan hatinya sedang berperang di dalam sana dan membuat Felly dengan cepat menutup tirai jendela kamarnya.
Felly mungkin tidak tega melihat Aditya dan memilih untuk menutupnya. Tetapi Felly masih berdiri membelakangi jendela. Bahkan ekor matanya berusaha untuk melirik Aditya ada atau tidak Aditya di sana. Tidak mau luluh dengan melihat Aditya. Felly pun menaiki tempat tidurnya.
Menutup perasaannya, menutup matanya. Jika tadi dia melihat Aditya di sana. Felly benar-benar tidak peduli dan menarik selimut dan meringkuk di dalam selimut seakan tidak terjadi apa-apa. Tetapi kelas dari wajahnya yang sangat panik itu terlihat jelas. Bahwa Felly benar-benar sangat mencemaskan Aditya yang hujan-hujanan di sana.
Tetapi kembali lagi sakit yang di rasakannya membuatnya tidak peduli dan membiarkan begitu saja.
__ADS_1
**********
Damar berada di ruang kerjanya, yang ada di rumahnya, Damar terlihat resah di ruang kerjanya. Entah apa yang mengganggu pikirannya
" Di mana mama? kenapa mama tidak pulang- pulang," batin Damar yang ternyata memikirkan sang ibu yang mungkin sudah beberapa hari tidak pulang.
" Aneh, sekali. Apa yang terjadi mama tidak pulang, dan bahkan tidak memberi kabar dan om Leon kenapa dia juga tidak pernah kelihatan. Di mana mereka. Apa mereka pergi bersama. Tetapi kenapa mama tidak memberi tahuku dan bahkan papa juga bertanya kepadaku," ucap Damar yang benar-benar resah karena tidak tau keberadaan sang mama.
" Telponnya bahkan tidak aktif dan bahkan tidak bisa di lacak," Damar mengoceh sendiri di dalam ruangannya itu.
Ternyata Laura ada di dalam ruangan kerja Damar yang terlihat membersihkan ruangan itu. Layaknya seorang pelayan memang sangat biasa bagi Damar bergerutu. Karena pelayan jelas tidak pernah ikut campur dengan apapun.
Tetapi Laura bukan pelayan sembarangan. Dan Laura pasti mendengar ocehan Damar.
" Jadi dia juga tidak tau di mana mamanya dan dia juga tidak tau jika Rebecca, William dan Leon menculik Felly. Jadi tidak semua rencana Rebecca di ketahui Damar. Apa Rebecca memang juga banyak merahasiakan sesuatu dari Damar. Karena jelas hal sebesar ini Damar saja sampai tidak tau," batin Laura sambil mengepel lantai.
" Lalu Rebecca bagaimana. Apa dia benar-benar mati. Sudah seminggu kejadian itu. Tetapi Rebecca sama sekali tidak memunculkan diri dan tidak mungkin dia bersembunyi. Dia pasti takut jika Harison dan suaminya mencurigainya. Karena tidak melihat kehadirannya.
" Lalu di mana dia?" tanyanya lagi penuh kebingungan.
" Aku coba tanyakan om Leon tentang keberadaan mama," ucap Damar yang tampak mengambil keputusan.
Damar menoleh kearah Laura yang bekerja. Tetapi terlihat melamun.
" Hey, kau!" tegur Damar membuat Laura tersentak kaget.
" Hmmm.. iya tuan," sahut Laura.
" Perhatikan pekerjaanmu. Jangan sembarangan bekerja," ucap Damar memperingati.
__ADS_1
" Maaf tuan," sahut Laura menundukkan kepalanya dan terlihat membuang napasnya perlahan yang bisa-bisanya melamun dan hampir membuat Damar mencurigainya. Tetapi untunglah dia masih bisa tenang sehingga Damar tidak curiga padanya.
Bersambung