
Sabila masih membereskan beberapa keperluan Felly yang ada di dalam kamar perawatan itu. Felly duduk di di atas ranjang dengan ke-2 kakinya yang mengayun.
Wajahnya masih murung dan terlihat banyak pikiran. Tangannya terus berada di perutnya. Tubuhnya masih lemas. Tetapi pikirannya juga semakin banyak.
" Apa lagi akan yang terjadi. Sekarang aku keluar dari rumah sakit dan akan pulang kerumah itu. Sampai kapan aku bertahan seperti ini,"
" Tante Rebecca bagaimana aku melawannya dia sangat membenciku dan sekarang mas Damar dia malah memfitnahku di depan Aditya. Sampai Aditya memperlakukanku dengan sesukanya. Bagaimana aku mengahadapi mereka,"
" Dan Aditya. Aku tidak tau apa lagi yang akan di lakukannya kepadaku. Karena termakan omongan mas Damar dia sampai membuatku..." Felly yang bergerutu di dalam hatinya tidak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya.
Dia kebingungan dengan nasibnya selanjutnya. Dia selalu berusaha untuk bertahan. Tetapi semakin hari semakin banyak yang di alaminya dan yang lebih parahnya Aditya semakin semena-mena kepadanya.
Ceklek.
Lamunan Felly terhenti ketika mendengar pintu yang di buka yang ternyata menampilkan Aditya. Aditya yang berada di depan pintu melihat ke arah Felly yang duduk begitu juga dengan Felly yang melihatnya.
Ini pertama kali Aditya melihat Felly. Setelah Felly sadar dan begitu juga Felly yang sebenarnya mencari-cari dan bertanya-tanya kenapa Aditya tidak menemuinya akhirnya melihat Pria yang terakhir di lihatnya begitu marah kepadanya.
Pasangan suami istri itu saling melihat dalam perasaan mereka masing-masing yang tidak bisa di ungkapkan mereka. Tetapi mata indah Felly menunjukkan kemarahannya kepada Aditya.
Sementara mata Aditya menunjukkan penyesalan atas apa yang di lakuaknnnya. Tetapi lagi-lagi apa-apa yang mereka rasakan tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
" Nak Aditya," ucap Sabila. Membuat Aditya mengalihkan pandangannya dari Felly.
" Hmmm," sahut Aditya dengan deheman. Aditya melangkah memasuki ruangannya dan menghadap mertuanya tanpa melihat Felly yang duduk di sampingnya.
" Mama sudah menyiapkan semuanya keperluan Felly," ucap Sabila.
" Terima kasih sudah mengurus keperluannya. Jemputan mama juga sudah menunggu di depan. Bion akan mengantar mama pulang," ucap Aditya dengan lembut berbicara pada mertuanya itu.
Felly yang duduk diam dengan matanya yang tidak lepas dari Aditya heran sedikit dengan Aditya yang memanggil mamanya dengan sebutan mama.
Felly tidak pernah mengerti dengan jalan pikiran Aditya yang tidak bisa ditebak. Sosoknya yang penuh misteri membuatnya bingung.
__ADS_1
Mendengar suaminya itu memanggil mamanya dengan sebutan mama seakan menunjukkan Pria itu begitu lembut. Dan mungkin dia pernah merasakan kelembutan dan hangatnya Pria itu. Tetapi kenapa Pria itu tiba-tiba kasar dan bahkan membuatnya berada di rumah sakit.
Felly jelas mengingat apa yang di lakukan Aditya padanya. Membuatnya ketakutan di kamar itu. Tanpa di pedulikan sama sekali. Tetapi untunglah mentalnya sedikit kuat sampai bertahan sekarang.
" Benarkah jika begitu. Baiklah nak kalau begitu Mama pamit dulu," ucap Sabila. Aditya mengangguk.
" Felly, kamu jaga diri ya, kamu jangan sakit-sakitan lagi. Kamu harus ingat kamu sedang mengandung. Jangan merepotkan suami kamu ya. Kamu harus bisa mengerti dia jangan suka bertengkar ya. Jadilah istri yang baik yang penurut dan layani suami kamu dengan baik. Karena kamu adalah istrinya," ucap Sabila memberi saran pada putrinya dan memberikan nasehat pada ananknya bahkan memberikan nasehat di depan suaminya.
" Kamu dengarkan mama?" tanya Sabila lagi mengusap rambut Felly.
" Iya ma," jawab Felly. Sabila tersenyum.
" Ya sudah mama pulang dulu. Ingat jangan membuat suami kamu marah. Kamu harus bisa menjaga perasaannya," ucap Sabila lagi meningkatkan.
" Lalu bagaimana dengan perasaanku. Apa dia pernah memikirkannya," batin Felly yang matanya mulai bergenang.
Setelah memberi pesan pada anaknya. Sekarang Sabila kembali menghadap Aditya dan memeluk Aditya. Aditya kaget mendapat pelukan hangat itu. Sampai dia menelan salavinanya tidak menyangka jika didalam hidupnya akan mendapat pelukan hangat.
