
Kelompok Serigala Hitam terkenal sebagai pembunuh bayaran di wilayah Kotaraja. Markas mereka yang selalu berpindah tempat membuat para penegak hukum di wilayah Daha. Apa lagi ditambah dukungan dari beberapa pejabat istana Daha, membuat mereka selalu lolos dari kepungan para prajurit Daha.
Segera setelah mendapat perintah dari Ranggawangsa, kelompok yang beranggotakan 14 orang itu bergerak cepat meninggalkan tempat itu menuju kota Kabupaten Gelang-gelang.
Sementara itu Panji Watugunung dan keempat istrinya sudah memasuki kota Kabupaten Gelang-gelang. Sepanjang perjalanan, nampak sekali kemajuan di wilayah itu.
Rumah yang tertata rapi, terasa indah dipandang mata. Saluran air yang sedemikian rupa ditata, membuat jalan di wilayah kota Gelang-gelang tidak becek meski terlihat hujan baru saja turun.
Hilir mudik para pedagang dan pengelana terasa meramaikan suasana kota yang ada di utara sungai Brantas ini. Kebanyakan para pelancong dan peziarah yang menuju ke Siwatantra Palah lebih memilih lewat dari Kabupaten Gelang-gelang. Selain sangat sedikit begal yang menggangu, keadaan jalan juga keramahan penduduknya menjadi pilihan yang tepat untuk melakukan puja dan sembahyang di Siwatantra Palah di Kadipaten Seloageng.
Seorang prajurit penjaga gerbang istana langsung menghormat pada Panji Watugunung saat mereka tiba di depan pintu gerbang istana.
Panji Watugunung dan keempat istrinya segera menepuk punggung kudanya menuju sisi barat istana. Usai mereka berlima turun dari kudanya, para pekatik kuda segera membawa kuda mereka menuju kandang untuk di beri makan rumput dan dimandikan.
Dewi Anggarawati sedang menggendong Panji Tejo Laksono sambil menyusuinya saat Panji Watugunung masuk ke dalam Keputran Gelang-gelang.
"Selamat siang istriku yang cantik".
Begitu mendengar suara itu, Dewi Anggarawati langsung bergegas menuju ke arah Panji Watugunung segera.
"Kangmas,
Sejak kapan datang?", tanya Dewi Anggarawati sambil memeluk tubuh suaminya.
"Baru saja Dinda Anggarawati, kau setelah punya Tejo Laksono jadi melupakan suami", jawab Watugunung sambil tersenyum tipis.
"Bukan begitu Kangmas, nih lihat putra mu sedang menyusu. Dia tampan mirip dengan Kangmas, bukan?", Dewi Anggarawati menunjukkan bayi yang ada di gendongan nya.
Panji Watugunung segera mencium kening sang Panji kecil. Bayi itu menggeliat seakan mengerti dengan kehadiran ayahnya.
Saat mereka masih asyik bermain dengan Panji Watugunung, suara deheman terdengar dari belakang.
Ehemmmm ehemmm
Seketika Dewi Anggarawati menoleh dan tersenyum tipis melihat ketiga selir Panji Watugunung sedang menatap mereka berdua.
"Maafkan Anggarawati tidak menyambut kedatangan Kangmbok berdua dan Srimpi", ujar Dewi Anggarawati setelah mengulurkan Panji Tejo Laksono kepada ayahnya. Watugunung nampak senang sekali saat menggendong putra pertama nya ini.
"Ya sudah kebiasaan mu Putri Manja. Kalau ketemu Kakang Watugunung kau selalu lupa dengan kami", Sekar Mayang pura pura kesal dengan sikap Anggarawati.
"Bukan begitu Kangmbok Mayang, tapi aku kan hanya sedang mempertemukan Kangmas Panji dengan putranya", Anggarawati tersenyum tipis kemudian mendekati mereka.
"Ya iya, aku juga hanya bercanda dengan mu", ujar Sekar Mayang kemudian tersenyum tipis.
"Eh ini siapa Kangmbok Mayang?", tanya Dewi Anggarawati setelah melihat Dewi Naganingrum yang ada di belakang mereka.
"Oleh oleh khas Galuh Pakuan", jawab Sekar Mayang sambil melirik ke arah Panji Watugunung.
Ratna Pitaloka langsung mendelik ke arah Sekar Mayang.
