
Aditya keluar dari kamar dengan menyeret kopernya menuju mobil.
" Mau kemana kau Aditya?" tanya Harison yang melihat Aditya membawa koper.
" Aku perjalanan bisnis," jawab Aditya.
" Kau tidak membawa Felly?" tanya Harison.
" Tidak. Jadi aku pergi dulu," jawab Aditya singkat dan melanjutkan langkahnya.
" Aku mana mungkin membawanya dalam ke adaan hamil," batin Aditya. Memang dia punya rencana untuk membawa Felly.
Tetapi Dokter kandungan Felly melarang karena kandungannya Felly masih sangat muda dan sangat berbahaya untuk menaiki pesawat. Jadi mau tidak mau Felly Harus tinggal. Walau Aditya dengan berat hati meninggalkannya.
***********
Felly membuka matanya perlahan setelah merasa lama tertidur. Felly memijat kepalanya yang terasa sangat berat. Mungkin tidur kelamaan makanya dia sampai sakit kepala.
" Jam berapa sekarang," ucapnya meraba-raba ponselnya di atas nakas yang ada di samping nya. Kiara melihat layar ponsel itu dengan matanya yang terbuka lebar.
" Hahhhh," ucap Felly tidak percaya dengan jam yang sudah menunjukkan pukul 4 sore.
" Astaga, aku tidur selama itu," ucapnya yang tidak percaya. Jika dia bisa tidur sangat lama. Felly langsung duduk.
Tubuhnya memang sangat lemah dan dia memang sedang tidak enak badan. Mungkin terlalu banyak begadang yang akhirnya membuatnya lelah dan sekarang badannya sedang tidak fit.
" Kepala ku sangat sakit. Apa ada obat sakit kepala di sini," ucapnya yang menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang dan tangannya terus memijat kepalanya yang benar-benar sangat berat.
" Hmmm, aku lemas sekali, aku juga lapar," keluh Felly yang merasa perutnya mulai keroncongan. Pasti keroncongan. Karena dia memang tidak memberi bayinya makan.
Felly pun langsung turun dari ranjang dan mendekati lemari pendingin kecil yang ada di kamarnya. Mengeluarkan beberapa buah dan roti yang ada di dalamnya.
Untung masih ada sisa stok yang pernah di belanjakan Kevin. Kayaknya sampai bulan depan juga makanan itu tidak akan habis karena memang Kevin membelinya tidak main-main.
********
__ADS_1
Pagi hari tiba. Felly keluar dari kamarnya. Karena melihat pancaran sinar mata hari yang cerah. Felly berjalan menuju kolam renang. Dia ingin berjemur agar tubuhnya kembali fit.
Felly duduk di pinggir kolam renang dan memasukkan kakinya kedalam kolam renang. Baru menyentuh sedikit dia langsung mengigil.
" Hhhhhhh, ternyata sedingin ini," ucapnya kedinginan dan bukannya menghindari air Felly malah memasukkan ke-2 kakinya kedalam kolam renang dan ternyata dinginnya hanya sebentar saja dan dia asyik memainkan kakinya di dalam air.
" Ternyata semakin lama, semakin segar," ucapnya dengan senyum ceria di wajahnya.
" Aditya tidak pulang hari ini. Berarti besok dia baru pulang," ucapnya. Tiba-tiba saja dia malah kepikiran Aditya. Seperti ada rasa rindu mungkin.
" Ahhhhh, kenapa aku jadi memikirkannya. Biarkan saja dia tidak pulang. Jadi aku tidak mendengar segala ocehannya yang membuat sakit kepala itu," ucap Felly yang menyangkal perasaannya.
Lalu matanya turun ke bawah, melihat perut ratanya dan mengusap dengan lembut.
" Sepertinya kamu yang merindukan dia. Bukan aku," ucapnya melempar pada bayinya. Felly gengsi mengatakan rindu pada Aditya dan harus menjual anaknya.
" Sayang, kamu bersabar ya. Papamu akan pulang secepatnya. Jadi jangan terlalu merindukannya," ucap Felly dengan senyum tulus diwajahnya. Tetapi tiba-tiba dia mengkerutkan dahinya.
" Apaan sih Felly. Kamu aneh-aneh aja. Apa yang kamu bicarakan," ucap kegelian dengan dirinya yang berbicara mengenai Adita.
