Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.

Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.
Epis 235 Pertemuan pertama kali


__ADS_3

Kediaman Harison.


Di lapangan golf. Di salah satu kursi yang mengelilingi meja. Terdapat Harison di sana dengan wajahnya yang sedikit pucat dengan salt yang melingkar di lehernya yang sepertinya Harison sedang tidak enak badan.


Harison duduk dengan Wiraguna yang tak lain adalah pengacaranya. Yang duduk di hadapan Harison.


" Ini tuan!" ucap memberikan Harison buku hitam yang memanjang yang tidak tau paa itu isinya.


" Terimalah," jawab Harison.


" Sama-sama," sahut Wiraguna.


Tidak lama dari selang semua itu. Rebecca, Baskoro, dan Damar pun menghampiri tempat itu. Yang sepertinya memang di panggil oleh Harison. Dari kejauhan Rebecca yang melihat ada Wiraguna heran dan penuh pertanyaan.


" Ngapain, pengacaranya papa ada di sini?" batin Rebecca yang terlihat was-was.


" Bukannya itu pengacaranya kakek ada di sini. Atau jangan-jangan," batin Damar yang merasa ada yang tidak beres.


" Apa tujuan papa mengumpulkan kami, apa yang sebenarnya terjadi," batin Baskoro yang juga penasaran.


Mereka bertanya-tanya sampai akhirnya sampai di mana ada Harison yang masih sibuk membaca-baca dokumen tersebut.


" Pa," tegur Baskoro. Harison mengangkat kepalanya melihat 3 orang yang memang di tunggunya itu.


" Duduklah!" perintah Harison sedikit Datar. Mereka yang penuh pertanyaan pun duduk.


Semetara mobil mewah Aditya berhenti di depan kakeknya. Aditya tidak hanya datang bersama Bion ataupun Felly. Tetapi sekarang ada kakaknya yang juga ikut.


" Kakak yakin?" tanya Aditya yang masih ragu membawa sang kakak masuk kedalam. Elia tersenyum kepada Aditya.


" Hmmm, iya kakak yakin," jawab Elia dengan yakin yang siap walau bertemu dengan Baskoro, Rebecca. Dia akan siap untuk hal itu.


" Kalau begitu ayo kita turun!" ajak Aditya. Elia mengangguk dan menurut. Begitu pun dengan Felly yang tangannya di genggam suaminya.

__ADS_1


Mereka bertiga pun memasuki rumah itu dengan mendapat penghormatan dari pelayan di rumah itu dan salah satu pelayan membawa mereka untuk menemui Harison.


Harison yang masih menunggu di dekat lapangan golf yang pemandangannya yang begitu adem. Walau Rebecca, Damar dan Baskoro tidak merasa nyaman mungkin karena mereka penasaran kenapa di ajak bertemu dan sedari tadi belum mendengarkan apa yang akan di katakan Harison.


" Pah, sebenarnya apa tujuan papa memanggil kami kemari?" tanya Baskoro.


" Yang jelas pasti untuk hal penting," sahut Harison dengan santai membolak-balik dokumen yang di pegangnya.


" Hal penting apa pa, kenapa tidak di bicarakan sekarang saja. Papa juga lagi sakit. Jadi udara tidak baik untuk kesehatan papa," sahut Rebecca mencari muka.


" Udara ini sudah baik untukku, aku tidak tau kalau untuk kalian," sahut Harison dengan santai, " Bersabarlah, masih ada yang harus di tunggu. Jadi tunggulah sebentar. Aku juga tadi menunggu kalian tanpa protes," lanjut Harison benar-benar santai.


" Apa sih maunya si kakek tua ini, buang-buang waktu saja," batin Rebecca terlihat kesal.


" Apa yang sebenarnya yang ingin di bicarakan kakek, lalu siapa yang di tunggu kakek," batin Damar yang penasaran.


" Kakek," tiba-tiba terdengar suara yang pasti sangat asing membuat mata mengarah pada suara itu. Yang ternyata Aditya bersama Felly.


" Jadi dia yang di tunggu!" batin Damar tampak kesal.


Harison tersenyum melihat cucunya itu yang tidak percaya Aditya benar-benar akan membawanya. Sementara Baskoro benar-benar kaget dengan keberadaan Aditya sampai dia tidak berdiri.


