
Mentari pagi yang indah, sinar matahari yang cerah membuat Felly masih saja menikmati tidurnya yang nyenyak. Berbaring miring membelakangi Aditya yang mulai mengganggunya.
Aditya memeluknya erat dari belakang dengan mengusap-usap perut ramping istrinya yang ada bayinya di dalam sana.
" Sayang bangun!" ucap Rendy lembut sambil menciumi rambut Felly.
" Hmmmmm," Felly hanya berdehem lalu meluruskan tubuhnya, membuka matanya sipit dan melihat wajah suaminya di depannya yang sudah tersenyum padanya.
" Bangun sayang," ucap Aditya mencium lembut kening Felly. Mata Felly terbuka sempurna dan melihat suaminya.
" Jam berapa sekarang?" tanya Felly.
" Jam 7," jawab Aditya.
" Hmmm, aku masih ngantuk," ucap Felly dengan suara manjanya yang mengalungkan tangannya di leher suaminya, Aditya tersenyum dan memberi morning kiss pada istrinya.
" Kamu harus bangun!" ucap Aditya.
" Apa tidak boleh nanti-nanti saja?" tanya Felly tampak pemalas.
" Tidak boleh. Harus sekarang!" tegas Aditya.
" Felly menguap dengan menutup mulutnya dengan 1 tangannya. Aditya hanya tersenyum melihat istrinya yang sangat menggemaskan itu.
" Boleh aku cium calon anak kita?" tanya Aditya.
" Kenapa minta izin. Itu kan bayi kamu juga. Jadi kamu punya hak untuknya. Kamu punya hak melakukan apapun padanya. Dia adalah bayimu," ucap Felly.
" Benarkah?" tanya Aditya dengan menaikkan 1 alisnya. Felly mengangguk tersenyum.
" Kalau begitu, aku ingin bicara dengannya. Aku ingin menciumnya," ucap Aditya. Yang langsung matanya turun pada perut Felly. Aditya menarik ke atas baju Felly dan mencium perut Felly langsung dan tampak Felly merasa geli.
Aditya memang usil, dia bukan hanya mencium perut Felly. Bahkan sangat jahil mengletik Felly membuat Felly ke gelian dan tubuhnya menggeliat.
" Hentikan Aditya apa yang kamu lakukan. Hentikan Aditya," ucap Felly mengeluh dengan terus kegelian.
Aditya memang suami yang selalu membuat istrinya kesal. Karena kasihan Aditya pun menghentikan hal yang membuat Felly sangat sensitif. Lalu Aditya kembali lurus berada di atas tubuh Felly. Memainkan anak rambut Felly.
" Kamu mengatakan hanya menciumnya. Tapi apa yang kamu lakukan. Kamu malah membuatku kesal," ucap Felly dengan wajah cemberutnya dan bibirnya yang mengkerut. Aditya yang gemas pun langsung mencium bibir istrinya yang terus mengoceh.
" Ishhh, kamu ini!" geram Felly langsung mengusap bibirnya dengan punggung tangannya.
" Berani kamu menghapus ciuman suamimu," ucap Aditya kesal.
__ADS_1
" Biarin!" geram Felly yang tidak peduli.
Cup.
Aditya menciumnya kembali membuat Felly melotot. Dan Aditya juga melotot pada istrinya.
Cup.
Aditya mengecup lagi bibir yang menjadi candunya itu. Dan Felly semakin kesal ingin menghapusnya lagi. Namun Aditya mencengkram tangan Felly, mengunci ke- pergelangan tangan itu.
" Aditya kamu!" geram Felly yang tidak bisa bergerak sama sekali.
" Kenapa, kamu mau menghapusnya lagi. Aku akan lebih menciumi mu lagi," ucap Aditya yang menantang Felly.
" Ishhhh, lepasin tanganku! siapa juga yang mau menghapusnya," ucap Felly memberontak mengangkat kepalanya yang benar-benar Aditya menguasai dirinya sampai dia tidak bisa berbuat apa-apa.
" Aditya menyinggirlah aku mau mandi," ucap Felly.
" Aku juga mau mandi, bagaimana kalau kita mandi bersama," ucap Aditiya dengan menaikkan 1 alisnya menatap nakalnya istrinya itu.
" Ishhhh, kamu ini mana bisa mandi berduaan," ucap Felly kesal.
" Sayang kita itu suami istri dan jelas itu hal yang wajib di lakukan suami istri," tegas Aditya.
" Kamu mau durhaka pada suami kamu hah! sampai menolak- menolak segala lagi," ucap Aditya.
