
Felly terus mengusap-ngusap rambut Aditya untuk memberikan ketengan kepada Aditya. Aditya membuka matanya dan melihat istrinya. Felly tersenyum dengan mencium lembut kening Aditya.
" Kamu sudah lebih enakan?" tanya Felly.
" Jika kamu ada di sisiku. Aku memang akan jauh lebih enakan, aku akan merasa lebih tenang tanpa beban sekalipun," sahut Aditya. Felly tersenyum mengembang mendengarnya.
" Aku akan selalu ada di sisimu dan Seharusnya tidak melihatnya tadi," sahut Felly.
" Tidak apa-apa, aku hanya tidak percaya. Jika hal itu menjadi nyata di depanku," sahut Aditya.
" Kejam, Rebecca benar-benar sangat kejam. Apa dia manusia?" tanya Felly.
" Aku tidak tau. Dia manusia atau tidak," sahut Aditya.
" Lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Felly.
" Bukankah sudah ini waktunya. Aku akan langsung memberi tahu kakek tentang semua ini," ucap Aditya. Felly mengangguk tersenyum mendengarnya.
" Aku setuju," sahut Felly.
" Makasih ya. Kamu sudah mendukungku," ucap Aditya.
" Aku adalah istrimu dan pasti aku akan terus mendukungmu dan akan terus berada di sisimu. Orang yang jahat akan kembali pada tempatnya. Aditya kamu harus tau. Jika kamu sudah memberi keadilan pada mama dan juga kak Elia yang sekarang yang hanya kamu lakukan hanya membuka mata orang-orang yang menutup matanya. Dan untuk Rebecca dua akan mendapat balasannya," ucap Felly.
" Iya kamu benar," sahut Aditya.
" Ya sudah, kamu sebaiknya istirahat. Besok kita akan ketempat kakek dan menyelesaikan masalah ini," ucap Felly. Aditya mengangguk dan Felly kembali mencium kening suaminya dan Aditya terus memegang tangan Felly sesekali mencium lembut tangan itu.
**********
Laura terlihat berada di pinggir kolam renang yang terlihat berdiri dengan memegang ponselnya.
" Aku harus segera mengerjakan apa kata Aditya. Untuk siasat besok. Besok semuanya akan terbongkar kelakukan Rebecca akan terbongkar dan Damar pun sama. Dia juga akan mendapat balasan dari perbuatannya," batin Laura menyunggingkan senyumnya.
" Sebaiknya aku menyiapkan siasat untuk besok," ucap Laura membalikkan tubuhnya dan tersentak kaget melihat Damar yang tiba-tiba ada di depannya.
" Da- Damar," ucap Laura gugup dengan napasnya yang tiba-tiba tidak teratur.
" Damar, kenapa dia tiba-tiba ada di sini," batin Laura tiba-tiba panik.
__ADS_1
" Kamu sedang apa di luar malam-malam begini?" tanya Damar heran.
" Hmmm, aku. Aku tidak apa-apa. Hanya mencari udara dingin saja," sahut Laura kelihatan gugup.
" Hmmm, begitu rupanya. Aku mendengar kamu mengatakan siasat apa maksudnya?" tanya Damar tiba-tiba membuat Laura kaget mendengarnya sampai matanya melotot ingin keluar.
" Siasat, siasat apa. Apa yang kamu katakan. Aku tidak mengerti. Lagian kapan aku mengucapkan kata-kata itu," sahut Laura dengan gugup. Damar mendekati Laura melangkah pelan dan refleks Laura malah mundur dan membuat Damar heran, sehingga Damar menghentikan langkahnya.
" Ada apa Laura?" tanya Damar heran.
" Hah! tidak ada apa-apa. Aku yang bertanya sama kamu ada apa?" tanya Laura tiba-tiba dengan debaran jantungnya yang tiba-tiba berdetak tidak menentu. Seperti ada ke anehan yang di rasakannya.
" Maksudku. Kamu kenapa turun. Bukannya kamu sedang beristirahat?" tanya Laura yang mencoba untuk tenang.
" Aku hanya bosan di dalam kamar. Aku membutuhkanmu untuk mengobrol, bisa kita mengobrol," ucap Damar.
" Ohhh, begitu rupanya. Ya sudah mari mengobrol," sahut Laura tersenyum. Damar mengangguk.
" Kita ngobrol di sini saja," ucap Laura. Damar kembali mengangguk dan akhirnya mereka mengobrol bersama di pinggir kolam renang.
