
Beberapa jam kemudian. Aditya sangat frustasi di kantornya. Pikirannya hanya pada Felly yang ada bersama kakeknya.
Aditya yang tidak ingin terjadi hal yang tidak di inginkannya. Aditya pun buru-buru pulang kerumah sang kakek untuk mencari Felly.
Bion mengatakan sang kakek membawa Felly kerumahnya. Jadi Aditya harus kerumah itu. Walau nanti juga akan bertemu Damar yang masih ingin di hajar nya. Karena tadi masih tanggung.
Ketika mobil itu sudah berhenti di depan rumah sang kakek. Dengan cepat Aditya turun dari mobilnya dan masuk kedalam rumah itu dengan berlari. Tujuan pertama Aditya adalah kamar kakeknya.
Brukkk.
Aditya membuka kasar kamar sang kakek. Membuat orang yang berada di dalamnya kaget dan langsung melihat ke arah pintu.
Dugaannya benar, Felly ada di sana bersama kakeknya dan 1 pelayan wanita yang mengobati luka di wajah Felly.
" Apa kau tidak punya sopan santun," tegas Harison.
Aditya menghiraukan ucapan sang kakeknya langsung menghampiri Felly dan menarik tangannya
" Ikut denganku," ucap Aditya. Langsung menarik lengan Felly membawa Felly dari tempat itu.
" Aditya," panggil Harison membuat langkah Aditya berhenti.
" Antar dia kemobil!" perintah Aditya pada salah satu bodyguard nya yang berada di depan kamar Harison.
Sang bodyguard langsung menundukkan kepalanya dan mempersilahkan Felly untuk berjalan terlebih dahulu.
Felly yang benar-benar lelah hanya mengikut saja. Dia memang di oper-oper sana-sini. Sesuka hati orang-orang memperlakukannya dan dia yang tidak bisa melakukan apa pun menurut saja seperti boneka.
Sekarang hanya tinggal ada Harison dan Aditya di kamar itu.
" Kenapa kau membawanya pergi, apa kau tidak bisa melihat jika di sedang di obati?" tanya Harison " apa kau tidak melihat dia terluka,"
" Jika dia terluka itu urusanku, seharusnya kalek mengurus siapa yang melukainya," sahut Aditya.
" Tapi kakek malah membawa dia kerumah ini. Apa kakek ingin melihat bagaimana ibu dan anak itu menghakiminya Kembali. Aku rasa kakek tidak lupa apa yang menantu kakek lakukan kemarin, bersikap kasar kepada Felly. dan tadi cucu kesayangan kakek itu memukulnya di depanku," ucap Aditya mengingatkannya.
" Apa kakek sudah menemuinya dan menanyakannya atau justru menghukumnya?" tanya Aditya.
__ADS_1
" Tetapi seharusnya kau dan dia tidak perlu bertengkar seperti tadi, sangat memalukan," sahut Harison yang malah mengalihkan pembicaraan.
" Memalukan, perbuatan siapa yang memalukan, aku apa dia?" tanya Aditya menekan suaranya.
" Sudah jangan banyak bicara lagi," sahut Harison yang memang tidak menanggapi apa-apa atas apa yang di katakan Aditya.
" Dugaan ku benar, kakek mana mungkin menghukumnya. Dan sekarang menganggap seperti tidak terjadi apa-apa. Ya kakek memang seperti itu dari dulu kakek tidak pernah adil, menutup keadilan," sahut Aditya menyunggingkan senyumnya.
" Cukup dengan kata-kata mu dan juga perbuatanmu. Kau selalu berkata semaumu, kau mengacaukan semuanya semaumu," sahut Harison lelah mendengar perkataan Aditya yang sering terucap.
" Mengacau kakek bilang. Apa yang aku kacauaan. Dia dan ibunya yang pengacau," teriak Aditya mulai marah.
" Kau masih tidak sadar kalau kau membatalkan pernikahan adikmu sendiri. Kau masih tidak sadar itu, dan itu namanya bukan pengacau," sahut Harison, membuat Aditya tersenyum miring.
" Kakek menyayangkan hal itu. Kakek menyayangkan karena batalnya pernikahannya dan malah menyalahkanku," teriak Aditya.
" Apa salahku. Jika Felly lebih memilihku dari pada dia," lanjut Aditya.
" Kenapa dia harus memilihmu. Sejak kapan kau berhubungan dengannya," sahut Harison yang merasa curiga dan harus mempertanyakan itu.
" Apa maksud kakek, apa kakek mencurigaiku," sahut Aditya.
" Kecuali kau berhubungan dengannya karena sesuatu. Jadi katakan sejak kapan. Sejak kau kembali ke Indonesia, atau sejak kau mengetahui dia kekasih dari Damar atau sejak kau tau bahwa aku akan memberikan pabrik itu kepadanya," Harison meski sudah tua. Tetapi dia tau semua jalan pikiran cucunya itu.
Aditya mendengus kasar mendengar tebakan sang kakek. Semuanya bahkan benar apa yang ada di pikiran kakeknya.
