
" Laura, Laura, Laura!" panggil Lusi yang menggedor-gedor pintu kamar Laura. Laura masih tertidur di kamarnya dan tersentak kaget mendengar kamarnya yang di gedor-gedor.
" Mama, ngapain sih gedor-gedor, pintu kayak ada yang kebakaran aja," ucap Laura yang heran dengan memijat kepalanya yang terasa berat. Maklumlah baru bangun tidur dan tiba-tiba sudah di panggil begitu saja dan bahkan di bangunkan dengan teriakan. Bagaimana tidak kepalanya tambah sakit.
" Laura, buka pintunya, cepat!" teriak Lusi yang terus membangunkan anaknya itu.
" Iya, iya sebentar," sahut Laura yang langsung menyibak selimut dari tubuhnya.
" Apa-apaan, sih ngedor-ngedor mau ngapain coba. Apa tidak bisa membangunkan pelan," oceh Laura yang berjalan membuka pintu dan saat pintu terbuka Lusi yang panik langsung masuk begitu saja.
" Mama mau ngapain?" tanya Laura heran.
" Ini gawat, Laura," sahut Lusi kelihatan begitu gelisah.
" Gawat apanya mah?" tanya Laura heran. Lusi Langsung mengambil remote tv, hal itu membuat Laura semakin bingung dengan apa lagi yang di lakukan mamanya itu. Dan Lusi langsung menghidupkan televisi.
..." Pemirsa narapidana Rebecca telah berhasil melarikan diri. Di ketahui wanita yang sudah terkurung hampir 1 bulan itu lari dari tahanan tadi malam. Dan sekarang polisi sedang mencarinya. Semua poster Rebecca sudah menjadi di pajang di seluruh tempat untuk mempermudah dalam pencariannya," ucap pembawa berita dengan lancar yang menyampaikan informasi tersebut....
Laura mendengarnya menutup mulutnya dengan tangannya dengan wajahnya yang kaget. Yang tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
" Rebecca meloloskan diri tahanan," lirih Laura yang masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
" Benar, dia meloloskan diri dan itu sangat berbahaya. Aditya sedang mencari Baskoro dan Rebecca kabur. Masalah semakin banyak," ucap Lusi yang memijat kepalanya dengan wajah paniknya.
" Damar, apa Damar tau berita ini. Aku harus menemui Damar. Jangan sampai Rebecca menemuinya terlebih dahulu. Semuanya bisa semakin kacau," batin Laura yang tiba-tiba langsung kepikiran dengan Damar.
Laura mengambil pakaiannya dari lemari dan langsung mengganti pakaiannya yang tadi hanya menggunakan pakaian tidur saja.
" Mau kemana kamu Laura?" tanya Lusi melihat anaknya yang buru-buru.
" Aku harus pergi. Aku harus menemui seseorang," ucap Laura yang dengan tergesa-gesa bersiap-siap.
" Apa maksud kamu. Mau menemui siapa. Kamu harus ketempat Felly. Aditya sedang tidak bersamanya. Itu berati Felly dalam bahaya," ucap Lusi.
" Ada yang lebih penting mah, mama saja yang ketempat Felly. Nanti Laura menyusul," sahut Laura yang langsung buru-buru pergi.
" Laura!" panggil Lusi, namun Laura tidak mempedulikannya, dia tetap kekeh ingin menemui Damar yang ingin memastikan kondisi Damar.
" Anak itu kenapa sih, akhir-akhir ini kelakuannya benar-benar aneh. Apa coba yang di pikirkannya. Kenapa dia sampai seperti itu, apa ada yang lebih penting dari masalah ini," ucap Lusi yang terlihat stres karena ulah Laura yang pergi begitu saja.
" Ahhhhh sudahlah. Tidak ada gunanya aku diam seperti ini. Sebaiknya aku menemui Felly itu yang paling penting. Jangan sampai terjadi sesuatu padanya. Rebecca sangat berbahaya. Dia pasti melakukan sesuatu. Aku harus menemui Felly, sebelum terjadi sesuatu padanya," batin Lusi yang mengambil tindakan dengan cepat dan Lusi pun langsung keluar dari kamar Laura dari pada dia mengoceh tidak jelas dan tidak mendapatkan hasil.
__ADS_1
*********
Bukan hanya Lusi yang panik, ternyata Elia juga yang sudah mendengar kabar tentang kaburnya Rebecca dari sel tahanan juga panik. Elia duduk di sofa dengan tangannya yang saling mengatup.
Wajahnya penuh kepanikan dan mungkin tubuhnya sangat dingin. Sementara Bion berdiri di depannya yang sedari tadi sibuk menelpon. Tetapi tampaknya sambungan telpon itu tidak menyatu. Makanya dia juga terlihat begitu gelisah.
" Bagaimana Bion, apa Aditya sudah mengangkat telponnya?" tanya Elia yang mengkhawatirkan sang adik.
" Belum non Elia, tuan Aditya belum mengangkatnya. Saya coba terus menghubunginya," jawab Bion.
" Coba kamu telpon Andre," sahut Elia mengusulkan.
" Sama saja nona, pak Andre juga tidak mengangkat telponnya," jawab Bion.
" Ya, Allah bagaimana ini. Kenapa Aditya susah sekali di hubungi. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya," batin Elia yang semakin panik karena tidak adanya kabar dari adiknya.