" Aku mengira Damar mengetahui sesuatu. Ternyata tenang Laura. Sandiwara ini sebentar lagi dan semuanya akan berakhir. Kamu tidak perlu bersandiwara lagi dengan Damar, syukurlah jika Damar memang tidak tau apa-apa," batin Laura yang berusaha untuk tenang.
" Lalu kamu belum bisa melupakan wanita yang bernama Felly tersebut?" tanya Laura. Yang ternyata Damar menceritakan kisah cintanya dengan Felly.
" Keadaan membuatku pelan-pelan melupakannya, dia sudah menjadi istri orang lain yang tak lain adalah Aditya. Kakak tiriku, jadi mau tidak mau aku melupakannya," ucap Damar.
" Karena itu kamu melupakannya?" tanya Laura.
" Jujur aku tidak bisa menerima pernikahan Felly dengan Aditya. Dan aku berusaha untuk kembali merebut Felly dari Aditya. Tetapi ternyata mereka sudah menyatu dan tidak pisah di pisahkan. Walau aku sudah melakukan banyak cara," ucap Damar.
" Dan kami menyerah?" tanya Laura.
" Aku hanya sadar apa yang aku lakukan ternyata membuat Felly membenciku. Aku sampai melakukan yang tidak hanya karena ambisiku untuk memilikinya," ucap Damar.
Dan sekarang kamu memang melupakannya?" tanya Laura ingin memastikan.
" Iya aku benar-benar melepasnga. Aku mengira aku tidak akan bisa melakukannya. Tetapi lama-kelamaan aku ternyata bisa melupakannya dirinya, aku melepasnya dan membuka hati ku," sahut Damar.
" Maksudnya?" tanya Laura. Damar tiba-tiba memegang ke-2 tangan Laura, membuat Laura heran.
__ADS_1
" Aku menyerahkan hatiku kepada seorang wanita yang membuatku nyaman dan seakan hidup seperti manusia biasa," ucap Damar membuat Laura heran.
" Siapa ?" tanya Laura.
" Kamu," jawab Damar membuat Laura kaget sampai melebarkan matanya sempurna. Mendengar apa yang di katakan Damar.
" Maksudnya?" tanya Laura heran.
" Aku tidak tau kapan. Tapi tampaknya aku menyukaimu. Aku menempatkan hatiku padamu. Aku menyukaimu Laura, aku merasa nyaman dengan mu. Aku menyukaimu," ucap Damar tiba-tiba yang mengungkap perasaannya membuat Laura schock. Jika Damar sangat mudah jatuh cinta padanya.
***********
Pagi hari kembali tiba. Ternyata hari ini Baskoro akan kembali ke Kalimantan untuk menjalankan tugasnya. Rebecca harus mengantarkan suaminya itu sampai depan rumah yang ternyata juga di antarkan oleh Harison dan sementara Elia sendiri berada di depan pintu dan hanya melihat papanya itu yang berpamitan dengan memasuki mobil.
" Aku pergi pa," ucap Baskoro pamitan.
" Hanya pergi begitu saja. Tetapi tidak pernah bertanggung jawab dengan masalah yang ada," batin Elia yang tampak kecewa.
" Iya, hati-hati di sana," sahut Harison.
" Rebecca, aku pergi dulu," ucap Baskoro pamitan.
" Hmmm," sahut Rebecca yang tampak tidak setuju dengan kepergian suaminya. Baskoro melihat kearah Elia yang berdiri di depan pintu dengan ke-2 tangan Elia di letakkan di dadanya.
" Papa pergi Elia," ucap Baskoro pamitan. Elia tidak menanggapi dan hanya diam saja. Baskoro pun tidak bicara apa-apa lagi. Dan membalikkan tubuhnya dan langsung memasuki mobilnya.
Belum sempat memasuki mobilnya. Tiba-tiba terlihat mobil polisi yang memasuki pekarangan rumah yang membuat orang-orang yang ada di sana kaget.
" Polisi, ngapain polisi kemari apa ingin menangkap Damar," batin Rebecca yang kelihatan was-was.
4 polisi langsung turun dari mobil dan menghadap Harison.
" Selamat pagi. Tuan Harison," sapa salah seorang Polisi.
" Iya selamat pagi," sahut Harison heran.
" Kami dari kepolisian membawa surat penangkapan atas ibu Rebecca," sahut salah satu polisi tersebut membuat Rebecca kaget sampai melotot dan yang lainnya juga heran dengan apa yang di dengar mereka.
Bersambung
__ADS_1