Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Pakuwon Sunggingan


__ADS_3

Warok Surapati segera memeluk erat tubuh Cempluk Rara Sunti. Ada kerinduan yang mendalam terobati dengan kehadiran putri bungsu nya.


"Kamu pulang Ngger Cah Ayu... Ibu mu pasti senang bertemu dengan mu..


Nyi..


Ini putri mu pulang Nyi", Warok Surapati berteriak memanggil istrinya, Nyi Ratih. Dari dalam rumah Nyi Ratih berlari menuju ke depan rumah kediamannya. Melihat kedatangan Cempluk Rara Sunti, perempuan paruh baya itu segera berlari dan memeluk putri kesayangannya dengan erat. Bulir bening air mata menetes dari sudut matanya. Sejuta kerinduan yang tersimpan seakan ingin di tumpahkan pada saat itu.


Ehemm ehheeeemmmmmm..


Deheman dari Singo Manggolo membuat Warok Surapati dan Nyi Ratih tersadar dari keharuan mereka dengan kedatangan Cempluk Rara Sunti.


"Bopo sama Biyung kalau sudah sama Cempluk selalu lupa dengan aku", gerutu Singo Manggolo.


"Hehehehe..


Kau kan sering pulang dari rumah istri mu menjenguk kami sedang Sunti sudah hampir setengah windu tidak pulang kemari jadi wajar saja kalau kami merindukan nya.


Kau ini laki-laki gampang sekali merajuk", balas Warok Surapati sambil terkekeh kecil mendengar gerutu putra sulungnya.


"Kalau Cempluk saja yang pulang, Bopo tidak perlu repot-repot memikirkan aku. Tapi ini Cempluk pulang dengan suaminya.


Tega banget Bopo membiarkan seorang Maharaja Panjalu hanya berdiri di halaman tanpa di persilahkan masuk ke rumah", omelan Singo Manggolo seketika menyadarkan Warok Surapati dengan kehadiran Panji Watugunung. Begitu pula Nyi Ratih.


"Hahahaha..


Maafkan aku Nakmas Prabu.. Orang tua ini jadi pelupa jika sedang senang. Maaf aku tidak menyambut kedatangan mu dengan layak", bukannya merasa bersalah, Warok Surapati justru tertawa terbahak bahak sambil mendekati Panji Watugunung.


"Tidak apa apa, Bopo Guru...


Toh ini juga rumah mertua ku sendiri. Kenapa juga harus ada penyambutan untuk ku? Aku tidak nyaman jika Bopo Guru memperlakukan aku demikian", jawab Panji Watugunung segera.


"Nah kau dengar sendiri omongan Nakmas Prabu Jayengrana, Manggolo..


Disini itu juga rumah nya jadi tidak perlu bersikap berlebihan. Kau dengar itu hehehe", Warok Surapati menjulurkan lidahnya ke arah Singo Manggolo seakan mengejek putra sulungnya itu.


"Sudah sudah..


Bapak sama anak kog sama saja. Sama sama keras kepala. Mantu ku jadi terlantar karena adu mulut kalian..


Nakmas Prabu Jayengrana, Nimas Selir..


Monggo silahkan masuk", ujar Nyi Ratih menengahi perdebatan Warok Surapati dan Singo Manggolo sembari mempersilahkan Panji Watugunung dan Dewi Srimpi masuk ke dalam rumah.


Panji Watugunung dan Dewi Srimpi segera melangkah masuk ke dalam rumah Warok Surapati mengikuti langkah Nyi Ratih yang mendahului langkah mereka. Warok Surapati, Singo Manggolo dan Cempluk Rara Sunti pun mengekor di belakangnya. Sedangkan Tumenggung Ludaka dengan cepat menata para pengawal pribadi Raja Panjalu untuk bergilir berjaga di sekitar tempat itu.


"Ah jadi ingat waktu pertama kali datang ke tempat ini", gumam Panji Watugunung sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan serambi kediaman Warok Surapati.


