Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Rencana Selanjutnya


__ADS_3

Permasalahan Bermana dan Rumani semakin membuat hubungan antara Watugaluh dan Tamwelang memanas. Setiap warga Watugaluh takut untuk sekedar berdagang ke Tamwelang begitu juga warga Tamwelang dilarang untuk berhubungan dengan warga Watugaluh.


Bentrokan bentrokan kecil antara dua Pakuwon bertetangga itu semakin sering terjadi.


Suatu malam, warga Wanua Mangku yang ada di selatan wanua Rengkoh menghadang warga Wanua Padelegan yang masuk Wilayah Pakuwon Kunjang.


Mereka mengira bahwa yang mereka hadang adalah warga Wanua Kamulan. Tanpa banyak bertanya, mereka mencurigai warga Padelegan yang mereka tuduh sebagai mata mata yang dikirim oleh Watugaluh.


"Hentikan omong kosong mu!


Kami ini dari Padelegan, tidak ada hubungannya dengan permasalahan antara Watugaluh dan Tamwelang", ujar seorang lelaki paruh baya yang menjadi pedagang keliling yang biasa mengambil dagangan dari Kadipaten Matahun.


"Kami tidak percaya!


Kalian pasti dikirim orang orang Watugaluh untuk mengetahui keadaan kami.


Kawan kawan, tangkap mereka!", ujar seorang lelaki berkumis tebal dengan lantang.


Puluhan warga Wanua Mangku langsung mengepung para pedagang dari Padelegan.


"Menyerahlah!


Atau kami akan memakai kekerasan terhadap kalian", ujar seorang lelaki warga Wanua Mangku yang sepertinya merupakan tokoh masyarakat disitu.


Si lelaki berkumis tebal itu sedikit tidak senang dengan sikap lunak sang tokoh masyarakat Wanua Mangku.


Segera dia menendang bokong seorang lelaki bertubuh gempal dengan sengaja. Lelaki bertubuh gempal itu terhuyung ke depan.


Melihat kelebatan senjata yang terayun ke arah mereka, para pedagang dari Padelegan langsung menangkis dengan senjata mereka.


Pertarungan sengit terjadi di malam itu.


Si lelaki berkumis tebal itu tersenyum sinis melihat pemandangan itu. Rencananya untuk memanaskan suasana di perbatasan berhasil. Rupanya dia adalah mata mata yang ditugaskan oleh Senopati Jambuwana untuk memancing kekacauan di perbatasan antara Jenggala dan Panjalu.


Malam itu mereka membantai kaum pedagang dari Padelegan. Seorang yang berhasil kabur dari pembantaian itu segera menggebrak kudanya meninggalkan tempat itu.


Si lelaki berkumis tebal itu segera membidik si pengawal pedagang yang telah melewati perbatasan wilayah dengan panahnya.


Whuuuuttt


Anak panah melesat cepat kearah punggung si pengawal pedagang yang tengah memacu kuda tunggangan nya.


Creeppp


Ougghhh


Si pengawal pedagang menjerit keras namun dia berusaha untuk tetap menjaga keseimbangan tubuhnya. Kudanya terus melesat ke arah barat daya dimana Kota Pakuwon Kunjang berada.


"Keparat!


Dia berhasil lolos", teriak seorang lelaki warga Wanua Mangku dengan geram.


"Biarkan saja dia kabur,


Aku yakin dia pasti akan mampus kehabisan darah", ujar si lelaki berkumis tebal itu sambil tersenyum menyeringai lebar.


Si pengawal pedagang terus menggenjot kudanya tanpa mempedulikan rasa sakit yang menyerang punggung nya. Kuda tunggangan nya terus melesat ke arah Kota Pakuwon Kunjang.


Menjelang tengah malam, si pengawal pedagang itu mencapai Kota Pakuwon Kunjang. Dia terus menguatkan dirinya agar sampai di istana Pakuwon Kunjang.


Begitu sampai di depan istana Pakuwon Kunjang, si pengawal pedagang itu terjatuh dari kudanya.


Dua orang prajurit penjaga gerbang istana langsung mendekati nya.


"Ada apa ini?", tanya seorang prajurit berbadan tegap yang segera meletakkan tameng dan tombak nya. Buru buru dia berusaha menolong orang itu.


"Ndoro Prajurit,


Warga Wanua Mangku mem-membantai rombongan pe-pedagang Wanua Padelegan", usai berkata demikian si pengawal pedagang tewas. Luka akibat anak panah yang menancap di punggung nya membuka nya kehilangan banyak darah.


Si prajurit penjaga gapura istana itu segera bergegas menuju ke istana pribadi Akuwu Kunjang, Rakeh Sani.


