
Wanti, suaminya Arya dan anak-anaknya sudah tinggal bersama mereka. Wanti dan keluarga kecilnya memilih tinggal di kampung halaman suaminya Arya. Untuk hidup sederhana dengan Dami.
Ya keputusan itu memang di setujui semuanya karena memang wanti dan keluarganya berhak untuk hal itu. Walau berat untuk melepas. Tetapi pada dasarnya semuanya adalah keputusan yang tidak bisa di ganggu lagi.
Felly, Aditya, Sabila, Agni Andre dan Anderson sedang sarapan bersama. Dengan sarapan yang di masak oleh Sabila dan di bantu oleh, Aqni dan juga Felly. Aqni juga sudah pindah sekolah. Dia sekolah di tempat yang lebih baik. Berhubung ekonomi keluarganya sudah semakin membaik.
" Kapan papa akan mulai kembali mengembangkan perusahaan?" tanya Andre.
" Hmmm, papa masih menyiapkan semuanya. Lagian perusahaannya masih di segel. Jadi papa belum ada rencana untuk kesana," sahut Anderson.
" Papa tenang aja, aku akan menyuruh Bion untuk mengurus segalanya dan perusahaan bisa beroperasi sesuai yang papa mau," sahut Aditya.
" Tidak usah Aditya. Dulu Perusahaan itu berdiri dengan jerih payahku dan mamamu. Sekarang sudah di campur-campur dengan hasil pekerjaan Damar. Yang jelas tidak sama dengan dulu. Jadi biarkan papa yang mengurus sendiri. Mengembalikan seperti awal. Baru setelah itu papa akan mengembangkan lagi Perusahaan itu. Sama seperti dulu," ucap Anderson.
" Pa, tapi papa yakin tidak butuh bantuan Aditya!" sahut Felly.
" Tidak Felly, papa bisa melakukannya sendiri. Lagian papa sudah biasa melakukannya. Walau sekarang pasti kaku," sahut Anderson.
" Ya sudah biarkan saja, Felly, Aditya. Papamu melakukannya," sahut Sabila. Aditya dan Felly mengangguk.
" Oh iya Aditya. Bagaimana dengan Damar. Apa dia sudah mendapat panggilan?" tanya Anderson.
" Tuan Mark lagi mengurusnya. Papa jangan khawatir Damar akan segera di tangani dan William juga sebentar lagi akan sidang dan putusan hukumnya akan di tentukan," jawab Aditya.
" Syukurlah kalau begitu, semoga mereka mendapatkan ganjaran dari perbuatan mereka," ucap Anderson.
" Iya pa," sahut Aditya.
" Heriyawan sudah di hukum, sesuai dengan balasan di terimanya. Di penjara seumur hidup dan Leon sudah mati keneraka dan sekarang tinggal putusan hukuman William, akhirnya 3 orang itu mendapatkan karma dari perbuatan mereka. Tinggal Rebecca yang harus merasakan apa yang di rasakan mama dan itu kak Elia yang mengurusnya," batin Aditya yang merasa lega.
Felly melihat ke arah suaminya, Felly menggenggam tangan suaminya yang di atas meja sehingga Aditya menoleh kearahnya dan Felly langsung tersenyum lebar. Aditya menganggukkan matanya. Felly seakan tau apa yang di rasakan suaminya
" Hmmm, Felly kamu sendiri bagaimana. Bukannya kamu mengatakan. Akan secepatnya kuliah?" tanya Andre.
" Iya kak, aku sudah mempersiapkan semuanya dan tinggal menunggu jadwalnya," sahut Felly.
__ADS_1
" Felly, walau kamu kembali menempuh pendidikan kamu. Tapi kamu harus ingat satu hal. Kamu sudah menikah dan kamu punya kewajiban untuk suami kamu. Jangan sampai kamu sibuk dengan kuliah dan melupakan kewajiban kamu sebagai istri," ucap Sabila memberi saran.
" Iya mama tenang aja. Semuanya akan aman. Felly mana mungkin melupakan tugas Felly sebagai istri," sahut Felly melihat suaminya dengan mengedipkan matanya.
" Asal kata-kata kamu benar saja," sahut Sabila.
" Mama tidak percayaan amat," sahut Felly.
" Ehmmm, sekalian kita mengobrol seperti ini aku juga sekalian mau memberitahu sesuatu,' sahut Aditya membuat semua orang melihat ke arahnya.
" Memberi tahu apa Aditya?" tanya Anderson.
" Besok, rumah sakit yang sudah selesai akan di resmikan besok," ucap Aditya.
