Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Ikatan Kesetiaan


__ADS_3

Panji Watugunung segera bergegas pamit menuju bangsal peristirahatan. Ki Saketi, dan Tiga istri Panji Watugunung menunggu nya.


"Ada masalah apa sehingga utusan Daha kemari Kangmas?", tanya Dewi Anggarawati penasaran.


"Apa ada hal penting hingga Kakang Watugunung di datangi mereka?", timpal Sekar Mayang.


Ki Saketi yang hendak bertanya mengurungkan niatnya saat melihat Panji Watugunung menghela nafasnya.


"Sepertinya ada hal penting yang tidak bisa dibicarakan di tempat umum. Mungkin menyangkut kepentingan orang banyak Dinda Anggarawati, aku juga tidak tahu".


"Terus apa langkah kita selanjutnya kakang?", tanya Ratna Pitaloka kemudian.


Hemmmm


"Paman Saketi,


Pecah pasukan Garuda Panjalu menjadi dua bagian. Bagian pertama bertugas berpatroli di wanua wanua wilayah Pakuwon Kunjang. Usahakan Ludaka, Jarasanda, Arimbi dan Rajegwesi tergabung di pasukan patroli. Minta Akuwu Rakeh Kepung meminjamkan 100 orang prajurit pilihan.


Dinda Pitaloka dan Dinda Mayang, pimpin pasukan pertama dan pasukan pinjaman dari Akuwu berpatroli. Jangan bertindak kecuali jika di serang. Paham??", Panji Watugunung memandang wajah Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang. Dua wanita cantik itu segera mengangguk tanda mengerti.


"Selanjutnya pasukan sisa, tempatkan di seputar Pakuwon Kunjang. Minta Akuwu Rakeh Kepung menyiapkan pasukan berkuda cepat sebanyak 50 orang. Jika ada permintaan bantuan dari pasukan patroli, pasukan cadangan segera membantu. Pasukan cadangan akan di pimpin Paman Saketi dan Dinda Anggarawati. Apa kau mengerti Dinda?", pandangan Watugunung mengarah ke Dewi Anggarawati. Perempuan cantik itu segera mengiyakan.


"Aku usahakan segera kembali ke sini. Ada hal penting yang aku mau minta dari Prabu Samarawijaya", ujar Panji Watugunung.


Setelah memberikan arahan dan petunjuk kepada semua orang, Panji Watugunung bergegas menuju ke kamar peristirahatan nya di ikuti Dewi Anggarawati dan Dewi Srimpi.


"Srimpi, persiapkan beberapa pakaian. Besok pagi kita akan ke Daha".


Dewi Srimpi mengangguk dan segera pergi menuju kamarnya.


Sementara itu, Dewi Anggarawati mengikuti langkah suami nya ke dalam kamar.


"Aku masih tidak mengerti, kenapa Kangmas hanya mengajak Srimpi ke Daha", ujar Dewi Anggarawati sambil melepaskan perhiasan bangsawan pada tubuh suaminya itu.


"Dinda harusnya menyadari, arti pentingnya peranan Dinda Anggarawati, Dinda Mayang dan Dinda Pitaloka disini.


Dinda Anggarawati mempunyai kemampuan menjadi penghubung antara para pejabat karna posisi Dinda Anggarawati sebagai putri Adipati Seloageng.


Dinda Pitaloka dan Dinda Mayang, kemampuan beladiri mereka bisa diandalkan untuk situasi genting.


Karena itu aku hanya mengajak Srimpi untuk menemani ku ke ibukota Daha", Panji Watugunung menjelaskan semuanya.


"Suami ku memang cerdas, tak salah aku mencintaimu Kangmas", ujar Anggarawati lembut sambil mengelus tangan suaminya sambil memerah wajahnya.


Panji Watugunung yang paham kode etik istri nya itu, tersenyum penuh arti.


Panji Watugunung segera menarik tangan Dewi Anggarawati ke arah ranjang. Selanjutnya desahan dan lenguhan mereka memenuhi ruangan kamar itu. Hujan deras mengguyur wilayah Pakuwon Kunjang, membuat udara menjadi dingin. Berulang kali mereka melakukan nya, sampai pagi menjelang.


Pagi itu cuaca berubah cerah meskipun awan tebal masih bertengger di langit.


Panji Watugunung bangun saat sinar matahari menembus celah-celah jendela kamar. Dia tersenyum melihat tangan Anggarawati melingkar di pinggang nya. Wajah cantik Anggarawati tampak kuyu meski senyum puas menghiasi wajahnya.


Saat Panji Watugunung ingin memindahkan tangan Anggarawati, tiba tiba terdengar suara merdu Dewi Anggarawati.


