Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Serangan Di Kala Fajar


__ADS_3

Nyi Tepasan akhirnya mengerti apa maksud dari permintaan Panji Watugunung atau juga disebut sebagai Prabu Jayengrana. Rupanya Panji Watugunung ingin menghancurkan para prajurit Kembang Kuning tanpa perlu merusak gerbang maupun tembok istana Kadipaten.


"Baik Gusti Prabu Jayengrana, hamba mengerti. Hamba akan memenuhi janji hamba pada Gusti Prabu..


Namun barang dagangan yang hancur, hamba minta penggantian yang sepadan", ujar Nyi Tepasan sembari tersenyum simpul.


"Aku mengerti Nyi.. Kau tenang saja..


Aku jamin kau tidak akan rugi dengan cara kami", Prabu Jayengrana tersenyum tipis.


Malam itu, Nyi Tepasan berserta si lelaki brewok berbadan besar itu di bantu oleh beberapa prajurit perbekalan mulai menata barang dagangan ke dalam peti kayu untuk persiapan sebagai alat mengelabui para prajurit Kadipaten Kembang Kuning.


Sedangkan Senopati Warigalit, Tumenggung Ludaka, Tumenggung Jarasanda, Tumenggung Landung dan beberapa prajurit pilihan menyamar sebagai kuli angkut barang dengan mengganti pakaian mereka.


Untuk mengelabuhi para prajurit Kembang Kuning, mereka menyimpan senjata mereka masing-masing pada peti kayu bagian bawah dan ditutup oleh butiran gabah dan tongkol jagung.


Sedangkan Senopati Dewangkara, Tumenggung Sindupraja, Demung Gumbreg dan Senopati Mpu Koncar mempersiapkan para prajurit Panjalu bersiap di luar tembok istana Kadipaten Kembang Kuning bersama Panji Watugunung dan kedua istrinya.


Sesuai dengan rencana, mereka akan menyerbu ke dalam istana Kadipaten Kembang Kuning pagi hari itu.


Dengan berdandan layaknya seorang kuli angkut barang, tak lupa dengan balutan debu dan lumpur, Senopati Warigalit dan kawan-kawan nya tiba di rumah Ki Kromo lepas tengah malam dengan membawa puluhan gerobak yang berisi peti peti kayu bahan makanan. Nyi Tepasan dan si lelaki brewok berbadan besar itu turut serta agar penyamaran mereka terlihat meyakinkan.


Thok thookk thookk..


"Ki Kromo, bangun Ki...


Cepat buka pintunya", ujar Nyi Tepasan sembari mengetuk pintu rumah Ki Kromo.


"Siapa?", terdengar suara dari dalam rumah menyahut seruan Nyi Tepasan.


"Aku Ki, Nyi Tepasan..


Aku membawa pesanan Tumenggung Kertawahana", jawab Nyi Tepasan segera. Tak berapa lama kemudian terdengar suara langkah kaki menuju pintu rumah.


Krrriiiiieeeeeeeeetttthhhh....


Wajah seorang lelaki tua dengan kumis putih menyembul keluar dari pintu rumah. Lelaki itu segera celingukan menoleh ke kanan dan kiri di sekitar tempat tinggalnya. Setelah memastikan bahwa keadaan nya aman, dia membuka lebar kedua pintu rumah nya.


"Ayo cepat masuk..


Nanti kalau prajurit Panjalu melihat kita bisa gawat", ujar Ki Kromo dengan cepat.


Nyi Tepasan dan si brewok berbadan besar itu segera masuk diikuti oleh para kuli angkut barang yang berjumlah sekitar 20 orang. Senopati Warigalit yang ada di tengah-tengah mereka sedikit menundukkan kepalanya, takut di kenali oleh Ki Kromo.


Setelah mereka semua masuk ke dalam rumah, Ki Kromo segera menutup pintu rumahnya dengan tergesa-gesa. Lalu lelaki tua itu segera berjalan ke salah satu sudut ruangan, pada sebuah ranjang tidur besar.