"Mulut mu jahat sekali Mayang, manusia disamakan dengan oleh oleh", ucap Ratna Pitaloka sedikit kesal.
"Iya nih, Kangmbok Mayang pintar sekali buat orang kesal", timpal Dewi Srimpi.
Dewi Anggarawati tersenyum simpul mendengar ucapan mereka bertiga. Segera dia mendekati Naganingrum yang masih berdiri tanpa bicara.
"Namamu siapa, perempuan cantik?", tanya Anggarawati sambil tersenyum.
"Abdi teh Naganingrum, Ceu. Istri Akang Kasep dari Galuh Pakuan", ujar Dewi Naganingrum segera. Dia sudah di beri tahu Ratna Pitaloka agar menjaga kesopanan kepada istri pertama Panji Watugunung itu.
"Akang Kasep? Kangmas Panji Watugunung maksud mu?", tanya Anggarawati sedikit bingung dengan bahasa Galuh yang tidak pernah dia dengar.
"Leres Ceu, istri Akang Panji Watugunung", Naganingrum segera menjawab pertanyaan Dewi Anggarawati.
"Ohh begitu,
Ya salam kenal dari ku ya Naganingrum. Aku Anggarawati, istri pertama Kangmas Panji Watugunung.
Apa kau sudah mengerti keadaan Kangmas Panji?", Anggarawati menyelidik Naganingrum.
"Sudah, abdi mah percaya bahwa Akang Kasep bisa berbagi cinta dengan semua istri istri nya.
Kita juga harus mengerti, Akang Kasep bukan milik seorang saja", jawab Naganingrum sambil tersenyum tipis.
Saat mereka sedang berbincang hangat, Cempluk Rara Sunti yang sedari tadi di dapur hadir membawa nampan berisi makanan bersama Tantri dan Wandansari, dua pelayan Dewi Anggarawati.
Melihat Panji Watugunung, Rara Sunti tersenyum lebar. Dia segera meletakkan nampan berisi makanan itu diatas meja.
Panji Watugunung yang masih asyik menggendong Panji Tejo Laksono, langsung dipeluknya.
"Kakang kapan pulang nya?", tanya Rara Sunti sambil tersenyum tipis.
"Baru saja Cempluk,
Kamu kerasan tinggal di sini?", tanya Panji Watugunung segera.
"Iya Kakang, aku kerasan tinggal disini. Gusti Putri Anggarawati sangat baik pada ku", Cempluk Rara Sunti tersenyum lebar.
"Kau tidak kangen ayah dan ibumu?", Panji Watugunung menatap wajah Cempluk Rara Sunti.
"Kangen Kakang, tapi lebih kangen sama kakang Watugunung", Cempluk merona merah wajah nya.
"Dasar gadis nakal", Panji Watugunung mencubit hidung Rara Sunti.
__ADS_1
Sore itu keluarga besar Panji Watugunung hampir berkumpul semua kecuali Ayu Galuh. Keenam perempuan itu rukun, walaupun kadang ucapan pedas Sekar Mayang membuat mereka terpancing emosi nya.
Mereka semua nya sangat bergembira setelah Panji Watugunung mengutarakan maksud nya, jika setelah ini, dia akan ke Seloageng meminta Mpu Soma dari Ranja untuk memilih tempat yang bagus di wilayah Kadri, Kunjang dan Watugaluh sebagai istana pribadinya sebagai yuwaraja.
Sementara itu, Kelompok Serigala Hitam sudah mulai memasuki wilayah kota Gelang-gelang.
Dengan menyamar sebagai pengelana, salah seorang anggota kelompok itu berhasil mengorek keterangan dari penduduk tentang letak istana dan Panji Watugunung yang baru sampai.
"Mereka baru sampai siang tadi Ki, dia selalu di kawal 3 atau 4 perempuan cantik. Menurut penduduk, perempuan itu selain cantik juga berilmu tinggi", ujar Gandul yang baru selesai menyamar.
Hemmmm
"Kalau begitu, gunakan racun kembang wisa untuk melumpuhkan mereka.
Kita harus berhati-hati dalam bertindak", ujar Ki Samba sambil menenggak minuman keras nya.
Setelah langit merah mulai berganti gelap, Kelompok Serigala Hitam mulai bergerak menuju ke istana Kabupaten Gelang-gelang.
Saat para prajurit penjaga lengah, mereka melompat ke atas tembok istana dengan memanfaatkan gelap malam dan ilmu meringankan tubuh nya.
