
Tidak seperti saat mereka menuju pantai. Yang mana Elia di dalam mobil masih terlihat ceria. Tetapi sekarang Elia terlihat diam dan membisu. Bahkan wajahnya sangat murung. Bion juga tidak bicara-bicara apa-apa.
Karena dia hanya pengawal.yang mana mungkin mengajak majikannya mengobrol dan berani bertanya ada apa dengan Elia. Jadi Bion juga hanya diam membisu
Tidak lama akhirnya mobil yang di kendarai Bion pun akhirnya sampai di depan rumah mewah itu. Elia membuka sabuk pengamannya dengan cepat.
" Terima kasih untuk malam ini, kamu pulanglah," ucap Elia dengan dingin dan yang langsung keluar dari dalam mobil. Dia tampak tidak basa-basi dan keluar begitu saja. Dan Bion juga hanya diam tanpa bicara apa-apa lagi.
" Apa nona Elia marah padaku," batin Bion yang merasa sikap Elia yang berubah. Karena marah kepadanya. Bion hanya melihat punggung wanita itu yang memasuki rumah sehingga sudah tidak terlihat lagi.
********
" Elia!" tegur Harison saat melihat cucunya sudah pulang.
" Kakek," sahut Elia, Harison mendekatinya dan melihat ke arah Elia. Menatap heran dengan wajah cantik yang di tekuk itu.
" Kamu kenapa?" tanya Harison.
" Tidak apa-apa kek," jawab Elia bohong.
" Yakin tidak apa-apa. Wajahnya seperti ini. Kenapa mengatakan tidak apa-apa. Apa makan di Restaurant itu tidak enak. Atau ada yang mengganggu cucu kakek. Sampai wajahnya harus pulang dalam ke adaan seperti ini?" tanya Harison dengan beribu pertanyaan pada Elia.
" Tidak kek, Elia hanya lelah saja," sahut Elia yang bohong pada kakeknya.
" Kamu lelah?" tanya Harison memastikan. Elia mengangguk.
" Ya sudah kalau memang tidak ada apa-apa. Kamu istirahatlah," ucap Harison yang tidak ingin membuat cucunya semakin kehilangan mood.
" Iya kek," sahut Elia yang langsung menuju kamarnya untuk beristirahat.
__ADS_1
" Ada apa dengan dia. Aku tidak melihat wajah cerianya lagi," batin Harison yang tampaknya khawatir pada Elia.
***********
Elia langsung memasuki kamarnya, wajahnya tampak tidak seceria pertama saat dia pergi tadi. Wajah itu murung dan duduk di meja riasnya dengan menatap wajahnya di depan cermin.
" Apa yang kamu pikirkan Elia. Bion tau masa lalu mu. Jadi apa yang kamu harapkan. Jelas mana ada laki-laki yang menerima dirimu. Apa lagi tau kamu wanita...," Elia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Mungkin sebenarnya Elia menyukai Bion. Tetapi sikap dingin dan cuek Bion. Malah membuatnya tidak percaya diri. Dia sangat menyadari kekurangannya yang memang tidak pantas untuk Bion. Apa lagi Bion tau dirinya seperti apa.
" Huhhhhh, sudahlah Elia, kamu jangan berharap banyak. Kamu tidak pantas untuk bersanding dengan Pria manapun. Karena kondisi dan hal terburuk yang terjadi padamu tidak akan mudah di terima oleh siapapun. Jadi stop berharap lebih Elia," batin Elia yang meneteskan air matanya, mungkin terasa sakit saat masa kelam yang buruk itu menjadi sebuah penghalang untuk menemukan kebahagian.
Sementara Bion masih berada di dalam mobil dengan wajahnya yang tidak kalah murungnya.
" Apa kata-kata ku menyinggung non Elia, dia terlihat begitu marah, dan mungkin saja ada kata-kata ku yang membuat perasaannya tidak tenang," batin Bion yang juga tampaknya kepikiran dengan Elia yang mendadak berubah.
