
Felly menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Air matanya terus saja menetes. Dengan tangannya yang mengusap-usap perut rampingnya.
" Aku takut Aditya. Aku sangat takut terjadi sesuatu padamu. Aku takut Aditya, aku tidak pernah mencegahmu untuk melakukan apapun. Tapi kali ini benar-benar aku sangat takut. Aku begitu takut terjadi sesuatu padamu. Ya Allah apa ini adalah resiko mempunyai suami yang selalu dalam bahaya," batin Felly yang terus meneteskan air matanya yang penuh ketakutan.
" Ya Allah apa egois, apa aku egois ya Allah yang telah melarang suamiku untuk pergi untuk menyelamatkan Ayahnya. Apa aku egois yang sudah menginginkannya bersama ku. Apa aku begitu egois ya Allah. Aku hanya tidak ingin suamiku kenapa-kenapa. Aku hanya takut ya Allah?" tanya Felly di dalam hatinya dengan perasaannya yang tidak bisa berkata apa-apa.
" Ya Allah, lindungilah suamiku, jangan biarkan dia kenapa-kenapa. Aku dan janin di dalam rahimku sangat membutuhkannya," ucap Rania dengan tetesan air matanya.
********
Di sisi lain Damar dan Baskoro akhirnya bisa membuka ikatan mereka. Ayah dan anak itu bahkan sudah bisa meloloskan diri mereka.
" Ayo cari mamamu!" ucap Baskoro.
" Apa yang akan kita lakukan jika mama kita dapatkan. Jika aku mendapatkan mama. Aku akan membawa mama kekantor polisi. Lalu papa bagaimana?" tanya Damar.
" Ayo kita cari jangan banyak bertanya," ucap Baskoro yang lagi-lagi tidak memberitahu apapun pada Damar.
" Baiklah!" sahut Damar yang memang sudah pasrah jika apapun yang terjadi.
***********
Felly mendengar suara mesin mobil yang membuatnya dengan cepat bangkit dari tempat tidur dan melihat Laura dan Lusi memasuki mobil dengan terburu-buru.
" Mau kemana mereka, apa mereka ingin menemui Aditya?" tanya Felly di dalam hatinya yang begitu penasaran. Yang melihat ibu dan anak itu yang tergesa-gesa ingin pergi.
" Sebaiknya aku mengikuti mereka. Atau jangan-jangan mereka ingin bertemu dengan Aditya. Pasti kepergian mereka ada hubungannya dengan Aditya. Karena tidak mungkin Laura dan Tante Lusi tidak ikut dengan Aditya. Aku harus pergi," ucap Felly yang memutuskan untuk pergi.
Perasaannya yang tidak tenang membuatnya harus mengetahui kemana Laura pergi yang pasti berhubungan dengan Aditya.
Felly menuruni anak tangga dengan cepat. Penjagaan di rumah itu sangat banyak. Felly pun berpura-pura biasa agar tidak ada yang bertanya padanya.
" Felly!" tegur Elia yang tiba-tiba datang membuatnya tersentak kaget.
" Kak Elia!" lirih Felly yang terlihat panik.
" Kenapa kak Elia tiba-tiba turun. Bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan. Aku bisa kehilangan Laura dan Tante Lusi," batin Felly dengan penuh kebingungan.
" Ada apa kak?" tanya Felly dengan wajahnya yang panik.
" Hmmm, ikut sebentar dengan kakak!" ucap Elia. Namun Felly terlihat gelisah.
" Apa kak Elia mencurigaiku. Apa Aditya memang menyuruhnya untuk menjagaku. Agar aku tidak bisa pergi kemana-mana," batin Felly.
__ADS_1
" Felly ayo!" ajak Elia. Felly mengangguk dan mau tidak mau akhirnya mengikuti Elia. Para penjaga di rumah itu terlihat tenang dan tidak mencurigai apa-apa.
Elia membawa Felly ke taman belakang rumah. Felly heran dengan Elia yang membawanya tiba-tiba ketempat sepi. Elia juga tampak melihat di sekitarnya seakan mengawasi.
" Ada apa kak, kenapa membawaku kemari?" tanya Felly heran.
" Ayo kita pergi!" ucap Elia yang memberikan Felly kunci mobil. Felly kaget dan tidak mengerti apa maksud Elia.
" Kamu bisa menyetorkan?" tanya Elia. Namun Felly tetap penuh kebingungan.
" Maksud kakak apa. Kita mau kemana?" tanya Felly heran.
