
Berita tentang Baskoro yang menjadi tersangka. Ternyata sampai ke telinga Damar. Damar masih berada di rumah sakit jiwa untuk pemulihan mentalnya. Damar melihat pemberitaan itu dari televisi.
" Papa yang telah membunuh Wiliam dan Heriyawan," lirih Damar tampak schock dengan berita itu.
" Apa yang terjadi, apa mungkin papa membunuh mereka. Karena memberi pelajaran pada mereka atas apa yang terjadi pada kak Elia. Lalu apa Aditya ikut dalam hal itu," Damar bertanya-tanya di dalam hatinya.
Damar penuh kebingungan dengan berita papanya yang telah menjadi buronan polisi.
Ceklek.
Di tengah kebingungannya. Pintu kamarnya terbuka yang ternyata Laura yang pasti tidak pernah absen untuk tidak menjenguknya dan Laura pasti membawa banyak makanan.
" Kamu sedang mikirin apa?" tanya Laura duduk di samping Damar melihat wajah Damar yang tampak berpikir.
" Masalah pembunuhan Wiliam dan juga Heriyawan. Papa terlibat," jawab Damar.
" Kamu sudah mendengarnya juga," sahut Laura.
" Kamu mengetahui hal itu?" tanya Damar dengan wajah seriusnya.
" Aku juga melihat di berita dan mengikuti beritanya yang awalnya om Baskoro masih di duga. Namun statusnya sudah berubah menjadi tersangka," sahut Laura.
" Dan kamu tau masalah itu?" tanya Damar menatap Laura serius.
" Aku tidak tau Damar. Aditya juga tidak tau. Tidak ada yang tau apa yang terjadi dan kenapa Om Baskoro sampai nekat membunuh mereka," jawab Laura apa adanya.
" Lalu di mana papa sekarang. Apa sudah di temukan?" tanya Damar tampak khawatir. Laura menggeleng pelan.
" Polisi, Aditya mencarinya," jawab Laura.
" Papa membunuh mereka ber-2 karena telah menghancurkan hidup kak Elia. Apa kemungkinan papa juga akan melakukannya pada mama," batin Damar yang tiba-tiba kepikiran mamanya.
" Damar kamu kenapa?" tanya Laura melihat Damar dengan wajah yang begitu cemas.
" Tidak apa-apa. Aku hanya khawatir pada papa," jawab Damar bohong.
" Kamu tenang saja masalahnya akan cepat selesai," sahut Laura meyakinkan. Damar mengangguk. Walau hatinya tidak tenang.
" Hmmm, oh iya aku datang kemari ingin memberimu kabar baik," ucap Laura dengan wajah semangatnya.
" Kabar apa?" tanya Damar dengan wajah sendu yang tidak bersemangat.
" Ini," sahut Laura memberikan Damar selembaran kertas.
" Apa ini?" tanya Damar heran.
" Hmmm, ini adalah surat yang aku ajukan untuk pemindahan mu. Dari rumah sakit jiwa ketempat yang lebih baik," jawab Laura membuat Damar bingung.
" Maksud kamu?" tanya Damar tidak mengerti.
" Damar, kondisi kamu semakin lama semakin membaik dan aku mengajukan ini. Agar kamu semakin membaik. Kamu tidak terus-menerus berada di sini. Tempat ini membuat kondisi kamu yang ada semakin buruk. Jadi mereka menyetujuinya. Jika kamu bisa di pindahkan ketempat yang lebih baik. Yang tidak di huni oleh orang-orang yang sakit jiwa," jelas Laura dengan wajahnya yang tampak ceria.
__ADS_1
" Laura, bukannya aku masih dalam hukuman dan kamu melakukan ini percuma?" sahut Damar.
" Aku tau Damar. Tapi nyatanya di setujui. Kamu tetap dalam pengawasan polisi juga dalam pengawasan suster dan pasti aku selalu ada bersamamu. Jadi tidak ada masalah yang penting kamu tidak di tempat ini," ucap Laura tersenyum dengan memegang pipi Damar.
" Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Damar.
" Tidak ada alasan Damar untuk tidak melakukannya. Karena aku mencintaimu dan aku ingin yang terbaik untukmu itu saja," sahut Laura.
" Terimakasih Laura. Kamu masih tetap bersamaku. Walau keadaannya sudah berubah. Terima kasih Laura," ucap Damar yang merasa bahagia. Laura mengangguk tersenyum dan memeluk Damar.
" Aku melakukannya demi kebaikanmu," sahut Laura. Damar tetap memeluknya dengan mengusap-usap punggung Laura.
Dia memang senang dengan apa yang di berikan Laura kepadanya. Tetapi dia juga begitu kepikiran dengan me adaan mamanya yang takut terjadi sesuatu. Ya Damar kembali berada di posisi yang serba salah.
***********
Malam hari tiba. Felly tetap menjaga Harison dengan memberi Harison makan. Dia merawat tulis Harison yang di anggap seperti kakeknya sendiri.
" Sudah cukup Felly," tolak Harison saat Felly ingin memberinya makan lagi.
" Kakek sudah kenyang?" tanya Felly. Harison mengangguk.
