Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Mapanji Jayawarsa


__ADS_3

Rara Sunti alias Cempluk tersenyum penuh arti saat Dewi Anggarawati menunjuk ke arah nya. Buah kesabaran nya akhirnya dia unduh juga. Sebagai salah satu dari 7 istri Panji Watugunung dia adalah yang terakhir mendapat waktu bersama dengan sang suami.


Meskipun Sekar Mayang tadi sempat ngeyel dengan kemauannya, tapi begitu Dewi Anggarawati memutuskan dia tidak berani untuk menentang. Sedang istri Panji Watugunung yang lain hanya tersenyum saja mendengar ucapan Dewi Anggarawati. Karena mereka juga tahu, diantara mereka hanya Cempluk Rara Sunti saja yang belum di sentuh Panji Watugunung.


"Terimakasih banyak atas kesempatan kepada saya Gusti Anggarawati", ujar Cempluk Rara Sunti dengan sopan.


"Kau ini ngomong apa Cempluk?


Kau adalah istri Kangmas Panji Watugunung. Kau juga berhak mendapatkan waktu dan cinta dari suami kita.


Dan satu lagi, jangan panggil aku Gusti Putri. Aku ini kakak mu Cempluk", Anggarawati tersenyum tipis.


"Terimakasih Gus.. Eh Kangmbok Anggarawati", Cempluk Rara Sunti tersenyum bahagia.


Siang itu Wandansari dan Tantri menyiapkan makanan untuk makan siang Panji Watugunung dan ketujuh istrinya. Mereka di bantu para dayang istana Katang-katang.


Hari itu mereka berkumpul bersama dengan penuh perasaan bahagia.


Malam menjelang tiba di istana Katang-katang. Cahaya bulan yang melewati purnama terasa indah di langit malam yang dingin. Redup cahaya bulan menembus jendela kamar tidur Sang Yuwaraja.


Panji Watugunung sedang melepas mahkota Yuwaraja Panjalu dan di letakkan pada meja kecil di samping kanan tempat tidur nya.


Tok tok tok


Kriettttt


Pintu kamar pribadi Sang Pangeran Daha terbuka dan Cempluk Rara Sunti masuk. Dengan sedikit gugup, Rara Sunti membawakan nampan berisi minuman wedang jahe untuk sang suami.


Malam itu Cempluk Rara Sunti berdandan cantik. Dengan kemben biru gelap dipadu dengan selendang berwarna senada, Rara Sunti menjelma menjadi seorang wanita yang anggun seperti putri bangsawan. Bibir nya yang merah merekah tanpa pemoles bibir, alis yang berbentuk seperti bulan sabit dan leher yang jenjang benar benar memperlihatkan kepribadian seorang wanita cantik khas Wengker.


Rara Sunti meletakkan nampan diatas meja di samping kiri tempat tidur sang suami. Kemudian duduk di ranjang sebelah putra Bupati Gelang-gelang itu.


Panji Watugunung tersenyum penuh arti dan segera meminum minuman yang disuguhkan istri termuda nya.


Melihat kegugupan Cempluk Rara Sunti, Panji Watugunung segera memegang tangan Cempluk Rara Sunti dengan tangan kiri nya sementara tangan kanannya masih memegang cangkir wedang jahe nya.


"Kau kenapa Dinda Sunti?", tanya Panji Watugunung sambil terus menyesap wedang di cangkir.


"A-anu Kakang, anu aku ehh", Rara tergagap berbicara.


"Kau ini kenapa Dinda? Dulu waktu di Wengker kau sangat galak padaku, kenapa sekarang jadi penakut seperti ini?", Panji Watugunung menoleh kearah Cempluk Rara Sunti yang grogi.


"Ah Kakang, jangan mengungkit masa itu. Kalau ingat itu aku jadi merasa bersalah padamu Kakang", ujar Rara Sunti dengan cepat.


"Lha habisnya, dulu galak sekali padaku. Setiap Romo Warok Suropati berbicara pada ku, kau sela.....", belum selesai Panji Watugunung meneruskan kalimatnya, Rara Sunti segera membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman mesra.


Panji Watugunung sedikit terpana lalu kemudian berkata dengan lembut.


"Gadis nakal", Panji Watugunung tersenyum tipis.


"Salah Kakang sendiri, sudah di bilang jangan mengungkit masa lalu tapi terus diomongkan. Aku kan ma....", belum sempat Cempluk Rara Sunti menyelesaikan omelan nya, Panji Watugunung segera mencium bibir mungil putri Warok Suropati itu.


