
Iblis Abu-abu tersentak melihat dua sesepuh Alas Larangan tewas mengenaskan. Lalu dia melirik kearah pemuda yang menghabisi Setan Air dengan geram.
'Pemuda dengan sarung pedang warna merah?
Apakah dia orang nya?'
Sementara itu, Sekar Mayang yang mengamuk terus membantai anak buah Iblis Abu-abu dengan selendang es nya. Dia seperti melampiaskan kekesalannya kemarin saat di suruh menjaga kuda.
Dewi Anggarawati pun hanya menyerang sesekali, karna fokus nya menjaga Anggrek Perak yang terluka dalam serius.
Iblis Abu-abu melihat jumlah anak buahnya berjatuhan. Tapi dia tidak bisa berbuat banyak karna Dewi Anggrek Bulan tidak membiarkan dia bergerak membantu anak buahnya.
"Iblis tua, sebentar lagi kau akan menyusul kawan kawan mu segera", Dewi Anggrek Bulan mencabut Pedang Rembulan miliknya, dan melesat cepat sambil membabatkan pedang nya.
Angin menderu kencang disertai hawa dingin menusuk tulang mengancam nyawa Iblis Abu-abu. Lelaki sepuh berkumis tebal berwarna putih itu buru-buru mundur selangkah, mencabut golok besar di punggung nya, dan menangkis sabetan pedang dari Dewi Anggrek Bulan.
Trinnggg..
Saat dua senjata pusaka bertemu, bunga api tercipta. Dan gerakan cepat Dewi Anggrek Bulan seperti menari, membuat Iblis Abu-abu kerepotan karena kecepatan serangan nya.
Pedang Rembulan adalah salah satu dari pusaka ampuh dunia persilatan. Ketajaman dan aura putih kehijauan dari pedang itu, setingkat dibawah Pedang Naga Api milik Panji Watugunung. Bentuk nya tipis, dan ringan benar benar menguntungkan jika dipakai untuk serangan cepat.
Golok Iblis Abu-abu yang disebut dengan Golok Pencabut Nyawa juga termasuk pusaka ampuh. Kekuatan nya mambu membelah batu besar dengan sempurna walau pemilik tidak memiliki kemampuan kanuragan tinggi. Badan golok yang besar, mengharuskan pemakai bergerak lambat karna bobotnya.
Bertarung hingga ratusan jurus membuat tenaga dalam Iblis Abu-abu semakin terkuras.
Dewi Anggrek Bulan lagi lagi melesat cepat, dengan sabetan pedang mengarah pada pinggang Iblis Abu-abu. Kakek tua itu menangkis sabetan pedang dengan golok besarnya. Benturan keras terjadi dan dua pihak melompat mundur dua tombak ke belakang.
'Kalau begini terus menerus, bisa bisa aku kehabisan tenaga dalam. Apa boleh buat, aku akan mengadu nyawa dengan nenek tua itu', batin Iblis Abu-abu sambil memusatkan tenaga dalam nya.
Tubuh kakek tua itu kemudian berubah menjadi Abu-abu setelah sinar abu abu pekat melingkupi seluruh tubuh. Mata Iblis Abu-abu berubah merah seperti darah. Itulah Ajian Iblis Neraka yang membuat nya tersohor di dunia persilatan. Dengan Ajian Iblis Neraka, kekuatan dan tenaga dalam Iblis Abu-abu meningkat pesat.
Golok Pencabut Nyawa pun mengeluarkan asap hitam pekat.
Dewi Anggrek Bulan tersenyum tipis melihat perubahan warna abu-abu pada tubuh Iblis Abu-abu.
"Iblis tua, jika orang lain melihat warna tubuh mu pasti takut, tapi kalau kau mau menakuti aku, berlatih lagi sepuluh tahun".
Dewi Anggrek Bulan menghela nafas sesaat, kemudian tubuhnya bercahaya kuning redup seperti cahaya bulan purnama.