" Argggghhh, Bion apa yang kau pikirkan. Bisa-bisanya kau memikirkan majikanmu, sadarlah Bion. Wanita yang menghantui pikiran mu itu adalah kakak dari majikanmu. Jangan berlebihan Bion. Kau tidak pantas memikirkan dia. Sangat tidak pantas Bion," ucap Bion mengacak-acak rambutnya.
" Hhhhhhh, sudahlah, jangan memikirkannya terus menerus, nanti jika aku bertemu kembali dengan non Elia, aku akan coba minta maaf lagi, sebaiknya aku pergi saja," batin Bion yang memutuskan untuk melajukan mobilnya.
**********
Laura yang memang sekarang punya tugas baru. Ya itu untuk merawat Damar. Seperti sekarang ini masih pagi. Laura sudah berada di rumah sakit jiwa dan bahkan Laura sudah berada di kamar di mana Damar di rawat.
Gila atau tidak gila kenyataannya Damar di tempatkan di tempat itu. Ya memang mental Damar pasti sedikit mengalami gangguan yang membuat Damar harus di tetapkan di rumah sakit jiwa.
Dan Laura bersedia merawat Damar. Seperti sekarang ini. Laura memberi Damar makan dengan menyuapinya dengan lembut.
" Aku sudah kenyang," ucap Damar.
__ADS_1
" Tapi makanan masih banyak," sahut Laura.
" Tapi aku sudah kenyang Laura. Nanti saja aku makan lagi," sahut Damar yang memang menolak makanan itu.
" Hmm, ya sudah kau kamu sudah kenyang," sahut Laura yang tidak ingin memaksa Damar dan Laura meletakkan makanan itu di atas nakas dan memberi Damar segelas air putih. Damar pun meneguknya sampai setengah gelas.
" Kamu minum obat ya," ucap Laura lembut dan memberikan obat pada Damar. Namun Damar menolaknya.
" Apa ini obat untuk membuatku sembuh atau justru membuatku semakin sakit," sahut Damar menatap Laura datar.
" Kamu tidak mempercayai ku?" tanya Laura.
" Aku tidak tau Laura. Apa yang kamu lakukan adalah kebenaran atau hanya memanfaatkan ku saja," ucap Damar dalam keraguannya.
" Aku tau Damar, seseorang yang sudah terlihat buruk di awal makan akan tetap buruk sampai kapanpun. Mungkin sama denganku. Aku melakukan semuanya hanya karena sebuah alasan yaitu hanya memanfaatkan kamu. Jadi sangat wajar kamu mudah untuk mempercayai ku. Tapi pada hakikatnya. Aku tulus melakukannya kepadamu dan terserah kamu mau menganggap yang lakukan sebagai apa," ucap Laura dengan lembut bicara pada Damar.
" Maafkan aku. Aku tidak bermaksud meragukanmu," ucap Damar merasa bersalah. Laura menanggapi dengan senyum tipisnya.
" Aku mengerti. Ini tidak mudah untuk kamu," sahut Laura memegang pipi Damar.
" Tapi aku mencintai kamu Damar. Aku ingin berada di sisimu apapun yang terjadi," ucap Laura menatap dalam-dalam Damar dan mata Laura turun pada bibir Damar mencium sebentar bibir itu. Tidak lama kemudian melepasnya.
" Aku akan tetap di sisimu. Karena justru aku yang terjebak dalam cintamu," ucap Laura. Damar tersenyum tipis mendengarnya dan meraih Laura kedalam pelukannya.
" Aku juga mencintaimu, bersabarlah untuk menunggu semuanya berakhir," ucap Damar memeluk erat Laura dengan matanya berkaca-kaca.
" Aku akan bersabar Damar, pasti aku akan bersabar. Karena bagiku kebahagian ku hanya bersamamu. Mari kita lewati semuanya sama-sama. Kita pasti bisa menghadapinya bersama-sama," ucap Laura.
" Terimakasih Laura. Kamu sudah banyak mengarahkan ku. Terima kasih kamu sudah membuatku sadar arti kehidupan yang sesungguhnya, terima kasih Laura," ucap Damar.
__ADS_1
" Sama-sama," sahut Laura yang terus memeluk erat Damar. Dia memang sangat tulus kepada Damar.
Bersambung