
Felly yang mendengar cerita dari BI Warmi membuat hatinya seakan bergetar. Air matanya tidak henti menetes mendengar cerita itu.
" Tuan Aditya pada saat itu sudah berusaha untuk mengungkap kebenaran. Dia berusaha untuk mengatakan kepada tuan Harison dan tuan Baskoro. Tetapi tidak satupun di antara mereka percaya. Jika apa yang di katakan tuan Aditya adalah kebenarannya,"
" Sampai akhirnya, semuanya tetap seperti itu dan tuan Aditya harus menyaksikan penderitaan nona Elia. Nona Elia yang juga pernah ingin melenyapkan dirinya. Tuan Aditya yang masih 10 tahun harus melihat kakaknya menggantung,"
" Dan saat itu pun semua orang di rumah ini, mengatakan jika nona Elia stress karena masalah sekolah dan dengan omongan nyonya Rebecca. Tuan Baskoro menempatkan nyonya Elia di rumah sakit jiwa sampai bertahun-tahun," lanjut Bi Warmi yang tidak menutupi apapun lagi.
" Saya sebagai saksi keluarga yang bahagia menjadi hancur. Saya sebagai saksi. Nyonya Mariyati Saraswati yang sangat baik hati di perlakukan layaknya tidak manusia. Saya sebagai saksi bagaimana tuan Aditya yang seusianya harus mengalami masa-masa terberatnya," ucap bibi yang menceritakan semuanya dengan tetesan air mata.
Hati Felly seakan sesak dengan apa yang di dengarnya. Dia seakan merasakan penderitaan Aditya selama ini. Dia selalu merasa jika dia adalah wanita yang paling menderita. Tetapi tanpa dia sadari. Aditya adalah orang yang jauh lebih menderita.
" Nona Felly," ucap Bibi memegang ke-2 tangan Felly yang dingin dan bergetar.
" Jangan pernah tinggalkan tuan Aditya. Dari dulu dan sampai saat ini tuan Aditya hanya berusaha mendapatkan keadilan untuk almarhum mamanya dan juga untuk nona Elia. Mungkin tuan Aditya menurut nona sangat jahat. Tetapi saya yang sudah hidup bertahun-tahun dan sangat mengenalnya. Dia adalah Pria yang sangat baik. Hatinya rapuh dan lembut,"
" Saya berharap apapun keadaannya. Nona Felly tidak akan meninggalkannya, saya mohon nona," ucap Bibi yang dengan tulus meminta pada Felly.
Wanita paruh baya itu memang merasa. Jika Felly Gadi yang baik yang memiliki hati tulus seperti nyonya dulu.
" Perketat semua penjagaan," suara tegas Aditya terdengar dekat membuat Felly dan Bi Warmi tersentak kaget.
Felly langsung melepas tangannya dari Bi Warmi. Karena sudah kepanikan, dengan Aditya yang sepertinya akan masuk kamar. Sang Bibi juga langsung mengusap air matanya buru-buru.
Dan Felly dengan cepat mengembalikan buku yang di bacanya ketempatnya dengan tergesa-gesa.
Ceklek.
Pintu kamar sudah terbuka dan Felly yang masih di depan laci dan memeleakingi pintu dengan cepat mengusap air matanya.
__ADS_1
Aditya yang masih di memegang kenopi pintu, heran melihat sesuatu di kamar seperti ada yang tidak beres.
" Saya permisi nona, pakaian tuan Aditya sudah semua di situ," ucap bibi dengan gugup.
" Iya makasih," sahut Felly yang juga gugup. Dan bahkan pandangannya tidak bisa melihat Aditya. Karena air matanya masih menetes walau sudah menyeka berkali-kali.
Bibi pun langsung pergi dengan menunduk saat lewat di depan Aditya.
" Permisi tuan!"' ucap Bibi menunduk terus sampai keluar. Aditya merasakan ada yang tidak beres di kamarnya itu dan walau Felly tidak melihatnya. Tetapi dia melihat Felly seperti ada sesuatu.
Felly pun mengalihkan semuanya dengan mengambil pakaian Aditya yang di atas tempat tidur dan memasukkannya kedalam lemari. Aditya pun menutup pintu kamar dan membuka lengan bajunya dengan terus memperhatikan gerak-gerik Felly istrinya yang pasti sangat mencurigakan.
