Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Janji di Hutan Serigala


__ADS_3

Ratna Pitaloka terkejut bukan main mendengar kata kata Sekar Mayang


Dalam hati kecilnya dia cemburu tapi juga tidak bisa memaksa perasaan seseorang


"Aku ingin menyusul Kakang Watugunung ke kadipaten Seloageng Kangmbok" , AAujar Sekar Mayang sambil terus memandangi langit kejauhan


"Andai saja guru mengijinkan, pasti hari ini juga aku berangkat"


Lagi lagi Ratna Pitaloka melongo mendengar suara adik seperguruannya.


"Baiklah,


jika nanti sore guru kembali aku pasti minta ijin pada beliau untuk menyusul Kakang Watugunung", ujar Sekar Mayang yakin sambil melirik Ratna Pitaloka


"Cinta ku akan ku perjuangkan sampai nafas terakhir"


Ratna Pitaloka hanya bisa melotot mendengar kata-kata mutiara dari Sekar Mayang. Adik seperguruannya yang manja dan ceria itu jarang sekali bicara serius.


Setelah berkata demikian, Sekar Mayang bergegas menuju ke bilik pribadi nya meninggalkan Ratna Pitaloka yang masih bengong di serambi rumah


'Kalau Sekar Mayang berani meminta ijin pada guru, aku juga akan minta ijin'


**


Sementara itu, rombongan Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati sudah jauh meninggalkan Pajarakan. Mereka terus menggebrak kuda mereka melintasi jalan menuju kadipaten Seloageng di sebelah barat.


Menjelang tengah hari mereka beristirahat di tepi sungai kecil di samping hutan. Menurut seorang pengawal, setelah melewati hutan mereka akan sampai di wanua


Para pengawal kadipaten sibuk menurunkan bawaan dari punggung kuda mereka, lalu menambatkan kuda di semak belukar di samping sungai


"Aduh capek sekali rasanya ", ucap Dewi Anggarawati sambil merendam kaki nya di aliran sungai.


Panji Watugunung di sebelah nya sibuk mengisi kantong air minum nya di mata air besar di sisi tebing sungai


"Awwww...


terdengar teriakan dari Dewi Anggarawati, Watugunung langsung melompat ke arah Dewi Anggarawati


"Ada apa Dinda?"


"Ada yang menggigit kaki ku Kakang" jawab Anggarawati


Hemmm


'Tidak ada yang luka' gumam Panji Watugunung sambil memperhatikan kaki Dewi Anggarawati.


Lalu Panji Watugunung mengalihkan pandangan nya ke sungai kecil itu


"Oh itu pelaku nya" tukas Panji Watugunung lega sambil menunjuk ikan lele besar


"Asyik, tangkap Kakang.. nanti kita makan lele bakar", sahut Dewi Anggarawati bersemangat


Panji Watugunung menoleh kanan kiri mencari alat.


Ranting kayu lurus di pilih nya


Huppp..


Sekali tusuk, lele besar itu menggelepar di tepi sungai


Tak hanya satu, ternyata banyak lele besar di sungai kecil itu. Panji Watugunung dengan lincah menusukkan ranting kayu tadi ke dalam sungai kecil, alhasil sepuluh ekor lele berhasil dia tangkap


Para pengawal kadipaten Seloageng hanya melongo melihat kehebatan pemuda itu


"Wahhhh Kakang Watugunung memang hebat,


Ayo kita masak kakang" ujar Dewi Anggarawati senang..


"Kalau kalian mau, kalian boleh mengambil nya tapi bakar sendiri ya"


Serentak 4 pengawal pembawa perlengkapan yang bernama Gasur , Randu, Gati dan Mahesa semangat berebut lele


Dewi Anggarawati terkekeh geli melihat ulah keempat pembawa perlengkapan.


Asap mengepul dari perapian yang di buat Panji Watugunung. 2 ekor lele besar di panggang diatas api. Aroma daging terbakar benar benar menggugah perut keroncongan


Tanpa banyak bercakap, Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati segera menyantap lele bakar mereka.


Selesai makan dan membasuh muka dengan air sungai kecil, rombongan itu berangkat menembus hutan melalui jalan setapak yang membelah hutan

__ADS_1


Sampai senja mereka belum keluar dari hutan


Rombongan itu memilih berhenti dan menyiapkan diri tidur di tempat terbuka di samping tebing


"Paman, siapkan giliran jaga ya, aku takut binatang buas paman " , pinta Dewi Anggarawati pada Ki Saketi


"Iya Gusti Putri, nanti hamba atur jadwalnya" jawab Ki Saketi.


Panji Watugunung menemukan ceruk kecil di dekat tebing, mengumpulkan daun daunan untuk alas tidur Dewi Anggarawati


Malam semakin larut


Cahaya bulan lembut menyapa bumi


"Auuuuuuuuoh Auuuww...


Auwghhh oauwwwh


Tiba tiba terdengar lolongan serigala bersahutan


Para pengawal kadipaten Seloageng yang terjaga langsung membangunkan rekan rekan mereka.


Panji Watugunung yang sempat tertidur beberapa saat, langsung cerah matanya


Bergegas membangunkan Dewi Anggarawati yang sedang mimpi indah..


"Dinda, bangun Dinda"


"Ada apa Kakang? kenapa membangunkan aku? Ini masih malam kakang.." ucap Anggarawati sambil menguap beberapa kali


"Coba Dinda Anggarawati dengar,


Suara apa itu?"


Panji Watugunung berbisik pelan


Dewi Anggarawati menajamkan pendengarannya, seketika pucat.


