
Perempuan genit berambut panjang mendorong tubuh Watugunung ke atas batu rata di sudut goa. Namun bukannya jatuh, tubuh Watugunung malah melayang dan berhenti sambil berdiri diatas batu.
Perempuan itu terkejut bukan main.
"Bedebah, pamer kepandaian kau rupanya", teriak perempuan itu yang segera melesat cepat ke arah Panji Watugunung sambil berusaha melumpuhkan nya.
Pukulan keras mengincar ulu hati Panji Watugunung.
Saat serangan hampir menyentuh ulu hati, tiba tiba tubuh Watugunung seperti menghilang. Dan serangan menghajar udara kosong. Perempuan itu celingukan mencari sosok lelaki yang hendak di hajar nya.
"Kau mencari ku?"
Perempuan berambut panjang itu segera menoleh ke belakang. Watugunung tersenyum tipis disana. Wajah perempuan itu merah padam. Dia geram karena merasa dipermainkan.
"Bedebah!
Aku tidak akan sungkan lagi".
Perempuan genit itu segera mencabut pedang pendek di balik bajunya, tangan kiri nya meraih jarum kecil berwarna merah muda dari kantong kulit di pinggangnya.
Pertarungan sengit kembali terjadi di dalam goa.
Sementara itu, Warigalit yang sudah tidak tahan sikap perempuan berdada besar mendorong tubuh nya menjauh. Perempuan yang sedang di landa nafsu birahi terus memburu Warigalit.
Namun kakak seperguruan Panji Watugunung itu dengan mudah menghindari terkaman perempuan itu. Lama kelamaan perempuan itu marah besar, merasa Warigalit hanya mempermainkan nya.
"Bangsat kau pemuda tampan!
Kau sengaja menipu ku dengan pura pura lemah. Siapa sebenarnya kau?", teriak perempuan berdada besar itu geram.
"Aku hanya pengelana. Cukup puas dengan jawaban ku?", Warigalit hanya menyunggingkan senyum tipis.
"Kurang ajar, rupanya kau tidak bisa di kasihani.
Sayang sekali jika tubuh kekar mu itu harus menjadi mayat.
Bersiaplah untuk mati".
Perempuan berdada besar itu segera mencabut pedang pendek dari balik punggungnya. Tangan kiri nya merogoh kantong kulit di pinggangnya yang berisi jarum kecil beracun.
Warigalit tersenyum tipis. Tombak Angin yang tersimpan di dalam tongkat bambu yang dia pegang, dia putar putar dengan cepat.
Perempuan itu melompat sambil melemparkan jarum beracun.
Whussss
Creppp
Jarum beracun tertangkis tongkat bambu di tangan Warigalit, namun serangan itu tidak berhenti. Sabetan pedang pendek perempuan binal itu mengincar pinggang Warigalit.
Angin dingin terasa dan Warigalit menekan tongkatnya ke tanah dan melompat ke samping kanan. Dan...
Trangg..
Pedang pendek itu beradu tongkat bambu yang kemudian hancur dan menyisakan sebuah tombak pendek berwarna putih. Warigalit menyeringai lebar.
Perempuan berdada besar itu terkejut bukan main. Tangan nya gemetar akibat benturan tenaga dalam tadi. Segera dia mundur beberapa langkah.
'Keparat ini rupanya sedang menyamar'
Perempuan binal itu segera melompat sambil melemparkan jarum kecil berwarna merah muda. Warigalit langsung melompat mundur dan memutar tombak pendek nya. Putaran angin tombak seperti menahan puluhan jarum kecil.
Namun ternyata itu hanya siasat. Perempuan genit berdada besar itu melesat cepat meninggalkan tempat itu menuju goa.
Sementara itu Panji Watugunung berhasil mendaratkan sebuah pukulan keras ke arah dada perempuan berambut panjang.
Deshhhhh
Perempuan itu meraung dan terlempar keluar goa.
Saat yang sama, perempuan berdada besar melihat adik seperguruannya terlempar segera menangkap tubuh nya.
"Adik kau tidak apa-apa??", tanya perempuan berdada besar itu cemas melihat darah mengalir bibir adik seperguruannya.
"Kita di tipu Kangmbok. Mereka berdua pendekar tangguh", ucap perempuan berambut panjang sambil terbatuk-batuk. Dadanya terasa sesak dan sakit. Mungkin ada tulang nya yang retak.
