
Aditya yang ada di luar begitu mendengar ledakan langsung melompat dengan menghindar membelakangi gedung tersebut. Cukup banyak orang-orang yang ada di luar. Baik anak buah Aditya maupun Leon yang terluka.
Aditya menoleh ke arah gedung itu kaget dengan terbakarnya gedung itu. Aditya melotot melihat hal itu membuatnya benar-benar kaget, mengingat sang istri ada di sana.
" Felly," lirih Aditya yang langsung berdiri berlari masuk kedalam gedung.
Tetapi Leon langsung menghentikannya yang berusaha menarik dokumen yang di pegang Aditya.
" Kurang ajar," desis Aditya yang kembali mengelak dan kembali berkelahi dengan Leon dan juga Wiliam yang membantu Leon agar mereka mendapatkan dokument tersebut.
" Felly ada di dalam. Aku segera masuk!" batin Aditya yang terus mengelakkan pukulan dari Leon dan juga William, walau dia sudah tidak fokus lagi karena pikirannya hanya mengarah pada istrinya yang ada di sana.
Bion yang melihat hal itu langsung membantu Aditya. Karena dia tau. Aditya ingin menyelamatkan Felly.
" Masuklah tuan! perintah Bion sambil tangannya berusaha mengelakkan pukulan orang-orang tersebut. Aditya mengangguk dan sebelum masuk dia menendang ke-2 lawannya dan langsung masuk kedalam gedung yang penuh kobaran api tersebut.
" Sial," desis Leon yang berusaha mengejar.
Dorrr
Ledakan terjadi lagi membuat Leon mundur dengan meletakkan lengannya di wajahnya, untuk menghindari ledakan.
" Kurang ajar, bagaimana cara mendapatkan dokumen itu," desis Leon yang tidak bisa berbuat apa-apa. Karena dia juga tidak mungkin masuk kedalam yang hanya akan mencari mati saja.
Sementara Laura yang ada di dalam mobil melihat kobaran api yahh begitu besar. Padahal jaraknya dari lokasi tersebut jauh. Tetapi melihat si jago merah yang semakin membesar.
" Kenapa gedung itu bisa terbakar, bagaimana Aditya dan yang lainnya," batin Laura yang panik dan wajahnya yang penuh ke khawatiran.
" Apa aku harus kesana. Kalau aku kesana penyamaran ku bisa terbongkar. Semuanya bisa semakin berantakan," batin Laura yang benar-benar kebingungan di dalam gedung yang harus mengambil keputusan apa.
__ADS_1
*********
Aditya yang berada di dalam gedung itu. Memasuki gedung itu dan mengelakkan kayu-kayu yabg berjatuhan dari atas yang pasti terbakar dan juga banyak beban bebatuan yang berjatuhan.
" Felly!" panggil Aditya yang terus mengelak dari api-api.
" Felly, Felly, Felly," panggil Aditya berulang kali mencari keberadaan Felly di tengah-tengah api yang yang semakin besar.
Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk. Aditya sampai terbatuk-batuk dengan asap yang juga memenuhi tempat itu. Aditya mengipas-ngipas wajahnya dengan tangannya karena menghindari asap yang mengganggu pernapasannya.
" Di mana kamu Felly, di mana kamu," batinnya dengan kepanikan yang terus mencari sang istri.
Aditya terus mencari keberadaan istrinya dengan mengelakkan api yang bisa saja membuatnya terpanggang dan untung saja tidak ada tidak ada ledakan lagi. Yang jika ada mungkin nasip Aditya bisa hancur berkeping-keping.
Sampai akhirnya tiba, Aditya melewati satu ruangan dengan pintunya yang sudah terjatuh dan penuh dengan api. Aditya tadinya melewati ruangan itu. Tetapi kembali mundur ketika seperti melihat seseorang.
" Felly," ucap Aditya dengan suara tertahan yang tidak menyangka masih menemukan Felly dalam keadaan utuh dan tidak tau apa masih bernyawa atau tidak.