Kebetulan sang Akuwu Kunjang belum terlelap meski malam sudah larut. Pria muda itu sedang asyik bercakap dengan Bekel Prajurit Pakuwon Kunjang, Winata yang merupakan teman seperguruannya.


Si prajurit penjaga gerbang istana segera menghormat pada Rakeh Sani.


"Mohon ampun Gusti Akuwu,


Rombongan para pedagang wanua Padelegan di bantai warga Wanua Mangku. Seorang pengawal mereka berhasil lolos dan melapor masalah ini namun dia tewas setelah melaporkan", ujar si prajurit penjaga gerbang istana dengan hormat.


Rakeh Sani dan Bekel Winata segera saling berpandangan sejenak. Mereka lalu berdiri dan melangkah dengan cepat menuju ke pintu gerbang istana diikuti oleh sang prajurit penjaga gerbang.


Mata Rakeh Sani terbelalak melihat jasad seorang lelaki yang tewas dengan anak panah menancap di punggung nya.


"Winata,


Apa saran mu untuk masalah ini?", tanya Rakeh Sani sambil menatap ke arah kawannya itu.


"Sebaiknya kita laporkan hal ini pada Gusti Pangeran Jayengrana. Permasalahan ini pasti ada sangkut pautnya dengan permasalahan di wilayah Watugaluh dan Tamwelang, Gusti Akuwu.


Lebih baik kita tidak gegabah agar tidak membutuhkan suasana semakin panas", ujar Bekel Winata segera.


Rakeh Sani segera mengangguk mengerti.


Keesokan paginya..

__ADS_1


Rakeh Sani dan Bekel Winata ditemani beberapa prajurit Pakuwon Kunjang berangkat ke Kadiri untuk melaporkan kejadian tersebut kepada Panji Watugunung.


Saat mereka mencapai batas kota Kadiri, mereka berpapasan dengan iring-iringan kuda dari Watugaluh yang dipimpin oleh Akuwu Watugaluh, Setyaka.


"Gusti Akuwu Kunjang,


Ada apa pagi pagi begini sudah sampai di Kadiri?", tanya Akuwu Setyaka dengan senyum manisnya.


"Gusti Akuwu Watugaluh,


Ada sesuatu yang penting yang telah terjadi menimpa warga Wanua Padelegan. Aku ingin membicarakan masalah ini dengan Gusti Pangeran Jayengrana", jawab Akuwu Kunjang dengan tegas.


"Sama kalau begitu,


Ulah para prajurit Tamwelang yang membuat keributan di perbatasan kami membuat ku semakin gerah. Aku ingin minta saran dari Gusti Pangeran Jayengrana, saudara Rakeh Sani", ucap Akuwu Setyaka, penguasa Pakuwon Watugaluh.


"Kalau begitu, kita sebaiknya bersama sama menghadap ke Istana Katang-katang, saudara Setyaka.


Masalah ini tidak bisa dibiarkan begitu saja", ujar Akuwu Rakeh Sani segera.


Dua rombongan Pakuwon itu segera bergegas menuju ke arah istana Katang-katang.


Saat sampai di gerbang istana Katang-katang, dua prajurit penjaga gerbang istana segera menghormat pada mereka. Rombongan itu segera masuk ke dalam istana.


Kedatangan mereka berdua mendapat sambutan dari Patih Saketi yang juga tengah menanti kedatangan Panji Watugunung.


"Salam hormat kami, Gusti Patih", ujar Rakeh Sani dan Bekel Winata yang segera menghormat pada Patih Saketi.


"Salam hormat saya, Gusti Patih Saketi", ujar Akuwu Setyaka sambil menghormat pada warangka Kayuwarajan Panjalu itu.


Hemmmm


"Tumben sekali kalian berdua hadir bersamaan di istana Katang-katang.


Apa ada hal penting yang perlu dibicarakan?", tanya Patih Saketi dengan menatap ke arah mereka berdua.


"Mohon maaf Gusti Patih,


Saya ingin melaporkan kejadian yang tadi malam menimpa warga Wanua Padelegan.


Para pedagang keliling dari wanua itu di bantai warga Wanua Mangku di wilayah Tamwelang. Mohon kebijaksanaan dari Gusti Patih Saketi untuk masalah ini", ucap Akuwu Rakeh Sani segera.


"Kalau kau,


Apa yang akan kau bicarakan dengan Gusti Pangeran Jayengrana, Akuwu Setyaka?", tanya Patih Saketi yang segera mengalihkan pandangannya pada Akuwu Watugaluh itu.


"Belakangan ini, para prajurit Jenggala terutama yang ada di perbatasan selalu mencari gara-gara dan masalah dengan kami di Watugaluh, Gusti Patih.