"Iya ya Denmas Prabu..


Waktu itu Sunti meremehkan Denmas Prabu sambil mengatakan bahwa Denmas Prabu mata keranjang hihihihi", Dewi Srimpi tertawa kecil sambil menutup mulutnya.


"Betul Gusti Selir Ketiga,


Eh habis mengatakan mata keranjang tak tahunya malah kepincut dengan Nakmas Prabu Jayengrana hingga nekat menyusul ke Daha hahahaha", sahut Warok Surapati yang langsung tertawa terpingkal-pingkal. Mendengar omongan mereka, Cempluk Rara Sunti langsung merah wajah nya seperti kepiting rebus. Omongan mereka memang ada benarnya.


Perempuan cantik itu hanya bisa mengerucutkan bibirnya menanggapi godaan ayah nya. Sedangkan Panji Watugunung hanya tersenyum simpul mendengar omongan Warok Surapati. Nyi Ratih langsung menuju ke arah dapur, Cempluk Rara Sunti mengikuti di belakangnya.


"Bopo Guru,


Sebenarnya ada masalah apa di Kadipaten Wengker ini?", tanya Pseeanji Watugunung usai mereka duduk bersila di lantai serambi kediaman guru nya. Dewi Srimpi ikut duduk di sebelah Panji Watugunung.


"Wengker sedang dalam masalah Nakmas Prabu.


Salah seorang saudara ku, Kakang Surajaya menggalang dukungan dari rakyat Pakuwon Sunggingan untuk meminta hak memerintah sendiri. Sebagai Akuwu Sunggingan, Kakang Surajaya merasa lebih bisa memperhatikan kebutuhan rakyat dan merasa wilayah Kadipaten Wengker terlalu luas untuk di perintah seorang diri oleh Kakang Adipati Suragati.


Aku sampai bingung dengan kemauan mereka berdua Nakmas", ujar Warok Surapati sambil menghela nafas panjang. Raut wajah sepuh mertua Panji Watugunung itu terlihat bingung.


"Apa sudah ada pembicaraan antara mereka Bopo Guru?", tanya Panji Watugunung segera.


"Mereka sama sama mendatangi ku, Nakmas Prabu..


Dan keduanya sama-sama bersikukuh bahwa mereka yang benar menurut pemahaman mereka masing-masing. Tapi sejauh ini memang mereka belum berbicara berhadapan langsung", jawab Warok Surapati sambil menghela nafas berat.


"Kalau begitu, besok pagi antarkan aku menemui Paman Akuwu Warok Surajaya, Bopo Guru..


Aku akan berbicara dengan nya. Aku ingin semua terselesaikan tanpa harus pertumpahan darah apalagi kita semua masih kerabat dekat", ucap Panji Watugunung yang segera mendapat anggukan kepala dari Warok Surapati. Lurah Wanua Pulung itu menarik nafas lega karena yakin bahwa Panji Watugunung bisa menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh Kadipaten Wengker.


Siang berganti sore yang dengan cepat berubah menjadi malam. Selepas senja di ganti gelap malam yang bertaburan bintang, serombongan orang berkuda menggebrak hewan tunggangan mereka dari arah barat Wanua Pulung.


Rombongan itu lalu berhenti di depan kediaman Warok Surapati. Tentu saja kedatangan mereka mengagetkan para pengawal pribadi Panji Watugunung yang tengah berjaga di sekitar tempat itu.


Dengan cepat mereka bersiaga untuk menghindari semua kemungkinan yang akan terjadi.


"Kami ingin bertemu dengan Lurah Warok Surapati. Berikan kami jalan", ujar seorang lelaki bertubuh gempal dengan cepat berbicara dengan para pengawal pribadi Raja yang bertugas.


"Maaf, ini sudah malam. Lagipula Warok Surapati sedang tidak ingin di ganggu. Sebaiknya kalian pulang saja", balas sang prajurit pengawal dengan tegas.


