Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.

Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.
Part 230 Persidangan yang tegang.


__ADS_3

Bion yang masih berada di sampingnya sangat prihatin melihat ke adaan yang terjadi pada kakak dari atasannya itu. Elia tertunduk menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya dengan tangisannya yang sangat menyedihkan.


" Hiks-hiks, hiks," tangisan itu membuat tangan Bion yang di sampingnya perlahan mengusap pundak Elia untuk memberikan Elia kekuatan seakan tau apa yang di rasakan Elia.


" Non Elia, tenang lah," ucap Bion menghadap Elia. Dan Elia refleks langsung menjatuhkan diri pada Bion. Menangis di dada bidang Bion masih tetap menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya.


Bion bingung dengan apa yang harus di lakukan pada Elia yang menangis. Perlahan tangan Bion menepuk-nepuk bahu Elia dengan pelan seakan memberikan Elia kekuatan.


" Kenapa nasibku tidak seperti orang-orang. Aku memiliki seorang ayah yang sama sekali tidak menyayangiku. Dia membuangku dan tidak peduli kepadaku. Kenapa aku harus bertemu dengannya. Kenapa aku harus melihatnya. Kenapa?" tanya Elia yang menangis sengugukan.


" Nona Elia, semua yang terjadi adalah masa lalu. Saya mengerti perasaan nona, menangis adalah jalan untuk menenangkan diri. Tetapi jika nona menangis sekuat-kuatnya, itu juga tidak ada gunanya. Itu tidak akan mengubah apapun dan tuan Baskoro juga tidak akan melihat itu dan mungkin tidak akan peduli pada hal itu. Apa yang di lakukan tuan Aditya sudah yang paling tepat. Untuk membuat tuan Baskoro sadar dengan perbuatannya di masa lalu," ucap Bion yang mencoba memberikan pencerahan untuk Elia.


Dia memang pasti tau apa yang terjadi pada Elia. Sebagai anak buah Aditya pasti dia mengetahui semua yang terjadi pada Elia di masa lalu.


" Jadi tenanglah. Nona Elia akan mendapatkan keadilan secepatnya," ucap Bion.


Suara tangisan Elia menelan yang mungkin memang merasa tenang dengan kata-kata yang di dengarnya dari Bion.


***********


Aditya dan Felly berpegangan tangan untuk memasuki ruangan persidangan. Dan harus bersamaan dengan Rebecca dan juga sekutunya.


Rebecca kaget melihat Aditya yang baik-baik saja. Termasuk William yang juga tidak percaya Aditya yang setengah mati bisa sampai bisa sembuh membuat Wiliam tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Mata Rebecca menatap tajam Felly dan juga Aditya yang sekarang tersenyum mengejek pada Rebecca.


" Sial, Aditya memang mempunyai banyak nyawa. Bisa-bisanya dia langsung sembuh seperti itu," batin William yang masih kaget. Karena dia jelas ada saat Aditya terluka dan Aditya bahkan setengah mati.


" Aku turut berduka cita, atas matinya teman kalian," sahut Aditya menyunggingkan senyumnya. Membuat Rebecca mengepal tangannya.


" Wiliam. Kak Elia sangat senang bertemu dengan mu dan aku yakin kak Elia pasti masih ingin bertemu denganmu. Karena kemarin dia tidak sempat mengirimmu ke neraka," ucap Aditya yang dengan seriangi nakal di wajahnya yang membuat William panik seketika.

__ADS_1


" Jaga bicaramu, kau pikir aku takut dengan kalian," sahut Aditya.


" Hmmm, kau tidak akan takut dengan kamu. Tetapi aku hanya mengingatkan mu. Jika kamu masuk ketempat ini salah. Kamu datang kemari salah. Karena kamu tidak akan bisa kembali pulang lagi," ucap Aditya.


" Apa yang kau katakan jangan bicara sembarangan," ucap William.


" William, dalam hal ini harus ada yang di korbankan. Dan kau harus tau untuk orang penguasa. Jika dia sudah berada di depan binatang buas. Dia tidak akan rela termakan dan harus melempar orang di dekatnya untuk menyelamatkan dirinya," ucap Aditya dengan kata-katanya yang membuat William tampak kepikiran dan Rebecca terlihat panik.


" Apa maksudmu?" tanya William.


" Seperti yang aku bilang, kamu hanya di jadikan umpan. Olehnya," sahut Aditya mengarahkan matanya pada Rebecca yang membuat Rebecca panik kaget dengan matanya melotot dan William langsung melihat ke arah Rebecca.