Pedang Rembulan segera diliputi sinar putih kekuningan. Ajian Bulan Suci, puncak tertinggi ilmu kanuragan Padepokan Anggrek Bulan.
"Dinda Pitaloka, Dinda Anggarawati, Dinda Mayang, cepat mundur", perintah Panji Watugunung segera di balas anggukan kepala dari ketiganya.
Mereka bertiga menarik tubuh Anggrek Emas dan Anggrek Perak sedikit menjauh dari arena pertarungan Dewi Anggrek Bulan dan Iblis Abu-abu.
Sedang Panji Watugunung segera memusatkan tenaga dalam nya pada Ajian Tameng Waja. Sinar kuning keemasan segera menutupi seluruh tubuhnya, berjaga-jaga bila ada hal yang tidak di harapkan.
Iblis Abu-abu segera bergerak secepat kilat, menyabetkan Golok Pencabut Nyawa membabat tubuh Dewi Anggrek Bulan.
Sang Dewi pun tak kalah cepat menangkis sabetan golok dengan Pedang Rembulan miliknya.
Dhuarrrr!!!!
Blammmm..
Ledakan dahsyat di sertai angin menderu menyelimuti seluruh tempat itu.
Semua orang hanya melihat kilatan sinar putih dan hitam berkelebat kecuali mereka yang berilmu tinggi.
Lagi lagi, serangan cepat Iblis Abu-abu menyambar pinggang Dewi Anggrek Bulan namun perempuan itu dengan cepat melompat ke udara dan menghantam tubuh Iblis Abu-abu dengan pukulan tangan kiri.
Blammmm!!
Iblis Abu-abu berguling ke tanah, dan seketika menjejak tanah menyabetkan Golok Pencabut Nyawa.
__ADS_1
Whuttttt!!
Angin dingin mengarah ke dada Dewi Anggrek Bulan, namun perempuan cantik itu melompat ke samping dan membabat bahu kiri Iblis Abu-abu.
Kakek tua berkumis tebal berwarna putih terkesiap. Segera menangkisnya dengan golok besarnya.
Tranggg...
Akibat kuatnya tenaga dalam dari sabetan pedang Dewi Anggrek Bulan, Iblis Abu-abu terdorong 3 langkah ke belakang.
Belum sempat bersiap, sebuah sabetan pedang mengincar leher nya. Iblis Abu-abu kaget, mencoba menyelamatkan nyawa dengan menjatuhkan diri ke tanah namun tebasan pedang memotong lengan kiri yang sedikit terangkat ke atas.
Crashhhh!!
Arrrrggghhh..
Lengan kiri Iblis Abu-abu terpotong diatas sikunya. Buru buru iblis tua itu menotok urat nadi lengan kirinya untuk menghentikan pendarahan.
"Sebentar lagi kepala mu iblis tua!", teriak Dewi Anggrek Bulan.
Iblis Abu-abu geram melihat tangan kirinya menjadi cacat. Matanya berkilat menyimpan dendam.
'Suatu saat penghinaan ini akan ku balas'
Tiba tiba terlintas ide licik Iblis Abu-abu untuk kabur. Lelaki tua itu sadar sudah tidak mungkin menang melawan Dewi Anggrek Bulan, apalagi dengan luka potong di tangan kiri nya. Mata Iblis Abu-abu melirik seorang anggota Padepokan Anggrek Bulan yang tak jauh dari tempat nya.
"Awas!!", teriak Dewi Anggrek Bulan yang menyadari niat buruk Iblis Abu-abu, tapi semua terlambat.
Dengan gerakan secepat kilat, Iblis Abu-abu menyambar tubuh gadis itu dan melemparkannya ke Dewi Anggrek Bulan dengan sekuat tenaga.
Dewi Anggrek Bulan yang terkejut, memilih menangkap tubuh anggota perguruan nya.
"Dendam ini akan ku balas!"
Iblis tua itu sudah melesat cepat dan menghilang di balik rimbun pepohonan.