Jarasanda segera mengikuti langkah Ki Kromo. Dia membantu menggeser posisi ranjang tidur itu. Setelah ranjang tidur besar berpindah tempat, di bawahnya sebuah lobang besar nampak gelap. Dengan lampu minyak jarak yang menjadi pelita, Ki Kromo menoleh ke arah Nyi Tepasan.


"Jalan nya lewat sini, Nyi", ujar Ki Kromo sambil menunjuk ke arah lobang jalan rahasia.


Para kuli angkut barang yang seluruhnya adalah para prajurit Panjalu mulai mengangkat peti kayu bahan makanan untuk mendekat ke arah lobang jalan rahasia itu.


Tanpa sengaja, seorang prajurit Panjalu tersandung jalannya hingga peti kayu bahan makanan yang di bawanya jatuh dan berantakan.


Ki Kromo terkejut bukan main saat melihat sebuah senjata tersimpan di dalam peti kayu bahan makanan. Dia menunjuk ke arah si prajurit yang tersandung.


"Kau.. Kau bukan kuli angkut barang..


Kau mata-mata", ujar Ki Kromo yang bergegas mencabut keris di pinggangnya.


Begitu penyamaran mereka terbongkar, Senopati Warigalit segera melesat cepat kearah Ki Kromo dan dengan cepat menotok jalan darah kakek tua itu.


Thuk thhuukk!


Ki Kromo langsung kaku tak bisa bergerak. Senopati Warigalit segera menoleh ke arah si lelaki brewok berbadan besar di samping Nyi Tepasan.


"Cepat!


Ikat dia dan sumpal mulutnya dengan kain. Jangan sampai dia membocorkan rahasia kita", perintah Senopati Warigalit yang membuat si brewok berbadan besar itu segera mengambil seutas tali yang tadi di gunakan untuk mengikat peti kayu bahan makanan pada gerobak.


Segera dia mengikat tubuh Ki Kromo dan menyumpal mulut kakek tua itu dengan baju yang di pakainya. Kemudian si brewok berbadan besar itu membawa tubuh Ki Kromo ke sudut ruangan.


"Lain kali kau harus hati-hati. Sekali kita ketahuan, pasti nyawa melayang. Kau mengerti?", ujar Senopati Warigalit yang membuat si prajurit tadi segera mengangguk mengerti.


Berbekal obor yang sudah di siapkan oleh Ki Kromo, Nyi Tepasan dan para kuli angkut barang memasuki jalan rahasia yang menembus ke dalam ruang selir Adipati Mpu Pamadi.


Lorong sempit yang hanya di lewati 2 orang itu begitu sunyi. Nyi Tepasan dan para kuli angkut barang nya terus masuk ke dalam.


Setelah cukup lama berjalan di lorong jalan rahasia itu, terlihat sebuah cahaya di ujung terowongan itu. Nyi Tepasan dan para prajurit Panjalu yang menyamar bergerak menuju ke sana.


Di ujung terowongan, sebuah tangga kayu terlihat dan Nyi Tepasan segera naik. Begitu wajah cantik saudagar wanita kaya itu menyembul, puluhan prajurit Kadipaten Kembang Kuning terlihat mengacungkan pedangnya.


"Apa maksud nya ini semua, Tumenggung Kertawahana?", tanya Nyi Tepasan dengan cepat. Tak terlihat sama sekali rona ketakutan di wajah pedagang itu.


"Hehehe maaf Nyi.. Kami hanya waspada saja.


Kalian semua , turunkan senjata kalian. Cepat!", teriak Tumenggung Kertawahana yang membuat para prajurit Kembang Kuning segera menyarungkan senjata mereka masing-masing.

__ADS_1


Usai Nyi Tepasan keluar, Senopati Warigalit yang tengah menyamar langsung naik diikuti oleh Jarasanda.


Mereka segera mengeluarkan peti kayu bahan makanan dengan cara menarik tali tambang untuk mengangkat ke atas.


