
Aditya menciumnya hanya sebentar. Di tengah Felly yang sudah terhanyut tetapi Aditya malah berhenti dan melepas ciuman itu dan membuat Felly merasa kehilangan. Felly membuka matanya dan melihat Aditya yang tersenyum kepadanya.
Napas Felly terdengar berat dan wajah Felly terlihat sangat terlihat ingin meminta lagi. Dia seakan sangat kecewa karena ciuman yang terlepas itu begitu saja.
" Aku harus mengantar mama kepasar. Aku sudah berjanji tadi malam. Kalau kau ingin tidur maka tidur lah," ucap Aditya dengan lembut sembari membelai-belai rambut Felly.
Felly dengan debaran jantung yang tidak menentu dan napas yang masih tetap tidak saling beraturan. Aditya pun bangkit begitu saja dari tempat tidur, lalu pergi keluar dari kamar.
Kepergian Aditya hanya bisa di lihat Felly. Wajah Felly yang yang tampak kecewa dengan hal itu.
" Ada apa denganmu Felly," batinnya memegang dadanya yang berdebar kencang.
" Tidak mungkin Felly. Tidak mungkin kamu menginginkannya. Tidak mungkin Felly, tidak mungkin, itu hanya perasaanmu saja. Itu tidak mungkin Felly, kamu tidak mungkin menginginkannya," batin Felly dengan napasnya naik turun.
Dia benar-benar merasakan hal yang aneh. Seakan kecewa dengan apa yang di lakukan Aditya barusan. Seakan setengah perjalanan lalu di berhentikan. Felly baru merasakan hal itu bagaimana dengan Aditya yang sejak dulu selalu kecewa.
Di saat hasrat dan gairahnya yang sudah tidak terbendung lagi. Di saat tubuhnya benar-benar panah. Felly memberhentikannya dan pasti Aditya lebih kecewa dan sekarang Felly benar-benar sudah merasakan hal itu.
Sekarang malah Felly yang terlihat gelisah dan kepanasan sendiri. Mungkin sengaja Aditya juga sengaja melakukan hal itu padanya. Ingin menarik ulur Felly.
*********
Setelah mandi dan rapi-rapi Felly keluar dari kamar. Felly mendengar suara bicara dengan tertawa-tawa sedikit. Suara tersebut berasal dari dapur dan membuat langkah Felly pergi menuju dapur.
Yang ternyata adalah mamanya dan juga Aditya. Di mana anak dan menantu itu memasak bersama. Felly tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Melihat Aditya yang tampak bahagia memasak bersama mamanya. Layaknya seorang anak dan ibu kandung sendiri.
Di wajah tampan Aditya juga terukir senyum lebar. Yang memperlihatkan Pria itu bukan pria kejam. Tetapi Pria yang sangat manis dan lembut. Tawa ceria di wajah itu memperlihatkan kebahagian itu.
Felly melihat hal itu tersenyum dengan matanya berkaca-kaca. Dia tau suaminya itu memang sangat merindukan sosok seorang ibu dan dia tau Aditya sangat mencintai ibunya ketika mendengar dari BI Warmi.
" Dia pasti sangat merindukan hari-hari bersama mamanya," batin Felly meneteskan air mata melihat moment suaminya yang bersama Aditya.
__ADS_1
Lama Felly berdiri dan menonton kebersamaan itu sampai saatnya tiba. Sabila tidak sengaja melihat ke arah Felly yang diam mematung.
" Felly!" tegur Sabila. Membuat Felly tersentak kaget dan tangannya buru-buru mengisap sisa air mata di pipinya.
Aditya langsung melihat ke arah Felly, dia hanya melihat biasa saja. Karena dia juga tidak tau kapan Felly sudah berada di sana.
" Kamu ngapain di situ. Ayo bantuin mama masak," ucap Sabila mengajak Felly. Felly yang tampak gugup mengangguk cepat dan melangkah mendekati Aditya dan mamanya.
" Felly kamu tau tidak, ternyata Aditya ini pintar memasak," ucap Sabila yang tersenyum.
" Iya mah, Aditya kan punya Restauran, dulu Felly pernah bekerja di sana. Makanan di Restaurannya sangat enak. Jadi jelas Aditya bisa memasak," sahut Felly yang menambahi .
