
Centeng bermuka seram itu segera melompat tinggi ke udara mengincar Warigalit yang masih duduk di atas kuda nya.
Sabetan golok besar nya berkelebat cepat kearah leher sang Senopati Kadiri.
Sreeeetttt
Warigalit dengan cepat memundurkan tubuhnya dan sabetan golok besar itu hanya menebas rambut kuda tunggangan nya.
Hiieeeekkkkhhh
Kuda meringkik keras dan Warigalit segera melompat turun dari kuda mendekati centeng bermuka seram.
Pertarungan sengit segera terjadi di sore hari itu.
50 centeng Nyi Lampet melawan 200 prajurit Kadipaten Karang Anom.
Si centeng bermuka seram itu terus memburu Warigalit dengan tebasan golok besar nya namun Senopati Kadiri itu dengan tenang menghindari serangan nya.
Melihat lawan berhasil menghindarkan diri dari serangan, si centeng kembali mengayunkan golok nya mengincar leher Warigalit.
Whuuuuttt
Warigalit berkelit ke samping, dan dengan cepat memutar tubuhnya lalu menghantam perut si centeng bermuka seram itu sekeras-kerasnya.
Bukkkkk
Si centeng yang telak kena hantaman Warigalit tubuhnya menekuk menahan sakit. Namun Warigalit yang ingin segera menyelesaikan pertarungan segera menghantamkan tangan kanannya ke dada kanan si centeng.
Deshhhh
Ougghhh
Laki laki bertubuh gempal itu terpelanting ke samping kemudian menyusruk tanah dengan keras.
Dia muntah darah segar. Berusaha untuk bangkit, tapi kakinya tak mampu menahan beban tubuh nya. Dia limbung dan terjatuh ke tanah.
Sementara itu, kawan nya yang lain satu persatu roboh di tangan para prajurit Pasukan Garuda Panjalu yang dipimpin oleh Jarasanda.
Tumenggung Rakryan Tirta yang menggantikan Senopati Mpu Yudhana memerintahkan kepada para prajurit Kadipaten Karang Anom untuk mengepung tempat pelacuran Nyi Lampet. Dengan membentuk pagar betis di sekeliling rumah besar itu.
Sementara di luar terjadi pertarungan antara para centeng melawan Pasukan Garuda Panjalu, Nyi Lampet sedang duduk ketakutan bersama Rara Murni dan Manggar di bangunan belakang rumah besar itu.
"Bagaimana ini Nyi?
Tempat mu ini sudah di kepung oleh ratusan prajurit Kadipaten Karang Anom. Kita tidak mungkin lolos dari mereka", ujar Manggar dengan penuh ketakutan.
"Tutup mulut mu!
Jangan kau banyak bicara. Aku tidak bisa memikirkan cara kalau kau banyak omong", hardik Nyi Lampet sambil mendelik tajam ke arah Manggar.
Bekas anak buah Gagak Merah itu langsung diam mendengar ucapan Nyi Lampet. Begitu juga Rara Murni yang duduk di sudut ruangan. Gadis buruk rupa itu juga benar-benar ketakutan.
Keadaan jadi hening sejenak.
Tiba-tiba terdengar suara keras dari luar rumah kediaman Nyi Lampet.
"Nyi Lampet,
Keluarlah! Kalau tidak, akan kami bakar tempat mu ini", teriakan keras Warigalit membuat jantung Nyi Lampet seperti di hantam palu besar.
"Kalian tunggu disini, apapun yang terjadi jangan keluar. Mengerti kalian?", ujar Nyi Lampet pada Manggar dan Rara Murni. Dua orang itu segera mengangguk mengerti.
Dengan sedikit membenarkan riasan wajah nya, Nyi Lampet melangkah menuju keluar rumah pelacuran nya.
Puluhan gadis muda dan beberapa lelaki hidung belang sudah di kumpulkan di halaman rumah itu.
Sedangkan para centeng yang sudah dilumpuhkan, di kumpulkan di sudut halaman rumah besar. Beberapa prajurit Kadipaten Karang Anom yang menjaga, sesekali memukul mereka.
Begitu Nyi Lampet keluar dari rumah, dia segera mendekati Warigalit.
"Maaf Gusti Perwira,
Ada apa ini? Kenapa tempat ku kau acak-acak tempat ku?", tanya Nyi Lampet berlagak bodoh.
"Huhhhhh..
Kau tau alasan ku datang kemari Nyi. Jangan banyak bicara. Cepat serahkan Ganajaya pada ku. Kalau tidak, hari ini tempat mu akan ku ratakan dengan tanah", jawab Warigalit dengan keras.