Kaget itu juga terdapat di wajah Damar dan Rebeca. Rebecca tau Elia memang hidup dan bersama Aditya. Tetapi dia tidak percaya jika gadis itu sudah sembuh.


" Kak Elia," lirih Damar tidak percaya akan melihat kakak tirinya itu.


" Elia," ucap Baskoro yang langsung melangkah untuk mendekati Elia. Sebagai ayah dia memang sangat bertemu dengan Elia yang telah di bawa Aditya.


Baskoro melangkah dengan cepat ingin memeluk putrinya dan Elia juga melangkah dengan cepat. Namun ketika ayah dan anak itu semakin dekat dan Baskoro mengajukan 2 tangannya agar Elia masuk kepelukannya.


Tetapi Elia malah melewatinya dan berlari pada kakeknya yang benar-benar mengacuhkan Baskoro dan Harison berdiri lalu menyambut cucu wanitanya itu kedalam pelukannya.


Sementara Baskoro hanya diam yang tidak mendapat pelukan dari putri yang di rindukannya selama bertahun-tahun. Dan Aditya menyunggingkan senyumnya melihat apa yang di lakukan kakaknya.

__ADS_1


" Cucuku," ucap Harison memeluk erat Elia dengan air matanya yang menetes.


" Elia merindukan kakek, kenapa tidak pernah melihat Elia," ucap Elia yang terus memeluk kakeknya.


" Maafkan kakek nak, maaf," sahut Harison.


Aditya dan Felly pun melangkah mendekati Elia dan Harison dan juga mengacuhkan Baskoro yang masih berdiri di tempatnya. Tetapi Felly masih menundukkan kepala untuk menghargai mertuanya itu.


" Kenapa Elia ada di sini, apa lagi ini," batin Rebecca yang terlihat panik.


" Tidak Rebecca kamu harus santai, kamu tidak boleh terlihat seperti orang bersalah. Kamu harus santai Rebecca," batin Rebecca yang sudah gemetaran.


" Elia!" tegur Baskoro yang kembali mendekati Elia, Elia melepas pelukannya dari kakeknya dan melihat Pria yang sangat di bencinya itu berani bicara padanya. Baskoro masih berusaha untuk mendekati Elia. Tetapi Elia langsung menjauh dan memegang tangan Aditya.


" Jangan membuatnya tidak nyaman," sahut Aditya yang mencegah papanya


" Aku adalah ayahnya. Apa aku salah ingin memeluk putriku," sahut Baskoro.


" Kalau begitu tanyakan kepadanya. Apa dia menganggapmu Ayah," sahut Aditya dengan sinis. Baskoro terdiam dan melihat ke arah Elia yang sama sekali tidak mau melihatnya. Belum bertanya mungkin Baskoro tau jawabannya jika anaknya tidak akan mau mengakui hal itu.


" Mas sudah," sahut Rebecca yang datang mengusap bahu suaminya.


" Mungkin Elia, butuh waktu, kamu kan tau sendiri sudah lama kita tidak menemui Elia. Jadi pasti Elia merasa tidak nyaman dengan kita," ucap Rebecca dengan lembut.


" Iya kan Elia," sahut Rebecca melihat Elia tersenyum manis.


" Diamlah! sahut Elia, aku tidak butuh mendengar kata-kata manismu. Aku siapa kau jadi diam lah, dan jika ingin bersandi wara jangan di depanku. Lagi pula aku tidak butuh sandiwara mu itu," sahut Elia dengan berani bicara pada Rebecca membuat Rebecca kaget mendengarnya.


Dia tidak percaya jika Elia akan mempermalukannya di depan semua orang. Aditya hanya tersenyum mendengar kata-kata kakaknya. Seakan menjadi kebahagian untuknya.


" Sialan anak ini," batin Rebecca menahan amarahnya


" Apa yang kamu bicarakan Elia?" tanya Rebecca masih tersenyum palsu.

__ADS_1


" Sudah cukup! jangan bicara lagi. Aku bukan anak 17 tahun yang selalu mengangguk kepadamu. Jadi jangan bersuara di depanku," sahut Elia menegaskan.


Bersambung


__ADS_2