"Jangan di kejar, biarkan saja", teriak Dewi Anggrek Bulan melihat murid murid nya berniat mengejar lawan.
"Kumpulkan mayat mayat saudara kalian dan kubur dengan layak. Untuk mayat-mayat musuh kumpulkan dan bakar agar tidak menjadi sarang penyakit", perintah Dewi Anggrek Bulan kepada murid murid Padepokan Anggrek Bulan.
Dari 200 anggota Padepokan Anggrek Bulan, 30 orang terbunuh. Sedangkan mayat mayat pengepung lebih dari 80 mayat.
Dewi Anggarawati dan Sekar Mayang segera memapah Anggrek Emas dan Anggrek Perak ke tempat pengobatan.
Sedangkan Panji Watugunung dan Ratna Pitaloka di ajak ke kediaman utama Padepokan Anggrek Bulan.
"Terimakasih atas bantuannya pendekar muda,
kalau tidak ada bantuan mu Padepokan Anggrek Bulan mungkin sudah hancur", ujar Dewi Anggrek Bulan tersenyum seraya memberi hormat.
"Kami hanya sedikit membantu Dewi, tanpa dukungan seluruh murid saya dan ketiga selir saya tidak mungkin bisa berbuat banyak", Panji Watugunung merendah.
"Hehehehe, kau benar benar rendah hati pendekar muda. Aku suka dengan sikap mu ini", Dewi Anggrek Bulan terkekeh kecil.
Ratna Pitaloka mendelik tajam kearah Panji Watugunung.
"Barang semalam, aku mohon pendekar muda untuk beristirahat di tempat ini. Selepas dari sini, tujuan kalian akan kemana?", tanya Dewi Anggrek Bulan sambil tersenyum.
"Kami akan ke Gelang-gelang Dewi", jawab Watugunung sopan.
"Ada perlu apa kesana? Bukan urusan ku tapi aku penasaran saja", Dewi Anggrek Bulan memandang kearah Panji Watugunung.
"Ada tugas dari ayahanda Bupati Gelang-gelang untuk kami Dewi", potong Ratna Pitaloka sedikit ketus.
"Ayahanda Bupati? Kau putri Bupati Gelang-gelang?", tanya Dewi Anggrek Bulan terkejut.
__ADS_1
"Bukan saya Dewi, tapi Kakang Panji Watugunung ini yang putra Bupati Gelang-gelang. Saya hanya calon mantu nya", Ratna Pitaloka memerah wajahnya.
Kembali Dewi Anggrek Bulan terkejut. Dia memandang wajah tampan Panji Watugunung dengan seksama. Memang ada aura kebangsawanan kental pada laki laki muda itu.
"Hehehehe aku sungguh tak pernah mengira. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya pendekar muda, sekarang beristirahat lah kalian agar besok pagi bisa melakukan perjalanan dengan tubuh segar", Dewi Anggrek Bulan tersenyum lalu bertepuk tangan 3 kali.
"Antar mereka ke tempat tamu, layani kebutuhan mereka jangan sampai mengecewakan".
Dua orang murid mengangguk tanda mengerti dan mengantar Panji Watugunung dan Ratna Pitaloka ke tempat beristirahat.
Dewi Anggrek Bulan memandang kepergian mereka dengan sejuta perasaan yang sangat berat.
'Apakah dia tidak pernah mengenal keluarga ibunya?'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hayo ada rahasia apa dengan Dewi Anggrek Bulan?
Apa kaitannya dengan ibu Panji Watugunung?
Tunggu jawaban nya di episode selanjutnya.
Jangan lupa untuk dukung author terus dengan vote, like dan komentar nya ya 🙏🙏
Happy reading guys 😁😁😁
________________________________________________
**Promo tipis boleh ya..
Author juga punya novel lain
Mandor Proyek dan Janda Muda
Silahkan di kunjungi guys
Jangan lupa sedekah vote, like dan komentar nya readers**
__ADS_1