" Jangan sembarangan bicara kamu Aditya," geram Rebecca. Aditya menyunggingkan senyumnnya.


" Tidak apa-apa, karena itu mempermudah pekerjaanku," sahut Aditya menepuk bahu William dan langsung pergi mengajak istrinya memasuki ruangan persidangan.


" Sial, apa yang di katakannya. Kenapa dia terus hidup," batin Rebecca penuh emosi dan langsung menyusul masuk kedalam.


***********


Di dalam ruang persidangan sudah berkumpul semua orang. Aditya dan Felly duduk paling depan bersebelahan dengan tangan mereka yang saling bergenggaman. Andre, Sabila, Wanti, dan Aqni duduk di belakang Aditya dan Felly.


Sementara di barisan lawan mereka. Sudah ada Damar yang duduk bersama Rebecca. Wiliam dan Harison duduk di belakang Rebeca, Baskoro dan Damar


Persidangan di buka untuk umum. Karena ini nama baik Anderson yang sudah tercemar. Jadi Aditya mengundang wartawan untuk meliput kembali kasus ini untuk keadilan untuk Baskoro.


Di tengah ketegangan pintu dari belakang terbuka yang mana memperlihatkan polisi yang membawa Anderson dan Arya suami Wanti yang mana ke-2 Pria itu memakai pakaian orens dengan tangan di borgol kedepan.


" Papa," lirih Felly yang menegok kebelakang melihat sang papa membuat matanya berkaca-kaca. Bukan hanya dia adiknya dan mamanya pasti sama. Bahkan mereka sudah lama tidak menemui sang papa dan ini merupakan untuk rindu yang tertanam.


Aditya semakin menggengam tangan Felly erat untuk menguatkan istrinya. Agar tenang.

__ADS_1


Anderson melihat anak dan istrinya dengan tersenyum tulus seakan menyampaikan. Bahwa dia tidak apa-apa sama sekali.


Anderson dan Arya pun di dudukkan pada kursi tersangka. Sementara pengacara Aditya dan beberapa rekannya sudah duduk di tempatnya begitu juga dengan pengacara Damar. Dan tidak berapa lama hakim dan yang lainnya memenuhi tempat duduk mereka masing-masing.


Persidangan pun akhirnya di mulai. Pengacara Aditya langsung mengeluarkan bukti-bukti yang menyatakan Damar banyak melakukan penyimpanan dan beradu argumen dengan pengacara Rebecca.


Suasana terlihat begitu tegang, yang membuat Damar, Rebecca semakin memucat. Karena sangat jelas bisa di pastikan Aditya akan memenangkan kasus ini.


" Dan ini dokumen yang yang aslinya," sahut Tuan Mark yang memberikan pada Halim. Dokumen yang di curi Laura dari Damar.


" Kurang ajar, itu bukannya data-data perusahaan Layer," batin Damar yang tampak panik yang baru menyadari jika apa yang hilang dari ruang kerjanya adalah hal penting itu.


" Apa itu Damar?" tanya Rebecca dengan pelan.


" Data, Perusahaan layer," jawab Damar.


" Lalu kenapa bisa ada di tangan Aditya?" tanya Rebecca.


" Pasti Aditya mencurinya?" jawab Damar.


" Kenapa kamu bodoh sekali," ucap Rebecca kesal.


" Ma, mama kenapa sih, dari tadi nyalahin Damar mulu," sahut Damar kesal dengan mamanya. Dia sudah berkeringat dingin tetapi terus di salahkan.


" Itu, karena kamu yang bodoh," sahut Rebeca.


" Mama benar-benar, dia yang memulai semuanya dan aku yang kenak imbasnya. Dan sekarang malah seenaknya menyalahkan ku. Aku tidak mau di penjara untuk semua ini. Mama benar-benar pintar menghilangkan jejaknya dan membuat aku seakan-akan melakukannya sendiri tanpa bantuannya," batin Damar yang menyadari persidangan banyak bukti-bukti yang memojokkannya dan Rebeca sama sekali tidak. Damar seakan merasa telah di hiyanati.


Harison yang mengamati persidangan melihat juga banyak kejaggalan. Bahkan layar monitor papan memperlihatkan Aditya yang salinan dokumen yang membuatnya beberapa kali melihat ke arah Damar yang di mana dia merasa cucunya ini sangat kurang dalam memimpin perusahaan dan mengambil hak milik orang lain dengan cara yang sangat salah.


Bersambung.

__ADS_1


.


__ADS_2