
Ternyata di lokasi yang sama Laura juga berada di sana. Jika Aditya dan Felly berada di Restaurant dan makan siang bersama. Berbeda dengan Laura yang berjalan di sekitar pantai.
Dengan wajah murungnya. Laura terus berjalan yang hanya mengikuti kemana langkahnya akan berhenti. Tiupan angin yang kencang membuat rambutnya menari-nari. Dengan Ke-2 tangannya yang di lipat di dadanya.
" Tidak ada yang bisa aku lakukan. Sampai kapan aku akan menutupi semua ini. Apa aku bisa menghadapinya. Apa yang terjadi padaku. Kenapa? kenapa semua bisa seperti ini, kenapa?" tanyanya dengan wajahnya yang sangat sendu penuh simpatik dan pasti sangat membutuhkan pertolongan. Membutuhkan tempat untuk ketengan dirinya.
Laura hanya bergerutu mengikuti iringan langkahnya. Sampai akhirnya tiba-tiba sebuah kertas menutup wajahnya dan membuat langkahnya terhenti sejenak. Laura mengambil kertas itu dari wajahnya.
Dia semakin sedih. Kala melihat foto Damar yang dalam pencarian.
" Di mana kamu Damar. Apa kamu tau apa yang terjadi padaku. Aku hamil. Aku telah mengandung anakmu. Kenapa kamu tidak kembali. Kenapa kamu pergi tanpa mengatakan apapun," ucap Laura menatap sendu foto itu.
" Damar apa kamu sedang mempermainkanku? aku merasa kamu mempermainkanku?" tanya Laura menatap nanar foto itu.
" Kamu pergi begitu saja. Apa cinta yang kamu katakan. Adalah palsu. Apa sebenarnya kamu hanya mempermainkanku. Apa kamu sengaja melakukan ini kepadaku. Setelah apa yang kita lakukan. Kamu pergi dari ku. Pergi tanpa pamit, tanpa pesan. Apa kamu sengaja melakukannya," ucap Laura yang tampaknya mulai lelah.
" Laura bagaimana jika aku juga balas dendam kepadamu,"
" Kau tidak akan melakukannya. Karena aku tau kau mencintaimu,"
Sepenggal pembicaraan mereka dulu. Teringat di pikiran Laura. Laura mendengus kasar dengan tersenyum palsu saat mendengar kata-kata itu.
" Jadi kau memang hanya membalasku Damar. Kau hanya membalasku Damar. Cinta yang kau katakan palsu. Kau benar-benar mengelabuiku. Setelah kau menghancurkan hidupku. Kau malah pergi. Kau benar-benar hanya membalasku Damar. Kau sudah merusak semuanya. Kau ternyata tidak berubah. Kau merusakku, lalu pergi dengan mudahnya," batin Laura meneteskan air matanya setelah merasakan sakit hati.
Sangat sakit dan mungkin tidak bisa di katakan betapa sakitnya yang di rasakan Laura. Dia telah menyadari jika apa yang terjadi padanya.
Adalah sebuah pembalasan dendam. Dia masuk dalam jebakan. Setelah berhasil di hancurkan. Lalu di campakkan. Hal itu sama persis seperti yang Laura lakukan dulu pada Damar. Menyesal tidak ada gunanya. Hanya meratapi nasib yang harus menemani hidup Laura.
***********
Aditya dan Felly tetap melanjutkan makan mereka. Sudah ada beberapa piring yang kosong dan semuanya Felly yang menghiskannya. Memang Felly begitu laparnya. Sampai tidak peduli seberapa banyak dia makan.
" Mau tambah lagi?" tanya Aditya.
" Nanti saja. Kalau sudah habis semua," jawab Felly.
" Berarti ada niat mau tambah?" tanya Aditya menaikkan 1 alisnya.
Felly mengangguk, lalu menyeruput es jeruk dengan sedotan. Aditya hanya mengangguk tersenyum mendengarnya. Felly dan Aditya yang duduk di bagian outdoor. Felly melihat-lihat ke sekitar pantai dan matanya Fokus pada seseorang yang membuatnya sangat serius.
" Sayang itu bukannya Damar?" tanya Felly yang masih tetap fokus melihat yang jauh di ujung sana.
" Mana?" tanya Aditya yang juga minat arah pandang istrinya dan mencari-cari. Namun Aditya tidak menemukannya.
" Aku tidak melihatnya," ucap Aditya.
__ADS_1
" Itu di sana?" tunjuk Felly.
Aditya berusaha untuk mencarinya. Aditya melihat sebentar ke arah Felly. Tapi Aditya langsung kaget melihat di kening Felly yang terdapat laser merah. Hal itu membuat Aditya melotot dan dengan cepat Aditya mendorong Felly.
Dorrr.
Tembakan kuat terkena pada lemari kaca yang menjadi hiasan di Restaurant itu dan langsung terjadi teriakan.
" Aaaaaa," teriak orang-orang berhamburan. Ketika melihat ada suara tembakan yang kuat seperti bom. Namun Aditya dan Felly sudah berada di bawah meja.
Dorr Dorr-Dorr-Dorr-Dorr.
Tembakan itu terdengar lagi dan Aditya memeluk Felly sampai suara tembakan itu berhenti dan orang-orang semakin ricuh.
" Kamu tidak apa-apa?" tanya Aditya panik melihat istrinya yang sekarang ketakutan dan bahkan tubuh Felly bergetar hebat.
