
Karena keasikan membaca surat tanah itu. Sampai tidak menyadari jika Felly mendapatinya membaca dokumen itu dan sekarang Felly sudah di hadapannya.
" Aku tau kau akan berpikiran. Jika aku memeras Kakek mu. Sehingga aku bisa mendapatkan tanah itu. Dan kau akan mengatakan. Aku menyetujui pernikahan ini dengan alasan keuntungan pengumpulan kekayaan," lanjut Felly yang mencoba menerka-nerka pikiran Aditya kepadanya.
Ketika Aditya sudah mengetahui. Jika dia mendapatkan harta warisan yang bisa di katakan nominalnya sangat banyak jika di rupiahkan. Dan dia yakin Aditya akan semakin berpikiran buruk kepada kepadanya.
" Kakek bilang itu hadiah pernikahan, jadi jangan berpikir yang aneh-aneh dan menuduhku yang tidak-tidak. Aku menerimanya karena takut dia tersinggung," ucap Felly menegaskan.
" Memang aku mengatakan apa? Apa aku ada bicara apa-apa kepadamu. Bahkan aku sedari tadi diam," sahut Aditya menaikkan 1 alisnya mendengar Felly yang bicara panjang lebar kepadanya.
" Ya pasti pikiran mu. Langsung kearah sana. Tanpa kau mengatakannya dulu," sahut Felly.
" Aku bahkan tidak berpikir apa-apa. Jadi jangan sembarangan bicara," sahut Aditya menutup dokumen itu dan mengembalikannya ketempat semula.
" Siapa tau. Dia kan selalu berbicara semaunya dan suka menuduh yang tidak-tidak,x batin Felly mengerucutkan bibirnya.
Aditya kembali melihat laptopnya dan tidak jadi mengambil sesuatu dari dalam laci tersebut.
" Mau kau apa kan tanah itu?" tanya Aditya penasaran yang bicara tanpa melihat Felly dan pura-pura fokus pada laptopnya.
" Aku tidak tau. Aku juga tidak pernah melihatnya dan tidak tertarik untuk membuat apa-apa. Jadi biarlah seperti itu," ucap Felly yang memang tidak terobsesi dengan kekayaan makanya bisa bicara sangat santai.
" Pantas saja kehidupan seperti itu-itu saja. Pemikiranmu pendek dan tidak bisa mengelolah apapun. Tidak pernah menggunakan kesempatan dengan baik," ucap Aditya yang langsung mengatai Felly dengan wajah seriusnya plus kesal dengan jawaban Felly yang sangat singkat dan tidak bermutu.
" Kenapa dia bicara dia selalu suka-suka. Kenapa dia yang jadi marah," batin Felly heran dengan Aditya.
" Seharusnya kau gunakan otakmu untuk berpikir. Jika sudah di berikan pergunakan dengan baik. Bukan menganggap sepele dan membiarkan terbengkalai," lanjut Aditya mengomeli Felly.
" Ishhh, kenapa dia jadi mengoceh. Kalau dia mau kenapa tidak dia saja yang melakukannya," batin Felly bergerutu di hatinya.
" Kau memang selalu menganggap segala sesuatu mudah. Pantasan kehidupanmu tidak pernah bangkit," kecam Aditya dengan serius.
" Baiklah kalau begitu! Aku akan menjualnya dan akan berfoya-foya. Aku akan membeli mobil, barang-barang mewah dan yang lainnya, jalan-jalan ke Luar Negri dengan uang hasil penjualannya. Sudah puas," sahut Felly dengan enteng membuat Aditya mengepal tangannya kesal dengan Felly sampai Aditya merapatkan giginya.
" Berani sekali kau mempunyai niat untuk menjual tanah itu," sahut Aditya yang tampak tidak terima dengan hal itu. Bahkan terlihat sangat marah dengan keputusan Felly yang asal-asalan.
" Kenapa. Apa ada yang salah. Itu kan milikku apa urusannya denganmu, jadi terserahku mau aku apakan," sahut Felly yang tampak santai dan sepertinya sengaja membuat Aditya marah.
" Kau," desis Aditya.
Aditya benar-benar tidak bisa menebak jalan pikiran Felly. Tadi Felly mengatakan tidak tau tanah itu mau di apakan dan sekarang malah mau menjual hanya untuk berfoya-foya. Dan tidak ada patokan sama sekali yang pasti membuat Aditya geram dengan Felly.
" Mendengar seperti itu aja langsung emosian. Makanya jangan suka bicara sembarangan kepadaku," batin Felly yang memang sengaja membuat Aditya marah dia juga memancing keributan. Karena sedari tadi Aditya mengatainya yang tidak-tidak.
Karena memang tidak mungkin dia menjual tanah itu. Walau di jual uangnya mungkin akan sangat banyak dan akan bisa untuk hidup mewah beberapa tahun kemudian. Tetapi dia tidak ingin melakukannya.
" Urungkan niatmu untuk menjual tanah itu," sahut Aditya dengan penuh penegasan kepada istrinya yang berpikiran pendek itu.
" Kenapa. Itu kan punyaku. Dan kakek juga mengatakan terserah aku apakan tanah itu. Yang berarti kau juga tidak berhak melarangku. Aku juga tidak mungkin mengelolanya. Karena tanah seluas itu. Jika di kelola dan di jadikan sesuatu. Akan membutuhkan biaya banyak dan aku tidak punya semua itu dan jalan menghasilkan keuntungan dari tanah itu adalah untuk di jual dan kau tidak punya hak untuk ikut campur," ucap Felly menekankan pada Aditya.