"Kurang ajar!


Berani sekali kau mencoba menghalangi niat kami untuk bertemu dengan Warok Surapati.


Minggir!


Atau terpaksa aku harus menghajar mu dulu biar kau menyingkir", teriak lelaki bertubuh gempal itu garang.

__ADS_1


Phuihhhh...


"Kau pikir aku takut dengan gertakan mu ha?


Pulanglah!


Jika membangkang, aku akan mengusir mu dengan kekerasan", si prajurit pengawal tak mau kalah.


"Bangsat!.


Cari mati kau rupanya. Jangan salahkan aku jika menghajar mulut mu yang sombong", usai berkata demikian si pria bertubuh gempal itu segera melesat ke arah prajurit pengawal pribadi Raja.


Si prajurit pengawal pribadi Raja yang bernama Ketiyasa itu langsung membabatkan pedang nya ke arah penyerang.


Shreeeeettttthhh..


Si penyerang langsung merunduk sedikit lalu dengan cepat melayangkan pukulan kearah perut Ketiyasa. Prajurit pengawal pribadi Raja itu langsung memapak serangan lawan dengan tapak tangan kiri nya.


Blllaaaaaarrr!!!


Ledakan itu segera memantik para prajurit lain di sekitar rumah Ki Lurah Warok Surapati untuk berkumpul di halaman. Begitu melihat puluhan orang bergerak ke arah rumah itu, mereka segera mencabut senjata mereka masing-masing kemudian menerjang maju.


Ketiyasa terlempar ke belakang. Tumenggung Ludaka yang ada di depan beranda kediaman Warok Surapati langsung melesat menyambar tubuh Ketiyasa hingga prajurit pengawal pribadi Panji Watugunung itu tak sampai menghantam pohon nangka di sudut halaman. Tumenggung andalan Panjalu itu segera meletakkan tubuh Ketiyasa ke tempat yang aman, lalu melompat ke arah penyerang tadi sambil melemparkan pisau pisau kecil ke arah lawan.


Shrrriinnnggg shhhrriinggg..!!!


Dua pisau kecil melesat cepat kearah si penyerang yang hendak maju ke halaman rumah Warok Surapati. Cepat serangan pisau memaksa dia mundur sambil bersalto ke belakang beberapa kali.


Crreepppphhh crepp!!


Pisau pisau Tumenggung Ludaka menancap di tanah. Belum sempat si penyerang berdiri tegak, satu tendangan keras kearah kepala dari Tumenggung Ludaka memaksa dia untuk menyilangkan kedua tangan ke depan wajah untuk bertahan.


Dhaaaasssshhh!


Kerasnya tendangan dari Tumenggung Ludaka membuat si penyerang terdorong mundur beberapa langkah ke belakang.


Usai gerakan tubuhnya terhenti, si penyerang langsung merapal mantra ilmu kanuragan andalan. Secercah sinar jingga redup bercampur kehitaman berhawa panas bergulung gulung di tangan si penyerang.


Itu adalah Ajian Tapak Bara Langit andalannya.


Usai menghirup nafas kuat kuat, si penyerang melesat cepat kearah Tumenggung Ludaka. Pria itu dengan cepat mencabut pedang pendek di pinggangnya, lalu melapisi pedang dengan tenaga dalam tingkat tinggi hingga pedang pendek nya bersinar hijau kebiruan.


Si penyerang langsung menghantamkan tangan kanannya.


"Bara Api Langit...


Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt!!!!


Tumenggung Ludaka dengan pedang pendek di depan dada, menghadang serangan si penyerang.


Hhaaaaaaaaarrrrrggghhh....!!!"


Saat sinar jingga redup bercampur kehitaman membentur pedang bersinar hijau kebiruan, ledakan dahsyat terdengar.


Dhuuaaaaaaarrrrrr!!!!!