Felly tampaknya menunduk saja dengan tangannya terus menyeka air matanya. Dan Felly melewati Aditya dan Aditya menahan tangannya yang sangat dingin.
" Ada apa?" tanya Aditya yang merasa ada yang tidak beres. Tangan Felly yabg satunya masih menyeka air matanya.
" Aku mau kekamar mandi," ucap Felly melepas tangannya dari Aditya dan langsung pergi.
Felly memasuki kamar mandi dan terduduk di depan pintu kamar mandi dengan memeluk tubuhnya dan menangis sejadi-jadinya untuk melanjutkan tangisannya yang tertunda.
Tidak tau kenapa dia harus menangis seperti itu. Dia seakan merasakan sakit yang luar biasa. Aditya yang seperti itu. Tetapi dia seakan merasa sakit. Dia tidak pernah membayangkan apa yang di pikiran Aditya.
" Kenapa Tante Rebecca begitu kejam. Apakah dia manusia. Kenapa dia Setega itu dengan Tante Rebecca. Kenapa? kenapa dia sejahat itu," ucapnya yang terisak-isak.
" Apakah adalah takdir, cara Tuhan memrtemuka ku dengan Aditya adalah petaka untukku. Tetapi ternyata tidak Tuhan punya rencana lain. Apa yang aku alami, jelas tidak separah Aditya. Mental Aditya yang benar-benar kuat menghadapinya semuanya dari dia kecil. Aditya yang di paksa dewasa. Dia harus mengalami semuanya penderitaan yang tidak ada hentinya," ucap Felly yang berbicara terisak-isak.
Aditya yang sudah mengganti pakaiannya, mendengar suara tangisan membuatnya heran dan langsung mendekati kamar mandi. Suara tangisan itu semakin dekat.
" Kenapa dia menangis? ucap Aditya yang heran dengan Felly. Karena dia jelas mendengar suara tangisan Felly.
__ADS_1
tok-tok-tok-tok.
" Felly," ucap Aditya mengetuk pintu.
" Kamu kenapa?" tanya Aditya yang mengetuk-ngetuk pintu yang jelas mendengar suara tangisan itu.
Felly di kamar mandi langsung cepat-cepat duduk dan langsung berdiri. Felly dengan cepat mencuci wajahnya agar tidak ketahuan menangis.
" Felly!" panggil Aditya lagi yang mengetuk pintu dan ingin mengetuk lagi Felly sudah membuka pintu kamar mandi.
" Kenapa?" tanya Felly dengan suara serak.
" Ada apa denganmu?" tanya Aditya yang melihat Felly.
Walau Felly mencuci wajahnya. Tetapi matanya itu terlihat mengeluarkan banyak air mata. Bahkan suaranya menunjukkan Felly yang habis menangis.
" Aku tidak apa-apa," ucap Felly yang langsung pergi. Aditya menahan tangannya.
" Katakan ada apa. Kenapa kau menangis, apa yang kau dan bibi bicarakan di kamar. Katakan ada apa," ucap Aditya menekan suaranya yang tampak tau, jika istrinya itu terjadi sesuatu.
Felly langsung memeluk Aditya dengan erat. Membuat Aditya kaget dengan pelukan Felly.
" Aku merindukan mama ku," ucap Felly yang kembali menangis, dia memang tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis menjadikan kerinduan pada orang tuanya sebagai alasan untuk tangisannya.
" Aku sangat merindukan mereka hiks Aku merindukan mereka hiks," ucap Felly yang menagis sengugukan.
Hati Aditya seakan tersentuh dengan suara isakan Felly. Aditya perlahan meletakkan ke-2 tangannya di punggung Felly dan memeluk Felly dengan erat. Seakan ingin memengankan Felly.
Padahal Felly yang ingin memberikan kekuatan pada Aditya. Tetapi dia memberi alasan kerinduannya pada orang tuanya. Aditya tidak bicara apa-apa, dia hanya memeluk Felly erat dengan mengusap-usap rambut Felly.
__ADS_1
Felly semakin menangis di pelukan Aditya. Bahkan mengeluarkan suaranya yang sekeras-kerasnya yang biasanya dia akan malu. Tetapi tidak. Dia tidak malu sama sekali. Malah sangat nyaman.
Bersambung....