"Masih pagi Kangmas, sebentar lagi"


"Sudah pagi Dinda, ayo kita mandi", ujar Panji Watugunung tapi Dewi Anggarawati justru menarik nya ke pelukannya.


Dewi Anggarawati tersenyum genit dan segera mencium bibir Panji Watugunung dengan ganasnya. Dan mereka melakukan nya lagi.


Dewi Srimpi yang hendak mengetuk pintu kamar Panji Watugunung, menghentikan langkahnya. Jelas sekali dia mendengar suara desahan dan rintihan dari dalam kamar. Wajah cantik nya merah menahan nafas.


Ratna Pitaloka Melihat Dewi Srimpi mematung di depan pintu kamar, menghampiri Dewi Srimpi.


"Kenapa tidak segera kau bangunkan?", ujar Ratna Pitaloka mendelik.


"Itu Ndoro Selir, anu..", Dewi Srimpi tertunduk.


Dan suara-suara rintihan dan erangan kenikmatan itu terdengar oleh Ratna Pitaloka. Wajah perempuan cantik itu ikut memerah.


'Dasar mesum. Sudah siang masih melakukan nya'


Brak brakkk

__ADS_1


Ratna Pitaloka menggedor pintu kamar Panji Watugunung.


Panji Watugunung yang baru selesai, mendengar pintu kamar di gedor segeralah melesat cepat menuju pintu sambil menyambar selimut.


Dewi Anggarawati berburu buru mengumpulkan baju nya yang berserakan di lantai dan segera memakai nya.


Kriettttt..


Pintu terbuka dan wajah cantik Dewi Srimpi dan Ratna Pitaloka yang memerah. Ratna Pitaloka cepat menutup pintu kamar kembali.


"Kakang Watugunung ini, sudah siang masih juga ngeyel. Mbok ingat ada tugas ke Daha. Apa semalam suntuk masih kurang puas?", Ratna Pitaloka mengomel panjang lebar.


Panji Watugunung tersenyum kecut. Dia beringsut memakai pakaian nya. Dewi Srimpi segera menunduk.


Dewi Anggarawati hanya senyum senyum sendiri, tidak berkata apa-apa.


Usai membersihkan diri dan sarapan, Panji Watugunung dan Dewi Srimpi serta utusan dari Daha melesat meninggalkan Pakuwon Kunjang.


Setelah berhenti di sebuah Wanua kecil mengistirahatkan tubuh, mereka memacu kuda mereka secepat kilat menuju ke istana Daha.


Menjelang sore, Panji Watugunung dan rombongannya sudah sampai di gerbang istana Daha. Para prajurit penjaga gerbang istana Daha segera membuka pintu gerbang begitu melihat Tumenggung Adiguna.


Rombongan itu segera menepak punggung kuda mereka menyusuri jalan besar yang membelah alun alun istana Daha. Sesampainya di depan istana raja, mereka turun dari kudanya. Pekatik istana raja segera menarik kekang kuda mereka dan menambatkan di tambatan kuda.


Seorang penjaga gerbang istana raja, segera berlari menuju ruang pribadi raja di sisi barat istana.


Samarawijaya, sang raja Panjalu sedang berbincang dengan Mapatih Jayakerti dan penasehat utamanya Rakryan Ranggawangsa saat prajurit penjaga gerbang istana menghaturkan sembah.


"Ampuni hamba mengganggu waktu Gusti Prabu. Tumenggung Adiguna dan beberapa orang dari pakuwon Kunjang ingin menghadap".


Samarawijaya tersenyum.


"Suruh mereka masuk kesini segera".


"Sendiko dawuh Gusti Prabu", prajurit penjaga gerbang menghaturkan sembah dan mundur menuju gapura.


Tak berapa lama, Tumenggung Adiguna di ikuti Panji Watugunung dan Dewi Srimpi memasuki ruang pribadi raja.


"Ampun Gusti Prabu, hamba mengantarkan Gusti Panji Watugunung untuk menghadap ke istana Daha", ujar Tumenggung Adiguna sambil menghormat.


"Terimakasih Tumenggung Adiguna, kau melaksanakan tugas dengan baik", jawab Sang Prabu Samarawijaya.


"Adi Panji Watugunung, saudara jauh ku, bagaimana kabarmu".


"Terimakasih atas perhatian Gusti Prabu Samarawijaya. Saya yang kecil ini tidak pantas menerimanya", ujar Panji Watugunung sambil menghormat.