Tumenggung Ludaka dan si penyerang sama sama terdorong mundur nyaris 2 tombak ke belakang. Si penyerang meludahkan seteguk darah segar di mulutnya ke tanah.


Saat hendak melompat maju lagi, suara keras menghentikan langkah si penyerang.


"Hentikan Brotonegoro..


Cukup!", ujar seorang lelaki bertubuh gempal yang turun dari kereta kuda. Si penyerang yang bernama Brotonegoro itu langsung menghormat pada lelaki itu sambil mendengus dingin pada Tumenggung Ludaka yang masih bersiap untuk berlaga.


Lelaki itu berjalan masuk ke dalam halaman rumah Warok Surapati sambil tersenyum simpul.


Tumenggung Ludaka yang hendak bergerak maju langsung menghentikan langkahnya saat pundak kirinya di pegang oleh Panji Watugunung dari samping.


"Prajurit Istana Katang-katang memang hebat Nakmas Prabu Jayengrana, tak heran Nakmas Prabu Jayengrana berani melakukan perjalanan hanya dengan sedikit pengawal", ujar si lelaki bertubuh besar dengan kumis tebal dan jenggot lebat itu sembari tersenyum tipis.


"Tentu saja Paman Adipati Suragati,


Meski aku punya sedikit kemampuan beladiri tapi bila membawa pengawal yang memiliki kemampuan beladiri bukankah itu lebih baik?", ucap Panji Watugunung sambil tersenyum simpul.


Rupanya ledakan dahsyat yang terdengar tadi membangunkan Panji Watugunung yang tengah tertidur. Raja Panjalu itu langsung melesat cepat kearah halaman beserta Warok Surapati dan Singo Manggolo pada saat Tumenggung Ludaka baru saja terdorong mundur sejauh 2 tombak. Namun begitu melihat lelaki bertubuh gempal yang turun dari kereta kuda adalah Adipati Warok Suragati, Panji Watugunung langsung tersenyum tipis. Pasti terjadi salah paham diantara mereka, batin Panji Watugunung.


"Maafkan jika para pengawal pribadi ku bertindak berlebihan dalam bertugas, Paman Adipati", imbuh Panji Watugunung segera.


"Tidak apa-apa, Nakmas Prabu..


Wajar jika mereka bertindak karena ingin melindungi junjungan nya. Malah ini juga bisa menjadi pelajaran berharga buat Tumenggung Brotonegoro", jawab Adipati Warok Suragati sembari melangkah ke arah Panji Watugunung dan Warok Surapati.


Tiga orang itu kemudian berjalan menuju ke serambi kediaman Warok Surapati sedangkan para pengawal mereka berjaga di sekitar rumah.


"Aku sudah mendengar masalah yang terjadi di Kadipaten Wengker, Paman Adipati.


Aku minta ijin besok ingin mengunjungi Sunggingan dengan Kakang Singo Manggolo. Aku harap Paman Adipati tidak salah paham dengan maksud ku ini", ujar Panji Watugunung segera.


"Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk semua nya, Nakmas Prabu Jayengrana.


Sebenarnya aku tidak ingin berseteru dengan saudara ku sendiri tapi aku juga tidak mau jika amanat yang di berikan oleh Gusti Prabu Airlangga untuk menjaga Wengker di rusak oleh kepentingan pribadi saja", ucap Adipati Warok Suragati sambil menghela nafas panjang.


"Aku mengerti itu Paman Adipati", balas Panji Watugunung sambil tersenyum simpul.


Malam semakin larut. Hembusan angin dingin dari lereng Gunung Wilis menyapu wilayah Kadipaten Wengker, menciptakan suasana dingin yang menusuk tulang.

__ADS_1


Pakuwon Sunggingan terletak di pesisir pantai selatan. Wilayah ini merupakan wilayah yang indah dengan pemandangan yang luar biasa. Sebagian besar penduduknya hidup dengan bermata pencaharian sebagai nelayan dan petani.