Aditya semakin kesal mendengar kata di jual. Aditya langsung berdiri mendekati Felly. Dan membuat Felly panik.
" Kau sampai ingin menjual tanah yang di berikan kakek hanya untuk berfoya-foya?" tanya Aditya dengan serius. Felly mengangguk seakan memang dia benar-benar serius dengan ucapannya.
__ADS_1
" Aku bisa memberikan apa yang kau katakan tadi tanpa menjual tanah itu," ucap Aditya menekan suaranya.
" Aku tau dia kaya. Tetapi tidak perlu pamer kekayaan," batin Felly kesal.
" Jadi jangan menjual tanah itu. Jika kau tidak bisa mengelolanya. Maka aku yang akan melakukannya," ucap Aditya menegaskan mengambil alih.
" Itu milikku bukan milikmu jadi jangan menggarap milik orang dengan sesuakamu. Kau juga sudah kaya. Jadi jangan mengambil itu dari ku. Itu hak ku," ucap Felly.
" Aku bukan orang yang kekurangan kekayaan. Aku hanya mengatakan akan mengelolah nya. Bukan mengambilnya. Jadi jangan pernah berniat untuk menjualnya. Kau mengerti," tegas Aditya.
" Bagaimana aku percaya. Kalau kau tidak mengambilnya dari ku," ucap Felly.
" Aku bisa memberikanmu tanah lebih luas dari semua itu. Jadi jangan berpikiran kalau aku suka mengambil harta orang lain. Karena aku bukan orang yang serakah," ucap Aditya menegaskan memajukan wajahnya pada Felly membuat Felly reflex mundur kebelakang dengan dekatnya wajah Aditya sampai dia harus menelan salavinanya.
" Ganti pakaian mu. Kita keluar!" perintah Aditya langsung menjauh dari Felly. Felly membuang napasnya panjang kedepan.
" Cepat!" perintah Aditya yang melihat Felly masih bengong.
" Iya," sahut Felly dengan terpaksa.
**********
Rebecca keluar dari mobilnya yang berhenti di depan rumah. Rebecca berjalan memasuki rumah sambil merogoh tasnya yang sepertinya mencari sesuatu.
Sampai Rebecca tidak melihat ada kantung plastik di depan pintu dan membukanya menyenggolnya dan membuatnya hampir jatuh.
" Sial," umpatnya emosi. Saat dirinya hampir tersungkur.
" Siapa yang menaruh ini di sini," umpatnya marah dan menendang melupakan amarahnya.
" Susu," desis Rebecca heran.
Rebecca langsung berjongkok dan penasaran apa yang di lihatnya. Rebecca pun melihat jelas. Bahwa isi kantung itu susu ibu hamil dan juga Vitamin untuk ibu hamil.
" Siapa yang hamil?" tanyanya heran.
" Ya ampun nyonya maaf," tiba-tiba seorang pelayan datang dan langsung membereskan belanjaan.
" Kamu yang meletakkan itu di sini?" tanya Rebecca dengan nada kesal wajahnya yang menyeramkan.
" Iya nyonya maafkan saya. Tadi belanjaannya ketinggalan," jawab pelayan itu dengan menundukkan kepalanya.
" Punya siapa itu. Apa itu punya kamu?" tanya Rebecca penasaran.
" Bukan nyonya. Ini milik tuan Aditya. Tadi belanjaan ini ketinggalan. Karena saya tidak bisa membawanya semuanya. Tangan saya penuh," jawab pelayan dengan penjelasan.
" Apa Aditya. Apa maksudnya," batin Rebecca terkejut mendengar kata Aditya. Sebagai pemilik barang itu.
" Apa itu berarti Felly sedang hamil," tebak Rebecca dengan jantungnya berdetak kencang. Jika Aditya mempunyai susu ibu hamil yang berkemungkinan memang pasti Felly hamil.
" Maafkan saya nyonya," ucap Pelayan lagi yang terus meminta maaf.
" Sudah bereskan dan pergi dari sini," ucap Rebecca dengan wajah sangarnya. Melihat pelayan itu yang ada dia akan semakin emosian.
__ADS_1
" Baik nyonya," sahut pelayan itu. Langsung buru-buru membereskan dengan penuh ketakutan dan langsung pergi.
" Tidak bisa. Tidak mungkin wanita itu hamil. Jika sampai iya. Makanya semuanya benar-benar akan selesai. Perusahaan utama akan menjadi miliknya. Itu tidak bisa di biarkan. Aku harus memastikan. Wanita itu hamil atau tidak. Jika iya. Aku tidak akan membiarkan semuanya berjalan lancar," batin Rebecca mengepal tangannya dengan sorot matanya yang tajam yang mengartikan sesuatu. Mata yang penuh kebencian untuk Felly dan Aditya.
Bersambung
Aditya Sebastian Harison
...Felly Valeria Anderson....
...Damar Arit Jaya Harison....
...Rebecca Anastasya...
...Kakek Harison...
...Elia Kalisa Harison....
...Andre Anderson ( kakak Felly)...
...Putri Agni Anderson. ( adik Felly)...
...Sabila ( mama Felly)...
...Anderson ( papa Felly )...
...Baskoro Wijaya ( papa Aditya )...
__ADS_1
...Wanti (Bibi Felly.)...