Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Pembalasan Dendam Dewi Kembang Wengi


__ADS_3

'Ajian Tameng Waja..


Hemmmm


Pemuda tengik ini rupanya bukan orang sembarangan', batin Dewa Angin.


Dewa Angin memutar mutar golok besar nya. Angin berisik di sertai tenaga dalam tingkat tinggi menderu kencang di seputar golok pusaka itu. Golok Badai Neraka namanya.


Melihat lawan nya mulai mengeluarkan jurus kanuragan andalannya, Panji Watugunung mencabut Pedang Naga Api nya. Hawa panas seketika menyelimuti udara di tempat itu.


Warigalit melompat mundur 2 tombak, begitu juga Dewi Kembang Wengi yang terkejut dengan hawa panas Pedang Naga Api.


'Pendekar muda ini berbahaya. Untung saja aku cepat tanggap', gumam Dewi Kembang Wengi yang beringsut menjauh.


Dewa Angin terkejut bukan main. Air liurnya terasa kering saat melihat penampakan pusaka ampuh itu. Hanya Golok Iblis Air milik Pangeran Alas Larangan saja yang setingkat dengan Pedang Naga Api.


Ada rasa takut melanda hati lelaki tua itu.


Masih teringat jelas di ingatan nya, saat pasukan Airlangga menundukkan Panuda, Raja Lewa yang perkasa. Seorang prajurit nya yang terkenal dengan sebutan Tangan Api, menantang puluhan pendekar dari Alas Larangan yang menjadi pendukung Panuda.


Mereka semua tewas di bantai Si Tangan Api dengan membawa senjata pusaka Pedang Naga Api.


Kini Dewa Angin harus berhadapan langsung dengan pemegang Pedang Naga Api yang baru. Berdasarkan benturan tenaga dalam tadi, Dewa Angin sudah merasakan kekuatan Panji Watugunung setingkat lebih tinggi dari dia.


Namun sebagai pendekar, pantang mundur baginya.


Dewa Angin segera melesat cepat dan membabatkan Golok Badai Neraka nya ke arah Panji Watugunung. Angin kencang bergulung-gulung berhawa panas layaknya badai neraka menerabas cepat susul menyusul mengincar Panji Watugunung.


Lelaki muda itu menguatkan kuda kuda nya dengan Ajian Tameng Waja dan menggenggam erat Pedang Naga Api dengan kedua tangannya lalu menyabetkan pedang menciptakan angin panas seperti api menyongsong serangan angin badai.


Whutttt


Dhuarrrr!!!


Ledakan dahsyat terjadi saat dua daya senjata berbenturan. Gelombang kejut mengarah ke sekeliling tempat itu memporak-porandakan beberapa bangunan serta mendorong tubuh Watugunung selangkah ke belakang. Dewa Angin juga terlempar ke belakang namun berhasil mendarat sempurna meski kini dadanya mulai terasa nyeri.


Panji Watugunung segera menjejak tanah dengan keras dan melesat cepat menuju Dewa Angin. Tangan kanan nya menyabetkan Pedang Naga Api mengincar kepala Dewa Angin. Kakek tua itu segera menangkis dengan Golok Badai Neraka nya.


Tranggg..


Kembali benturan dua senjata menciptakan bunga bunga api meski tidak sedahsyat tadi. Tangan kiri Dewa Angin menghantam dada Panji Watugunung, namun pukulan nya seperti memukul baja yang keras. Ajian Tameng Waja melindungi setiap bagian tubuh Panji Watugunung dengan sempurna.


Panji Watugunung menyapu kaki Dewa Langit dengan tendangan keras, namun kakek tua itu berhasil menghindar sambil menyabetkan Golok Badai Neraka ke arah dada Panji Watugunung. Dengan cepat Panji Watugunung melompat ke udara dan balik menyerang Dewa Angin dengan menyabetkan Pedang Naga Api nya.


Serangkai angin panas berpadu tenaga dalam tingkat tinggi menerabas cepat kearah Dewa Angin.


Dewa Angin berhasil menghadang angin gelombang pertama, tapi tidak siap dengan gelombang angin panas yang kedua.


Kakek tua itu sampai berguling ke tanah, untuk menghindari. Baju nya berlumuran tanah becek dan rumput. Panji Watugunung yang melihat celah segera melesat cepat dan membabatkan pedang kearah leher Dewa Angin.


Kakek tua itu terkejut dan menangkis dengan Golok Badai Neraka namun tendangan keras kaki kanan Watugunung menghantam dada nya.


Bukkkkk


Dewa Angin meraung keras. Tubuhnya terhuyung ke belakang dan menghantam tanah. Dewa Angin berusaha berdiri tapi Panji Watugunung segera bergerak cepat menghantam dada kakek tua itu dengan Ajian Tapak Dewa Api tingkat akhir.


Blammmm!!


Dewa Angin terpelanting ke belakang, tubuhnya gosong seperti terbakar api menghantam tanah dengan keras. Dia tewas tanpa sempat berteriak.


