
Felly berjalan-jalan di belakang rumah di dekat, kolam ikan mas koki. Dengan tangannya Kananya memegang ponselnya dan tangan kirinya memegang Flasdisk yang membuatnya penasaran.
" Apa ini begitu penting, sampai dia mempercayakannya pada Laura. Memang apa isinya. Mumpung Aditya tidak di rumah sebaiknya aku lihat saja apa isinya. Dari pada aku penasaran," ucapnya mengambil tindakan. Saat melangkah tiba-tiba ponselnya berdering.
Dratttt-Dratt- Dratttt, membuat Felly kaget tersentak kaget, dan langsung mengangkat telponnya yang ternyata dari sang mama.
" Iya ma kenapa?" tanya Felly yang menjawab telpon itu. Felly pun mengambil tempat duduk di semen pinggir kolam ikan dan meletakkan flashdisk yang di pegangnya di sampingnya lalu berbicara dengan sang mama lewat telpon.
" Ya sudah ma, nanti Felly sampaikan pada Aditya," ucap Felly menutup telponnya dengan tersenyum.
" Mama benar-benar sudah sayang banget sama Aditya, sampai pesannya banyak sekali," gumam Felly tersenyum tipis. Tangan Felly turun dan tidak sengaja menyenggol flashdisk tersebut.
Cepluk.
Sampai akhirnya flashdisk itu masuk kedalam kolam ikan.
" Astaga Felly," gumam Felly yang panik dengan kecerobohannya yang sudah menjatuhkan flasdisk tersebut.
Felly berdiri melihat-lihat ke dalam kolam ikan dengan menunduk melihat kebodohannya.
" Bagaimana ini, kenapa bisa pakai jatuh segala lagi," ucap Felly yang panik.
" Bagaimana cara mengambilnya. Belum juga melihat apa isinya, sudah kecebur begitu saja. Felly, Felly, kamu kenapa sih, kok bodoh amat," gerutunya yang mengatai dirinya sendiri bodoh.
Felly kebingungan sendiri dengan ulahnya. Sedari tadi mondar-mandir di sekitar kolam ikan, dengan gelisah kepanikan, memijat dahinya, dan sesekali menyisir rambutnya ke belakang dengan 5 jarinya. Jangan tanya, wajahnya seperti apa. Wajahnya sangat cemas.
Lama berpikir akhirnya Felly menemukan ide, Felly mengambil durung, yang biasa di gunakan untuk membersihkan kolam renang dan mencoba mencari plesdisk itu dengan durung tersebut.
Sudah ada 30 menit Felly melakukan usahanya tapi sia-sia. Plesdisk itu benar-benar tidak di temukan.
__ADS_1
" Huhhhhh," Felly membuang napasnya panjang kedepan, " sudahlah, mungkin memang aku tidak bisa melihatnya, mungkin belum rezeki ku. Biarlah, benda itu di dalam sana. Lagi pula Aditya juga tidak tau. Kalau benda itu ada bersamaku. Mungkin jatuh lebih baik dan Aditya tidak akan menemukannya dari ku," ucap Felly yang menyerah.
Karena sudah melakukan semua usaha. Tetapi tidak mendapatkan benda kecil yang penting itu. Felly pun putus ada dan menyerah.
Felly pun memilih meninggalkan tempat itu. Karena percuma di sana berlama-lama dia juga tidak mendapatkan apa-apa. Dari pada Aditya datang lalu mencurigainya. Semuanya akan berantakan.
*********
Tidak berapa lama Bion kembali pada Aditya yang steres karena ulah Laura yang tidak bejus dalam bekerja.
Wajah Aditya sudah di penuhi kemarahan, semua rencananya sia-sia hanya karena kebodohan Laura yang sangat ceroboh dan tidak bisa baik dalam bekerja.
Laura juga ada di dekat Aditya dengan wajah Laura yang takut. Karena tadi mendapat gertakan dari Aditya.
" Tuan Aditya!" tegur Bion menghadap Aditya.
" Bagaimana apa kau mendapatkan rekaman cctvnya?" tanya Aditya.
" Siapa yang masuk?" tanya Aditya dengan wajah kagetnya.
" Nona Felly," jawab Bion. Aditya mendengarnya melotot. Mendengar nama Felly yang masuk kedalam ruangan itu.
" Apa yang kau katakan?" tanya Aditya menekan suaranya.