" Serius," sahut Felly kaget yang tampaknya tidak tau berita itu.
" Iya serius," sahut Aditya.
" Rumah sakit, rumah sakit apa?" tanya Sabila tampaknya tidak tau apa yang di bicarakan menantunya. Bukan hanya Sabila yang tampak geram. Anderson, Andre juga heran dengan rumah sakit yang di maksud Aditya.
Anderson, Sabila saling melihat tersenyum bahagia. Sebagai orang tua pasti memang mereka sangat bahagia dengan menantu mereka yang berhati tulus yang bisa membahagiakan putri mereka.
" Felly, Aditya sudah memberimu amanah. Jadi jagalah amanah itu dengan baik. Karena bukan hal yang mudah untuk memenuhi tanggung jawab. Sama dengan rumah sakit yang menjadi milik kamu. Jadi itu tidak mudah," ucap Sabila memberi saran pada anaknya.
" Iya ma, Felly akan bertanggung jawab dengan apa yang di berikan pada Felly. Felly akan kuliah dengan benar, agar mendapat gelar doktor dan tidak membuat usaha kakek Harison sia-sia. Felly tidak akan mengecewakannya sama dengan Aditya. Felly tidak akan mengecewakan Aditya. Felly akan menjalankan apa yang harus Felly lakukan di rumah sakit nanti," sahut Felly. Aditya dan yang lainnya tersenyum mendengarnya.
" Hmmm, baguslah jika begitu. Itu memang yang harus di lakukan," sahut Anderson.
" Iya pa. Felly berharap kalian semuanya memberikan doa dan dukungan yang terbaik untuk Felly," ucap Felly.
" Pasti Felly, kami tidak mungkin tidak mendukung kamu," sahut Andre.
" Kak Felly keren, belum juga mulai kuliah, sudah punya rumah sakit sendiri. Kak Aditya benar-benar suami idaman," sahut Aqni.
" Ya iyalah, siapa dulu istrinya," sahut Felly menyombongkan diri membuat tawa kecil di ruangan itu. Aditya juga tersenyum dengan mengusap-usap pucuk kepala Felly.
__ADS_1
" Sudah-sudah. Jika rumah sakit itu akan di resmikan maka kita akan buat syukuran untuk besok," sahut Sabila.
" Hmmm, benar, supaya berkah," sahut Aqni.
" Iya Aditya menyerahkan semua pada mama masalah itu. Aditya hanya akan mengurus yang lainnya. Agar semuanya lancar," sahut Aditya.
" Iya kamu tenang, saja percaya sama mama. Maka akan aman," sahut Sabila dengan yakin.
Aditya mengangguk dia memang tidak akan meragukan ke ahlian mertuanya itu yang pasti bisa di percayai nya.
*************
Laura sedang berbelanja makanan ringan di mini market dengan keranjang yang di pegangnya dan di isinya dengan beberapa minuman dan makanan ringan.
" Apa lagi ya," ucapnya yang bingung harus memasukkan jajanan yang mana lagi makanan ringan itu yang harus di belinya.
" Aku rasa ini sudah cukup," ucapnya memutuskan. Akhirnya Laura pun langsung kekasir untuk melakukan pembayaran dan Laura harus antri. Karena masih ada orang yang sedang melakukan transaksi di depannya.
Tidak lama menunggu akhirnya orang di depannya pun selesai berurusan dengan kasir dan sekarang gilarannya. Laura meletakkan keranjang belanjaannya di atas meja dan dengan ramah kasir melayani Laura dan mulai menghitung belanjaan Laura.
" Rp 248.000," ucap sang kasir memberikan nominal yang harus di bayar.
" Oke, sebentar," ucap Laura merogoh membuka tas yang di letakkan di bahunya mencari dompetnya. Namun tiba-tiba Laura panik karena tidak menemukan dompetnya sama sekali.
" Di mana dompetku," ucapnya panik dan terus merogoh tasnya.
" Ya ampun kenapa aku ceroboh sekali. Dompetku ketinggalan," ucapnya menepuk jidatnya menyadari apa yang di lakukannya.
" Bagaimana mbak?" tanya kasir tersebut.
" Maaf mbak, nggak jadi soalnya dompet saya ketinggalan," ucap Laura merasa tidak enak.
" Sekalian sama saya saja," tiba-tiba terdengar suara seorang Pria yang membuat Laura kaget dan melihat Pria di sampingnya yang mengeluarkan uang dari dompetnya yang ternyata Pria itu adalah Damar.
Bersambung
__ADS_1