
Pagi yang sama juga terdapat di dalam sebuah kamar di mana terlihat Damar yang terbaring di atas ranjang dengan selimut yang menutup tubuhnya sampai dadanya.
Cahaya matahari yang masih dari pantulan sinar jendela kaca yang tirainya sudah terbuka lebar membuat Damar mengkerutkan matanya dengan memijat- mijat kepalanya yang terasa begitu sakit.
Matanya terbuka dengan perlahan dan tangannya masih memijat-mijat kepalanya. Damar heran dengan keberadaannya melihat langit-langit kamar, kekiri kekananya. Kepalanya yang berkeliling melihat di sekitarnya yang membuatnya dia penasaran.
" Di mana aku?" tanyanya dengan suara seraknya yang jelas menyadari jika dia tidak berada di dalam kamarnya. Damar mencoba untuk duduk dengan terus memijat kepalanya yang terasa berat. Dia kembali melihat-lihat isi kamar itu yang penuh dengan pertanyaan yang tidak tau di mana keberadaannya.
" Kamu sudah bangun," tiba-tiba terdengar suara wanita membuat Damar kaget. Melihat wanita yang membawa segelas air putih.
" Siapa kamu?" tanya Damar dengan penuh kebingungan. Namun Laura tersenyum tipis mendengarnya. Lalu melangkah mendekati Damar dan duduk di samping Damar. Di mana Damar sudah menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
" Aku Laura," jawab Laura.
" Lalu kenapa aku ada di sini?" tanya Damar.
" Kemarin malam. Kita ketemu di Club malam. Dan kamu mabuk berat sampai tidak bisa berjalan. Aku yang kebetulan bertabrakan dengan seolah-olah kamu adalah tanggung jawabku. Tetapi aku bingung harus membawamu kemana dan sampai akhirnya aku tidak punya pilihan dan membawamu kemari," ucap Laura menjelaskan dengan detail.
" Maaf ya, jika aku lancang membawamu ke sini," ucap Laura yang seolah-olah merasa tidak enak dan Damar masih diam saja.
" Tidak apa-apa, aku yang minta maaf, sudah merepotkanmu," sahut Damar masih memijat kepalanya. Laura tersenyum mendengarnya. Di mana di balik senyumnya ada maksud tertentu.
" Hmmm, ini kamu minum dulu, supaya rasa mabuk kamu bilang," ucap Laura yang memberikan Damar segelas air putih dan damar masih melihatnya belum mengambilnya.
" Aku sudah mencampurnya dengan perasan lemon. Kamu minumlah," ucap Laura lagi. Damar pun mengambilnya.
" Terimakasih," sahut Damar yang langsung meneguknya. Laura tersenyum mengangguk.
" Seharusnya di campur pakai racun gila, supaya aku tidak repot-repot bersandiwara dan Rebecca akan histeris melihat anaknya seperti itu," batin Laura yang harus tersenyum. Tetapi hatinya terus bergerutu.
Damar menghabiskan segelas minuman yang tidak berfaedah itu. Ya tidak memang akan membuat Damar mati karena itu air biasa yang di campur air lemon hanya untuk mengurangi rasa mabuk Damar.
__ADS_1
" Aku harus pergi," ucap Damar tampak ingin berdiri namun Laura seketika langsung mencegahnya.
" Kamu mau kemana, kamu masih lemah," ucap Laura yang tampaknya mencegah.
" Tidak apa-apa, aku bisa berjalan dan juga menyetir, aku sudah baik-baik saja," sahut Damar.
" Tidak! kamu belum baik-baik saja. Lagian mobil kamu juga ada di Club. Karena tadi malam aku membawa kamu dengan mobilku. Karena aku tidak tau mobil kamu yang mana," ucap Laura. Damar terlihat berpikir mendengarnya.
" Hmmm, begini saja. Bagaimana kalau aku mengantarmu. Ya supaya aku juga lega. Menolong tidak setengah-setengah. Karena aku juga takut kamu kenapa-napa," ucap Laura dengan menawarkan tumpangan dan Damar tampak diam yang hanya minat Laura saja.
" Kamu jangan mikir yang aneh, aku tidak minta imbalan apa-apa, lagian aku hanya ingin menolongmu itu saja," ucap Laura dengan santai bicara. Seakan-akan seperti wanita tulus.