" Hmmmm, tapi dia lumayan perhatian. Walau sangat marah. Dia bahkan membelikan ku daging unta, dan memasakkan steak. Lalu Membelikan susu bayi ku dan segala keperluanku. Ya aku tidak percaya jika dia bisa sepeduli itu," batin Felly tersenyum simpul. Ternyata dia mulai menggangumu Aditya.
Dia merasa Aditya yang sangat kejam itu ada kebaikan sedikit. Apa lagi kepedulian Aditya yang besar kepada janinnya. Sehingga membuatnya merasa terlindungi.
Ternyata tawa dan kebahagian Felly harus di lihat Rebecca dari balkon. Rebecca melihat sinis Felly. Melihat senyum itu dan melihat tangan Felly yang meraba-raba perutnya membuatnya semakin yakin akan ada sesuatu.
" Aku yakin dia sedang mengandung," batin Rebecca yang sekarang yakin jika Felly hamil.
" Sial," Rebecca memukul pagar balkon dengan tanganya yang mengepal. Sangat marah melihat kebahagian Felly. Keyakinannya semakin kuat ketika Felly meraba-raba perutnya.
" Aku tidak akan memberimu ampunan kali ini. Aku harus tidak akan memberi banyak kesempatan untuk mu lagi," ucap Rebecca dengan penuh kemarahan dan Rebecca langsung pergi.
Ternyata Rebecca menghampiri Felly. Rebecca berjalan pelan di belakang Felly sampai Felly tidak menyadari hal itu. Felly sibuk dengan memainkan kakinya di dalam air.
" Hari ini kau akan tammat, selamat berpisah," ucap Rebecca tersenyum dengan licik berjalan mendekati Felly dan tiba sudah ada dibelakang Felly. Dengan cepat Rebecca langsung mendorong punggung Felly.
__ADS_1
Felly kaget dan tidak sempat mengelak.
Byurrrr. Felly langsung jatuh kekolam renang dan langsung tenggelam dan kepalanya kembali timbul.
" Tolong," ucap Felly yang sama sekali tidak bisa berenang dan dan kesulitan bicara.
" Memang lebih baik kau mati lebih cepat," ucap Rebecca melihat di sekelilingnya tidak ada orang dan Rebecca langsung pergi. Sebelum ada melihatnya.
" To,to,tolong, uhuk-uhuk-uhuk," Felly terus berusaha meminta tolong dan bahkan air sudah beberapa kali di telan nya. Karena dia memang tidak bisa berenang dan tidak bisa mengelak kan air itu.
Damar melewati taman belakang sambil menelpon dan tidak sengaja matanya melihat kekolam renang dan seperti ada seseorang. Damar memperhatikan dengan detail siapa orang tersebut.
" Felly," ucap Damar kaget. Dengan cepat Damar langsung berlari menghampiri kolam renang.
" Felly," ucap Damar kaget yang sudah di pinggir kolam renang melihat Felly yang sudah tenggelam. Felly memang semakin lemah dan perlahan tenggelam.
Damar membuka kancing bajunya dengan cepat dan setelah selesai. Damar langsung melompat kekolam renang. Untuk menyelamatkan Felly.
" Sial," ucap Rebecca yang ternyata masih ada di sekitar tempat itu dan bersembunyi.
Damar langsung menolong Felly.
" Felly ayo," ucap Damar. Felly sudah batuk-batuk dan di dalam permukaan air. Damar pun membawanya naik dan Felly naik terlebih dahulu.
" Uhuk uhuk uhuk," Felly terbatuk-batuk sambil menutup mulutnya dengan tubuhnya yang menggigil.
" Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Damar memegang bahu Felly namun Felly langsung menghindar seakan tidak ingin di sentuh.
" Aku tidak apa-apa," ucap Felly dengan bibirnya yang bergetar dan langsung pergi meninggalkan Damar.
" Felly," panggil Damar.
Felly tidak mendengarkan dan tetap melanjutkan langkahnya yang buru-buru. Dia tidak mau jika nanti akan terjadi hal-hal yang tidak di inginkan jika berlama-lama dengan Damar.
" Sial kenapa Damar harus menyelamatkannya," geram Rebecca. Yang rencananya gagal berantakan. Karena ulah Damar.
__ADS_1
Bersambung.....