Panji Watugunung yang sedang bercengkrama dengan istri istri nya langsung menoleh saat merasakan hawa nafsu membunuh yang pekat dari arah selatan.
"Dinda Anggarawati, gendong Tejo Laksono baik baik. Cepat!", perintah Panji Watugunung segera.
Panji Tejo Laksono yang ada ditangan Wandansari, langsung diulurkan pada Dewi Anggarawati. Wandansari segera berlari menuju ke ruang pribadi Bupati.
"Aya naon Akang Kasep?", tanya Dewi Naganingrum sambil mendekat ke arah Panji Watugunung.
"Ada beberapa pembunuh yang bergerak cepat menuju kesini. Kalian bersiaplah.
Sepertinya mereka bukan pembunuh biasa", ucap Panji Watugunung sambil terus menatap arah selatan.
Mendadak suasana yang sempat ceria langsung berubah menjadi tegang.
Dari arah selatan istana, 14 orang bayangan hitam melesat cepat meloncati atap bangunan istana dengan gerakan ringan.
Gandul sang wakil pimpinan kelompok langsung melompat ke atas atap istana keputran Gelang-gelang.
Tiba tiba..
Sringggg sringgg..
Dua jarum kecil berwarna hitam melesat cepat menuju atap. Gandul yang kaget, langsung melonjak menghindari.
Akibatnya keseimbangan Gandul hilang dan dia terpeleset ke atap bangunan istana.
Brukkk
Dewi Srimpi kembali melempar dua jarum kearah tempat jatuhnya Gandul secepat mungkin.
Satu jarum berhasil dihindari, namun satu jarum kelabang neraka telak menancap di paha Gandul.
Pria itu bergegas kabur, namun Dewi Srimpi segera mengejar nya.
Melihat lawan sudah mengetahui kehadiran mereka, Ki Samba langsung memerintahkan kepada anak buah nya untuk menyerbu masuk.
Mereka langsung di sambut dengan sabetan senjata dari masing-masing istri Panji Watugunung.
Pertarungan sengit segera terjadi di keputran.
Naganingrum menerjang kearah seorang lelaki berbaju hitam dengan gerakan cepat bak Rajawali. Cakar Rajawali Galunggung nya terus menyambar ke arah lawan yang kaget dengan kecepatan tinggi nya.
Sreeetttttt
Cakaran Dewi Naganingrum merobek leher si lelaki berbaju hitam itu. Dia menjerit kesakitan dan mundur beberapa langkah sambil membekap lukanya yang terus mengeluarkan darah.
Melihat lawan nya terpojok, dengan cepat Naganingrum segera melesat cepat menuju ke arah nya.
Si lelaki yang terluka parah berusaha menebaskan pedangnya ke arah leher sang putri Galuh Pakuan.
Naganingrum menekuk lutut nya menghindari sabetan pedang dan melayangkan pukulan keras ke perut lawan.
Deshhhhh
Oughhh
Lawan nya langsung terpelanting menabrak dinding serambi keputran.
Satu persatu anak buah Ki Samba berjatuhan. Laki paruh baya itu segera melompat ke arena pertarungan sambil menyabetkan pedang nya kearah Panji Watugunung yang sedang melindungi Anggarawati dengan Panji Tejo Laksono.
Panji Watugunung segera melompat ke udara menghindari sabetan pedang, namun serangan Ki Samba tidak berhenti sampai disitu. Serangan tapak wisa dia hantamkan ke arah Dewi Anggarawati yang sedang menggendong bayi.
Cempluk Rara Sunti yang baru menghabisi nyawa seorang lelaki berbaju hitam, melihat serangan itu. Dengan cepat putri Warok Suropati itu mendorong tubuh Dewi Anggarawati dan serangan tapak wisa Ki Samba telak menghajar punggungnya. Perempuan itu langsung jatuh terlempar dengan punggung menghitam.
Melihat kejadian amarah Panji Watugunung meledak seketika.
Dengan Ajian Sepi Angin, dia bergerak cepat setelah kakinya menjejak tanah. Dia melesat bagai kilat. Melihat lawan nya bergerak cepat Ki Samba segera membabatkan pedang kearah leher, namun Panji Watugunung mendadak sirna seketika saat serangan pedang hampir menyentuh kulit nya.
