Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Pelayan Panji Watugunung


__ADS_3

Rombongan Panji Watugunung terus memacu kudanya. Dari kejauhan, tugu tapal batas kabupaten Gelang-gelang sudah terlihat. Jalan penghubung itu melintas di atas kali kecil. Tak jauh dari tugu batas, sebuah pos dengan beberapa prajurit penjaga tengah mengawasi lalu lalang orang yang keluar masuk kabupaten Gelang-gelang.


Ya semenjak peristiwa Mahesa Rangkah, keamanan istana dan di tapal batas di tingkatkan. Di setiap pakuwon di rekrut lebih banyak prajurit, selain sebagai penjaga pakuwon juga untuk cadangan jika di butuhkan.


Bukan hanya di Gelang-gelang, tapi di setiap kadipaten Panjalu terutama yang berbatasan langsung dengan Jenggala, semua meningkatkan kekuatan perang nya.


Seorang prajurit penjaga, melihat rombongan Panji Watugunung sedikit curiga. Lantaran diantara rombongan itu ada gadis bercadar hitam.


"Berhenti....!", dua orang prajurit penjaga menghadang di tengah jalan.


Panji Watugunung segera menarik kekang kudanya sehingga berhenti. Empat gadis di belakang nya mengikuti langkah Panji Watugunung.


"Siapa kalian? Ada tujuan apa ke Gelang-gelang?", ujar salah seorang prajurit penjaga.


"Maaf tuan penjaga, kami ada tugas penting ke kota Gelang-gelang"Panji Watugunung sopan setelah turun dari kudanya.


"Siapa perempuan itu? Mengapa dia bercadar?", tanya seorang lagi dengan nada galak.


"Kau orang baru ya? Sampai tidak tau siapa kami?", Dewi Anggarawati maju sambil mengeluarkan lencana perak berlambang burung merak tanda kebangsawanan kadipaten Seloageng...


Setelah melihat lencana, prajurit penjaga itu berlari ke pos pengawasan. Seorang pria berlari menuju arah rombongan Panji Watugunung.


"Maafkan kelancangan anak buah saya. Dia orang baru. Mohon di maklumi Gusti Putri", ujar kepala prajurit penjaga sambil menghormat.


"Tidak apa-apa. Lain kali suruh dia jangan asal menghadang orang. Lihat dulu baik baik", Dewi Anggarawati tegas.


Panji Watugunung hanya tersenyum tipis mendengar omelan Dewi Anggarawati.


'Jiwa bangsawan nya keluar lagi'


Dua penjaga itu segera minggir. Rombongan Panji Watugunung menggebrak kuda mereka meninggalkan tempat itu.


"Kalian kalau bertugas hati hati. Untung saja putri tadi masih berbaik hati. Kalau tidak bisa di penggal kepala Kalian", omelan kepala prajurit penjaga kepada bawahannya.


Dua orang prajurit penjaga itu hanya menunduk tak berani menatap kearah kepala atasannya.


Kabupaten Gelang-gelang memiliki 5 wilayah pakuwon yang mengitari ibukota kabupaten.


Setelah melewati perbatasan, rombongan Panji Watugunung sampai di pakuwon Randu yang merupakan wilayah pakuwon terkecil di kabupaten Gelang-gelang.


Mereka berhenti di sebuah rumah makan di dekat Pakuwon Randu. Matahari sudah hampir diatas kepala. Walaupun saat itu musim hujan, tapi terik matahari masih terasa hangat.


Setelah rombongan Panji Watugunung turun dari kudanya, seorang pekatik segera menambatkan kuda mereka di samping rumah makan itu.


Begitu masuk, seorang pelayan muda segera mendekat.


"Maaf tuan, anda pesan apa?".


"Sediakan makan yang enak untuk kami berlima"


"Mari tuan, kita kesana", pelayan mengarahkan rombongan Panji Watugunung di salah satu meja kosong.