Aditya berlari melewati api di depan pintu dengan melompat dan langsung memasuki ruangan tersebut di mana Felly masih dalam posisinya terduduk bersandar di dingding tanpa membuka matanya. Dengan kaki Felly yang di luruskan kedepan dan ke-2 tangan yang tergeletak lurus.
" Felly," lirih Aditya dengan suara seraknya yang langsung duduk di hadapan Felly dengan memegang ke-2 pipi itu, Menyinggirkan rambut Felly dari wajah itu dan mensejajarkan wajah Felly kehadapan nya
Betapa terkejutnya Aditya yang melihat wajah istrinya, dahi yang berdarah, dengan ujung bibir Felly yang juga berdarah dan terdapat noda-noda hitam di wajah itu dengan pakaian Felly yang juga berantakan. Bahkan di leher Felly memerah seperti cekikan.
Mata Aditya berkaca-kaca melihat istrinya yang tidak sadarkan diri dan bahkan mata itu jatuh pada kaki Felly yang terdapat darah yang mengalir.
.
" Felly bangun, Felly bangun! Felly, bangun! aku mohon bangun Felly," ujar Aditya berusaha membangunkan Felly yang benar-benar tidak sadarkan diri dengan matanya yang bergenang yang pasti menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi kepada istrinya.
__ADS_1
Bahkan mungkin beberapa menit yang lalu Felly masih sadar dengan menahan sakit karena pipinya masih lembab dengan air mata nya yang masih mengalir di pipi yang penuh noda itu.
Aditya dengan kepanikan dan penuh kekhawatiran terus membangunkan Felly dengan pipinya yang terus di pegang dipeluknya wanita yang tidak merespon apa-apa itu.
" Felly maafkan aku, Bangun lah Felly, Felly, bangun," air matanya pun akhirnya menetes dengan kenyataan yang di terimanya. Tubuh dingin yang di peluknya itu tidak merespon apapun. Bahkan tidak ada suara detak jantung yang di dengarnya.
" Felly," Aditya hanya memanggil nama itu berulang kali dengan tangisannya.
..." Kamu akan menyesal Aditya. Kamu akan menyesal. Kamu pasti akan menyesal....
..." Aku tidak akan jatuh cinta jika kamu tidak mencintaiku terlebih dahulu,"...
..." Letakkan aku terus di sisimu. Aku ingin merasakan luka yang kau rasakan," ...
Kata-kata yang di ucapkan Felly di akhir hidupnya terlintas dalam pikiran Aditya dan hanya penyesalan yang jauh lebih pahit. Lama tidak bertemu Felly dan sekalinya bertemu dalam keadaan seperti itu.
Aditya melepas pelukan itu dan memegang lengan Felly dengan memeriksa denyut nadi Felly.
" Dia masih hidup," ucap Aditya dengan suara seraknya yang merasa bersyukur. Karena Felly masih hidup yang mungkin sedang sekarat.
" Bertahanlah Felly, aku akan membawamu pergi dari sini, bertahanlah Felly. Kamu harus tetap hidup. Bertahanlah!" ucap Aditya yang langsung menggendong Felly ala bridal style dan membawanya keluar dari gedung itu dengan melewati api-api.
Wajah Felly yang sudah entah seperti apa membuat Aditya ikut merasakan sakitnya. Luka dan bahkan di pikiran Aditya. Bayi mereka pasti sudah kenapa-kenapa. Karena melihat darah yang ada di paha Felly yang pasti bayi mereka akan terjadi sesuatu.
Tapi bukan itu yang di pikirkannya dia hanya memikirkan kondisi Felly dan apapun Felly harus tetap hidup.
" Maafkan aku semua ini adalah kesalahanku," batin Aditya yang baru menyesal setelah melihat keadaan Felly yang gendongannya dengan wajah Felly menempel di dadanya dan tangan Felly yang terayun-ayun yang memang tidak sadar dan begitu lemah.
Bersambung
__ADS_1