Perlahan, Pangeran Daha itu mendorong tubuh Rara Sunti ke ranjang tidur nya. Perempuan itu hanya pasrah menerima perlakuan sang suami.


Satu demi satu, pakaian mereka terlepas dari badan. Dan selanjutnya mereka berdua menyatu dalam surga dunia yang penuh dengan erangan kenikmatan dan lenguhan panjang.


Cuaca malam begitu dingin tapi suasana panas terasa di dalam kamar tidur Panji Watugunung.


Sampai pagi tiba, Panji Watugunung terlelap dalam tidurnya dengan memeluk tubuh Rara Sunti.


Perlahan, gelap malam terusir dari muka bumi berganti terang dari sang mentari. Pagi itu, suasana istana Katang-katang begitu cerah secerah senyum Rara Sunti yang baru menghabiskan waktu bersama dengan seorang pria yang sangat dicintainya.


Dengan sedikit kesakitan berjalan akibat pergulatan semalam suntuk dengan Panji Watugunung, Rara Sunti menyelimuti tubuh sang suami kemudian segera keluar dari kamar Sang Pangeran Daha. Dia bergegas menuju ke tempat mandi.


Panji Watugunung terbangun saat pintu kamar tidur nya terbuka, dan Rara Sunti sudah berjalan masuk setelah mandi dan berganti baju.


Laki laki itu tersenyum manis sambil bangun dari tidurnya.


"Kau cepat sekali bangunnya Dinda, kenapa tidak membangunkan ku?", tanya Panji Watugunung sambil memakai celana nya.


"Aku tidak tega membangunkan Kakang, karena kakang terlihat nyenyak tidur nya", ujar Rara Sunti seraya tersenyum penuh arti.


Panji Watugunung hanya tersenyum saja kemudian ia segera bergegas menuju ke tempat mandi.


Setelah berdandan layaknya seorang Yuwaraja, hari itu Panji Watugunung datang ke balai paseban agung karena hari ini dia mengumpulkan semua Akuwu di wilayah Kayuwarajan Kadiri untuk bersama membahas tentang susunan pembesar istana Kayuwarajan Kadiri.


Sudah hadir di balai paseban Akuwu Watugaluh Setyaka, Akuwu Kunjang Rakeh Kepung dan Akuwu Kadri Mpu Gondho Lukito. Juga pimpinan pasukan Garuda Panjalu turut hadir di istana Katang-katang.


Semua orang langsung menyembah kepada Panji Watugunung yang datang di temani Dewi Anggarawati dan Dewi Naganingrum. Panji Watugunung duduk di singgasana Yuwaraja Panjalu diapit dua permaisuri nya. Ayu Galuh yang sedang hamil tua tidak bisa ikut hadir di balai paseban karena keadaannya.


Setelah Panji Watugunung duduk, semua bawahan nya duduk bersila di dua baris kanan dan kirinya.


"Aku ucapkan terima kasih atas kehadiran kalian semua yang sudah hadir disini.

__ADS_1


Hari ini akan ku tata wilayah Kayuwarajan Kadiri dengan baik. Aku awali dengan penempatan para pembesar istana Kayuwarajan Kadiri.


Dari pasukan Garuda Panjalu, Kakang Warigalit aku angkat sebagai Senopati Kayuwarajan Kadiri yang bertanggung jawab atas semua keamanan wilayah Kayuwarajan", ujar Panji Watugunung segera. Warigalit yang duduk di samping Ki Saketi langsung menghormat pada Panji Watugunung.


"Terimakasih atas kepercayaan nya Dhimas Pangeran Jayengrana. Kepercayaan ini pasti ku jalankan dengan baik", Warigalit segera menyembah kepada Panji Watugunung.


"Mpu Gondho Lukito, dari Kadri aku angkat sebagai penasehat bersama dengan Rakeh Kepung dari Kunjang. Kedudukan Akuwu masing-masing akan diserahkan kepada putra tertua masing-masing Pakuwon", Panji Watugunung mengangkat tangan kanannya.


Dua orang Akuwu sepuh itu sangat bahagia mendengar ucapan Panji Watugunung. Mereka berdua segera menyembah kepada Panji Watugunung.


"Pimpinan Pasukan Garuda Panjalu tetap aku pegang. Karena itu adalah amanat Gusti Prabu Samarawijaya.