Kami mulai gerah dengan ulah mereka. Mohon Gusti Patih memberikan pemecahan masalah untuk perkara ini", Akuwu Setyaka menghormat pada Patih Saketi.


Hemmmm


Aku tidak bisa memutuskan apa yang harus kalian lakukan karena permasalahan ini tidak main-main.


Kita tunggu saja Gusti Pangeran Jayengrana. Biar dia yang memutuskan apa yang harus kita lakukan", ujar Patih Saketi dengan bijak.


Saat mereka berbincang beberapa waktu, dari arah depan seorang prajurit penjaga gapura istana pribadi Yuwaraja berteriak lantang.


"Sang Yuwaraja Panjalu, Gusti Pangeran Jayengrana memasuki ruangan".


Keempat orang itu segera berjongkok dan menyembah pada Panji Watugunung yang datang di temani oleh Ayu Galuh dan Dewi Naganingrum.


Setelah Panji Watugunung duduk, diikuti oleh Ayu Galuh dan Dewi Naganingrum, Yuwaraja Panjalu itu segera mengangkat tangan kanannya.


Patih Saketi, Akuwu Setyaka, Akuwu Rakeh Sani dan Bekel Winata segera kembali duduk bersila di lantai istana pribadi Yuwaraja.


"Sembah hormat kami kepada Gusti Pangeran Jayengrana, Sang Yuwaraja Panjalu", ucap keempat orang punggawa Kayuwarajan Panjalu dengan penuh hormat.


"Terima kasih atas sembah bakti kalian,


Paman Setyaka ada apa kau datang kemari? Bukankah kau sudah kuberi tugas untuk menyediakan lumbung pangan di wilayah Watugaluh?", tanya Panji Watugunung dengan sedikit keheranan.


Akuwu Setyaka segera menyembah pada Panji Watugunung dan mulai menceritakan tentang keadaan di sekitar Watugaluh yang mencekam. Panji Watugunung mendengar setiap ucapan Akuwu Setyaka tanpa menyela sedikitpun.


"Demikianlah Gusti Pangeran,


Kami berharap agar Gusti Pangeran Jayengrana memberikan kebijakan apa yang harus kami lakukan", ujar Akuwu Setyaka mengakhirinya laporan nya.


"Kalau kau Akuwu Rakeh Sani,


Apa masalah mu?", tanya Panji Watugunung sambil menoleh ke arah Rakeh Sani.


Rakeh Sani segera melaporkan kejadian yang tadi malam terjadi. Panji Watugunung segera menghela nafas panjang.


Saat Panji Watugunung sedang berfikir keras untuk mencari pemecahan masalah ini, dari luar istana Katang-katang Tumenggung Adiguna dari Daha berjalan tergesa-gesa menuju ke istana pribadi Yuwaraja.


"Mohon ampun Gusti Pangeran bila hamba mengganggu,


Pasukan Jenggala di Lwaram bergerak menuju ke arah Daha. Mereka telah sampai di perbatasan Lasem dan Bojonegoro. Gusti Maharaja Samarawijaya telah memerintahkan kepada Senopati Narapraja untuk menghadapi mereka", ujar Tumenggung Adiguna sambil menghormat pada Panji Watugunung. Semua orang yang ada di sana langsung terkejut mendengar ucapan Tumenggung Adiguna.


Hemmmm


"Berapa banyak prajurit yang sudah dikerahkan untuk menghadapi mereka?", tanya Panji Watugunung segera.


"Menurut telik sandi yang melapor, mereka berjumlah 10 ribu prajurit Gusti Pangeran. Gusti Prabu Samarawijaya menyuruh Gusti Senopati Narapraja untuk membawa 10 ribu prajurit yang terdiri dari prajurit Lasem, Lewa, Kurawan dan Anjuk Ladang serta prajurit Daha", ujar Tumenggung Adiguna segera.

__ADS_1


"Jadi istana Daha hanya tinggal 10 ribu prajurit saja.


Rupanya mereka sengaja memecah perhatian kita agar mudah menyerang kemari.


Paman Patih Saketi,


Panggil semua punggawa Kayuwarajan Panjalu kemari. Cepat!", titah Panji Watugunung segera.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", ujar Patih Saketi yang segera menyembah pada Panji Watugunung dan mundur dari serambi istana pribadi Yuwaraja.


Dengan bantuan beberapa prajurit, para punggawa Kayuwarajan Panjalu segera berkumpul di istana Katang-katang.


Senopati Warigalit, Tumenggung Landung, Tumenggung Ludaka, Demung Gumbreg, Demung Rakai Sanga, Demung Marakeh dan Patih Saketi tampak duduk bersila di hadapan Panji Watugunung selain Tumenggung Adiguna, Akuwu Setyaka dan Akuwu Rakeh Sani serta Bekel Winata.