Barnawa yang berada di dekat Tumenggung Kertawahana segera membongkar tumpukan bahan makanan di dalam peti kayu untuk memastikan bahwa semuanya hanya berisi bahan makanan. Senopati Warigalit melirik ke arah Jarasanda. Dia takut kegugupan Jarasanda akan terlihat oleh para prajurit Kembang Kuning. Untung saja gelap malam menyamarkan itu semua.


Usai tak menemukan apa-apa, Barnawa mengangguk pada Tumenggung Kertawahana dan perwira tinggi prajurit Kadipaten Kembang Kuning itu memberi isyarat kepada Nyi Tepasan untuk melanjutkan pekerjaannya.


Senopati Warigalit dan Tumenggung Jarasanda terlihat menghembuskan nafas lega.


Mereka berdua dengan cepat membantu kawannya yang lain untuk segera mengangkat peti kayu bahan makanan ke atas. Setelah semuanya beres, mereka segera menaikkan peti kayu bahan makanan itu keatas gerobak kayu yang sudah di siapkan untuk membawa bahan makanan ke gudang Istana Kadipaten Kembang Kuning.


Hari menjelang pagi. Para prajurit Kembang Kuning sebagian mulai tertidur lelap. Yang mengawasi para kuli angkut barang pun sebagian terlihat mengantuk. Tiga hari ini mereka di paksa untuk berjaga dalam waktu yang lama hingga kurang tidur.


Di pergudangan istana, para kuli angkut barang kembali menurunkan peti kayu bahan makanan. Salah satu peti kayu di letakkan pada sudut gelap yang tidak terlihat oleh mata 2 prajurit yang mengawasi mereka. Di peti kayu itulah senjata para prajurit Panjalu di sembunyikan.


Senopati Warigalit dan Tumenggung Jarasanda perlahan mengambil senjata mereka di peti kayu yang di sembunyikan. Tumenggung Ludaka memberikan isyarat agar mereka sedikit ribut agar perhatian para prajurit pengawas itu lengah, dan benar saja, keributan itu membuat para prajurit pengawas tidak melihat Jarasanda dan Warigalit yang menghilang dari pandangan. Tumenggung Landung bergegas mengikuti langkah sang Senopati sedangkan Tumenggung Ludaka terus menata aneka bahan makanan itu ke gudang istana.


Senopati Warigalit dan Tumenggung Jarasanda juga Tumenggung Landung bergerak cepat menuju ke pintu gerbang selatan Istana Kadipaten Kembang Kuning. Langit di timur sudah terlihat terang.


Para prajurit Kembang Kuning yang tengah menjaga pintu gerbang istana Kadipaten, sebagian besar tertidur pulas di tempat mereka berjaga.


Dengan cepat, Senopati Warigalit melesat cepat kearah seorang prajurit yang tertidur di dekat tembok istana. Senopati Warigalit segera membekap mulutnya hingga si prajurit itu berusaha berteriak namun kalah tenaga.


Heeeemmmmppppphhhhhhff...


Warigalit dengan cepat memuntir kepala si prajurit penjaga gerbang istana Kadipaten Kembang Kuning itu.


Kllleetthhhukkk..!


Si prajurit itu langsung tewas dengan leher patah. Ludaka dan Jarasanda pun melepaskan hal serupa hingga pembantaian mereka terhadap para prajurit penjaga gerbang istana Kadipaten Kembang Kuning nyaris tanpa bunyi.


Tiga perwira tinggi prajurit Panjalu itu menyeret tubuh para prajurit ke bawah tembok istana.


Usai berhasil menghabisi mereka, tiga orang perwira tinggi prajurit Daha itu segera menuju ke samping pintu gerbang yang di kunci dengan palang kayu jati sebesar badan orang dewasa.


Mereka bertiga segera menarik tali tambang yang digunakan untuk mengangkat palang kayu itu bersamaan. Jarasanda di kiri, Ludaka di kanan dan Warigalit memanggul palang kayu di tengah.