__ADS_1
"Kita harus kabur adik, mereka bukan lawan kita", ucap perempuan berdada besar yang di sambut anggukan kepala dari adik seperguruannya.
Saat Panji Watugunung dan Warigalit melesat maju, sebuah benda bulat dilempar oleh perempuan berdada besar. Benda itu meledak menciptakan asap tebal dan puluhan jarum kecil berwarna hitam melesat cepat menuju Panji Watugunung dan Warigalit.
Dua pemuda itu kaget dan segera melompat ke udara untuk menghindari nya. Saat menjejak tanah, Sepasang Putri Kembang sudah tidak ada. Mereka kabur.
"Sudah jangan di kejar kakang", cegah Watugunung segera saat Warigalit hendak berlari menuju ke sisi bukit.
"Sebaiknya kita amati situasi di Wanua Tajur ini saja. Siapa tahu ada yang bisa berguna".
Warigalit mengangguk lantas mengikuti langkah Panji Watugunung kembali ke Wanua Tajur.
Dari pengamatan Panji Watugunung, ternyata tempat itu adalah sarang para mata mata. Mereka berdua tidak melakukan kegiatan mencurigakan, meski belasan pasang mata mengikuti gerak gerik mereka.
Menjelang tengah hari, Panji Watugunung dan Warigalit menuju dermaga Wanua Tajur yang ramai. Landung dan Ludaka segera mengayuh sampan kecil mereka mendekati mereka.
Setelah berbasa-basi sebentar untuk menghilangkan kecurigaan, Panji Watugunung dan Warigalit segera naik ke atas sampan. Landung dan Ludaka segera mengayuh cepat menuju ke seberang sungai.
Dua pasang mata menatap kepergian Panji Watugunung dan Warigalit dengan penuh dendam.
Begitu mencapai dermaga Wanua Klakah, mereka segera naik ke dermaga. Sedangkan Ludaka dan Landung melanjutkan kegiatan mereka.
Ki Saketi yang baru dari gerbang utara Wanua Klakah, segera bergegas mendekati Panji Watugunung dan Warigalit. Saat akan berbicara, Panji Watugunung segera mengangkat tangan nya dan memberi isyarat Ki Saketi mengikuti langkah nya.
Suasana Wanua Klakah memang sedikit ramai. Beberapa perahu tampak hilir mudik. Rakai Sanga dan Marakeh yang bertugas sebagai syahbandar tampak luwes memerankan pekerjaan itu. Beberapa perempuan dari wanua Klakah juga membuka kembali beberapa warung makan di sebelah dermaga yang dulu ada atas saran dari Panji Watugunung. Selain untuk mengumpulkan berita, mereka juga mendapat penghasilan.
Masing masing memerankan tugas dengan baik.
Panji Watugunung dan Warigalit serta Ki Saketi melangkah menuju ke arah kediaman nya. Ratna Pitaloka yang sedang duduk di serambi segera berdiri menyambut kedatangan suami nya.
"Wanua itu penuh dengan mata mata", ujar Panji Watugunung setelah duduk di kursi serambi kediaman nya.
"Benar Gusti Panji, dari seorang pedagang yang melintas baru saja saya dapat kabar, kalau semua kelompok memiliki telik sandi di Wanua Tajur", Ki Saketi menimpali.
Ratna Pitaloka yang berada di dekat suami nya mencium wangi aneh dari Panji Watugunung.
"Kog bau mu seperti bau wangi pupur perempuan kang?", hidung Ratna Pitaloka mengendus aroma wangi.
'Duhh sial. Kenapa wangi perempuan itu tertinggal di bajuku? Dan kenapa pula hidung Pitaloka peka sekali sih?', batin Panji Watugunung.
"Iya Pitaloka, kami tadi sempat bertarung melawan mereka. Mungkin karena sempat adu ilmu, makanya bau mereka tertinggal di baju. Coba saja cium baju ku kalau tidak percaya?", ujar Warigalit.
Ratna Pitaloka segera mendekati ke arah Warigalit. Dan mencium wangi yang sama. Ratna Pitaloka lalu tersenyum. Suaminya ternyata tidak berbohong.
Panji Watugunung menarik nafas lega.
Sampai sore, mereka membahas beberapa rencana yang bisa mereka lakukan. Sepasang Sriti Perak dan Ratri serta Dewi Srimpi menambah ramai suasana di serambi kediaman sementara Panji Watugunung.