Paman Saketi aku pilih sebagai Patih Kayuwarajan Kadiri. Selanjutnya Wakil pimpinan pasukan Garuda Panjalu akan di pegang oleh Jarasanda dengan pangkat Tumenggung.


Gumbreg aku angkat sebagai Demung bersama Rajegwesi. Ludaka ku angkat menjadi Tumenggung Kadiri. Landung juga aku naikkan pangkat setingkat Tumenggung untuk membantu Jarasanda mengatur pasukan Garuda Panjalu yang langsung dibawah kendali ku", ujar Panji Watugunung segera.


Semua orang yang disebut segera menghormat pada Panji Watugunung sambil tersenyum bahagia.


"Paman Setyaka,


Watugaluh sebagai penghasil padi terbesar di Kayuwarajan Kadiri tolong kau tata sebaik mungkin. Dirikan lumbung pangan di setiap Wanua di sepanjang garis perbatasan dengan Jenggala.


Selain itu kau adalah pertahanan paling depan di Kayuwarajan Kadiri. Segera latih para pemuda disana untuk membuat gugus pasukan Daha yang siap bertarung jika terjadi sesuatu", perintah Panji Watugunung pada Akuwu Watugaluh itu.


Akuwu Setyaka segera menghormat pada Panji Watugunung.


Mulai hari itu, penataan besar besaran terjadi di wilayah Kayuwarajan Kadiri. Para pejabat yang terpilih segera membangun rumah di masing-masing tanah yang sudah di siapkan untuk mereka.


Gumbreg begitu bersemangat untuk pindah ke kota Kayuwarajan Kadiri sesuai dengan perintah Yuwaraja Jayengrana.


Sedangkan untuk Akuwu baru Kadri, Aryo Lukito dan Akuwu baru Kunjang Rakeh Sandi mulai menata beberapa wanua yang merupakan penghasil padi untuk menjadi lumbung pangan Kayuwarajan Kadiri.


Di balik kesibukan luar biasa di istana Katang-katang, suatu peristiwa besar terjadi pagi hari itu.


Ayu Galuh merasakan perutnya mulas luar biasa sejak tadi pagi.


Tabib istana yang memeriksanya melihat bahwa sudah saatnya putri sulung Prabu Samarawijaya itu melahirkan.


"Bagaimana tabib? Apa Dinda Galuh baik baik saja?", tanya Panji Watugunung segera setelah tabib keluarga dari ruang pribadi Puri Ayu Galuh.


"Mohon ampun Gusti Pangeran,


Gusti Putri sepertinya hendak melahirkan", ujar si tabib istana Katang-katang sambil tersenyum tipis.


"Cepat kau tolong Dinda Galuh, jangan sampai terlambat", Panji Watugunung terlihat panik.


Panji Watugunung harap harap cemas menunggu persalinan sang putri Daha.


Kelima istri nya yang lain menemani sang suami sementara Dewi Srimpi ikut masuk ke dalam kamar tidur Ayu Galuh.


Tak berapa lama kemudian terdengar suara tangis bayi dari dalam kamar pribadi Ayu Galuh.


Oeeekkkk...


Panji Watugunung langsung menarik nafas lega setelah mendengar tangisan bayi itu.


"Puja Dewa Wisnu, akhirnya lahir juga", ucap Panji Watugunung sambil tersenyum menatap kearah kamar tidur Ayu Galuh.


Dewi Srimpi membuka pintu kamar Ayu Galuh kemudian tersenyum tipis kearah Panji Watugunung.


"Denmas,


Den Ayu Galuh melahirkan seorang putra", ujar Dewi Srimpi segera.


Senyum bahagia langsung tercetak di bibir Panji Watugunung. Kini dia sudah memiliki dua orang putra.


Panji Watugunung segera bergegas masuk ke dalam kamar pribadi Ayu Galuh. Dengan wajah pucat, Ayu Galuh tersenyum bahagia pada sang suami saat Panji Watugunung mendekati nya. Kini dia sudah sempurna menjadi seorang wanita untuk lelaki yang dicintainya.


"Terimakasih Dinda Galuh, terimakasih", ucap Panji Watugunung sambil mencium kening sang istri dengan mesra.


Wandansari yang baru selesai memandikan putra kedua dari Panji Watugunung, segera mengulurkan jabang bayi laki-laki yang sudah di gedong itu pada ayahnya.