Sekuat tenaga mereka mengangkat. Ludaka yang terlihat tak kuat berusaha menahan beban kayu hingga dia tertarik kearah pintu gerbang. Senopati Warigalit buru-buru berguling ke tanah untuk menghindari tertimpa palang pintu gerbang istana. Palang pintu gerbang jatuh hingga menimbulkan suara keras.


Warigalit segera melompat mundur. Dia dengan cepat merapal Ajian Tapak Dewa Api nya lalu menghantamkan tangan kanannya yang berwarna merah menyala seperti api kearah palang pintu gerbang istana.


Jlllaaaarrrrrr!!!


Palang kayu jati sebesar badan orang dewasa itu langsung hancur berkeping keping. Jarasanda dan Tumenggung Ludaka langsung menarik daun pintu gerbang istana.


Mendengar suara ledakan dahsyat tadi para prajurit Panjalu yang di luar tembok istana Kadipaten Kembang Kuning segera merangsek maju ke dalam istana setelah pintu gerbang istana Kadipaten Kembang Kuning terbuka lebar.


Sementara itu para prajurit Kembang Kuning yang terbangun dari tidurnya tak sempat bersiap untuk menghadapi serangan di kala fajar menyingsing di langit timur.


Di pagi buta itu terjadi pertempuran di dalam istana Kadipaten Kembang Kuning.


Di gudang makanan istana, begitu mendengar bunyi ledakan, Tumenggung Ludaka segera mengambil pedang pendek nya dan melesat ke arah para prajurit pengawas yang lengah perhatian nya.


Shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh!!


Aauuggghhhh ough!!!


Dua orang prajurit Kembang Kuning itu langsung tersungkur bermandikan darah segar.


Keadaan di dalam istana Kadipaten Kembang Kuning langsung kacau balau.


Tumenggung Kertawahana yang baru sekejap memejamkan matanya langsung terbangun dari tidurnya setelah ledakan dahsyat terdengar dari sisi gerbang selatan.


Laki laki bertubuh tegap itu segera bergegas menuju ke arah ruang pribadi adipati untuk memastikan keselamatan sang pemimpin.


Tumenggung Kertawahana yang baru sampai gugup saat seorang prajurit yang bertugas di sebelah gerbang selatan melapor situasi disana.


"Ampun Gusti Tumenggung,


Pasukan Panjalu memasuki istana setelah mereka membuka palang pintu gerbang istana. Mereka semua menyerbu masuk", lapor sang prajurit dengan cepat.


"Membuka palang pintu gerbang istana?


Itu berarti mereka sudah masuk ke dalam istana ini lebih dulu. Tapi bagaimana caranya, sedangkan kami saja kesulitan untuk keluar?


Atau jangan-jangan...


Bangsat kau Nyi Tepasan!!!", maki Tumenggung Kertawahana sembari melesat cepat kearah gudang bahan makanan. Dia sangat marah mengetahui Nyi Tepasan mengkhianatinya.


"Dimana para kuli angkut barang itu?", tanya Tumenggung Kertawahana pada seorang prajurit yang tengah bersiap untuk menghadapi pasukan Panjalu.


"Mereka masih di gudang makanan, Gusti Tumenggung", jawab si prajurit penjaga itu segera.


Tumenggung andalan Kembang Kuning itu langsung berlari cepat kearah gudang bahan makanan.


Usai melihat mereka sedang bersiap untuk pergi, Tumenggung Kertawahana menghadang mereka dengan sebilah pedang terhunus di tangan kanannya.

__ADS_1


"Berhenti kalian para penyusup!", teriak Tumenggung Kertawahana yang membuat semua orang segera menghentikan langkah mereka. Nyi Tepasan langsung pucat wajah nya.


"Hemmmmmmm..


Rupanya kita tidak perlu menyamar lagi. Para prajurit Panjalu, bersiap!", ujar Tumenggung Ludaka yang segera di sambut dengan anggukan kepala dari para prajurit Panjalu yang menghunus senjata mereka masing-masing.


"Dasar laknat!