Seorang pria paruh baya berpakaian mewah memandangi rombongan Panji Watugunung.


Dia mengenali Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang. Laki laki itu adalah Juragan Karsa.


"Lama tidak bertemu nona pendekar".


Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang segera mengenali pria paruh baya itu.


"Lah Juragan Karsa. Lama tidak bertemu tambah gemuk ya?", balas Sekar Mayang.


"Mari juragan, silahkan bergabung bersama kami".


Setelah itu sambil menunggu pesanan, mereka mengobrol ringan. Ternyata rumah makan itu adalah rumah makan Juragan Karsa. Pria paruh baya itu terlihat makmur setelah pindah dari Kahuripan.


Hujan deras turun mengguyur wilayah pakuwon Randu. Melihat dari mendung nya, mungkin akan sampai sore karna suara geledek dan gemericik air hujan terlihat merata.


Juragan Karsa menawari mereka untuk bermalam di penginapan di belakang rumah makan nya itu tanpa harus membayar. Dan karna cuaca tidak mendukung perjalanan, mereka memilih untuk menerima kebaikan hati Juragan Karsa.


Malam mulai turun. Cuaca musim penghujan ini benar benar dingin, apalagi ditambah tiupan angin.


Di dalam kamar penginapan, ke empat gadis pengikut Panji Watugunung sedang merundingkan sesuatu.

__ADS_1


"Malam ini giliran ku", ucap Ratna Pitaloka.


"Tidak bisa kangmbok, setelah Kangmbok Mayang adalah jatah ku", ujar Dewi Anggarawati tersenyum.


"Kemarin itu karna aku sakit, jadi itu di luar hitungan", potong Sekar Mayang.


"Tetap di hitung", ujar Ratna Pitaloka dan Dewi Anggarawati bersamaan.


Hanya Dewi Srimpi saja yang tidak berkata apa-apa, selain memandang ketiga gadis itu dengan takjub.


'Apa mereka selalu seperti itu setiap malam?'


"Srimpi kenapa kau diam saja?", tanya Sekar Mayang.


"Tidak apa-apa, tidak apa-apa kok", jawab Dewi Srimpi sambil menggoyangkan kedua tangannya.


"Jangan bilang kalau kau juga minta jatah ya?", Ratna Pitaloka menunjuk wajah Dewi Srimpi.


"Tidak kog, aku tidak minta apa apa", Dewi Srimpi mundur selangkah.


"Bagus kalau kau mengerti, status mu kan belum jelas", jawab Anggarawati senang.


Dewi Srimpi hanya manggut-manggut saja.


Pintu kamar terbuka dan Panji Watugunung terkejut melihat keempat wanita pengikut nya berkumpul di kamarnya.


"Kenapa belum tidur? Ini sudah larut malam".


"Sekarang adalah jatahku", jawab Ratna Pitaloka.


"Setelah Kangmbok Mayang, itu giliran ku", jawab Anggarawati.


"Aku pokoknya tidur disini", Sekar Mayang menepuk ranjang.


"Dan kau, apa alasan mu?", tanya Panji Watugunung pada Dewi Srimpi.


"Aku pelayan mu, kewajiban ku di dekat mu", Dewi Srimpi menundukkan kepalanya.


Hemmmm....


"Malam ini aku tidur disini sendiri".


"Tapi...", jawab mereka berempat.


"Tidak ada tapi tapian. Sekarang kalian keluar. Aku mau tidur", kata Watugunung tegas sambil menunjuk pintu keluar.


Empat gadis pengikut Panji Watugunung tidak bisa berkata apa-apa lagi, selain patuh. Tapi sebelum keluar mereka berhenti lagi, dan Ratna Pitaloka, Sekar Mayang serta Dewi Anggarawati kompak berhenti. Sedangkan Dewi Srimpi segera meninggalkan kamar Watugunung.


