
Pagi itu usai berdandan rapi, Panji Watugunung beserta keempat istri nya menemui Dewi Anggrek Bulan di balai utama Padepokan Anggrek Bulan.
"Eyang Putri,
Kiranya cukup kami merepotkan eyang dengan kehadiran kami disini. Terimakasih atas sambutan yang eyang putri berikan pada kami", ujar Panji Watugunung yang duduk bersila di hadapan Dewi Anggrek Bulan. Keempat istri nya duduk berjajar di samping kiri dan kanannya.
"Hemmmmmmm..
Jadi kau bermaksud untuk berpamitan, Watugunung?
Padahal aku belum merasa puas melihat kau yang sekarang menjadi Yuwaraja Panjalu", jawab Dewi Anggrek Bulan sambil menghela nafas berat. Perempuan cantik seperti gadis remaja berusia 2 windu namun sebenarnya berusia lebih dari 8 warsa itu nampak murung.
"Lain waktu, aku akan mengunjungi Eyang Putri lagi. Kami baru saja pulang dari peperangan melawan Jenggala, belum sempat mengabarkan kepada Gusti Prabu Samarawijaya tentang kemenangan kami. Aku juga rindu pada kedua putra ku di istana Kadiri, Eyang.
Aku berjanji pasti akan kembali ke tempat ini lagi", ucap Panji Watugunung berusaha meyakinkan Dewi Anggrek Bulan.
"Baiklah kalau begitu keinginan, aku tidak akan memaksa mu untuk tinggal lebih lama disini", ucap Dewi Anggrek Bulan sambil menoleh kearah Anggrek Emas yang duduk tak jauh dari nya.
"Anggrek Emas,
Ambilkan bungkusan kain biru yang tersimpan di lemari tempat tidur ku", perintah Dewi Anggrek Bulan yang membuat Anggrek Emas segera menghormat pada Dewi Anggrek Bulan dan berlalu menuju ke arah kamar tidur sang guru. Tak berapa lama kemudian, murid pertama Padepokan Anggrek Bulan itu kembali dengan membawa bungkusan kain berwarna biru.
Usai menerima bungkusan kain biru itu, Dewi Anggrek Bulan segera membuka nya dan mengambil sepasang kalung dari benang hitam yang berliontin perak dengan ukiran burung Garuda di tengah nya.
"Ini adalah kalung peninggalan dari Eyang Buyut mu yang merupakan warisan dari Eyang Lokapala.
Berikan pada kedua putra mu agar mereka mengingat jati diri mereka sebagai keturunan wangsa Isyana.
Kelak, jika terjadi perselisihan maka kalung ini akan menjadi juru damai bagi mereka", imbuh Dewi Anggrek Bulan seraya menyerahkan kalung itu pada Panji Watugunung. Yuwaraja Panjalu itu segera menerima pemberian Dewi Anggrek Bulan dan menyimpan benda itu di balik bajunya.
Usai berpamitan kepada Dewi Anggrek Bulan, Panji Watugunung dan keempat istri nya serta seluruh prajurit Panjalu meninggalkan Bukit Lanjar. Dewi Anggrek Bulan mengantar kepergian mereka hingga pintu gerbang Padepokan Anggrek Bulan. Mata perempuan itu berkaca-kaca melepas kepergian sang cucu.
Rombongan pasukan Panji Watugunung bergerak cepat menuju ke arah barat daya. Melewati beberapa wilayah Kadipaten Matahun, mereka akhirnya sampai di ujung barat Kadipaten Matahun yaitu Pakuwon Tamwelang.
Tamwelang merupakan Pakuwon yang pernah bermusuhan dengan Pakuwon Watugaluh yang merupakan salah satu wilayah Kayuwarajan Kadiri, wilayah kepangeranan Panji Watugunung. Karena ingin menghapus perasaan bermusuhan antara Pakuwon Tamwelang dengan Pakuwon Watugaluh, Panji Watugunung berencana memasukkan Pakuwon Tamwelang ke dalam wilayah Kayuwarajan Kadiri.
Akuwu Tamwelang terakhir, Tunggul Seta terbunuh dalam peperangan antara Panjalu dan Jenggala, sedangkan keluarga maupun keturunan nya memilih untuk menyingkir dari istana Pakuwon Tamwelang maka perlu diangkat akuwu baru sekaligus sebagai penanda bahwa wilayah itu masuk ke dalam Kayuwarajan Kadiri. Adipati Matahun yang baru, Maitreya sudah menyetujui untuk memberikan wilayah itu pada Kayuwarajan Kadiri saat Panji Watugunung menahklukan Matahun bersama Maitreya.