" Tumben dia langsung mengakuinya. Biasanya dia tidak akan menerima hal itu dan akan banyak cerita. Sekarang dia malah mengakuinya," batin Aditya cukup heran dengan Felly.
" Benarkah seperti itu. Pantasan cara memotong dan memilih bahan sayuran Aditya sangat pintar. Ternyata dia memiliki Restauran," sahut Sabila yang tidak habis pikir.
" Tidak terlalu ahli, jelas mama lebih pintar," sahut Aditya yang merendah diri.
" Ya sudah sekarang ayo bantu masak. Agar cepat selesai," ucap Sabila.
" Iya ma," sahut Felly melihat bahan makanan di meja dan mengambil wartel yang ingin memotongnya.
" Mama ambil pesanan ikan di depan dulu ya," ucap Sabila. Aditya dan Felly mengangguk. Sang mama pun akhirnya pergi dari dapur dan tinggal Aditya dan juga Felly yang ada di sana.
Felly memotong wartel dan Aditya yang berdiri di sampingnya melihat kearah tangan Felly yang bekerja. Aditya mendengus dengan sedikit senyum dan melangkah kebelakang Felly.
" Bukan seperti itu potongan yang benar," ucap Aditya yang sudah memeluk Felly dari belakang dan tangan Aditya sudah memegang tangan Felly yang memegang pisau dan juga wartel.
" Kamu harus sesuaikan dengan apa yang kamu masak. Jadi potong lebih besar sedikit. Karena kamu memasak untuk sayur sup," ucap Aditya dengan lembut mengajari Felly.
Felly hanya terdiam dengan debaran jantungnya yang lebih kencang, saat Aditya benar-benar sangat manis. Aditya menuntun tangan Felly untuk memotong wartel itu. Felly menoleh ke arah Aditya dan melihat Aditya yang tampak serius.
__ADS_1
Aditya pun melihat ke arahnya. Wajah mereka yang begitu dekat membuat napas mereka saling menerpa.
" Jangan lihat aku jari mu bisa terkena pisau," ucap Aditya. Membuat Felly tersentak kaget dan langsung mengalihkan pandangannya dan kembali dengan apa yang di kerjakannya yang. Aditya menyunggingkan senyumnya melihat kegugupan Felly.
" Tanganmu tidak boleh bergetar saat kau sedang bermain dengan pisau," ucap Aditya lagi yang membuat mata Felly terpejam. Dia benar-benar seperti orang linglung.
Di dapur kecil itu. Suami istri itu terlihat memasak seperti pasangan romantis saja. Ternyata Sabila sudah lupa jalan kembali kedapur makanya tidak kembali juga. Atau mungkin dia sengaja. Dia tidak mau mengganggu kemesraan sang anak.
Beberapa masakan yang di masak Felly dan Aditya sudah tertata di meja dan kali ini mereka hanya tinggal memasak penutup makanan yaitu desert puding coklat. Yang memang Felly ingin memakannya.
" Kayaknya ini sudah masak," ucap Felly melihat ke arah Aditya yang berdiri di sampingnya.
" Kayaknya sudah," sahut Aditya juga yang merasa sudah.
" Aku coba rasanya sudah pas atau belum," sahut Felly yang langsung mencoba sedikit dan Aditya hanya menunggunya mencicipi masakan itu.
" Hmmmm, sudah manis dan rasanya juga pas," ucap Felly yang menikmati rasa dari makanannya itu.
" Kamu mau coba?" tanya Felly.
" Nanti saja," jawab Aditya.
" Cobalah ini sangat manis," ucap Felly.
Aditya menatap Felly dalam dan memegang dagu Felly dan mengantarkannya ke bibirnya dan mencium bibir Felly. Felly melotot saat mendapatkan serangan tiba-tiba.
" Bagiku itu yang lebih manis," ucap Aditya melepas ciuman itu dengan menatap Felly dalam-dalam dan Felly masih bengong dengan menelan salavinanya.
" Aku mandi dulu!" ucap Aditya memegang pundak Felly dan langsung pergi.
Setelah Aditya pergi. Felly baru membuang napasnya panjangnya dengan lerlahan. Tumbennya mulutnya tidak berkomentar dan malah tersenyum tipis seakan sangat suka dengan apa yang di lakukan Aditya.
__ADS_1
Bersambung