" Sayang!" lirih Aditya memegang ke pipi Felly. Dia sangat takut jika Felly kenapa-kenapa dan tadi Aditya tidak membayangkan jika Felly tertembak di depan matanya.
" Apa yang terjadi?" tanya Felly dengan suara gemetar.
" Aku tidak tau," sahut Aditya melihat di sekelilingnya dan orang-orang sudah berlarian dengan penuh ketakutan.
Ternyata kericuhan itu juga terdengar oleh Laura yang membuat Laura juga tersentak kaget.
" Ada apa di sana. Bukannya itu suara tembakan," batin Laura yang tampak panik.
Tidak lama suara sirene polisi terdengar kuat. Laura pun bergegas ke lokasi kejadian dan baru dari kejauhan Laura melihat sebuah Restaurant yang ricuh orang-orang berlarian dia sana.
" Apa yang terjadi," Laura panik sendiri penuh kebingungan.
Belum lagi mobil Polisi yang berhenti. Bahkan truk Polisi juga ada dan para polisi keluar dari mobil dengan cepat dengan senjata mereka dan terlihat berpencar yang sepertinya mencari seseorang. Bisa di katakan pantai itu penuh dengan Polisi yang juga beberapa dari mereka yang mengamankan para warga.
" Kenapa polisi sebanyak ini," batin Laura yang penuh tanda tanya melihat di sekitarnya.
Laura pun akhirnya melanjutkan langkahnya yang kembali mendekati Restaurant itu.
" Bukannya itu Aditya dan Felly," ucapnya yang melihat-lihat dengan jelas Aditya dan juga Felly yang masih ada di sana. Tanpa berpikir panjang Laura pun langsung memasuki Restaurant yang penuh kericuhan itu.
" Aditya, Felly!" tegur Laura yang kaget melihat Aditya dan Felly.
" Apa yang terjadi pada kalian?" tanya Laura.
" Laura, sekarang kamu pulang. Kamu jaga kak Elia dan yang lainnya," ucap Aditya memerintahkan dengan cepat.
" Ha, memang ada apa?" tanya Laura bingung.
__ADS_1
" Sudah buruan sana," desak Aditya. Laura yang penuh kebingungan pun akhirnya pun pergi. Walau dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi. Tapi mau tidak mau dia harus pergi.
Laura pun berlari di tengah-tengah orang-orang yang juga berlarian dan polisi yang mencari-cari.
" Apa yang terjadi sebenarnya kenapa tempat ini banyak sekali polisi dan seperti mereka sedang mengepung seseorang," batin Laura yang kebingungan.
Tetapi dia terus melanjutkan langkahnya yang buru-buru. Dengan matanya yang melihat di sekitarnya. Yang tidak fokus menatap kedepan.
" Auhhh," lirih Laura yang bertabrakan dengan seseorang.
" Sorry," sahut Pria berjaket hitam dan memakai topi hitam itu yang memegang Laura yang hampir jatuh.
" Pelan-pelan dong!" geram Laura mengangkat kepalanya.
Betapa terkejutnya Laura saat melihat orang yang di tabraknya.
" Damar!" lirih Laura yang kaget yang tidak percaya bisa bertemu dengan Damar di dalam keadaan yang terdesak seperti itu.
" Laura!" lirih Damar yang juga tidak percaya. Jika dia akan bertemu dengan Laura.
" Polisi sedang mengepung keluarlah dari persembunyian tempat ini sudah di kepung!" teriak Polisi yang bicara menggunakan toa.
Laura mendengar teriakan itu dan sekarang dia menyadari jika apa yang terjadi ternyata. Polisi sedang mengepung Damar.
Damar yang mendengarnya pun akhirnya pergi. Namun Laura langsung menghentikannya.
" Mau kemana kamu?" tanya Laura.
" Kenapa kamu kabur, kenapa kamu pergi. Apa yang kamu lakukan. Apa kamu gila Damar. Bisa-bisanya kamu pergi meninggalkanku!" teriak Laura yang baru bisa mengeluarkan isi hatinya ketika baru melihat Damar. Dia baru menemui Pria itu.
" Damar jawab, kenapa kamu diam saja. Jawab Damar!" geram Laura yang tidak mendapatkan jawaban apa-apa.
" Aku harus pergi Polisi bisa menemukanku," ucap Damar.
" Kamu akan meninggalkanku, Damar kita harus bicara. Kamu tidak bisa pergi begitu saja?" tanya Laura yang sudah menunggu Damar lama dan sekarang Damar malah pergi seenaknya.
" Maaf Laura aku harus pergi," ucap Damar yang tetap ingin pergi. Namun polisi melihat tempatnya dan Laura semakin di dekati. Hal itu membuat Damar panik dan menarik tangan Laura dan membawanya pergi.
Laura tersentak kaget yang tiba-tiba di bawa oleh Damar.
" Mau kemana lagi dia membawaku, jadi Polisi sekarang mencari Damar. Apa yang di lakukan Damar apa suara tembakan tadi juga berasal dari Damar," batin Laura yang tangannya di tarik Damar
Laura bertanya-tanya dengan apa yang terjadi. Bukannya mendapat jawaban apa-apa dari Laura dan Damar.
Mungkin Damar membutuhkan Laura untuk mengelabui Polisi agar polisi tidak mencurigainya. Karena jika Damar berjalan dengan seorang wanita pasti Polisi tidak kepikiran jika itu Damar dan Laura hanya mengikut saja yang pasti ingin bicara lagi banyak dengan Damar.
__ADS_1
Bersambung.