" Tidak ada yang mau durhaka. Tetapi apa yang kamu katakan tidak masuk akal," geram Felly dengan menatap tajam suaminya yang terus saja menggoda dirinya.
Tok-tok-tok-tok.
" Aditya, Felly kalian belum bangun. Ayo turun!" tiba-tiba terdengar suara Sabila mama Felly yang mengetuk-ngetuk pintu.
Felly dan Aditya sama-sama melihat ke arah pintu dan wajah Aditya terlihat begitu kesal.
" Sana buka pintu!" ucap Felly yang merasa menang karena untung mamanya datang. Jadi suaminya berhenti menggodanya.
" Iya mah, nanti," sahut Aditya dengan suara kesalnya. Namun Felly sudah tersenyum menikmati wajah kesal suaminya itu.
" Buruan turun ya. Laura juga ada di bawah katanya ingin bicara dengan kalian," ucap mamanya lagi. Mendengar nama Laura membuat pasangan saling melihat.
" Iya ma," sahut Aditya dengan berteriak.
" Laura!" ucap Felly, Aditya mengangguk.
__ADS_1
" Tumben dia pagi-pagi datang, memang ada apa?" tanya Felly heran.
" Aku juga mana tau sayang. Kan kita sama-sama disini," sahut Aditya.
" Ya sudah kalau begitu bangkit sana. Kasian Laura menunggu!" ucap Felly.
" Iya," sahut Aditya dengan suara terpaksa. Cup. Aditya kembali mencium bibir Felly.
" Terakhir," ucap Aditya dengan nakal dan langsung bangkit dari atas tubuh Felly.
" Ishhh, dasar," geram Felly. Namun tersenyum tipis yang melihat tingkah suaminya.
***********
Selesai mandi dan pasangan suami istri itu sudah rapi. Meraka juga tadi sempat sarapan roti bakar dan setelah itu mereka menemui Laura yang menunggu di taman belakang yang mana Laura duduk di sana dengan secangkir kopi yang mungkin di siapkan Sabila untuk Laura.
" Laura!" tegur Felly. Laura sedikit kaget dengan suara Felly.
" Ha, iya Felly," sahut Laura yang langsung berdiri dengan ujung jarinya yang saling bertemu dan Felly melihat hal itu yang bisa menebak jika Laura gelisah dan seperti ada hal serius yang ingin di bicarakannya.
" Duduklah Laura!" titah Aditya. Laura mengangguk dan duduk di depan pasangan suami istri itu.
" Ada apa Laura kamu pagi-pagi sudah ingin menemui kami?" tanya Aditya.
" Begini Aditya. Ini masalah Damar," ucap Laura membuat Felly dan Aditya saling melihat.
" Memang ada apa dengan Damar?" tanya Felly.
" Aku tidak bermaksud apapun. Tidak ada penghiyanatan yang aku lakukan. Tapi aku jika tidak bisa bohong untuk semua ini. Aku tidak ingin diam-diam melakukannya. Kalian bisa melihat apa yang terjadi pada Damar, dia mempertanggung jawabkan perbuatannya dan juga sudah menanggung banyak beban dari Rebecca. Kedelapan Rebecca juga sudah di tanggungnya," ucap Laura.
" Laura, langsung pada intinya saja. Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Aditya.
" Aditya, Felly, aku tidak merencanakan semua ini. Semuanya datang begitu saja. Aku_aku, aku ingin merawat Damar, aku ingin di sisinya untuk menghadapi semua masalah ini," ucap Laura menundukkan kepalanya yang sebenarnya takut mengatakan itu pada Aditya.
" Kamu menyukai Damar?" tanya Felly pelan.
" Felly, aku tidak berencana untuk menyukainya. Tetapi semuanya terjadi begitu saja," sahut Laura yang masih menunduk. Namun Felly tersenyum mendengarnya.
" Kalian berdua jangan salah paham jangan mengataiku penghiyanatan. Jika aku penghiyanat mana mungkin aku berani jujur pada kalian. Aku pasti sudah diam-diam," ucap Laura.
" Ya cinta itu memang tidak tau datang dari mana. Aditya juga dulu seperti itu. Dia hanya memanfaatkanku dan aku sangat luar biasa membencinya. Tetapi pada akhirnya ada cinta yang membuat kami berdua menjadi menyatu dan tidak bisa di pisahkan," batin Felly dengan senyumnya yang melihat Laura tampak dilema yang terlibat cinta dalam pemanfaatan.
Bersambung
__ADS_1