" Ya sudah, kakek minum obat ya," Ical Felly. Harison mengangguk dan Felly dengan cepat mengambil obat dan memberi obat Harison dengan lembut.
" Apa Aditya sudah kembali?" tanya Harison setelah selesai menelan obatnya.
" Tidak kek, Aditya belum pulang. Mungkin sebentar lagi," jawab Felly meletakkan obat dan segelas air putih di atas nakas.
" Kak Elia bersama Bion. Kakek jangan khawatir ya. Kak Elia akan baik-baik saja," ucap Felly. Tapi namanya juga seorang kakek dia akan tetap kepikiran pada anak dan cucunya.
Ting.
Tiba-tiba Felly mendapat pesan chat yang ternyata dari suaminya.
..." Sayang, kamu keluar dulu. Aku tidak bisa menemui kakek. Aku takut kakek semakin kepikiran. Jadi ada sebaiknya kakek tidak tau kalau aku sudah kembali. Aku tunggu kamu di depan," tulis Aditya....
Wajah Felly terlihat cemas. Felly melihat ke arah Harison yang juga penuh dengan beban pikiran.
" Kek, kakek istirahat ya," ucap Felly memperbaiki selimut Harison.
" Iya Felly," sahut Harison.
" Felly keluar sebentar ya. Felly mau cari makan duku," ucap Felly pamit.
" Iya, kamu juga harus makan. Kasihan kamu dan juga bayi kamu. Jadi teruslah memperhatikannya," ucap Harison mengingatkan.
" Iya kek, kakek jangan khawatir. Ya sudah Felly pergi dulu," sahut Felly yang langsung pergi. Harison hanya mengangguk dan membiarkan Felly pergi.
" Semoga Aditya bisa menemukan Baskoro," batin Harison yang terus kepikiran dengan Baskoro putra semata wayangnya.
*********
__ADS_1
Felly pun langsung menemui suaminya yang memang benar apa adanya. Suaminya sedang berada di depan mobil.
" Sayang!" tegur Felly.
" Felly," sahut Aditya yang langsung memeluk istrinya.
" Syukurlah kamu tidak apa-apa, aku khawatir sama kamu," ucap Felly memeluk erat suaminya yang sangat takut ada apa-apa dengan suaminya.
" Iya sayang, aku tidak apa-apa. Maaf membuatmu khawatir," sahut Aditya merasa bersalah. Felly melepas pelukan itu.
" Lalu bagaimana papa. Apa sudah di temukan?" tanya Felly khawatir. Aditya menggelengkan kepalanya.
" Aku sama Andre sempat menemukan jejaknya. Namun kami langsung kehilangan jejaknya dan papa juga sempat kepemakaman dan bertemu dengan kak Elia," jelas Aditya.
" Lalu apa yang terjadi?" tanya Felly dengan panik.
" Papa pergi dan polisi mengecek ke lokasi. Untunglah Bion cepat membawa kak Elia dan tidak terjadi apa-apa lagi," jawab Aditya.
" Lalu bagaimana selanjutnya. Papa tidak di temukan juga dan bagaimana jika polisi yang akan menemukannya nanti," ucap Felly yang sangat khawatir.
" Aku juga menakutkan hal itu. Tapi aku sama Andre sedang berusaha mencari papa," sahut Aditya.
" Ya Allah, semoga saja papa tidak kenapa-kenapa dan semoga tidak ada masalah yang semakin besar. Aku sangat khawatir pada papa," ucap Felly dengan wajah gelisahnya.
" Kamu tenang ya semuanya akan baik-baik saja," sahut Aditya yang menenangkan istrinya. Felly tetap mana bisa tenang begitu saja.
" Oh, iya sayang, kakek bagaimana?" tanya Aditya.
" Kakek baru saja selesai makan. Kakek juga sudah minum obat dan pasti kakek terus menanyakan papa," jawab Felly.
" Aku tau kakek pasti kepikiran masalah itu," sahut Aditya.
" Sayang, lalu apa yang akan kamu lagi?" tanya Felly.
" Aku akan kembali mencari papa. Aku hanya menemuimu sebentar. Agar tidak khawatir. Aku sama Andre akan terus mencari papa. Sebelum masalah semakin besar. Jadi kamu tenang ya di sini. Jangan pergi kemana-mana. Tetap jaga kakek," ucap Aditya memberi pesan pada istrinya.
" Iya. Lalu kak Elia bagaimana?" tanya Felly.
" Kamu jangan khawatir kak Elia aman bersama Bion," sahut Aditya.
" Syukurlah kalau begitu," sahut Felly. Aditya memegang pipi istrinya dan mencium kening istrinya.
" Aku pergi ya. Kamu hati-hati di sini," ucap Aditya pamit kembali.
" Kamu juga hati-hati. Dan terus kabari aku," ucap Felly. Aditya mengangguk. Aditya berjongkok dan mencium perut istrinya.
" Papa pergi dulu sayang. Kamu jaga mama," ucap Aditya.
Aditya kembali berdiri dan memeluk istrinya. Lalu Aditya pergi langsung yang kembali mencari papanya. Dia hanya menemui istrinya sebentar.
Bersambung
__ADS_1