"Apa lagi?", Panji Watugunung memandang kearah mereka.


"Ciuman selamat tidur nya belum", ujar mereka kompak.


Hemmmm..


Panji Watugunung mendengus panjang.


Cup cup cup..


Dengan berurutan, Panji Watugunung mengecup kening ketiga gadis itu dengan mesra.


Ketiga gadis itu tersenyum bahagia.


"Selamat beristirahat Kakang Watugunung", ucap ketiga gadis cantik itu sambil menutup pintu kamar Panji Watugunung dari luar.


Panji Watugunung hanya geleng-geleng kepala melihat ulah ketiga calon istri nya.


Pagi pun menjelang setelah hampir semalam suntuk hujan deras turun. Meski sinar matahari masih terhalang oleh awan, namun setidaknya tidak sedingin tadi malam.


Panji Watugunung terbangun saat jendela kamar nya di buka, dan sinar mentari menyentuh wajahnya.


Dewi Srimpi hanya mengangguk sambil melirik ke arah Panji Watugunung sebentar. Lalu berdiri di samping meja. Air hangat untuk cuci muka, dan segelas wedang jahe sudah ada di meja.


Panji Watugunung segera beranjak dari tempat tidur nya dan menuju meja. Cuci muka dengan air hangat di cuaca dingin benar benar menyegarkan. Wajah Panji Watugunung memerah, semakin menambah aura ketampanannya.

__ADS_1


Dewi Srimpi lalu mengulurkan kain kering pada Panji Watugunung.


"Terimakasih Srimpi, kau tidak perlu repot-repot seperti ini setiap pagi", ujar Panji Watugunung sambil mengeringkan wajah.


"Aku pelayan mu, kewajiban ku melayani semua kebutuhan mu", Dewi Srimpi hanya menunduk.


"Kau tidak wajib melayani ku, aku bisa sendiri Srimpi. Aku terbiasa hidup mandiri dari kecil", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum memandang kearah Dewi Srimpi.


"Aku aku hanya melakukan perintah ayah ku, aku tidak boleh mengecewakan nya", sebutir air mata bening perlahan menetes dari mata Dewi Srimpi.


"Memang apa perintah ayahmu?", tanya Watugunung penasaran.


"Mengikuti mu kemana pun kau pergi. Aku harus melayani semua kebutuhan mu dan aku aku tidak boleh pulang ke rumah lagi", air mata Dewi Srimpi semakin banyak berjatuhan.


"Hei kenapa kau malah menangis? Sudah jangan menangis lagi. Apa aku menyakiti hati mu?", tatap Watugunung pada Dewi Srimpi.


Dewi Srimpi menggeleng cepat. Air mata masih mengalir ke pipinya.


"Ayah mu memang gila. Putri sendiri di usir dari rumah. Sudah jangan menangis lagi.


Baiklah, mulai hari ini kau boleh melayani ku. Tapi ingat, kau tidak boleh iri atau cemburu pada tiga calon istri ku.


Paham?", ujar Watugunung sambil tersenyum.


Dewi Srimpi segera menghentikan tangisannya. Meski masih terisak, dia berusaha tersenyum.


"Srimpi akan melayani dan mematuhi mu", ujar gadis itu dengan menghormat.


Setelah itu Dewi Srimpi segera membereskan semua yang ada di meja kemudian mundur dari kamar Panji Watugunung dengan raut wajah gembira.


Panji Watugunung hanya menggeleng sambil bergumam,


'Aku selalu tak berdaya menghadapi air mata wanita'


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kayaknya makin seru ini 😁😁😁


Sampai jumpa di episode selanjutnya yah..


Tak bosan bosan author ingatin untuk sedekah like vote dan komentar nya.


Yang menjalankan ibadah puasa semoga lancar ya🙏🙏🙏


Happy reading guys

__ADS_1


Thanks for reading my novel 👍👍👍


__ADS_2