" Apa kakek berpikir jika aku sengaja menjalin hubungan dengan Felly hanya untuk tanah pabrik itu. Atau hanya untuk Damar," sahut Aditya.
" Apa Felly mengatakan sesuatu kepada kakek," batin Aditya was-was karena pertanyaan kakeknya sangat mengintimidasi baginya.
" Karena tidak ada alasan kau bisa menjalin hubungan dengannya kecuali kau mempermainkannya dan memperalatnya," ucap Harison sinis seakan benar-benar tau apa yang ada di otak Aditya.
" Aku bukan mereka yang mengunakan sesuatu untuk mendapatkan kekuasaan. Aku tidak gila kekuasaan seperti mereka," sahut Aditya yang membantah tuduhan kakeknya. Harison tersenyum miring mendengar ucapan Aditya.
" Tapi kau gila dengan balas dendammu. Sampai kau harus mengorbankan wanita yang tidak bersalah," sahut Harison menekan suaranya yang benar-benar seakan mengetahui rencana Aditya.
" Kakek terlalu berlebihan menilaiku seburuk itu. Felly adalah kekasihku. Persetan dia mantan siapa. Yang jelas dia telah memilihku dan kakek mendengar itu semua. Jadi aku tidak peduli tanggapan kakek mengenai aku," jelasnya.
__ADS_1
Aditya berusaha tenang walau jantungnya sudah berdebar tidak menentu dengan kata-kata sang kakek yang seperti sudah mengetahui semuanya.
" Kekasih, calon istri katamu. Apa menurutmu aku percaya kalau kau akan menikahi wanita itu. Aku tidak bodoh Aditya aku sudah mengatakan. Aku mengenal dirimu," teriak Harison.
" Kakek tidak mengenalku. Jadi berhenti mencampuri urusanku," tegas Aditya.
" Aditya jangan kan orang yang berwawasan luas. Orang awam saja bisa melihat ketidak wajaran dalam hal itu, itu sangat tidak masuk akal dengan apa yang keluar dari mulut Felly. Yang keluar dari mulut Felly seperti suatu arahan," sahut Harison dengan santai.
" Aku tidak meminta kakek percaya atau tidak kepadaku. Yang jelas Felly adalah calon istriku," ucap Aditya berusaha membuat kakeknya percaya jika memang hubungannya dengan Felly tidak berhubungan Damar.
" Kata calon istri berbeda dengan menikahinya. Jadi jelas kakek masih merasa mustahil. Jika kau tiba-tiba menikah dengan nya, kau jelas hanya memanfaatkannya saja," sahut Harison dengan tegas.
" kakek terlalu sering berpikiran buruk kepadaku. Jadi aku memaklumi sifat mustahil kakek. Aku rasa cukup kita membicarakan hal itu. Aku harus pergi. Calon istriku sedang menungguku. Terserah kakek menanggapi seperti apa," ucap Aditya membalikkan badannya pergi dari hadapan kakeknya.
" Kalau begitu jelaskan kenapa dia bisa keluar dari kamarmu malam itu," ucap Harison membuat langkah Aditya berhenti.
Aditya tercengang kaget mendengar pertanyaan kakeknya. Seakan ada bom meledak di dalam tubuhnya.
" Kau bisa menjelaskan kepadaku. Kau melakukan sesuatu kepadanya. Sehingga dalam 2 hari semuanya berubah," lanjut Harison dengan santai membuat Aditya menelan salavinanya.
" Aditya, aku tidak buta. Aku bisa melihat bagaimana dia bermain drama di meja makan," lanjut Harison lagi.
Aditya mematung terlihat mengepal tangannya dengan kuat mendengar omongan kakeknya yang tau Felly keluar dari kamarnya.
" Sial, kenapa kakek bisa tau Felly malam itu bersamaku," batin Aditya yang tidak bisa berkutik lagi.
" Aditya aku tidak tau apa yang kau rencanakan dan yang kau inginkan darinya. Aku cuma memperingatkanmu. Jangan menggunakan kekuatanmu, kekuasaanmu untuk orang lemah sepertinya. Kau akan menyesal," ucap Harison dengan serius memperingati Aditya. Aditya membalikkan tubuhnya dan kembali menghadap sang kakek.
" Kakek sudah selesai bicara," sahut Aditya dengan tenang.
" Aku tidak harus menjelaskan kepada kakek. Kenapa dia keluar dari kamarku. Hubungan kekasih jika mereka berada di kamar yang sama. Itu bukannya sangat wajar. Kita sama-sama laki-laki dan kakek pasti tau apa itu artinya. Jika Felly berada di kamarku," sahut Aditya dengan santai yang memang selalu punya jawaban.
" Anak kurang ajar," geram Harison.
" Aku permisi. Kekasihku sedang menunggu," ucap Aditya pamit.
" Anak itu benar-benar kelewatan. Pikirannya di penuhi dendam. Sampai kapan dia seperti itu. Sekarang dia malah berbicara semaunya," batin Harison tidak tau lagi bagaimana menghadapi cucunya.
__ADS_1
Bersambung....