Jelas sekali terdengar lolongan serigala tak jauh dari tempat tidur nya


Seketika kantuk hilang dari wajah gadis cantik itu, berganti ketakutan.


"Dinda tenang saja, Ada kakang disini" ucapan Panji Watugunung bagai air telaga yang menyiram api ketakutan di diri Anggarawati


Sementara itu lolongan serigala semakin lama semakin banyak bersahutan, seolah memanggil semua kawan kawan nya.


Selepas itu semua senyap, namun para pengawal kadipaten Seloageng dan Panji Watugunung tidak menurunkan kewaspadaan mereka.


Angin semilir berhembus pelan


Tiba tiba dari kegelapan malam


Auwwwhhh..


Seekor serigala menerkam kearah pengawal. Pengawal yang terkejut langsung jatuh terduduk. Belum sempat berdiri serigala lain menerkam ke arah nya.


Melihat anak buahnya akan di mangsa, Ki Saketi segera melompat membabat serigala yang menerkam


"Crashhhh...


Tubuh serigala terpotong jadi dua.


"Cepat bangun, sebentar lagi mereka akan menyerang"


teriak Ki Saketi


Dan benar saja


Puluhan ekor serigala sudah mengepung mereka.


Serigala paling besar, kelihatan sebagai pemimpin kelompok itu, melolong keras


Serentak, serigala serigala maju menyerang.


Tak terkecuali mengincar Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati.


Malam itu menjadi malam pertaruhan nyawa


Serigala paling besar melompat mengincar Watugunung dan Dewi Anggarawati,

__ADS_1


Melihat dirinya jadi sasaran, Panji Watugunung segera meraih pinggang Dewi Anggarawati, membawa nya melesat menghindari terkaman serigala


Serigala paling besar menggeram melihat buruannya lolos, menghentakkan kakinya mengejar target.


Ilmu meringankan tubuh Ajian Sepi Angin milik Panji Watugunung memang hampir sempurna, gerakan nya seringan kapas dengan mudah menghindari terkaman serigala lalu mengambil sebuah pedang milik prajurit pengawal yang tertinggal dekat api unggun


Serigala paling besar tidak mau menyerah terus memburu Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati. Gerakan Watugunung yang lincah, seakan-akan tidak keberatan meski sambil menggenggam Dewi Anggarawati


Saat Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati ada di tempat rendah


Serigala paling besar melompat ke batu, kemudian menerjang kearah Panji Watugunung dan Dewi


Panji Watugunung lalu mengayunkan pedangnya


Angin tenaga dalam tingkat awal menerabas ke leher serigala itu


Crashh..


Tubuh serigala terpisah jadi dua bagian.


Melihat pemimpin nya tewas, para serigala segera mundur. Pelan pelan sambil mengawasi gerakan para pengawal lalu menghilang di balik rimbun pepohonan


Para pengawal bersorak


Diantara mereka ada 4 orang terluka meski hanya luka ringan.


Tapi mereka bersyukur tidak berakhir di perut serigala


"Kakang Wugunung berjanjilah akan selalu melindungi ku" ucap Dewi Anggarawati lirih sambil terus memeluk tubuh Panji Watugunung


Dia masih menggigil ketakutan


"Iya Kakang janji akan melindungi Dinda Anggarawati", sahut Panji Watugunung sambil tersenyum dan mengelus rambut Anggarawati


Malam itu Dewi Anggarawati tertidur sambil memeluk tubuh Panji Watugunung


Pagi menjelang tiba


Suara burung berkicau merdu di pepohonan


"Dinda bangun Dinda, sudah pagi"


ujar Watugunung sambil menepuk pundak Dewi Anggarawati


"Ehmmmm, iya Kakang", jawab Anggarawati sambil mengerjap matanya


Seketika wajah cantiknya memerah


mengingat kejadian semalam suntuk dia tidur sambil memeluk tubuh Panji Watugunung


'Duhh aku kog tak tau malu sama sekali, putri Kadipaten Seloageng memeluk tubuh lelaki semalam suntuk'


"Ayo kita cuci muka dulu dinda, biar segar"


ajak Watugunung sambil menggandeng tangan Dewi Anggarawati menuju sungai kecil


Bagai kerbau di cocok hidung nya, Anggarawati tersenyum tanpa kata mengikuti langkah laki laki pujaan hatinya


Semua pengawal kadipaten Seloageng hanya bisa memandang iri ke arah mereka


Dulu mereka memandang Panji Watugunung sebelah mata, namun setelah berhasil menumpas gerombolan Bajing Ireng, mereka menyadari bahwa pemuda itu adalah pendekar muda dengan kemampuan luar biasa


Apalagi sepertinya putri junjungan mereka, Dewi Anggarawati kepincut dengan pemuda itu.


Berpikir bahwa mungkin pemuda itu akan menjadi menantu Adipati Seloageng membuat mereka tak berani berpikir macam-macam


Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati segera mencuci muka mereka


Ahhhh


Segarnya air sungai kecil itu membuat rasa kantuk tadi malam menghilang entah kemana


Para pengawal kadipaten Seloageng sudah bersiap


Dewi Anggarawati melompat ke atas kuda, di ikuti oleh Panji Watugunung


Kini mereka naik satu kuda berdua, karna kuda kuda Anggarawati tewas di mangsa gerombolan serigala tadi malam


Mereka meninggalkan hutan lebat yang terkenal dengan sebutan Hutan Serigala..

__ADS_1


*bersambung*


__ADS_2