Samarawijaya tersenyum tipis, dia suka sifat Panji Watugunung yang rendah hati. Ranggawangsa tertegun sejenak, dalam batinnya pemuda ini melebihi gambaran nya selama ini.


"Ah adik ku, kau begitu rendah hati. Aku benar benar menyukai sifat mu ini. Apa kau tidak berminat untuk tinggal di istana Daha ini Dimas??", ujar Samarawijaya tersenyum simpul.


"Mohon ampun Gusti Prabu jika jawaban hamba menyinggung perasaan Gusti Prabu. Hamba ini hanya rakyat Daha, saya terbiasa hidup di kampung dan hutan. Tidak akan kerasan jika harus tinggal di istana", jawab Watugunung sopan yang membuat Samarawijaya, Jayakerti dan Ranggawangsa saling mengangguk.


"Kamu berani menolak tawaran ku Dimas. Aku tidak marah, tapi apakah Dimas Panji Watugunung tetap bersedia membantu apapun yang aku perintahkan?", tanya Samarawijaya dengan tatapan serius.


"Selama hamba mampu, hamba siap mengabdikan diri kepada Gusti Prabu Samarawijaya", ujar Panji Watugunung tegas.


"Bagus sekali dimas, tapi aku ingin kau membuktikan kebenaran ucapan mu. Mulai sekarang jaga putri ku, Ayu Galuh untuk ku", titah Samarawijaya tersenyum penuh arti.


Panji Watugunung terkejut bukan main. Tidak di sangka Samarawijaya akan mengikat kesetiaan nya dengan cara ini. Panji Watugunung segera tersenyum, betapa pintar sepupu jauh nya.


"Kalau memang itu bisa membuat Gusti Prabu Samarawijaya percaya kepada hamba, maka hamba akan senang hati melakukan nya.


Tapi hamba mohon waktu untuk menjelaskan semuanya pada istri hamba", jawab Watugunung sopan.


"Hahahaha bagus Dimas, aku suka kejujuran mu.


Meskipun Ayu Galuh hanya putri ku dari selir, tapi dia tetap putri ku.


Sebagai ayah nya, aku tetap menginginkan yang terbaik untuk putri ku", sahut Prabu Samarawijaya kemudian.


"Tumenggung Adiguna, antarkan calon mantu ku ke keputran Daha untuk beristirahat".


"Sendiko dawuh Gusti Prabu", Tumenggung Adiguna menghaturkan sembah di ikuti Panji Watugunung dan Dewi Srimpi. Mereka mundur dan menuju keputran Daha.

__ADS_1


Ranggawangsa tersenyum simpul, dan berkata, "Dengan begini posisi Gusti Prabu Samarawijaya benar benar aman di singgasana Daha".


Samarawijaya tersenyum tipis.


"Penjaga gapura, kesini kalian"


Dua orang penjaga gapura segera berlari menuju Prabu Samarawijaya, berjongkok dan menghaturkan sembah nya.


"Aku perintahkan pada kalian, suruh Ayu Galuh ke keputran Daha untuk mengantar makanan pada Panji Watugunung".


Dua prajurit penjaga segera menyembah kepada Raja mereka, dan bergegas ke istana selir.


Sementara itu Panji Watugunung yang sudah di keputran Daha, duduk merenung di serambi keputran memandang langit malam yang bertabur bintang.


Dia bingung bagaimana menjelaskan semuanya pada istri istri nya.


Dewi Srimpi memahami perasaan majikannya.


"Saya mengerti Denmas. Memang sulit untuk menjelaskan semuanya, tapi saya yakin Denmas Panji bisa melakukannya".


"Tiga wanita itu sudah membuat ku pusing Srimpi, kalau tambah satu lagi, aku tidak tahu harus berbuat apa", Panji Watugunung memijat kepalanya yang terasa sakit.


"Mau tidak mau Denmas harus menerima Putri Daha. Saya melihat Putri ini sebagai upaya mengikat kesetiaan Denmas Panji, karna mereka khawatir Denmas akan melakukan upaya yang merugikan mereka", sahut Dewi Srimpi sambil menunduk.


'Aku akan tetap mencintai mu Denmas dalam diam'


Panji Watugunung tersenyum kecut mendengar ucapan Dewi Srimpi.


Dari gerbang keputran, penjaga gapura berteriak.


"Putri Ayu Galuh mohon ijin masuk keputran".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


*Duh mas Panji Watugunung..


Itu rejeki jangan di tolak😁😁😁😁


Ikuti terus kisah perjalanan Mas Panji


Jangan lupa untuk dukung author terus menulis dengan like vote dan komentar nya..


Selamat membaca guys πŸ™πŸ™πŸ™*

__ADS_1


__ADS_2