
Bertengkar kecil ala Felly dan Aditya ternyata harus melebar dan di mana Aditya ternyata yang tidak bisa mengatasi istrinya yang marah.
Alhasil Aditya membutuhkan ibu mertuanya untuk mengatasi istrinya. Memang Aditya mengatasi penjahat tidak perlu orang lain. Dia bisa melakukannya sendiri. Namun untuk istri ternyata harus melalui orang dalam.
Sabila harus turun tangan membujuk putrinya yang sekarang berada di atas tempat tidur yang tengkurap dan Sabila duduk di samping Felly dengan mengusap-usap rambut bagian belakang Felly.
" Felly, kamu itu tidak boleh ngambek terus. Jangan di biasakan dong sayang seperti itu," ucap Sabila yang membujuk putrinya.
" Tapi Aditya keterlaluan ma. Felly masih kurus aja dia sudah lihat cewek-cewek seksi, yang badannya juga nggak seberapa. Lebih bagusan aku juga kemana-mana," ucap Felly dengan wajahnya yang mengkerut.
" Sayang, mungkin saja itu seperti yang di katakan Aditya, hanya salah lihat," sahut Sabila.
" Ishhh, mama sih selalu belain dia. Kalau mama terus berpihak padanya. Dia akan semakin melunjak," geram Felly dengan sikap mamanya yang tidak berpihak padanya.
" Mama tidak membela dia. Tapi kamu juga kelewatan, Aditya sudah minta maaf, sudah melakukan semuanya. Kamu masih tetap sita handphone dia dan kamu masih saja suruh Aditya untuk tidur di sofa kan tidak boleh seperti itu," ucap Sabila memberikan arahan pada Felly.
" Tuh kan, Aditya pasti ngadukan semua sama mama, memang dasar cemen itu aja ngadu-ngadu," sahut Felly semakin kesal.
" Aditya tidak mengadu Felly. Dia hanya meminta saran mama. Mama juga tidak mau ikut campur urusan kalian berdua. Tetapi jika memang Aditya memerlukannya ya kenapa tidak kalau mama masih bisa membantu," jelas Sabila.
" Tetap aja, dia itu pasti nyogok mama," sahut Felly semakin kesal.
" Felly, tidak ada yang menyogok mama, kamu jangan mengada-ada. Mama hanya ingin anak dan menantu mama tetap akur. Menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan jangan lama-lama saling diam. Tidak baik sayang," ucap Sabila memberi saran.
" Aku nggak akan diami dia. Kalau dia nggak cari masalah duluan," tegas Felly.
" Sayang, sudahlah, jangan ngambek-ngambekkan lagi berbaikan pada suamimu. Ingat surga istri ada pada suami. Jadi jangan menutup surga itu sendiri. Kamu harus jadi istri yang berbakti," ucap Sabila. Felly hanya diam dan tidak menanggapi lagi. Apa yang di katakan sang mama.
" Sudah ya sayang, mama keluar dulu. Mama rasa sudah cukup memberikan kamu arahan dan semoga saja semuanya bermanfaat dan secepatnya berbaikan pada suamimu," ucap Sabila yang langsung berdiri dan Felly hanya diam masih dengan wajah mengkerutnya. Sabila pun tidak bicara apa-apa lagi. Dia pun langsung pergi.
" Ishhhh, dia selalu saja di bela. Dia yang salah aku yang di ceramahi," gerutu Cherry semakin kesal.
Sabila yang membujuk Felly agar memaafkan Aditya. Lain Aditya yang mendapat semprotan dari Aditya. Niat ingin mencari pembelaan dari Elia. Tetapi malah di semprot Elia.
" Itu salah kamu sendiri. Sudah menikah tapi masih melihat hal-hal kayak gitu," ucap Elia memarahi adiknya yang duduk di sofa sementara dia berdiri di depan Aditya. Layaknya memarahi bocah.
" Kak...! lirih Aditya.
" Jangan panggil kakak-kakak. Kamu itu keterlaluan. Istri kamu kurang apa coba. Dia itu cantik, badannya bagus. Kamu malah melihat-lihat foto nggak jelas kayak gitu," sambar Elia yang merocos tanpa ampunan.
" Aditya tidak sengaja kak," sahut Aditya mencari pembelaan.
__ADS_1
" Alah, tidak sengaja dari mana. Kamu pikir wanita itu bodoh. Bisa percaya begitu saja. Kamu yang mencari masalah jadi selesaikan sendiri!" tegas Elia.
" Ya caranya gimana kak," sahut Aditya kehabisan akal.
" Bukan urusan kakak," sahut Elia seakan tidak mau membantu.
" Ya kakak harus buntu Aditya. Masa iya Aditya harus tidur di sofa terus," keluh Aditya.
" Itu karena perbuatan kamu. Makanya jangan cari masalah. Istri sudah bagus, kamunya yang aneh-aneh," desis Aditya penuh kekesalan.
" Ya Kan....!
Aditya tidak jadi melanjutkan kalimatnya ketika Bion datang. Elia yang mendengar langkah kaki melihat kebelakang dan melihat ke hadiran Bion.
Bion berdiri di samping Elia dan menundukkan kepalanya pada Aditya. Namun terlihat kecanggungan di antara Bion dan Elia.
" Ada apa?" tanya Aditya.
" Maaf tuan, saya ingin memberikan laporan ini pada tuan," sahut Bion memberikan Aditya map merah. " saya sudah menelpon tuan. Tetapi tidak ada respon," lanjut Bion.