"Ampun Gusti Perwira,
Saya tidak mengerti apa maksud dari perkataan Gusti Perwira. Di tempat kami tidak ada yang bernama Ganajaya", jawab Nyi Lampet mencoba untuk berkilah.
"Mulutmu itu busuk Nyi,
Apa perlu aku tampar lagi biar kau bicara?", teriak Dewi Srimpi yang melompat turun dari kudanya.
Nyi Lampet terkejut bukan main melihat kedatangan Dewi Srimpi. Seketika itu pula dia melihat kehadiran Panji Watugunung, Ratna Pitaloka dan Naganingrum yang masih tenang duduk di atas kuda mereka.
Nyi Lampet pucat seketika. Dia sudah merasakan bagaimana kekuatan Dewi Srimpi saat menghajar nya tempo hari. Tanpa sadar, perempuan cantik itu mundur selangkah.
"Ampun Gusti, ampun..
Hamba kapok, hamba tidak berani lagi", ujar Nyi Lampet dengan penuh ketakutan.
"Sekarang katakan dimana Ganajaya kau sembunyikan? Cepat jawab!", Srimpi mendelik tajam ke arah Nyi Lampet.
"Me-mereka a-ada di dalam", ujar Nyi Lampet yang sudah tidak bisa berkelit lagi.
"Cepat, cari Ganajaya di dalam!", ujar Warigalit pada prajurit yang ada di belakangnya.
Mendengar suara itu, Manggar dan Rara Murni saling berpandangan sejenak. Lalu mereka segera menuju ke arah kamar tempat Ganajaya berada.
Rara Murni segera menghunus sebuah pisau yang selalu terselip di pinggangnya. Dengan cepat dia memotong tali yang mengikat tangan dan kaki Ganajaya dan mengunci leher putra Akuwu Jungbiru itu dengan lengan kiri nya.
Ganajaya yang masih diikat mulut nya memakai tali, hanya bisa pasrah saat Rara Murni menggelandang nya keluar kamar sambil menempelkan pisau di batang tenggorokan Ganajaya.
Para prajurit yang masuk langsung menghentikan langkahnya saat Rara Murni keluar dari kamar dengan menyandera Ganajaya.
__ADS_1
"Perempuan jelek,
Lepaskan orang itu!", teriak seorang prajurit sambil mengacungkan pedangnya.
"Mundur kalian!
Kalau tidak, akan ku tusuk leher orang ini biar mampus sekalian", ancam Rara Murni dengan mata penuh nafsu membunuh.
Para prajurit saling berpandangan sejenak kemudian mundur perlahan sambil tetap waspada saat Rara Murni maju selangkah demi selangkah menuju luar rumah pelacuran Nyi Lampet. Manggar mengikuti langkah Rara Murni sambil mengacungkan pedangnya.
Saat Rara Murni sampai di luar rumah, suasana begitu tegang.
"Lepaskan Ganajaya, nisanak.
Sudah cukup kau berbuat ulah. Lepaskan dia, kau akan aku ampuni", ucap Warigalit mencoba untuk menenangkan hati Rara Murni.
"Tidak!
Karena dia bopo ku mati. Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan orang ini", teriak Rara Murni yang tetap bersikeras untuk mempertahankan Ganajaya.
"Kurang ajar!
Kau berani menentang perintah Senopati Kadiri. Akan ku cabut nyawamu", teriak Tumenggung Rakryan Tirta sambil melesat ke arah Rara Murni yang tengah menyandera Ganajaya.
Perempuan itu menjadi kalap.
Dengan cepat dia menusukkan pisau ke leher Ganajaya.
Creeppp
Hhhmmmpppfffhhh
Ganajaya hanya bisa melengguh saat pisau Rara Murni menancap di batang tenggorokan nya. Putra Akuwu Jungbiru itu merenggang nyawa sesaat sebelum tewas bersimbah darah.
Kejadian itu berlangsung sangat cepat. Semua orang tidak menyangka Rara Murni bertindak sedemikian jauhnya.
Panji Watugunung yang murka, langsung merapal Ajian Jari Saketi. Ujung jari telunjuk Pangeran Daha itu seketika berubah warna menjadi putih kebiruan.
Cllasssshhh
Sebuah sinar putih kebiruan melesat cepat dari ujung jari telunjuk Panji Watugunung ke arah dahi Rara Murni.
Aughhhh
Putri Gagak Merah itu langsung roboh dengan dahi bolong tembus ke belakang kepala. Dia tewas dengan isi otak berhamburan keluar.
Manggar yang melihat kejadian itu, melesat cepat hendak melarikan diri. Tapi belum selangkah dia berbalik, sebuah jarum berwarna hitam kemerahan melesat cepat kearah leher pria bertubuh gempal itu.