" Kamu kenapa diam. Apa yang aku bicarakan ada yang salah?" tanya Laura.
" Tidak. Aku hanya tidak ingin merepotkan mu," ucap Damar.
" Tidak merepotkan. Aku kan sudah mengatakan. Aku hanya ingin membantumu," ucap Laura.
" Hmmm, begitu rupanya. Ya sudah tapi maaf jika aku merepotkanmu," ucap Damar. Laura mengangguk tersenyum palsu.
" Tidak apa-apa dia mengantarku. Lagian aku juga tidak bisa pulang. Syukur-syukur dia masih mau menyelamatkan ku. Kalau tidak aku juga tidak tau nasibku bagaimana tadi malam karena terlalu banyak minum," batin Damar yang sepertinya merasa hutang budi dengan Laura.
*********
Rebecca tampak kepanikan di depan rumah, dengan mondar-mandir seperti setrikaan sambil memegang mulutnya dan dengan wajahnya yang penuh kekhawatiran.
" Di mana anak itu. Bisa-bisanya dia tidak pulang. Bukannya berpikir bagaimana caranya menyelesaikan masalah. Malah pergi entah kemana dan sama sekali tidak mengangkat telponnya. Anak ini benar-benar selalu berulang," oceh Rebecca yang terus marah-marah. Karena tidak tau Damar di mana.
Dia juga beberapa kali menghubungi Damar. Namun tidak ada respon. Karena Laura yang menyadari panggilan masuk itu hanya membiarkan saja. Agar Rebecca sterss dengan Damar.
Di tengah-tengah Rebecca yang pusing dan beberapa kali memijat kepalanya. Tiba-tiba mobil BMW hitam berhenti di depannya.
__ADS_1
" Siapa itu, apa tamunya papa?" tanya Rebecca penasaran. Dan Rebecca melihat wanita yang mengemudi lalu turun dan tiba-tiba melihat Damar yang membuat Rebecca kaget. Terlebih lagi wanita itu terlihat memapah damar yang tampaknya belum sempurna berjalan.
" Damar!" lirih Rebecca yang langsung menghampiri Damar.
" Damar!" gertak Rebecca dan Rebecca langsung menjauhkan tangan Damar dari bahu Laura.
" Mama apa-apaan sih," sahut Damar tampak kesal.
" Apa yang kamu lakukan hah! siapa wanita ini dan kamu dari mana semalaman?" tanya Rebecca dengan marah-marah.
" Itu bukan urusan mama," sahut Damar membuat Rebecca tampak kesintingan.
" Apa kamu bilang bukan urusan mama. Kamu ini anak mama dan kamu bisa-bisanya pergi dan wanita ini. Siapa wanita ini," sahut Rebecca semakin marah-marah dengan melihat Laura.
" Maaf Tante, saya hanya mengantarkan Damar," ucap Laura dengan lembut.
" Oh, jadi kamu yang membawa anak saya pergi. Pasti kamu kan membuat anak saya seperti ini," ucap Rebecca yang emosian dengan menunjuk-nunjuk tepat di wajah Laura.
" Mama sudahlah, jangan menuduh sembarang. Yang tidak penting harus di bahas. Ini tidak ada urusannya dengan Laura. Jadi mama stop marah-marah. Damar pusing," ucap Damar.
" Kamu benar-benar ya," geram Rebecca.
" Cukup ma!" gertak Damar yang memijat kepalanya yang tampak sterss.
" Laura, ayo bantu aku kekamar," ucap Damar. Laura mengangguk dengan senang hati dan Rebecca pasti kepanasan dengan hal itu.
" Damar apa yang kamu lakukan. Bisa-bisanya kamu seperti ini kepada mama," teriak Rebecca. Namun Damar tidak peduli melangkah tetap dengan Laura yang membantunya.
" Awal yang bagus," batin Laura tersenyum penuh kemenangan.
Dan ternyata Damar dan Laura berpapasan dengan Elia. Elia tampak santa berjalan seakan tidak peduli dengan Damar dan Laura yang juga berjalan ke arahnya.
__ADS_1
Namun ketika Elia melewati 2 orang itu. Terlihat Laura dan Elia tos di bawah dengan sama-sama menyunggingkan senyum mereka. Yang seperti ada yang mereka rencanakan.
Bersambung