Gumbreg yang sedang melihat Juminten kerepotan membawa perkakas jualan nya buru buru mendekatinya.
"Dhek Jum, sini tak bantu", ujar Gumbreg penuh semangat.
"Gak usah kang, nanti merepotkan", tolak si Juminten halus.
"Yo gak apa apa to repot, wong yo demi cintaku padamu dhek Jum, apa sih yang enggak?", jurus gombalan maut Gumbreg mulus keluar dari mulutnya.
Wajah si Jum malu-malu mendengar ucapan Gumbreg.
"Yakin nih gak merepotkan kakang?", tanya si Jum pada Gumbreg.
"Ya gak to dhek, urusan ini huu kecil", Gumbreg kumat sombongnya.
"Ya sudah, tolong bawa semua perkakas ini sampai ke rumah ya kang", ujar si Juminten sambil meletakkan semua perkakas itu.
Senyum kecil tercetak di bibir Juminten.
Hati kecil si Juminten yang masih kesal pada Gumbreg akibat peristiwa di pernikahan Panji Watugunung dan dia bermaksud mengerjainya.
"Kawan kawan, perkakas kalian akan di antarkan oleh kang Gumbreg ke tempat kalian masing-masing. Sekarang kalian boleh pulang", teriak Juminten yang di sambut gembira para perempuan yang berjualan di dekat dermaga.
"Lho dhek Jum kog..
Ini banyak Lo dhek Jum, Piye to?", Gumbreg kebingungan melihat tumpukan perkakas sementara si Jum dan kawannya sudah melenggang pergi.
Ludaka yang baru pulang dari sungai, menenteng rentengan ikan, langsung nyeletuk di samping Gumbreg.
__ADS_1
"Rasakan di kerjain si Jum".
Gumbreg yang kesal segera mengeluarkan kata kata mutiara nya kepada sobat nya itu.
"Dasar kodok beracun, teman tak berperasaan, manusia tak tau di untung".
Ludaka dan Landung terkekeh geli sambil berlalu. Sedangkan Gumbreg mulai mengangkat perkakas itu sambil menggerutu.
"Oalah nasib nasib...."
Sampai menjelang malam Gumbreg baru bisa menyelesaikan tugas dari si Juminten.
Sementara itu, di sebrang sungai 3 orang perempuan cantik dengan pakaian yang memancing nafsu syahwat laki laki turun dari kuda mereka. Pandangan mereka menyapu sekeliling rumah makan yang sudah sepi.
Dua orang bayangan berkelebat mendekati tiga gadis cantik itu.
"Selamat datang Kangmbok Kantil, maaf jika sambutan kami seperti ini", ujar salah satu bayangan yang ternyata perempuan berambut panjang yang bertarung dengan Panji Watugunung tadi pagi.
"Seruni, Melati..
Kenapa kalian babak belur begini?", ujar Dewi Kantil yang kaget melihat keadaan dua adik seperguruannya.
"Kami bertarung dengan 2 pendekar muda yang datang ke sini, setelah menghajar kami mereka pergi ke Wanua Klakah Kangmbok", jawab perempuan berdada besar yang bernama Dewi Seruni.
"Apa mereka dari Alas Larangan?", tanya Dewi Kantil.
"Sepertinya bukan Kangmbok, dari cara bertarung dan pakaian mereka bukan dari Alas Larangan. Namun kapal besar berbendera Alas Larangan itu sudah 4 hari tidak bergerak dari dermaga Wanua Klakah", Dewi Melati menjelaskan.
"Kita tidak boleh gegabah. Menurut mata mata kita di Anjuk Ladang, Dewa Angin besok kemungkinan besar sudah sampai ke Wanua Klakah. Kita harus menunggu sampai guru datang", ucapan Dewi Kantil yang menahan diri membuat Dewi Seruni kesal.
"Apa tidak kita buat perhitungan dengan dua orang itu sekarang saja Kangmbok Kantil?".
Dewi Kantil tersenyum tipis. Dia tau adiknya sedang marah.
"Marah boleh Seruni, tapi hati harus tetap dingin".
Dewi Kenanga segera menimpali.
"Setelah guru datang, kita serbu mereka".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kasian si Gumbreg ya ??😂😂
Ikuti terus kisah Panji Watugunung dan kawan kawan nya dalam membela negeri tercinta.
Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan cara like vote dan komentar nya 👍👍 👍
__ADS_1
Selamat membaca guys 😁🙏🙏😁