" Mama titip Felly ya. Kalian jangan ribut-ribut. Kalau Felly merepotkan kamu. Kamu bilang sama mama dan kalau dia melakukan sesuatu yang tidak benar. Kamu punya hak untuk memarahinya dan memberinya hukuman agar dia jera," ucap Sabila melihat kearah Felly dengan tersenyum. Tetapi wajah Felly sangat datar menanggapinya.
" Ya sudah mama pergi dulu, kamu jagakan Felly terus ya," ucap Sabila menitipkan putrinya pada Aditya.
" Iya ma," jawab Aditya. Sabila tersenyum, memegang pipi Aditya sebentar dengan wajahnya tersenyum.
" Ya sudah mama pergi dulu," ucap Sabila Kemabali pamit dan langsung pergi keluar dari kamar itu dan meninggalkan Felly dan Aditya yang berduaan.
" Turunlah dari tempatmu. Kita akan pulang," ucap Aditya dengan suara dinginnya. Aditya melangkahkan kakinya.
" Aku tidak melakukan apapun yang kau tuduhkan," ucap Felly membuat langkah Aditya berhenti.
" Aku akan membuktikannya. Jika aku tidak bersalah. Damar yang datang sendiri kekamarku. Dia ingin membawaku ke rumah sakit dan aku menolaknya. Dia terus memaksaku dan aku menamparnya. Lalu dia tidak terima dengan apa yang aku lakukan dan dia ingin...."
" Cukup!" sahut Aditya. Yang tau apa yang akan di ucapkan Felly. Aditya mungkin tidak ingin mendengar kan kata itu.
__ADS_1
" Kau tidak perlu banyak bicara itu tidak ada gunanya," ucap Aditya yang memang sudah tau. Apa yang sebenarnya.
" Tapi aku memang tidak melakukannya," ucap Felly yang suaranya terlihat sangat serak. Aditya membalikkan tubuhnya dan melihat kearah Felly.
" Apa kau tidak bisa diam. Aku sudah mengatakan jangan banyak bicara dan turun dari tempatmu," ucap Aditya dengan tegas.
" Bagaimana aku tidak banyak bicara aku mendapatkan hukuman yang tidak manusiawi. Karena suatu hal yang sama sekali tidak aku lakukan. Aku hampir di lecehkan oleh adik tirimu dan aku bersyukur kau datang dan hal itu tidak terjadi. Tetapi aku tidak percaya jika kau malakukannya kepadaku di tempat di mana kau mengingingatkan kelakuan bejatmu kepadaku," ucap Felly dengan suaranya yang semakin lama menelan dan air matanya yang jatuh.
" Apa kau sangat bangga memberi pelajaran itu kepadaku. Apa kau ingin aku benar-benar menjadi gila. Karena hanya emosimu yang tidak beralasan. Apa kau pikir aku sekuat itu Aditya. Aku tidak bisa menghadapi semuanya,"
" Mamaku mengatakan. Aku harus menjaga perasaanmu. Tetapi bagaimana perasaanku. Apa kau tau apa yang aku rasakan. Apa kau memikirkan apa yang aku rasakan saat kau semena-mena kepadaku dan mengingatkan kejadian itu kepadaku. Kau memperlakukan tidak ada bedanya dengan malam itu," ucap Felly lagi tanpa melepas tatapannya dari Aditya.
Aditya hanya diam mendengar apa-apa yang di katakan Felly. Iya dirinya juga menyadari semua kebodohan yang dia lakukan. Tetapi kata maaf yang di ucapkannya tidak bisa keluar dari mulutnya.
Walau dia sudah menyesalinya dan bahkan melukai dirinya sendiri karena kebodohannya. Tetap saja maaf untuk wanita itu tidak mungkin terucapkan.
" Kenapa kau begitu kejam kepada ku Aditya?" tanya Felly yang ingin mendapat jawaban itu.
" Kau padahal punya kakak perempuan dan aku juga punya kakak laki-laki. Bagaimana Aditya jika kakakmu yang mengalami apa yang aku rasakan. Bagaimana jika ada orang yang memperkosa kakakmu seperti apa yang aku alami. Apa kau tidak akan marah apa kau tidak akan membunuh orang yang melakukannya," ucap Felly. Aditya mendengarnya mengepal tangannya.
Apa yang di katakan Felly sudah terjadi pada kakaknya.
" Dan mungkin itu yang di lakukan kakak ku. Jika dia tau apa yang kau lakukan kepadaku. Mungkin dia juga akan membunuhmu," lanjut Felly. Aditya hanya diam dengan napasnya yang semakin berat.
" Kau tidak akan tau rasanya Aditya. Karena kakakmu baik-baik saja. Kau bisa melindunginya sampai dia tidak kenapa-kenapa. Jadi mana mungkin kau bisa mengerti perasaanku. Karena kau tidak mengalaminya," ucap Felly lagi.
" Kau tidak akan..."
" Cukup!" sahut Aditya dengan suara beratnya memotong pembicaraan Felly yang sedari tadi mengoceh terus.
" Aku menunggumu di mobil," ucap Aditya langsung pergi. Dia tidak tahan mendengar kata-kata Felly dan memilih untuk pergi. Karena sejatinya. Kakaknya sudah mengalami hal itu.
Bersambung....
__ADS_1