" Kamu mau menemui Aditya kan. Ayo jangan membuang waktu. Kita akan kehilangan jejak Laura dan tante Lusi. Jadi ayo kita pergi," ucap Elia dengan panik yang terus melihat di sekelilingnya.
" Ayo cepat Felly! jangan buang waktu! ajak Elia yang langsung menarik tangan Felly. Yang akhirnya Felly pun mengikut saja. Karena memang dia ingin mengetahui kemana Lusi dan Laura pergi.
Mungkin Elia juga sangat mengkhawatirkan papanya. Jadi hal itu membuatnya untuk mengajak Felly yang pasti mengkhawatirkan suaminya.
**********
Rebecca berlari dengan cepat. Yang ternyata Damar dan Baskoro yang sudah mengejarnya. Tadinya Rebecca yang melumpuhkan ayah dan anak itu. Tetapi sekarang malah Rebecca yang di kejar-kejar oleh 2 orang itu. Keluarga itu memang sangat lucu saling mengejar satu sama lain.
" Sial, kenapa aku jadi lari. Aku ingin membunuh suami tidak berguna itu. Tetapi kenapa aku yang jadi di kejar-kejar," desis terbaca yang terus berlari dari kejaran Damar dan Baskoro.
" Mah, berhentilah tidak ada gunanya lari. Hentikan semuanya!" teriak Damar yang berusaha mencegah mamanya. Namun Rebecca tetap lari dan benar-benar tidak peduli dengan Damar.
Bahkan Baskoro yang mempunyai pistol beberapa kali menembakkan ke atas memberi peringatan pada Rebecca. Damar yang di sampingnya seolah tidak bisa melakukan apa-apa. Dia tidak bisa mencegah papanya yang pasti ingin melenyapkan mamanya. Tujuan Damar hanya membawa mamanya kembali kepenjara.
" Jika mama berakhir di tangan papa. Mungkin itu yang terbaik," batin Damar yang benar-benar sudah pasrah.
Kepasrahannya pasti sudah di pertimbangkan ya. Mamanya bukan hanya ingin membunuh Baskoro dan yang lainnya bahkan dirinya sendiri pun ingin di bunuh mamanya. Jadi Damar sudah pasrah. Jika mamanya akan mati di depannya.
Dorrrrrrr, tembakan itu akhirnya mengenai tangan Rebeca.
" Auhhhh," teriak Rebecca yang langsung berhenti dengan memegang tangannya.
" Mah!" lirih Damar yang melihat mamanya terluka dan bahkan tidak berlari lagi. Rebecca membalikkan tubuhnya dan mengeluarkan pistolnya yang mengarah pada kepala Baskoro.
Baskoro dan Rebecca sama-sama mengarahkan pistol pada sasaran masing-masing. Dengan jarang 5 meter. Sementara Damar di samping Baskoro hanya gelisah yang bingung melihat orang tuanya yang saling membunuh.
" Kau ingin membunuhku?" tanya Rebecca dengan matanya yang menatap tajam suaminya itu.
" Aku seharusnya membunuhmu sejak awal. Kau sudah menghancurkan keluargaku dan seharusnya kau mati di tanganku," ucap Baskoro yang mempunyai dendam besar kepada istrinya itu.
__ADS_1
" Apa katamu menghancurkan keluargamu," sahut Rebecca dengan tersenyum kasar, " keluarga yang mana. Heh Baskoro sadarlah dengan apa yang kau lakukan. Kaulah yang menghancurkan keluargamu sendiri," sahut Rebecca.
" Semua itu gara-gara wanita keji seperti mu!" teriak Baskoro.
" Kau menyalahkanku dan mengataiku keji. Apa kau tidak berkaca pada dirimu sendiri. Jika kaulah yang paling keji," ucap Rebecca menekan suaranya, " Kau menceraikan istrimu yang berselingkuh itu. Tidak bukan istrimu yang berselingkuh. Tapi aku yang membuat cerita, mengarang segalanya membuatnya seolah-olah berselingkuh, supaya kau menendangnya dari rumah itu. Aku melakukannya pria bodoh," ucap Rebecca membuat Baskoro semakin emosi dengan sorot matanya yang tajam layak moster.
" Kenapa Baskoro. Kau menyesal setelah mengetahuinya. Kau menyesal. Jika selama ini kau adalah suami dan anak yang begitu bodoh. Apa kau menyesal!" teriak Rebecca dengan tersenyum miring.
" Tutup mulutmu Rebecca!" teriak Baskoro menarik pelatuk pistol yang ingin menebak kepala Rebecca. Dan Rebecca juga melakukan hal yang sama. Sementara Damar yang berada di sisi ke-2 orang tuanya semakin panik.