Sringg
Creeppp..!!
Arrgghhhh!
Manggar menjerit keras. Jarum beracun itu tepat menghajar urat nadi lehernya.
Jangan mimpi!", ucap Dewi Srimpi yang terus waspada terhadap gerak gerik semua orang anak buah Nyi Lampet.
Anak buah Gagak Merah itu roboh. Dia tewas dengan mata mengeluarkan darah dan mulut berbusa akibat Racun Kelabang Neraka dari Dewi Srimpi.
Kematian Ganajaya serta merta membuat Warigalit dan Warigagung murung. Meskipun belum menjadi ipar mereka, tapi kematian Ganajaya akan membuat Mpu Maespati bersedih hati karena kehilangan calon menantunya.
Panji Watugunung menghela nafas panjang.
Segera dia memerintahkan kepada para prajurit Kadipaten Karang Anom untuk membereskan kekacauan itu dan menyeret semua orang yang terlibat dalam masalah ini ke penjara Kadipaten Karang Anom, termasuk Nyi Lampet dan para centeng centeng nya.
Sedangkan para wanita muda yang dijadikan wanita pelacur, di suruh pulang ke rumah mereka masing-masing karena mereka hanya korban dari keserakahan Nyi Lampet.
Sore itu di istana Kadipaten Karang Anom, suasana muram masih terasa menggelayut di hati semua orang.
Panji Watugunung memanggil Warigalit, Warigagung dan Jarasanda ke serambi balai tamu Kadipaten Karang Anom.
Dengan di temani oleh ketiga istri Panji Watugunung, mereka duduk bersila di lantai serambi.
"Kakang Warigalit,
Aku minta maaf jika akhirnya seperti ini. Aku tidak menyangka perempuan itu membunuh Ganajaya", ujar Panji Watugunung membuka percakapan antara mereka.
"Sudahlah Dhimas Pangeran,
Kita tidak menyalahkan mu untuk kematian Ganajaya. Yang jadi beban pikiran ku adalah Romo Resi sekarang.
Pasti beliau akan sangat terpukul sekali dengan kejadian ini", jawab Warigalit sambil menunduk.
"Benar Adhi..
Yang jadi masalah sekarang adalah Romo Resi. Bukan pada adik perempuan kita", ujar Warigagung dengan penuh perasaan bersalah.
Hemmmm
"Bagaimana kalau kita nikahkan Dewi Landhep dengan orang lain, Kakang Warigalit?
Setidaknya itu bisa membuat paman Resi Mpu Maespati tidak kepikiran dengan masalah ini, juga adik mu tidak merasa malu karena gagal menikah", Panji Watugunung segera memandang ke arah Warigalit dan Warigagung.
"Itu juga ada di pikiran ku Dhimas,
Tapi dengan siapa? Dengan keadaan Dewi Landhep seperti itu, apa ada yang mau menikahi nya?", Warigalit memelas wajah nya saat berbicara.
Semua orang langsung terdiam beberapa saat.
"Saya bersedia untuk menikahinya Gusti Senopati", ucapan Jarasanda membuat semua orang menoleh ke arah nya.
"Apa maksud mu Jarasanda? Ini bukan perkara main-main", Warigalit segera menatap ke arah Jarasanda yang duduk di sebelah kanan nya.
"Saya mengerti Gusti Senopati.
Tapi membantu mengatasi masalah di pasukan Garuda Panjalu adalah tugas saya. Masalah ini sudah membebani pikiran Gusti Pangeran dan Gusti Senopati, sudah seyogyanya saya membantu menyelesaikan.
__ADS_1
Lagipula dilihat dari bibit, bebet dan bobot nya Dewi Landhep adalah gadis yang baik. Jika dihitung untung rugi, maka saya yang bekas berandalan di Pakuwon Sata akan sangat beruntung bisa memiliki istri secantik Dewi Landhep, yang merupakan adik dari Senopati Kadiri yang pemberani", ujar Jarasanda sambil tersenyum simpul.
"Ah kau ini bisa saja Jarasanda..
Bagaimana menurutmu Dhimas Pangeran?", Warigalit segera menatap ke arah Panji Watugunung.
"Kalau aku setuju dengan pendapat Jarasanda, Kakang..
Lebih baik jika Jarasanda yang menikahi Dewi Landhep. Meskipun saat di Pakuwon Sata, dia adalah seorang berandal, tapi selama mengikuti langkah ku di pasukan Garuda Panjalu, Jarasanda telah jauh berubah", ujar Panji Watugunung segera.
Warigalit dan Warigagung tersenyum tipis sambil menghela nafas lega.
