
Felly memasuki kamarnya dengan menyandarkan punggungnya di depan pintu kamarnya dengan napasnya yang terus dibuangnya perlahan ke depan.
Dia juga tidak menyangka jika dia seberani itu kepada Aditya. Felly memegang dadanya yang sedari tadi jantungnya berdegup kencang saat bertatap muka dan berbicara dengan Aditya.
Napasnya juga naik turun selain efek lari dari pantai kerumahnya. Napasnya yang tidak stabil karena sedari tadi menahan di depan Aditya.
Felly melihat telapak tangannya yang tadi di gunakannya untuk melukai Aditya. Bahkan ada darah tangan di telapak tangan itu.
Felly dengan cepat memasuki kamar mandi dan mencuci tangan nya di wastafel. Kebenciannya memang membuatnya sangat nekat.
Ingin memberi pelajaran kepada Aditya dan memang apa yang di lakukannya tadi jelas tidak sebanding dengan apa yang di lakukan Aditya kepadanya.
" Aku berharap dia melakukannya dan tidak macam-macam denganku," gerutu Felly terus menggosok-gosok tangannya agar noda darah itu hilang.
" Apa yang aku lakukan tidak salah, dia pantas mendapatkannya dia tidak akan mati hanya dengan 1 tusukan," ucap Felly seperti ada rasa ketakutan dengan apa yang tadi di lakukannya.
Felly memang sangat nekat hari ini. Dia mengancam Aditya dengan mengatakan kepada kakeknya yang sebenarnya Felly juga tidak mungkin mengatakan kepada kakeknya
Aditya
Jika Aditya melakukan tindakan asusila kepadanya. Tetapi Felly bisa melihat orang yang ditakuti Aditya hanya kakeknya dan dia hanya memanfaatkan kesempatan itu.
Seandainya kakeknya pun tau itu juga tidak mungkin mengubah semuanya. Tetapi Felly berharap Aditya benar-benar takut jika Felly mengatakan hal yang sebenarnya kepada kakeknya.
Setelah mematikan keran air. Felly melihat wajahnya di cermin. Pandangan matanya turun pada perut rampingnya. Felly mengusapnya perut ramping itu.
" Maafin mama nak, mama tidak bermaksud untuk melakukan hal itu. Maafin mama nak," batin Felly menyesal karena sempat mengucapkan ingin melenyapkan anaknya.
Dia hanya menggertak Aditya. Felly hanya berharap Aditya benar-benar memikirkan segala ancaman yang di berikannya.
Felly sebenarnya masih was-was. Dengan Aditya. Aditya memang bukan tandingannya. Apalagi Felly menggunakan ancaman seakan menantang Aditya.
__ADS_1
Tetapi dia hanya berharap banyak. Jika Aditya benar-benar takut dan menurunkan egonya. Agar mau menurutinya. Walau menikah dengan terpaksa dan dengan perkataan Aditya sesuai kontrak. Felly dan Aditya akan berpisah setelah bayi itu lahir.
Tetapi dia juga ingin menikah secara baik-baik dan di pinang seperti gadis lain. Masalah pernikahan sampai kapan. Dia pun tidak ingin menikah lama-lama dengan Aditya.
Yang jelas anaknya lahir memiliki seorang ayah. Dan paling tidak kedepannya aib Felly juga tidak terungkap begitu juga dengan anaknya kelak nanti kalau anaknya lahir.
Tapi itu belum tentu terjadi. Karena semua masih ada di tangan Aditya. Aditya yang memutuskan semuanya.
*********
Aditya memasuki kamar hotel tempatnya menginap. Aditya sangat lemas bahkan saat melewati koridor-koridor hotel Aditya harus memegang tembok untuk bahannya berjalan.
Sepertinya luka tusukan Felly sangat dalam. Sampai dia merasakan sangat lemas. Seperti tidak makan 3 hari. Belum lagi melihat darah yang tidak berhenti sedari tadi bahkan sampai menetes di lantai dengan berceceran.
Tetapi syukurlah Aditya masih bisa sampai hotel walau dengan tertatih-tatih. Ketika sampai kamarnya. Aditya langsung menjatuhkan dirinya keatas ranjang.