Rombongan pasukan Panjalu yang berjumlah sekitar 5 ribu prajurit, menimbulkan kehebohan di kalangan masyarakat Pakuwon Tamwelang. Sepanjang jalan mereka menepi dan membungkuk sebagai tanda mereka telah tunduk pada Panji Watugunung.
Saat itu perjalanan mereka terhenti karena keributan yang terjadi di jalan menuju istana Pakuwon Tamwelang.
Seorang lelaki muda berkumis tipis tengah memisahkan perkelahian antara dua orang lelaki.
"Hai,
Ada apa ini? Kenapa kalian ribut seperti itu?", teriak Tumenggung Ludaka yang segera membuat ketiga orang itu menoleh kearah sumber suara.
Melihat perwira tinggi prajurit Daha dengan ribuan prajurit di belakangnya, tiga orang itu segera menghormat pada Tumenggung Ludaka yang merupakan ujung tombak pergerakan pergerakan prajurit Panjalu.
"Mohon ampun Gusti Perwira,
Saya sedang memisahkan perkelahian mereka. Mereka bersaudara, berebut harta warisan dari kedua orang tua yang sudah meninggal.
Masing-masing merasa punya hak lebih dan tidak ada yang mau mengalah", ujar si lelaki muda berkumis tipis itu dengan penuh hormat.
"Jadi begitu masalah nya,
Hai kalian, kenapa tidak bagi dua sama rata saja? Bukankah itu lebih mudah", Tumenggung Ludaka menatap ke arah dua orang lelaki bertubuh gempal yang wajahnya babak belur akibat berkelahi.
"Mohon ampun Gusti,
Itu tidak bisa hamba lakukan. Hamba anak sulung, punya hak yang lebih besar daripada dia yang hanya anak bungsu", ujar si lelaki bertubuh gempal dengan kumis lebat dan tahi lalat besar di pipi kiri.
"Kau terlalu serakah Kakang Wondo,
Bukankah sebagian tanah tegalan di Utara wanua ini sudah kau jual? Kenapa kau masih ingin membagi tanah pekarangan rumah orang tua kita? Sedangkan sawah 4 bahu kau kuasai, sementara aku yang hanya mendapat tanah pekarangan", sergah si lelaki bertubuh gempal yang lebih muda.
"Itu karena harga tanah pekarangan yang kau tempati jauh lebih mahal dari harga sawah dan tegalan yang aku miliki.
Pokoknya aku minta bagian dari tanah itu", teriak si lelaki bertubuh gempal yang dipanggil Wondo itu keras.
"Dasar adik tak tahu diri,
Kau memang layak aku hajar Karto", usai berkata demikian, Wondo melompat ke arah adiknya bermaksud untuk memukuli sang adik namun belum sempat tangan si Wondo sampai, si lelaki muda berkumis tipis itu dengan cekatan menangkap pinggang si Wondo.
"Kurang ajar!
Kau berani bertindak semau mu sendiri di depan ku, wong Tamwelang. Sudah bosan hidup kau rupanya", teriak Tumenggung Ludaka yang merasa tidak dihargai. Saat Tumenggung Ludaka hendak turun dari kudanya, terdengar suara yang membuat semua orang menoleh.
"Ada apa kalian ribut ribut?".
Melihat kedatangan Panji Watugunung, ketiga orang itu segera berjongkok dan menyembah pada Panji Watugunung.
"Sembah bakti kami kepada Gusti Pangeran", ujar ketiga orang itu bersamaan.
"Mereka sedang ribut Gusti Pangeran,
Lelaki berbaju biru itu memisahkan perkelahian antara dua saudara yang tengah berebut harta warisan. Mereka berdua sama-sama ingin menguasai harta peninggalan orang tuanya", lapor Tumenggung Ludaka sambil menghormat pada Panji Watugunung. Dengan gamblang, Tumenggung Ludaka menjelaskan duduk persoalannya.
"Hemmmm....
Hai kisanak berbaju biru. Menurut mu apa yang sebaiknya di lakukan untuk keadilan mereka berdua?", tanya Panji Watugunung pada lelaki muda berkumis tipis itu tatapan mata penuh arti.
"Kalau menurut hamba, sebaiknya seluruh harta di hitung berapa nilai nya Gusti..
__ADS_1
Setelah itu di bagi dua, agar rasa keadilan di rasakan oleh mereka berdua. Jadi kita tidak menghitung luasan lahan yang di kuasai masing masing orang, tapi kita membagi berdasarkan nilai.
Menurut hamba, itu merupakan keputusan paling adil untuk mereka berdua, Gusti Pangeran", ujar si pemuda berkumis tipis sambil menghormat pada Panji Watugunung.
Yuwaraja Panjalu itu tersenyum mendengar jawaban dari pemuda berkumis tipis.