Ki Samba sangat terkejut saat sebuah pukulan bertenaga dalam tinggi menghajar punggungnya.
Deshhhhh
Laki laki paruh baya itu langsung terjungkal, belum sempat tubuh nya menyentuh tanah, kembali sebuah pukulan keras menghajar wajah nya.
__ADS_1
Bukkkkk
Ki Samba terlempar kesamping kanan dan menabrak dinding serambi keputran Gelang-gelang.
Bruakkk!!
Laki laki paruh baya itu langsung muntah darah segar akibat kerasnya pukulan tangan Panji Watugunung. Dengan kaki gemetar dia berusaha bangkit namun Panji Watugunung sekejap mata sudah ada di depannya dan langsung mencengkeram kuat lehernya.
"Katakan siapa yang menyuruhmu untuk membunuh ku?", teriak Panji Watugunung dengan mata merah menahan marah.
"Bu..Nuh.. sa..ja a..ku", ujar Ki Samba yang kesulitan bicara karena lehernya di cekik oleh Panji Watugunung.
"Baik, kalau itu mau mu..", usai berkata demikian Panji Watugunung segera merapal Ajian Guntur Saketi nya.
Seketika itu juga tangan kiri nya berubah warna menjadi putih kebiruan. Dan dengan cepat dia hantamkan ke dada Ki Samba.
Blammmm!!!
Dada Ki Samba langsung bolong tembus punggung. Dia tewas seketika.
Melihat sang pemimpin tewas, anggota kelompok Serigala Hitam yang tersisa segera berusaha untuk kabur. Namun ratusan prajurit Gelang-gelang sudah mengepung keputran sejak keributan terdengar.
Mereka segera ditangkap setelah di hajar beramai-ramai oleh prajurit yang menangkap mereka.
Sementara itu Dewi Srimpi segera melesat ke arah Dewi Anggarawati yang sedang kebingungan karena luka dalam Rara Sunti yang telah menolong nyawa nya. Dewi Srimpi segera menotok aliran darah Rara Sunti kemudian mengambil sebutir pil berwarna merah darah dari botol keramik kecil.
Sekar Mayang segera membantu Rara Sunti untuk duduk. Sementara itu Ratna Pitaloka segera menyalurkan tenaga dalam nya ke punggung Rara Sunti.
Huooooogghhhh!!
Rara Sunti muntah darah kehitaman. Setelah muntah, wajah nya tidak sepucat tadi. Ratna Pitaloka terus menyalurkan tenaga dalam nya, dan kembali Rara Sunti muntah darah kehitaman.
Air muka Rara Sunti berangsur membaik.
"Sunti,
Kau sudah lebih baik?", tanya Dewi Anggarawati dengan penuh perasaan cemas. Cempluk Rara Sunti mencoba untuk tersenyum dari bibir pucat nya.
Sementara itu, di luar serambi keputran, dua orang anggota kelompok Serigala Hitam yang masih hidup, sedang di pukuli para prajurit Gelang-gelang saat Panji Watugunung dan Dewi Naganingrum datang.
"Hentikan!
Aku masih ada urusan dengan mereka berdua", ucapan Panji Watugunung yang membuat para prajurit menghentikan gerakan mereka.
Dengan wajah dingin, Panji Watugunung segera mendekati mereka berdua.
"Katakan,
Siapa yang menyuruh kalian untuk membunuhku? Jika tidak mau bicara, kupastikan malam ini kalian akan menjadi daging cincang di tangan para prajurit Gelang-gelang", ancam Panji Watugunung segera.
Setelah saling berpandangan sejenak, seorang anggota kelompok Serigala Hitam yang bertubuh kurus langsung bicara.
"Kami di bayar Gusti Ranggawangsa".
Mendengar jawaban itu, Panji Watugunung terkejut bukan main. Rupanya ada yang tidak suka kehadiran nya di istana Daha. Panji Watugunung segera berpaling dan melangkah masuk ke serambi keputran. Raut wajah anggota kelompok Serigala Hitam itu terlihat lega. Namun itu hanya sesaat.
Dewi Naganingrum segera menebas leher keduanya dari pedang yang dipinjam dari seorang prajurit. Melihat mereka berdua bersimbah darah, perempuan itu hanya berkata pelan.
"Akang Kasep memang melepaskan kalian, tapi abdi mah tidak akan"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
__ADS_1
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian ya👍
Selamat membaca kak 😁😁