" Saya benar tuan, memang nona Felly yang memasuki ruangan itu," ucap Bion menundukkan kepalanya, " ini tuan rekaman cctv nya," ucap Bion menyerahkan tablet pada Aditya dan Aditya pun memutar rekaman itu.
Rahang kokoh Aditya semakin mengeras dengan wajahnya yang memerah, ketika apa yang di katakan Bion memang benar. Jika Felly yang memasuki ruangan itu. Felly terlihat jelas memasuki Vaviliun dengan mengendap-endap. Laura juga kaget melihat hal itu.
" Dari mana dia mendapatkan kuncinya?" tanya Aditya dengan suaranya menekan yang sudah memegang kuat tablet tersebut. Aditya melihat ke arah Laura. Karena Laura yang memegang kunci itu.
__ADS_1
" Tuan Aditya, ada salah satu pelayan yang mengatakan jika nona Felly mempertanyakan masalah mendiang nyonya besar dan pelayan bilang tuan Aditya yang menyuruhnya menanyakan masalah nyonya besar. Sampai akhirnya pelayan memberitahu Vaviliun nyonya besar," jelas Bion lagi. Aditya semakin geram dengan Felly yang berani-beraninya membawa namanya.
" Mungkin Felly mendapatkan kunci itu. Saat aku bertabrakan dengan nya. Mungkin dia memang tau kunci itu ada bersamaku dan akhirnya mengambilnya. Sebelumnya Felly juga menyuruhku untuk membelikannya sate dan mungkin dia mengambil kesempatan untuk masuk keruangan itu saat aku dan kamu tidak ada di rumah kakek Harison," ucap Laura lagi menambahi setelah mengingat apa yang terjadi.
" Kurang ajar," bentak Aditya dengan menghempaskan tablet itu. Membuat Laura dan Bion tersentak kaget. Darah tingginya benar-benar naik dengan perbuatan Felly yang menjadi dalang berantakannya rencananya.
" Kau benar-benar tidak bisa di kasih tau Felly, kau sangat keras kepala," geram Aditya mengacak rambutnya kasar bahkan meremasnya dengan perbuatan Felly yang di luar dugaannya.
Aditya yang di penuhi amarah langsung pergi dari tempat itu dan memasuki mobilnya. Membanting pintu mobil saat menutupnya, melaju dengan kecepatan tinggi. Layaknya seorang pembalap. Dengan wajah merah dan mata yang ingin menerkam.
************
Felly keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang berbeda. Karena pakaiannya yang sebelumnya sudah basah dan sekarang dia harus mengganti pakaiannya.
Felly pun beralih ke depan cermin dan menyisir rambutnya yang sedikit berantakan.
" Kira-kira apa ya isinya. Bagaimana jika itu memang penting," gumamnya yang masih kepikiran dengan benda yang tadi di jatuhkan ya, " Tapi sudahlah, jelas-jelas Laura yang menyimpannya. Jika itu penting berarti tanggung jawab Laura bukan aku," ucap Felly melanjutkan kegiatannya seakan tidak mau tau dengan apa yang di jatuhkannya.
Felly melihat jam yang menggantung dingding sudah pukul 7 malam. Felly mengusap perut rampingnya.
" Dari pagi dia pergi dan sampai sekarang bahkan tidak menunjukkan diri. Apa dia sangat sesibuk itu. Sampai pergi saat aku belum bangun," batin Felly yang tampak kesepian dengan Aditya yang pernah di lihatnya bahkan suara khas suaminya itu tidak didengarnya seharian.
Felly pun mengambil tempat duduk di sisi ranjang dengan wajahnya yang lesu dan murung.
" Kamu harus bersabar sayang," gumamnya yang berbicara pada buah hatinya yang masih tumbuh di dalam sana.
Mata Felly melihat ke laci. Di mana laci itu adalah tempat dia menemukan buku diary sang mama mertua. Tangan Felly pun membuka laci itu dan mengambil buku diary tersebut. Memang belum selesai membacanya dan dari pada jenuh Felly pun memilih untuk membacanya.
Tidak hanya itu Felly pun mengambil diary Elia yang di sembunyikannya di bawah bantalnya dan memilih untuk membacanya. Karena dia begitu penasaran dengan keluarga suaminya itu walau dia sudah tau sedikit-sedikit.
__ADS_1
Bersambung