"Siapa nama mu, hai kisanak?", tanya Panji Watugunung dengan penuh perhatian.
"Hamba Wikana, Gusti Pangeran.
Dari Wanua Kitri di wilayah selatan Kadipaten Matahun. Hamba kemari atas ajakan saudara hamba yang ingin berkelana", jawab si pemuda berkumis tipis itu dengan penuh hormat.
"Baguslah, kau punya pemikiran yang luas. Sekarang kalian semua ikut aku ke istana Pakuwon Tamwelang", titah Panji Watugunung yang segera membuat ketiga orang itu menghormat pada sang putra mahkota kerajaan Panjalu.
Rombongan pasukan Panjalu segera bergerak menuju istana Pakuwon Tamwelang.
Di istana Tamwelang, segera di lakukan pembenahan besar-besaran, mulai dari para prajurit penjaga hingga para pelayan dan dayang istana Pakuwon. Sebagian besar para pangreh praja Pakuwon Tamwelang di isi orang baru yang di pilih oleh Panji Watugunung dan para perwira tinggi prajurit Daha termasuk menyelesaikan masalah antara Wondo dan Karto.
Marakeh diangkat menjadi Akuwu Tamwelang yang baru. Di dampingi Wikana sebagai Dharmadyaksa.
Usai membenahi pemerintahan Pakuwon Tamwelang yang sempat kacau, malam itu pasukan Panjalu berencana bermalam di kota dan istana Pakuwon Tamwelang sekalian mengistirahatkan tubuh mereka usai perjalanan jauh dari Kahuripan.
**
Seorang perempuan muda yang cantik dengan dandanan dayang istana berjalan dengan gemulai ke arah pintu gerbang istana Daha.
4 orang prajurit penjaga gerbang istana dengan melintangkan tombak mencegat perempuannya itu.
"Mau kemana kau sore sore begini, Surti?", tanya seorang prajurit penjaga gerbang yang berjambang lebat. Tatapan mata lelaki itu tertuju pada dada besar perempuan cantik yang berdiri di hadapannya.
"Surti diutus oleh Ndoro Ayu Retnosari untuk membelikan makanan di pojok pasar itu Kang Marto.
Ini di suruh cepat cepat sampai sama Ndoro Ayu. Beri Surti jalan Kang", jawab perempuan muda yang di panggil Surti itu dengan genit.
"Harjo, Sompal, Kampu..
Kalian jaga pintu gerbang istana ini dengan nyawa kalian. Aku demi Ndoro Ayu Retnosari, akan mengantarkan Surti ke warung makan Nyi Kumbi", perintah lelaki bertubuh gempal dengan jambang lebat itu pada ketiga temannya.
Harjo mencebikkan bibirnya, sementara Sompal dan Kampu mengangguk mengerti. Dua orang itu segera berlalu menuju ke arah Utara, ke pasar sore Kotaraja Daha.
"Dasar bajul buntung,
Sudah beristri dua masih saja gatal lihat daun muda. Kena apes baru tau rasa", gerutu Harjo dengan bersungut-sungut usai Marto dan Surti tak kelihatan di keramaian jalan raya sore itu.
"Apa maksud mu Kang Harjo?
Kang Marto itu punya ilmu buaya buntung?", tanya Sompal yang memang paling lugu diantara mereka.
"Kau ini memang goblok atau benar-benar tidak tahu ha?
"Oh begitu ya Kang,
Ya biarlah kang dia suka main perempuan. Kalau sudah waktunya berhenti ya akan berhenti dia", jawab Sompal seraya garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Tapi kau tidak tahu, bahwa Surti itu sudah diincar oleh Kang Harjo sejak lama. Tapi Kang Marto seolah tak peduli dengan perasaan Kang Harjo.
Suka main serobot lahan orang seenaknya", timpal Kampu yang melirik ke arah Harjo. Pria berkumis tipis itu menekuk wajahnya.
"Walah, kog apes betul Kang Harjo..
Perempuan yang di sukai nya di sikat kawan sendiri. Yang sabar ya kang", celoteh Sompal yang membuat Harjo mendelik tajam ke arah nya.
"Kau bisa diam tidak?
Kalau masih bernyanyi, akan ku hajar kau", ancam Harjo yang membuat Sompal langsung ciut nyalinya. Kampu berusaha keras menahan tawanya agar tidak terdengar oleh dua temannya itu.
Surti berjalan dengan gemulai di ikuti Marto yang berjalan di sampingnya sambil terus menatap ke arah dada besar perempuan cantik itu seakan ingin menelan bulat-bulat Surti.
"Surti...
Ada yang ingin Kang Marto tanyakan", Marto menjajari langkah kaki Surti.