Ku bunuh kalian!", teriak Tumenggung Kertawahana sembari melesat cepat kearah Tumenggung Ludaka. Tangan kanan nya memutar pedang, sementara tangan kirinya bersiap untuk menghantam.


Tumenggung Ludaka langsung meraba pinggang nya, lalu melemparkan senjata rahasia yang menjadi andalannya.


Shrrriinnnggg shhhrriinggg!


4 pisau kecil melesat cepat kearah Tumenggung Kertawahana.


Perwira tinggi prajurit Kembang Kuning itu langsung merubah gerakan tubuhnya demi menghindari serangan senjata rahasia dari Tumenggung Ludaka.


Usai lolos dari maut, Tumenggung Kertawahana hantamkan tangan kirinya yang dilambari tenaga dalam tingkat tinggi kearah Tumenggung Ludaka.


Whuuussshh..


Angin kencang berhawa panas bergulung dari tangan kiri Tumenggung Kertawahana yang menggunakan Ajian Angin Neraka.


Jlllaaaarrrrrr!!


Angin panas menghantam tiang gudang istana hingga tiang itu meledak dan hancur berantakan. Tumenggung Ludaka yang terkenal dengan kemampuan ilmu meringankan tubuh nya dengan mudah menghindari serangan Tumenggung Kertawahana.


Lalu dengan bertubi-tubi dia melemparkan puluhan senjata rahasia yang dia miliki kearah Tumenggung Kertawahana. Tumenggung andalan Kembang Kuning itu terpaksa harus berjumpalitan kesana kemari menghindari serangan senjata rahasia Tumenggung Ludaka.


Sesekali ia menghantamkan tangan kiri nya yang mengeluarkan Ajian Angin Neraka andalannya.


Pertarungan antara dua perwira tinggi prajurit itu berlangsung sengit. Berpuluh jurus mereka lewati. Para prajurit Panjalu yang menyamai sebagai kuli angkut barang menahan nafas melihat itu dengan perasaan harap harap cemas. Pun Nyi Tepasan yang berdiri agak jauh dari tempat pertarungan itu.


Merasa persendian senjata rahasia nya sudah menipis, Tumenggung Ludaka memutar otak untuk mengalahkan Tumenggung Kertawahana dengan cepat.


Sahabat karib Demung Gumbreg itu segera melempar dua pisau kecil nya kearah kaki Tumenggung Kertawahana hingga sang perwira prajurit Kadipaten Kembang Kuning itu terpaksa harus melompat tinggi menghindari dua pisau kecil berbahaya itu.


Dengan gerakan cepat bagai kilat, Tumenggung Ludaka melesat ke arah pinggang Tumenggung Kertawahana yang terbuka pertahanan nya.


Shreeeeettttthhh..


Aaaarrrgggggghhhhh!!


Tumenggung andalan Kembang Kuning itu menjerit keras sembari hantamkan tangan kirinya kearah Tumenggung Ludaka. Pemimpin Pasukan Lowo Bengi itu terpaksa mengerahkan seluruh tenaga dalam nya untuk menahan Ajian Angin Neraka Tumenggung Kertawahana.


Blllaaammmmmmmm!!!


Dua orang perwira tinggi prajurit itu sama sama terpental beberapa tombak ke belakang. Tumenggung Ludaka segera meludah ke tanah. Ada darah segar yang bercampur ludah. Tumenggung andalan Panji Watugunung itu merasakan sesak napas nya seperti tertimpa pohon besar.


Sementara itu Tumenggung Kertawahana menghantam tumpukan peti kayu bahan makanan. Dia langsung diam tak bergerak sedikitpun. Rupanya sabetan pedang pendek Tumenggung Ludaka merobek perutnya hingga ususnya terburai keluar. Tumenggung Kertawahana tewas dengan perut menganga.


Di temani oleh para prajurit Panjalu yang menyamar, Tumenggung Ludaka segera meninggalkan tempat itu.


"Ayo serbu!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁

__ADS_1


Selamat membaca 🙏😁🙏


__ADS_2