Bion terus menghubungi Aditya dan juga Andre. Dia tidak akan menyerah sampai sambungan telpon itu terhubung. Bion melihat kearah Elia yang begitu gelisah dan jelas wajah Elia penuh dengan ketakutan.
" Non, Elia tenang lah, tuan Aditya akan baik-baik saja," ucap Bion yang mencoba memberikan ketenangan.
" Bion, aku harus tenang bagaimana. Nyatanya Aditya tidak bisa di hubungi. Rebecca yang sangat kejam sudah lolos dan dia berkeliaran yang kita tidak tau apa tujuannya. Papa, papa juga tidak di temukan. Aku tidak tau apa aku harus tenang dengan semua masalah ini," ucap Elia dengan matanya yang berkaca-kaca.
" Aku memang hanya akan berharap jika semuanya baik-baik saja," sahut Elia yang mencoba menenangkan diri. Dan Bion menganggukkan kepalanya.
" Oh, iya Bion bagaimana dengan Felly. Kamu tolong hubungi dia, dia harus berhati-hati dan suruh dia untuk tidak kemana-mana!" perintah Elia yang sekarang baru teringat pada adik iparnya yang sekarang sedang hamil.
" Non Elia jangan khawatir saya sudah menelpon nona Felly dan sudah menyuruh nona Felly untuk tetap di rumah dan untuk pengawasan rumah saya juga sudah memperbanyaknya," jawab Bion.
" Syukurlah kalau begitu. Aku lega mendengarnya," sahut Elia.
" Lalu bagaimana dengan kakek. Bukannya kakek masih ada di rumah sakit?" tanya Elia yang kembali kepikiran dengan Harison.
" Saya juga melakukan hal yang sama, memperbanyak pengawasan di rumah sakit. Jadi semuanya akan baik-baik saja. Kita berdoa saja. Tidak terjadi apa-apa," sahut Bion. Elia mendengarnya bernapas lega.
" Syukurlah, kamu benar, sebaiknya kita berdoa. Agar Aditya dan yang lainnya selamat dan Rebecca segera di temukan polisi. Dia sangat berbahaya," ucap Elia dengan penuh harapan. Bion menganggukkan kepalanya.
**********
Felly semakin tidak tenang ketika mendengar kaburnya Rebecca dari tahanan. Felly mendengar berita itu dari Bion dan sekarang wanita hamil itu semakin takut, panik, cemas, khawatir, semuanya bercampur aduk menjadi satu.
Dia terus berada di kamarnya dengan mulutnya yang komat-kamit yang tidak henti-hentinya berdoa. Ya mendoakan sang suami agar baik-baik saja. Karena sebelumnya Felly juga tadi sudah menghubungi Aditya.
__ADS_1
Namun Aditya tidak mengangkatnya sama sekali. Bahkan sambungan telpon itu tidak terhubung. Bukan hanya Aditya. Felly juga menghubungi kakaknya. Tetapi sama saja. Tidak ada yang terhubung dan hal itu jelas membuat Felly semakin khawatir.
" Aditya, di mana kamu. Apa kamu tau, bahwa Rebecca telah berhasil kabur. Aditya aku sangat khawatir. Aku sangat takut Aditya. Aku takut sekali," batin Felly yang begitu mencemaskan suaminya.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka tiba-tiba yang ternyata Aditya. Hal itu membuat Felly kaget.
" Aditya!" lirih Felly yang langsung berdiri dan memeluk suaminya.
" Sayang, maafkan aku sudah membuatmu cemas," sahut Aditya merasa bersalah.
" Tidak apa-apa, kamu kenapa tidak mengangkat telponku, aku takut," ucap Felly dengan suaranya yang gemetar.
" Maaf, sayang, handphone ku lobet," sahut Aditya yang memeluk istrinya erat, menenangkan istrinya sejenak.
Aditya melepas pelukan itu dengan memegang ke-2 pipi istrinya yang sangat dingin.
" Maafkan aku ya," ucap Aditya merasa bersalah. Felly mengangguk.
" Kamu taukan kalau Rebecca kabur dari tahanan?" tanya Felly pada suaminya itu.
" Iya, aku tau," sahut Aditya.
" Lalu papa, bagaimana dan kak Andre bagaimana?" tanya Felly dengan wajahnya yang gelisah.
" Andre sedang berada di suatu titik. Yabg ada papa di sana. Andre menyuruhku kembali untuk mengamankan mu," jawab Aditya.
" Aku baik-baik saja. Aku lega kamu ada di sini," jawab Felly.
" Iya, aku juga lega, bisa memastikan kamu baik-baik saja," sahut Aditya. Felly mengangguk dan Felly merasa lega dengan hadirnya suaminya itu.
" Oh, iya Felly, bagaimana kak Elia, bagaimana dia aku baru teringat padanya," ucap Aditya yang tiba-tiba gelisah.
" Jangan khawatir, Bion sedang bersamanya. Bion tadi menelpon dan dia sudah menjaga kak Elia. Bion juga yang memperbanyak pengawasan di rumah dan juga di rumah sakit. Bion yang menyuruhku untuk tidak tidak kemana-mana dulu," ucap Felly menjelaskan membuat Aditya bernapas lega.
" Syukurlah jika begitu. Aku sudah sangat cemas pada Kak Elia," sahut Aditya.
" Iya, kamu tenang saja. Kak Elia sudah baik-baik saja," sahut Felly. Aditya mengangguk dan memeluk istrinya kembali.
Bersambung
__ADS_1