" Mah, pah hentikan!" teriak Damar, " cukup semua ini. Apa yang kalian lakukan. Kalian ingin saling membunuh. Ma, sudah mama sudah melakukan banyak kesalahan. Mama sudah membuat kehidupan orang lain hancur. Jadi cukup ma. Jika masih ada kesempatan maka bertobatlah. Menyerahkan diri pada Polisi. Jangan seperti ini," teriak Damar.
" Diam kamu!" teriak Rebecca, " anak kemarin sore seperti kamu. Jangan sok tau. Kamu sekarang malah membela Pria bodoh itu. Kamu berpihak kepadanya dan membiarkan mama di bunuh olehnya," teriak Rebecca.
" Mah, apa yang mama lakukan adalah salah. Aku tidak membela siapa-siapa. Papa akan mengampuni mama. Jika mama menyerahkan diri kekantor Polisi," ucap Damar dengan wajah yang penuh secercah harapan.
" Apa katamu menyerahkan diri. Lalu apa setelah itu. Pria itu akan membunuhku di dalam sel. Asal kau ketahui Damar dia membayar orang-orang untuk menjadikanku budak *** di dalam sel. Aku di perkosa banyak Pria atas suruhan Pria bajingan sepertinya!" teriak Rebecca dengan matanya yang melebar yang ingin keluar.
Damar mendengarnya kaget dan langsung melihat ke arah sang papa.
" Dan kau ingin aku di dalam sel lagi. Apa yang di lakukannya jika tidak ingin melenyapkanku seperti Wiliam dan juga Heriyawan," teriak Rebecca.
" Kau pantas mendapatkannya Rebecca. Kau sudah menghancurkan hidup putriku. Apa yang aku lakukan adalah keadilan untuknya. Jadi kau pantas mendapatkannya?" teriak Baskoro.
" Kau lihat Damar, kau mendengar sendiri kan dari pria biadap itu. Jika dia memang ingin membalaskan dendam nya. Dia ingin membuatku mati perlahan dengan penuh siksaan. Dan kau masih berada di sisinya. Kau masih memihaknya," ucap Rebecca yang mencoba mempengaruhi Damar.
Sementara Damar masih terkejut yang ternyata sang papa juga sanggup melakukan hal itu pada mamanya yang tak lain istri Baskoro. Dendam memang membuat semua orang gelap mata termasuk Baskoro.
" Jangan diam saja Damar. Kemarilah. Kau harus tetap bersama mama dan melenyapkan pria itu," ucap Rebecca yang menghasut Damar.
" Mah, jika memang kematian mama di tangan papa. Mungkin itu yang terbaik," sahut Damar dengan berat hati membuat Rebecca kaget yang Damar masih berpihak pada Baskoro.
" Apa yang kau katakan Damar. Kau dengar sendiri apa yang di lakukannya kepadaku. Ibu mu sudah di hancurkan. Kenapa kau sanggup Damar masih memihak kepadanya?" teriak Rebecca.
" Jika bicara soal sanggup dan tidak sanggup. Lalu bagaimana dengan mama. Mama juga membuat drama hebat. Mama menyuruh orang untuk memperkosa kak Elia dan mama juga menyiksa mama Mariyati. Mama menuduhnya selingkuh. Mama sudah merebut kebahagiannya. Jadi apa menurut mama perbuatan mama tidak keji. Bukan hanya itu mama juga bahkan ingin membunuhku. Hanya karena aku ingin menyelamatkan Laura. Jadi aku tidak bisa terus memberi kesempatan pada mama. Aku sudah berusaha. Tetapi mama yang tidak ingin kesempatan itu. Jadi mungkin papa yang akan mengakhirinya!" jelas Damar dengan air matanya yang menetes.
Mata Laura sampai ingin keluar dengan pernyataan Damar yang berpihak pada Baskoro.
" Aku ingin hidup tenang mah," ucap Damar lagi.
" Kau benar-benar keterlaluan Damar. Kau berpihak padanya. Kau memusuhiku hanya demi dia," ucap Rebecca dengan tersenyum miring.
" Aku tidak pernah memusuhi mama. Aku hanya tidak ingin mama semakin mencekam banyak orang," sahut Damar.
__ADS_1
" Damar sadarlah Pria yang kau bela itu bukanlah ayah kandungmu. Jadi apa yang kau harapkan darinya," ucap Rebecca tiba-tiba. Membuat Danar dan Baskoro sama-sama keget mendengar pernyataan mengejutkan Rebecca.
Bersambung