"Sekarang dengar baik-baik ucapan ku.


Jenggala telah menyerbu ke Daha. Sebagai prajurit kita tidak boleh berdiam diri begitu saja. Aku sudah menduga bahwa cepat atau lambat, mereka akan menyerbu kemari.


Sekarang aku akan membagi tugas diantara kita.


Kakang Warigalit dan Tumenggung Landung akan menghadang laju pergerakan prajurit Jenggala. Hadang mereka agar tidak masuk ke wilayah Panjalu. Kalian akan di bantu oleh para prajurit dari Karang Anom, Tanggulangin, Gelang-gelang dan Seloageng. Bala bantuan dari Lodaya akan bersiap di sepanjang sungai Brantas. Begitu kalian berhasil mengalahkan mereka, kuasai daerah Jenggala yang berhasil kita taklukkan. Tata para prajurit di sepanjang garis kemenangan yang kita kuasai.


Aku, Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg akan menghadapi mereka yang bergerak dari Pakuwon Tamwelang. Jarasanda dan pasukan Garuda Panjalu akan ikut bersama ku. Kali ini tiada ampun untuk mereka. Kita gempur mereka. Prajurit bantuan dari Rajapura, Paguhan, Kalingga dan Kembang Jenar akan ku pimpin disini bersama prajurit Kadiri.


Demung Rakai Sanga,


Kau ku tugaskan untuk menjaga Istana Katang-katang dari segala situasi.


Demung Marakeh,


Tugas mu memimpin pasukan berkuda cepat yang akan menjadi penghubung antara aku, Kakang Warigalit dan Senopati Narapraja.


Apa kalian mengerti?", titah Panji Watugunung yang segera berdiri dari tempat duduknya.


"Kami mengerti Gusti Pangeran", jawab para pembesar istana Kadiri bersamaan.


Siang itu suasana di istana Katang-katang langsung memanas. Para prajurit Kadiri bersiap untuk berangkat ke medan perang.


Akuwu Setyaka segera pamit pulang ke Watugaluh untuk mempersiapkan para prajurit nya. Begitu juga Rakeh Sani dan Bekel Winata, mereka segera undur diri dari istana Kadiri dan bersiap untuk menghadapi perang yang segera terjadi.


Para istri Panji Watugunung segera menyiapkan segala keperluan Panji Watugunung yang akan memimpin pasukan Kadiri untuk menghadapi pasukan Jenggala yang bergerak di tengah.


Setelah semua selesai, Panji Watugunung ditemani oleh Dewi Srimpi, Dewi Naganingrum, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang berangkat ke medan laga. Dewi Anggarawati, Ayu Galuh dan Rara Sunti tidak di perbolehkan ikut karena tugas mereka adalah menjaga dua putra Panji Watugunung yang masih kecil bersama Patih Saketi.


"Berhati-hatilah Kangmas Panji,


Kami menunggu kepulangan mu disini", ujar Dewi Anggarawati sambil tersenyum manis.


Panji Watugunung segera tersenyum simpul kemudian menggebrak kudanya diikuti oleh keempat istri dan pasukannya.


Dua pasukan besar bergerak menuju dua arah yang berlainan. Panji Watugunung memimpin 8 ribu bergerak menuju ke timur laut, sedangkan Warigalit memimpin 10 ribu prajurit bergerak menuju ke arah tenggara.


Pasukan Panjalu yang dipimpin oleh Panji Watugunung terus bergerak menuju ke timur laut. Sesampainya di istana Pakuwon Kunjang, mereka langsung membangun tenda perkemahan di Utara Kota Pakuwon karena hari sudah mulai beranjak sore.


Akuwu Kunjang, Rakeh Sani menyambut kedatangan Panji Watugunung dan keempat istri nya di balai pisowanan Pakuwon Kunjang.


Malam itu para pemimpin pasukan duduk di serambi balai tamu Pakuwon Kunjang untuk mendengar rencana Panji Watugunung. Ada Senopati Janadi dari Kalingga, Senopati Sukendro dari Bhumi Sambara, Tumenggung Rakai Wangi dari Rajapura, Senopati Taradipa dari Paguhan dan Tumenggung Wiramaya dari Kembang Jenar. Jarasanda, Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg juga hadir di sana.


Ratna Pitaloka yang mendampingi Panji Watugunung segera membuka percakapan antara mereka.


"Mereka telah berkumpul, Kakang..


Rencana apa yang ingin kau sampaikan?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya

__ADS_1


Selamat membaca 🙏🙏🙏


__ADS_2