Panji Watugunung segera menyarungkan kembali Pedang Naga Api. Bersamaan dengan itu, anggota terakhir Alas Larangan juga tewas di tebas pedang Ratna Pitaloka.


Ada raut lega di masing masing wajah setiap orang. Dewi Kembang Wengi melihat Dewa Angin tewas melesat cepat menuju ke arah mayat lelaki tua itu.


Crashhhh


Dia memotong kepala Dewa Angin. Hari ini dendam kesumat puluhan tahun nya terlampiaskan sudah. Selama puluhan tahun dia merasa tertekan oleh pemerkosaan Kalajati alias Dewa Angin terhadap dirinya. Memandang darah menetes dari kepala Kalajati, membuat nya tersenyum puas.


Dengan cepat, wanita tua itu membungkus kepala Dewa Angin dengan kain. Sedikit bergegas, Dewi Kembang Wengi mendekati Panji Watugunung segera.


"Pendekar Pedang Naga Api, terimakasih sudah membantu ku membalas dendam. Budi baik ini aku Dewi Kembang Wengi tidak akan melupakan nya".


"Sudah lah Dewi, aku hanya ingin menghentikan gerakan Alas Larangan yang mengacau di perbatasan Panjalu. Aku harap kita tidak perlu menjadi musuh. Sebab kalau sampai aku melihat kalian mengacau di wilayah ku, akan ku pastikan aku sendiri yang akan menghabisi nyawa mu", ujar Panji Watugunung bernada ancaman.

__ADS_1


"Aku berani memastikan, tidak akan ada murid Racun Kembang dari Lembah Selaksa Kembang yang akan menjadi musuh mu pendekar. Sebagai balas jasa, tolong terima ini", Dewi Kembang Wengi menyerahkan sekeping perak berukir bunga.


"Apa ini Dewi?", Panji Watugunung mengerutkan keningnya.


"Itu adalah tanda bahwa pendekar adalah penolong Racun Kembang. Saat bertemu anggota kami, ku pastikan mereka akan mengenali medali ini dan membantu pendekar", ujar Dewi Kembang Wengi.


Dewi Melati dan Dewi Seruni segera mendekati guru dan Panji Watugunung.


"Pendekar, masalah kemarin aku minta maaf. Ke depannya kami tidak akan berani lagi. Tapi kalau Pendekar masih ingin melanjutkan nya, kami siap melayani pendekar", Dewi Melati tersenyum genit.


Panji Watugunung segera mendelik tajam, membuat Dewi Melati dan Dewi Seruni segera menutup mulut mereka.


'Hufff untung Ratna Pitaloka tidak dengar'.


"Kami mohon pamit Pendekar", ujar Dewi Kembang Wengi menghormat di ikuti oleh kelima muridnya yang tersisa. Lalu mereka bergegas menuju ke perahu di dermaga Wanua Klakah dan meninggalkan tempat itu.


Panji Watugunung segera memerintahkan kepada para prajurit Pakuwon Watugaluh yang baru datang untuk mengubur mayat mayat anggota Alas Larangan dalam satu lobang besar. Serta mayat-mayat murid Racun Kembang secara terpisah.


Sementara para prajurit bekerja, Panji Watugunung dan semua yang bertarung membersihkan tubuh dan pakaian mereka yang berlumuran darah lawan.


Setelah tengah hari, mereka berkumpul di serambi kediaman Panji Watugunung termasuk Begawan Sulapaksi dan Sepasang Sriti Perak.


"Kakang sudah di tunggu semuanya di serambi depan", ucap Ratna Pitaloka yang baru serambi.


"Sebentar lagi Dinda Anggarawati, kau duluan saja", Panji Watugunung masih sibuk memasang sabuk nya.


Melihat itu, Ratna Pitaloka meninggalkan kamar tidur Panji Watugunung dan menuju ke depan.


"Srimpi,


Tolong bantu aku. Sudah di tunggu orang orang nih", ujar Panji Watugunung yang kesulitan memasang sabuk nya.


Di luar dugaan, Dewi Srimpi tiba tiba memeluk tubuh Panji Watugunung.


"Denmas aku kangen".


Panji Watugunung yang semula kaget, tersenyum seketika. Selir termuda nya ini memang selalu malu malu tapi begitu memiliki keinginan, selalu mencari kesempatan untuk mendapatkan nya.


"Sabar, dan tunggu nanti malam ya?", Panji Watugunung mengedipkan sebelah matanya membuat wajah Dewi Srimpi memerah seketika.


Usai berdandan di bantu Dewi Srimpi, Panji Watugunung melangkah menuju serambi depan di ikuti oleh Dewi Srimpi.


"Malam ini, kita menginap di Wanua Klakah. Besok pagi kita ke Watugaluh.


Paman Saketi,


Perintahkan kepada Gumbreg untuk memotong hewan. Aku ingin malam ini kita makan besar bersama sama".