" Ya orang handphonenya di sita sama Felly," gumam Aditya pelan.
" Kaka kekamar dulu. Kamu selesaikan masalah kamu sama istri kamu. Awas ya jika kalian masih ribut. Kamu akan berhadapan sama kakak," ucap Elia penuh penekanan dan penegasan pada Aditya bahkan memberi ancaman pada Aditya.
Elia langsung pergi tanpa bicara atau basa-basi dengan Bion. Dan Bion hanya melihat Elia dari ekor matanya.
" Mungkin non Elia benar-benar masih marah padaku," batin Bion.
Aditya hanya membolak-balikkan dokumen yang di berikan Bion.
" Kita sebaiknya kekantor," sahut Aditya menutup dokumen tersebut.
" Baik tuan," sahut Bion. Aditya langsung pergi dan di susul oleh Bion.
************
Malam hari kembali tiba. Ternyata Felly dan Aditya masih marahan. Bujukan Sabila tidak mempan, semetara Aditya sudah tidak tau harus membujuk istrinya bagaimana lagi.
Ya alhasil masih tetap ribut. Handphone Aditya masih di tangannya dan Aditya juga masih tetap tidur di sofa dan ini sudah malam ke-3 dia tertidur di sofa.
Aditya dan Felly yang tidur berpisah. Padahal di luar hujan deras dengan tiupan angin yang kencang dan juga petir yang menyambar yang membuat Felly yang berada di atas ranjang beberapa kali tersentak kaget.
__ADS_1
Felly tidak bisa tidur dengan tenang. Dia terus gelisah dan beberapa kali menutup kupingnya dengan ke-2 tangannya, karena suara petir yang sangat kuat membuatnya takut. Felly yang berada di dalam ringkupan selimut membuka selimutnya dan langsung duduk. Felly melihat ke arah Aditya yang sangat nyenyak tidur.
" Kenapa dia bisa tidur. Dia kan tau aku tidak bisa tidur kalau keadaannya seperti ini. Aku takut. Tapi dia bukannya mendekatiku. Malah nyenyak tidur," gerutu Felly yang sebenarnya membutuhkan Aditya. Tapi gengsi karena mereka masih marahan
Tarrr.
" Aaaaa," Felly tersentak kaget dan menutup telinganya dengan ke-2 tangannya. Dia semakin takut melihat cahaya halilintar itu. Namun Aditya tetap tidur dan bahkan tidak terbangun. Walau mendengar teriakan Felly.
Felly yang semakin tidak nyaman. Akhirnya memilih untuk bangkit dari tempat tidur dan menghampiri Aditya. Felly berdiri di samping Aditya dan melihat Aditya masih tetap diam. Tetap tidur nyenyak.
" Aditya!" panggil Felly dengan lembut dengan wajahnya yang pucat. Felly bahkan membangunkan suaminya dengan menarik pelan lengan baju Aditya.
Setelah lama melakukan hal itu akhirnya Aditya pun bangun dan dengan matanya yang masih mengerjap-ngerjapkan. Aditya melihat istrinya berdiri di sampingnya. Aditya terlihat schok sampai harus mengucek-ngucek matanya.
" Ada apa sayang!" tanya Aditya dengan lembut.
" Kamu malah tidur nyenyak. Tapi aku. Aku tidak bisa tidur. Aku takut," ucap Felly dengan wajahnya yang cemberut Aditya tersenyum. Laku duduk dan memegang tangan istrinya dan mengajak istrinya duduk di sampingnya dan Felly pun menurut.
Aditya tidak menghilangkan kesempatan untuk langsung memeluk Felly. Ya karena pasti Felly tidak akan menolak.
" Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu tidur sendirian," ucap Aditya mengusap-usap rambut istrinya.
" Kamu jahat," sahut Felly dengan suara cemberutnya.
" Aku minta maaf sayang, aku tidak akan melakukannya lagi. Kamu yang sempurna untukku. Jadi jangan marah lagi ya," ucap Aditya. Felly mengangkat kepalanya dan melihat Aditya.
" Kamu janji tidak akan mengulanginya lagi," ucap Felly memberikan jari telunjuknya. Aditya tersenyum dan meraih jari telunjuk itu.
" Aku janji sayang," sahut Aditya dengan mantap dalam-dalam Felly dan mencium kening Felly.
" Kamu sudah memaafkan ku?" tanya Aditya. Felly mengangguk. Aditya tersenyum mendengarnya.
" Kalau begitu aku boleh tidur di tempat tidur?" tanya Aditya. Felly mengangguk.
" Boleh memelukmu?" tanya Aditya. Felly mengangguk lagi.
" Ya sudah kalau begitu ayo kita tidur," ucap Aditiya.
" Gendong," sahut Felly dengan manjanya. Aditya tersenyum dan dengan senang hati menggendong istrinya ketempat tidur dan mereka akhirnya tidur bersamaan di atas tempat tidur. Saling berpelukan dan Felly pasti sudah tidak takut lagi. Karena suaminya sudah ada di sampingnya yang memeluknya dan membuatnya tenang.
Ya cuaca telah menyatukan mereka dan tidak ribut-ribut lagi seperti anak kecil. Memang pertengkaran ke-2nya sangat aneh. Tetapi begitulah kehidupan. Mau bagaimana lagi. Aditya dan Felly juga tidak tahan. Kalau diam-diamman terus.
__ADS_1
Bersambung