Warok Surajaya adalah Akuwu Pakuwon Sunggingan. Pria berbadan besar itu terkenal sakti mandraguna, sebanding dengan Adipati Warok Suragati kakaknya yang menjadi penguasa Kadipaten Wengker.


Matahari sudah sepenggal naik. Warok Surajaya tengah sibuk memandikan ayam jago bersama dua pengalasan nya di samping kiri tempat tinggal pribadinya di istana Pakuwon Sunggingan. Adik Adipati Warok Suragati itu memang senang mengadu ayam.


Seorang prajurit penjaga gerbang istana Pakuwon berlari menuju ke arah mereka.


"Mohon ampun Gusti Akuwu,


Di depan pintu gerbang istana ada 4 orang mengaku utusan dari Warok Surapati ingin bertemu", lapor sang prajurit penjaga dengan penuh hormat.


"Hehehehe..


Utusan dari Adhi Surapati ya? Ah semoga saja kabar baik yang aku terima.


Kalian berdua urus ayam ku, jangan sampai tidak bersih", perintah Warok Surajaya pada dua orang pengalasan nya.


"Sendiko dawuh Gusti Akuwu", jawab dua orang pengalasan segera.


Akuwu Warok Surajaya langsung bergegas menemui mereka di balai pisowanan Pakuwon Sunggingan.


"Singo Manggolo keponakan ku,


Bagaimana kabar mu bocah bagus?", tanya Warok Surajaya sambil tersenyum.


"Saya baik baik saja Paman Surajaya. Kedatangan saya kemari karena mengantar mereka yang akan menjadi juru damai bagi permasalahan di Kadipaten Wengker ini Paman", jawab Singo Manggolo dengan cepat. Warok Surajaya segera mengalihkan pandangan nya ke arah Panji Watugunung yang ada di samping Singo Manggolo.


"Juru damai?


Kau ingin mendamaikan aku dengan Kakang Suragati? Apa sudah begitu besar nyali mu ha?", raut muka Warok Surajaya berubah bengis.


"Tentu saja,


Aku ingin keamanan dan ketertiban di seluruh wilayah Panjalu. Dengan cara apapun akan ku lakukan agar bisa menciptakan suasana tenang di Kadipaten Wengker", jawab Panji Watugunung sambil tersenyum simpul.


"Bocah tengik!


Kau berani sombong di hadapan ku. Genap berapa nyawa mu ha?", bentak Warok Surajaya sembari melayangkan tendangan keras kearah kepala Panji Watugunung.


Gerakan tak di sangka itu mengagetkan semua orang.


Dhhaaaassshhh


Panji Watugunung dengan cepat menyilangkan kedua tangan di depan kepalanya. Tubuh Raja Panjalu itu langsung terpental jauh hingga ke halaman balai pisowanan. Namun Panji Watugunung segera bangkit sambil menghapus darah yang mengalir di sudut bibirnya.


Warok Surajaya melesat cepat memburu Panji Watugunung yang sudah berdiri tegak di halaman balai pisowanan Pakuwon Sunggingan sambil tersenyum lebar. Tangan kanan Warok Surajaya terayun cepat kearah dada Panji Watugunung yang sudah bersiap dengan Ajian Tameng Waja.


Dhhaaaaannnngggg!!!


Warok Surajaya terkejut bukan main saat pukulan keras nya seperti membentur logam keras saat menghantam dada Panji Watugunung. Akuwu Sunggingan itu langsung melompat mundur beberapa langkah. Matanya tajam menatap ke arah Panji Watugunung yang tubuhnya di liputi oleh sinar kuning keemasan.


"Ajian Tameng Waja..


Siapa kau sebenarnya bocah tengik?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Update episode nya gak teratur jam nya ya?


Mohon di maklumi ya, musim sibuk di kerjaan sama di acara nikahan keponakan.


Yang mau berteman dengan author bisa follow IG author : ebez2812

__ADS_1


__ADS_2