"Tanya apa Kang? Langsung saja bicara sama Surti", jawab perempuan cantik itu dengan gaya centilnya.
"Apa kau sudah punya calon suami?", tanya Marto lagi dengan cepat.
"Belum Kang, memang kenapa?", jawab Surti sambil tersenyum manis. Mendengar jawaban itu, Marto tersenyum nakal. Pria berjambang lebat itu mengedarkan pandangannya ke arah pasar sore yang masih cukup jauh. Tiba-tiba pandangan nya tertuju pada sebuah rumah kosong yang ada di dekat pasar sore. Dengan cepat, lelaki itu menarik tangan Surti setengah menyeretnya kesana.
"Eh Kang Marto mau apa?", tanya Surti yang tidak berdaya menghadapi tarikan tangan Marto yang kekar. Marto tak menjawab, terus menarik tangan Surti dengan kasar.
Begitu sampai di tempat yang dia inginkan, Marto melepaskan tangan Surti.
"Sudah lama aku menyukai mu Surti, sejak kau bekerja di dalam istana Daha", ucap Marto sambil tersenyum simpul.
"Kang Marto kan sudah punya dua istri, apa masih kurang?", tanya Surti sambil tersenyum genit.
"Mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kau Surti. Aku menginginkan mu", ujar Marto seraya tersenyum penuh arti. Lelaki itu kekar itu berjalan mendekati Surti. Dengan gerakan cepat, Marto langsung memeluk tubuh Surti dengan kasar. Rupanya dia ingin memperkosa Surti disitu.
Dengan kasar, Marto mencoba membuka pakaian Surti. Belum sempat menyentuh kemben yang menutupi dada besar Surti, sebuah pukulan keras mendarat di perut Marto.
Dhiiieeeessshh..
Ouuuuggghhhh!!
"Bajingan!
__ADS_1
Kau ingin mati rupanya ha", teriak Marto yang terhuyung huyung mundur ke belakang.
Phuihhhh...
"Lelaki bangsat seperti mu pantas mati", teriak Surti yang perlahan berubah wujud nya menjadi seorang lelaki berpakaian serba hitam.
Marto terkejut bukan main melihat perubahan wujud itu.
"Si-siapa kau?", tuding Marto dengan penuh ketakutan. Keringat dingin mengucur membasahi pipinya.
"Hahaha..
Aku adalah malaikat maut mu. Kau sudah mengetahui rahasia ku. Kau harus mati", seringai kejam tersungging di bibir sosok hitam yang tak lain adalah Iblis Seribu Muka.
"Jahanam,
Berani mengancam prajurit Panjalu. Kau harus mampus", teriak Marto sambil menghunus pedang yang tersarung di pinggangnya.
Marto segera melompat ke arah Iblis Seribu Muka sambil membabatkan pedang nya.
Shreeeeettttthhh..
Iblis Seribu Muka dengan gesit menghindarinya. Lalu dengan cepat menendang perut Marto dengan keras.
Bhuuukkkhhh...
Auuuggghhhhh...!!
Marto meraung keras saat tendangan itu telak menghajar perutnya. Laki laki bertubuh gempal itu terjengkang ke belakang. Belum sempat tubuh nya menyentuh tanah, sepasang tangan memegang kepala Marto dan memuntirnya dengan cepat.
Kleeetteeekh!
Marto langsung tewas tanpa sempat berteriak. Hanya dalam dua gerakan, prajurit penjaga gerbang istana Daha itu mati di tangan Iblis Seribu Muka.
Usai berhasil menghabisi nyawa Marto, Iblis Seribu Muka segera berkelebat cepat kearah Utara pasar sore, menuju ke sebuah tempat penginapan yang menjadi tempat pertemuan antara dia, Wulupaksi dan Dewi Pedang Hitam.
'Akan ku bicarakan apa yang telah aku lihat di dalam istana Daha', batin Iblis Seribu Muka sambil melesat cepat di antara bayang bayang hitam kegelapan malam yang baru saja turun di Kotaraja Daha.
Tak lama kemudian, pria itu berhenti di samping sebuah penginapan sederhana. Mata nya nyalang kearah sebuah kamar yang jendela nya tengah terbuka. Dalam satu gerakan cepat, Dadung Awangga alias Iblis Seribu Muka melesat masuk ke kamar itu.
Huupppphhhh...
Whhhuuuggghhhh...
Jleeggg..
Wulupaksi dan Dewi Pedang Hitam tersenyum tipis melihat kedatangan Iblis Seribu Muka.
"Bagaimana Kakang?
Kau berhasil menyusup ke dalam istana Daha?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author semangat untuk terus menulis 😁😁
__ADS_1
Selamat membaca 🙏🙏🙏