
Elia yang tertidur di dalam kamarnya tiba-tiba saja terbangun. Ketika dia mendengarkan sesuatu yang mengganggu tidurnya.
" Ada apa ya," batin Elia yang bangkit dari tidurnya dengan penuh gelisah.
Elia menyibak selimut dan dengan perlahan Elia melangkah mendekati jendela. Kamarnya sangat gelap. Karena Elia tidur memang harus mati lampu.
Elia melangkah pelan ke jendela dan membuka tirai jendela dengan perlahan. Mata Elia melebar sempurna. Ketika melihat apa di depannya. Di mana Elia melihat beberapa orang yang penjaga rumahnya tergeletak dan Elia melihat beberapa orang yang masuk kedalam rumahnya.
Elia menutup mulutnya dengan ke-2 tangannya, saat ketakutan muncul. Dia tidak percaya pastinya dengan apa yang terjadi. Rasa takut mulai menyelimuti Elia. Wajahnya pun seketika memucat.
" Siapa mereka. Kenapa mereka ada di sini?" tanyanya dengan penuh ketakutan.
" Aditya, iya Aditya, aku harus menelpon Aditya," dengan buru-buru Elia langsung menghampiri ranjang untuk mengambil ponselnya. Dengan tangan bergetar Elia langsung menghubungi adiknya.
" Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif silahkan coba beberapa kali lagi," hanya nada itu yang terdengar. Elia yang semakin panik terus menghubungi Aditya. Tetapi tetap telpon itu tidak tersambung dan membuat Elia semakin ketakutan.
" Apa yang harus aku lakukan, Aditya ayo angkat, ayo angkat Aditya," ucap Elia yang kepanikan.
Dia tidak tau harus berbuat apa yang di dalam pikirannya. Orang-orang itu pasti berniat jahat padanya.
" Aku harus pergi dari sini, harus," ucap Elia membuka laci di samping nakas dan mengambil pisau. Lalu Elia tidak menunggu lama langsung keluar dark kamar.
Elia pelan-pelan membuka pintu kamar dan melihat di sekelilingnya tidak ada orang. Ruangan itu sangat gelap dan Elia juga harus meraba-raba jalan. Karena jika mematikan lampu Elia akan ketahun.
Elia berjalan mengendap-endap untuk keluar dari rumah itu dan meloloskan diri dari orang-orang yang masuk kerumahnya. Langkah beberapa kaki terdengar di telinga Elia membuat Elia semakin takut dan bergetar.
" Tenang Elia, kamu harus tenang, jadi jangan takut Elia," batinnya yang menenangkan dirinya sendiri.
" Cari dia dan langsung bawa," terdengar suara lantang membuat debaran jantung Elia semakin berdetak tidak menentu. Keringat dingin juga sudah membasahi dahinya. Wajahnya sudah semakin pucat.
" Cepat!" teriak orang tersebut dan beberapa langkah terdengar buru-buru yang pasti untuk mencari dirinya.
Elia terus berjalan dengan pelan-pelan mencari jalan keluar dan berusaha untuk tidak berpapasan dengan orang-orang itu yang jika itu terjadi. Dia mungkin akan lenyap.
Di tengah langkahnya yang hati-hati. Tiba-tiba tarikan tangan mengagetkannya, membuat matanya terbelalak.
__ADS_1
" Aaaa," teriakan Elia tidak keluar, ketika tangan menutup mulutnya dan membuat Elia memberontak sehingga tangan pisau yang di pegangnya mengenai tangan orang tersebut. Orang tersebut menghimpitnha kediding.
" Ini saya nona," ucap Bion menahan sakit pada lengannya yang sakit. Karena sayatan dari pisau Elia.
" Bion," ucap Elia dengan napasnya yang naik turun.
" Sepertinya ada orang di sana," teriak seseorang membuat Elia dan Bion kaget dan mata mereka sama-sama melihat ke arah kiri yang berasa dari suara itu.
" Siapa mereka?" tanya Elia panik. Masih dengan posisinya yang bersandar di dingding.
" Yang jelas mereka sangat berbahaya," jawab Bion.
" Lalu mana Aditya?" tanya Elia.
" Saya tidak tau nona. Kerena saya juga sudah menghubungi dan sama sekali tidak tersambung," jawab Bion yang ternyata melakukan hal yang sama dengan Elia.
" Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Elia panik.
" Non, Elia jangan panik. Kita akan pergi dari sini. Ayo!" ajak Bion menggenggam tangan Elia dan membawanya pergi dengan mengendap-endap agar tidak ketahuan.
Dan jalan satu-satunya yang diambil Bion adalah dengan kabur. Karena orang-orang tersebut bisa membunuhnya. Apalagi anak buah Bion juga sudah sekarat.
**********
Di sisi lain Aditya dan Felly sudah mendarat dari air sungai dan tidak tau berapa lama mereka berenang dan hari sudah gelap. Untungnya mereka menemukan gubuk yang mungkin bisa berlindung dari hujan di luar sana.
Cuaca memang sedang tidak baik. Terus hujan. Tetapi lumayanlah mereka mendapatkan tempat. Paling tidak mereka tidak kedinginan.
Aditya menghidupkan api untuk penghangat tempat itu dan Felly duduk didepan api tersebut dengan memeluk tubuhnya yang kedinginan.
Sementara Aditya sibuk mencari-cari apa-apa yang ada di dalam gudang kecil itu. Mungkin mencari alas yang bisa di gunakan untuk tidur. Karena lantai yang mereka injak sangat dingin.
Aditya menoleh ke arah Felly dan melihat Felly kedinginan. Karena mungkin pakaian yang di kenakan Felly juga tidak kering. Karena pakaiannya yang di pakai Felly lumayan tebal jadi keringnya lama. Berbeda dengan kemeja Aditya yang sudah kering di tubuhnya.
Aditya menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan. Lalu membuka satu persatu kancing kemejanya. Setelah terlepas dari tubuhnya. Aditya menghampiri Felly.
__ADS_1
" Ganti pakaianmu!" ucap Aditya memberikan kemejanya pada Felly. Felly mengangkat kepalanya dan melihat kemeja yang di pakai Aditya dan tubuh Aditya yang polos yang menunjukkan tubuh kekarnya.
" Cepat!" ucap Aditya dengan suara beratnya.
" Lalu kau memakai apa?" tanya Felly dengan pelan.
" Pakai saja, baju yang kau gunakan basah. Jadi pakailah. Jika kau sampai sakit. Aku yang repot. Ini bukan kota, jadi kurangi untuk menyusahkanku," ucap Aditya dengan ketus. Felly terlihat membuang napasnya perlahan.
" Aku menggantinya di mana?" tanya Felly. Aditya melihat di sekelilingnya. Gubuk itu hanya sepetak dan jelas tidak ada jelang atau apapun untuk mengganti pakaian.
" Gantilah di sini. Aku akan keluar!" ucap Aditya langsung bergerak.
" Tunggu!" ucap Felly menghentikan langkah itu.
" Ada apa lagi?" tanya Aditya datar
" Di luar hujan. Kau hanya perlu berbalik badan dan aku akan menggantinya," ucap Felly yang mengambil jalan tengah. Aditya tampak berpikir sejenak.
Aditya tidak menjawab iya atau tidak. Felly mulai membuka res belakang bajunya dan Aditya langsung berbalik badan. Menunggu Felly berganti pakaian dengan kemeja putih miliknya.
Tidak berapa lama, Felly selesai mengganti pakaian itu. Kemeja yang over size yang sepanjang pahanya dan pasti menampilkan mulusnya pahanya.
Felly tidak mengatakan sudah selesai berganti pakaian. Tiba-tiba saja dia sudah lewat dari Aditya dan menjemurkan dress yang tadi di gunakannya.
Aditya harus tercengang dengan penampilan Felly yang begitu seksi. Matanya melihat dari U
ujang kaki Felly sampai rambut Felly. Menatap dengan teliti seperti menilai penampilan itu.
Selesai menjemurkan pakaiannya. Felly membalikkan tubuhnya dan Aditya dengan cepat mengalihkan pandangannya dengan kegugupan di wajahnya. Bahkan Aditya menelan salavinanya dengan pemandangan indah di depannya.
" Sudah selesai," ucap Felly.
" Aku juga tau," sahut Aditya salah tingkah dan seperti mencari kesibukan sendiri. Tubuhnya mungkin tiba-tiba saja menjadi panas.
Bersambung.....
__ADS_1