Malam segera berganti pagi. Mentari bersinar cerah di langit timur. Burung burung berkicau riang di ranting pohon sawo yang tumbuh di halaman balai tamu Kadipaten Karang Anom. Suasana begitu cerah, secerah senyum Warigalit dan Warigagung yang sudah bersiap untuk pulang ke Lembah Hijau.
Di halaman balai tamu Kadipaten Karang Anom, seluruh anggota pasukan Garuda Panjalu, Jarasanda, Warigalit dan Warigagung sudah menunggu sang Raja Muda Panjalu.
Dari arah kamar, Panji Watugunung keluar dengan ditemani Naganingrum, Ratna Pitaloka dan Dewi Srimpi yang sudah berdandan cantik layaknya istri seorang bangsawan.
Dari arah istana pribadi Adipati, Windupati segera bergegas mendekati Panji Watugunung.
"Selamat pagi Gusti Pangeran..
Mohon maaf jika kedatangan hamba mengganggu. Pagi ini sebelum Gusti Pangeran meninggalkan Kadipaten Karang Anom, mohon bersedia untuk menikmati hidangan yang sudah di sediakan di sasana boga", ujar Adipati Windupati dengan sopan.
Panji Watugunung mengangguk kemudian dia mengikuti langkah Adipati Windupati menunju sasana boga untuk makan pagi. Para istri dan perwira tinggi mengikuti langkah sang pemimpin.
Setelah itu mereka berpamitan kepada Adipati Windupati untuk kembali ke Pertapaan Lembah Hijau di Utara Sungai Brantas.
Windupati mengantar mereka hingga ke pintu gerbang istana kadipaten.
Rombongan Panji Watugunung terus memacu kuda mereka menuju ke barat laut dari kota Kadipaten Karang Anom. Setelah sampai di tepi dermaga penyeberangan sungai Brantas, rombongan Panji Watugunung segera menyeberang ke arah Pertapaan Lembah Hijau.
Resi Mpu Maespati begitu gembira melihat kepulangan Warigalit, Warigagung, Panji Watugunung dan ketiga istrinya.
Setelah itu mereka menceritakan semua kejadian yang terjadi pada mereka. Mpu Maespati terdiam sejenak mendengar cerita mereka.
Hemmmm
"Mungkin sudah menjadi takdir Dewata bahwa putri bungsu ku tidak akan menikah", ujar Resi Maespati sambil menghela nafas panjang.
"Romo tidak perlu khawatir mengenai jodoh untuk Landhep..
Kami sudah mendapatkan pengganti Ganajaya. Dia adalah putra Akuwu Argamanik dari Pakuwon Sata", ujar Warigalit sambil tersenyum tipis.
"Benarkah yang kau katakan, Anakku?
Dimana pemuda itu sekarang?", raut muka Resi Maespati langsung cerah seketika.
"Jarasanda, majulah..
Berikan sembah bakti mu pada calon mertua mu", ujar Panji Watugunung segera. Jarasanda segera mendekati Mpu Maespati dan berjongkok lalu menghormat pada Mpu Maespati.
Lelaki tua berjenggot putih itu terkejut sesaat kemudian tersenyum lebar.
Dan demikianlah, akhirnya Jarasanda menikahi Dewi Landhep, adik Warigalit. Dengan upacara meriah, mereka diikat dalam pernikahan di Pertapaan Lembah Hijau. Panji Watugunung memberikan hadiah dan sumbangan biaya yang besar untuk pernikahan mereka.
Semua orang bergembira menyambut kedatangan anggota baru keluarga Mpu Maespati.
Sementara itu, jauh di barat sungai Brantas, seorang wanita cantik dengan baju berwarna hijau muda nampak memacu kudanya diikuti oleh 2 orang gadis muda lainnya.
Sesampainya di dermaga penyeberangan yang ada di selatan kota Daha, mereka turun dari kuda mereka.
"Permisi, nisanak.
Kalian ini hendak kemana? Kalau ingin ke Daha ayo ikut perahu penyeberangan kami. Cukup dengan 1 kepeng perak untuk satu orang", ujar seorang lelaki bertubuh gempal sambil tersenyum ramah.
"Apa ini jalan menuju ke Gelang-gelang?", ujar si gadis cantik berbaju hijau muda itu segera.
"Benar nisanak,
Seberang sungai sana adalah wilayah Kabupaten Gelang-gelang. Nisanak mau kemana?", tanya si lelaki gempal itu dengan sopan.
Si wanita cantik itu segera tersenyum simpul.
"Aku mencari Watugunung di kota Gelang-gelang.
Dia harus menikahi ku".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁
__ADS_1
Selamat membaca 🙏🙏🙏