Napasnya sangat tidak teratur. Naik turun dan wajahnya memucat dengan cucuran keringat di dahinya. Tangan tangannya terus memegang dadanya yang terluka pasti telapak tangan itu sudah penuh darah.
" Dia benar-benar sangat berani kepadaku. Aku tidak menyangka jika dia melakukan itu," ucap Aditya dengan napas berat.
" Kau salah berhadapan denganku. Kau sungguh melewati batasmu. Aku benar-benar akan memberimu pelajaran. Kau lihat saja," suara Aditya semakin melemah saat tenaganya benar-benar habis dan matanya langsung terpejam.
***********
Aditya masih berada di dalam kamarnya. Tetapi dalam keadaan yang berbeda. Aditya sudah berbaring lurus dengan infus yang menetes dengan selang yang menempel di punggung tangannya.
Aditya terbaring tanpa pakaian dan hanya menggunakan celana. Dengan lukanya yang di perban yang memanjang sampai kepunggungnya.
Untung saja apa yang di katakan Felly tidak terjadi. Jika Aditya hampir mati di tangannya. Untuk Bion masuk kekamar Aditya karena Aditya tidak membuka pintu.
Bion memang ada perlu dengan bosnya itu. Sebelumnya Bion sudah menelpon tetapi Aditya tidak meresponnya. Dan akhirnya Nion memutuskan untuk menghampiri Aditya ke hot yang mungkin memang bosnya ada di sana.
__ADS_1
Ketika Bion sampai sana. Dia melihat darah berceceran dan berhenti di depan kamar bosnya. Bion merasa punya firasat aneh saat melihat tetesan darah di depan pintu kamar.
Bion memutuskan langsung masuk. Bion sangat terkejut saat mendapati bosnya yang terbaring tanpa sadarkan diri dan dengan darah di mana-mana. Bion melihat wajah Aditya yang pucat membuatnya panik.
Akhirnya Bion langsung memanggil Dokter untuk Aditya mendapat penangan medis. Ternyata luka yang di alami Aditya memang sangat parah belum lagi Aditya tidak langsung ke Dokter dan membuatnya kehilangan banyak darah.
Tetapi untung masih terselamatkan jika tidak. Aditya benar-benar akan mati dan Felly bisa menjadi tersangka pembunuhan.
Aditya membuka matanya perlahan. Setelah mata itu terbuka sempurna. Aditya melihat di sekelilingnya dan memang keberadaannya masih tetap di dalam kamar hotel.
Kepalanya sangat berat membuat tangannya memijatnya. Aditya heran dengan selang infus yang terlihat di punggung tangannya. Dia juga melihat tubuhnya sudah tidak memakai pakaian dan lukanya sudah di perban.
" Tuan sudah bangun," suara itu terdengar membuat Aditya menoleh dan melihat pemilik suara adalah Bion yang berdiri di depannya dengan tegap.
" Maaf tuan, saya lancang masuk. Tadi saya menemukan tuan tidak sadarkan diri. Jadi saya memutuskan untuk memanggil Dokter," jelas Bion.
Aditya masih belum sepenuhnya sadar dengan keadaannya dia masih kepikiran tentang kejadian yang kemarin saat Felly menusuknya dan mengancamnya.
" Sial, jadi aku hampir mati," batin Aditya yang masih merasa lemah dengan keadaannya.
" Tuan butuh sesuatu?" tanya Bion membuat Aditya yang tidak fokus kaget.
" Apa kata Dokter?" tanya Aditya.
" Dokter bilang. Tuan banyak kehilangan darah. Tetapi untung saja cepat terselamatkan dan tuan hanya butuh istirahat saja," jawab Dion dengan singkat.
" Apa tuan mau makan sesuatu?" tanya Bion.
" Tidak usah. Hubungi saja kakek!" perintah Aditya.
" Baik tuan!" sahut Bion tanpa bertanya alasannya. Karena memang itu bukan urusannya. Dia hanya melakukan apa yang di perintahkan.
__ADS_1
" Kau akan lihat apa yang aku lakukan. Kau akan mendapat balasan akibat perbuatanmu," batin Aditya geram masih dengan tubuhnya yang lemas.
Bersambung.....