Panji Watugunung segera menggendong bayi yang sedang menangis itu dengan penuh kasih sayang.


Aneh nya, begitu di dalam gendongan sang ayah, bayi merah itu langsung diam dan tersenyum.


"Kau beri nama siapa dia Kangmas?", tanya Ayu Galuh dari atas tempat tidurnya.


"Tahun ini, adalah tahun kejayaan bagi Panjalu karena berhasil menumpas pemberontak di Muria. Sebagai pengingat waktu ini, dia kuberi nama Mapanji Jayawarsa", ujar Panji Watugunung atau Pangeran Jayengrana sambil tersenyum penuh arti.


Semua orang yang menyaksikan kelahiran putra dari Yuwaraja Panjalu itu ikut berbahagia.


**

__ADS_1


"Cepat laporkan ini ke Padepokan, Wirotama.


Aku akan langsung menuju ke Panjalu untuk meminta pertolongan pada Kakang Warigalit dan Kakang Watugunung di Gelang-gelang", ujar seorang lelaki muda dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Akan kulakukan perintah mu Kakang Garungwangi. Berhati-hatilah selama perjalanan", ujar Wirotama sambil menatap wajah kakak seperguruannya itu dengan penuh kekhawatiran.


Setelah saling menghormat, dua orang itu berpisah. Garungwangi segera melompat ke atas kuda nya dan memacu kuda sekencangnya menuju ke arah barat daya sedang Wirotama memacu kudanya melesat meninggalkan tempat itu.


Setelah 3 hari 3 malam berkuda dan beristirahat sejenak untuk mengisi perut, melewati hutan dan bukit di sepanjang perjalanan, Garungwangi akhirnya tiba di perbatasan Pakuwon Lantir dan Kunjang.


Garungwangi terus memacu kudanya melesat menuju ke arah kota Pakuwon Kunjang.


Di depan sebuah warung makan di barat kota Pakuwon Kunjang, Garungwangi segera melompat turun dari kudanya dan mengikat tali kekang kudanya pada geladakan di samping warung makan itu.


Pemuda tegap itu segera menemui seorang pelayan warung makan dan memesan makanan.


Garungwangi akhirnya mendapat tempat di salah satu sudut warung makan pada sebuah meja kosong.


Empat orang pedagang sedang asyik berbincang sambil menikmati aneka makanan yang tersaji di meja mereka.


"Kang Marto, aku dengar kau sekarang membuka lapak di Kayuwarajan Kadiri ya?


Bagaimana suasana disana Kang?", tanya seorang lelaki paruh baya pada seorang lelaki tua yang bernama Marto itu.


"Wah untung besar Mo,


Suasana disana begitu ramai. Masih sepi pedagang. Penduduk nya mulai ramai layaknya ibukota Daha.


Apalagi Yuwaraja Panjalu itu, Pangeran Panji Watugunung mengatur tempat dan keamanan dengan baik di kota baru itu", jawab Ki Marto sambil tersenyum lebar.


"Wah aku juga harus ikut berdagang kesana Kang.


Aku dengar tangan kanan Gusti Pangeran Panji Watugunung yang pernah bertugas di Pasukan Garuda Panjalu juga diangkat menjadi Senopati disana Kang", ujar Karmo sambil mengunyah singkong goreng yang ada di mejanya.


Mendengar kata Watugunung dan Warigalit, Garungwangi segera mendekati mereka.


"Maaf jika mengganggu obrolan kalian Kisanak.


Boleh kah kalian memberi petunjuk, kearah mana Kayuwarajan Kadiri itu berada", tanya Garungwangi dengan sopan.


Marto menatap sejenak kearah Garungwangi, kemudian tersenyum tipis.


"Anak muda,


Kau mau mengadu nasib disana juga ya?


Kalau mau kesana, ikuti terus jalan ini kearah barat. Begitu sampai di tepi bukit kecil, beloklah ke Utara. Tak sampai tengah hari kau sudah sampai di kota Kadiri", ujar Ki Marto kemudian.


Garungwangi segera berterima kasih kepada Ki Marto. Garungwangi membayar biaya makan nya, kemudian segera bergegas memacu kudanya sesuai arahan Ki Marto.


Tujuan nya hanya satu, Kota Kadiri.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁

__ADS_1


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya agar author terus semangat menulis yah 😁


Selamat membaca 😁😁🙏🙏


__ADS_2