"Sendiko dawuh Gusti Panji", Ki Saketi segera mundur setelah menghormat pada Panji Watugunung.


"Paman dan Bibi Sriti, apa rencana kalian ke depannya?", Panji Watugunung memandang Sepasang Sriti Perak .


"Kami tidak tau pendekar muda, sebenarnya kami sudah letih berkelana. Ingin menetap dan memiliki anak", ujar Sriti Lanang yang langsung di sikut Sriti Wadon. Wajah cantik wanita itu merona merah.


"Bagaimana kalau paman dan bibi tinggal disini? Membantu ku menjaga Wanua Klakah dan Guru Begawan Sulapaksi. Aku akan meminta Akuwu Watugaluh untuk menjadikan paman sebagai lurah disini", tawaran Panji Watugunung membuat Sepasang Sriti Perak saling berpandangan sejenak lalu segera keduanya menghormat pada Panji Watugunung.


"Terimakasih atas bantuannya pendekar muda".


Begawan Sulapaksi tersenyum tipis melihat keturunan Lokapala ini begitu piawai dalam mengatur tempat untuk orang orang yang membantu nya.


"Nakmas Panji, saran ku kepada mu. Usai ini kembalilah ke Gelang-gelang. Titipkan istri mu yang sedang hamil muda itu disana. Aku yakin Raja Daha masih membutuhkan bantuan Nakmas Panji", ujar Begawan Sulapaksi yang seolah bisa melihat masa depan.


Semua orang terkejut mendengar istri Panji Watugunung hamil muda tak terkecuali Dewi Srimpi dan Ratna Pitaloka.


"Kakang, Anggarawati benar sedang hamil muda?", tanya Ratna Pitaloka menyelidik.


"Iya Dinda, makanya Sekar Mayang aku minta untuk menemani nya. Aku tidak terlalu percaya Ayu Galuh soalnya", jawab Watugunung tenang.


Hemmmm


'Begitu rupa nya, pantas Mayang tidak ikut kesini', batin Ratna Pitaloka.


Malam itu pasukan Garuda Panjalu makan besar bersama seluruh penduduk Wanua Klakah, untuk merayakan perpisahan mereka.

__ADS_1


Gumbreg langsung patah hati mendengar harus berpisah dengan Juminten. Potongan sate kambing muda hanya di lihat tanpa di sentuh nya.


"Loh Mbreg, kog tidak di makan? Kau sakit gigi ya?", tanya Ludaka melihat makanan Gumbreg masih utuh.


"Sakit gigi gundul mu itu. Aku ini patah hati Lu patah hati", muka Gumbreg kusut sambil menepuk nepuk dadanya.


"Sakit hati kenapa? Kan besok kita kembali ke Watugaluh terus pulang ke Gelang-gelang. Sudah lama aku kangen simbok ku", ujar Ludaka sambil menggasak sate kambing muda yang ada di piring nya.


"Kalau masalah kangen rumah aku juga kangen Lu, tapi bagaimana nasib cintaku Lu bagaimana?", Gumbreg memijat kepalanya sambil menunduk.


Percakapan mereka di dengar oleh Panji Watugunung bersama Dewi Srimpi yang tak sengaja lewat.


"Lha terus pengen mu seperti apa?", tanya Watugunung.


Ludaka hampir memuntahkan makanan nya, tapi isyarat telunjuk pada bibir Panji Watugunung membuat Ludaka menutup mulutnya rapat-rapat.


"Ya pengen pulang ke Gelang-gelang tapi dengan Juminten to", ujar Gumbreg tanpa menoleh.


"Juminten nya sudah mau ikut?".


"Sudah, tapi pasti tidak di ijinkan sama Gusti Panji. Mbok dia sekali kali mikir nasib anak buah nya. Bukan dia saja yang pengen di manjakan istri. Aku juga pe....", Gumbreg menghentikan omelan nya, saat mendongakkan kepalanya dan melihat Panji Watugunung.


"Kog berhenti gerutunya?".


Wajah Gumbreg pucat pasi, kemudian bersujud kepada Panji Watugunung.


"Ampuni hamba Gusti, ampuni hamba..


Maafkan mulut saya ini" .


Dewi Srimpi sampai sakit perut menahan tawa.


"Besok ajak si Juminten, ke Watugaluh untuk berpamitan. Sekalian kita pulang ke Gelang-gelang", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum dan meninggalkan Gumbreg yang masih bersujud.


Gumbreg langsung menari bahagia.


Ketika kembali ke meja, piring sate kambing muda nya hilang. Dilihat nya Ludaka asyik memakan sate kambing muda nya.


"Wo bajingan. Sate kambing ku kau embat juga"


Ludaka tersenyum tipis sambil berkata,


"Ku pikir kau gak lapar"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya guys 😁😁


Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya ya 👍👍👍👍


Selamat membaca guys 😁🙏🙏😁

__ADS_1


__ADS_2