Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Raja Pendekar Dunia Persilatan


__ADS_3

Tumenggung Landung segera meleset ke arah barisan anak murid Padepokan Alas Larangan yang menerjang maju.


Tangan kanannya terayun cepat kearah leher salah satu anggota Padepokan Alas Larangan yang menghadang di depan nya.


Crasshhh


Pedang Landung langsung menebas batang leher si anggota Padepokan Alas Larangan. Kepala nya langsung menggelinding ke tanah dan badannya ambruk seketika.


Dengan cepat Tumenggung Landung bergerak maju ke arah lawan. Dia segera mengamuk disana. Gerakan nya cepat dan lincah membuat beberapa orang yang mencoba menghadangnya menjadi korban ketajaman pedang Tumenggung Kadiri itu.


Melihat para anggota Padepokan Alas Larangan di bantai Tumenggung Landung, Simbarmayura segera menerjang ke arah Tumenggung Landung sambil menyabetkan goloknya.


Whuuuuttt


Landung dengan cepat berkelit ke samping kanan kemudian dengan sedikit menunduk Landung menyapu kaki Simbarmayura dengan betis kanan nya.


Simbarmayura segera menghindari sapuan kaki Tumenggung Kadiri itu dengan melompat tinggi ke udara. Landung segera memutar tubuhnya dan menebas kaki Simbarmayura yang hendak menjejak tanah. Gelagapan dengan serangan cepat Landung, Simbarmayura segera berguling ke samping kemudian melompat mundur beberapa langkah.


'Keparat ini cepat sekali gerakan nya, aku harus berhati-hati', batin Simbarmayura yang segera memutar golok pendek nya. Dengan cepat, dia melesat sambil membabatkan golok pendek nya mengincar leher Tumenggung Landung.


Hupppp!!!


Hiyyyyaaatttt.....!


Angin dingin tenaga dalam yang menyertai golok pendek Simbarmayura membuat Landung mewaspadai serangan lelaki muda bergelung itu.


Dengan cekatan, Landung menghindari sabetan golok pendek Simbarmayura dengan berguling ke tanah kemudian dengan cepat melayangkan tendangan keras kearah punggung Simbarmayura.


Bukkkkk


Ougghhh


Simbarmayura menjerit saat tendangan keras Tumenggung Landung menghajar punggung nya dengan telak. Laki laki muda itu jatuh tengkurap dengan wajah mencium tanah lebih dulu.


Dengan penuh amarah, Simbarmayura segera bangkit meski dengan dada sesak seperti habis ketiban batu besar.


"Bangsat!


Akan ku cincang kau", teriak Simbarmayura sambil mengacungkan goloknya ke arah Tumenggung Landung.


"Banyak omong!


Majulah, buktikan kemampuan mu", Tumenggung Landung memutar pedangnya.


Simbarmayura segera merapal Ajian Tapak Beku setelah menyarungkan goloknya. Perlahan tangan kanan Simbarmayura segera diliputi sinar biru muda keputihan yang berhawa dingin.


Sang Tumenggung Kadiri segera menyalurkan tenaga dalam nya pada pedang di tangan kanannya. Seketika pedang itu memancarkan pamor kehijauan. Itulah Ilmu Pedang Pembalik Bumi, yang merupakan senjata pamungkas dari ilmu warisan keluarga Landung.


Simbarmayura segera menghantam tangan kanannya ke arah Landung.


Sinar biru muda keputihan berhawa dingin menusuk tulang menerabas cepat kearah Landung.


Siuuttt!!!


Landung segera meloncat tinggi ke udara menghindari sinar biru muda keputihan itu dan menyabetkan pedang nya dua kali ke arah Simbarmayura.


Whuuussshh....!


Whuuussshh!!!


Sinar hijau berhawa panas merangsek ke arah Simbarmayura yang baru menghantamkan tangan kanannya.


"Bangsat kau!", umpat Simbarmayura yang segera berguling ke tanah sambil kembali menghantamkan Ajian Tapak Beku nya kearah sinar hijau Ilmu Pedang Pembalik Bumi.


Blammmmm!!


Ledakan keras terdengar dari benturan dua ilmu Kanuragan tingkat tinggi itu. Mereka berdua sama-sama terlempar ke belakang. Namun Landung dengan dada sesak segera melesat cepat kearah Simbarmayura yang jatuh menghantam tanah dengan keras.


Anggota Padepokan Alas Larangan itu berusaha bangkit setelah muntah darah segar.


Belum sempat dia berdiri tegak, sabetan pedang Tumenggung Landung menebas leher Simbarmayura.


Crasshhh!!!


Simbarmayura roboh dengan luka menganga lebar di leher. Darah merah muncrat dari luka yang di deritanya. Simbarmayura tewas dengan bersimbah darah.


Usai melihat lawan nya tewas, Tumenggung Landung melompat ke tengah para anggota Padepokan Alas Larangan.


Suasana pertarungan begitu sengit.


Di lain sisi, Patih Saketi yang lama tidak bertarung, langsung melompat maju sambil membabatkan pedang nya ke arah anggota Alas Larangan. Seorang lelaki bertubuh gempal berbaju merah segera menangkis sabetan pedang Patih Saketi yang mengincar nyawanya.


Tranggg!!


Bunga api kecil tercipta dari benturan dua senjata mereka. Dengan lincah Patih Saketi segera menghantamkan tangan kiri nya ke arah dada lawan.


Lelaki bertubuh gempal itu segera memapak serangan itu dengan tapak tangan kirinya.


Blarrrr!!


Patih Saketi terdorong mundur akibat benturan tenaga dalam mereka begitu juga si lelaki bertubuh gempal itu.


"Tua bangka,


Mundurlah. Kalau tidak kau akan cepat masuk ke dalam kubur", teriak si lelaki bertubuh gempal itu sambil mengacungkan pedangnya kearah Patih Saketi.


"Jangan jumawa kau,


Apa kau pikir aku tidak mampu mengalahkan mu? Bagiku membunuh mu hanya semudah membalik telapak tangan ku", balas Patih Saketi sambil tersenyum mengejek.


"Tua bangka keparat!!


Ku potong potong tubuh peyot mu!", usai berkata demikian si lelaki bertubuh gempal segera melesat cepat kearah Patih Saketi dengan mengayunkan pedangnya.


Whuuuuttt!

__ADS_1


Patih Saketi segera melenting tinggi ke udara menghindari sabetan pedang lelaki bertubuh gempal itu lalu dengan bersalto, Patih Saketi mendarat dua tombak di belakang si lelaki bertubuh gempal itu lalu dengan cepat Patih Saketi melesat cepat sambil melayangkan tendangan kearah bahu lawan nya.


Deshhhh!!!


Lelaki bertubuh gempal itu terjungkal ke depan, menyusruk tanah dengan keras.


Pertarungan hidup mati antara prajurit Kadiri dan Padepokan Alas Larangan terus berlangsung sengit.


Pangeran Alas Larangan dengan cepat melesat ke arah Panji Watugunung. Lelaki berwajah tampan itu mengayunkan senjata pusaka nya yang berupa golok besar. Belum sempat Panji Watugunung bergerak, Warigalit mendahului Sang Yuwaraja Panjalu dengan menusukkan Tombak Angin nya menyongsong sabetan Golok Iblis Air.


Tringgggg!!


Bunyi nyaring terdengar memekakkan telinga saat dua senjata pusaka itu beradu.


Dua orang itu segera melompat mundur beberapa langkah. Segera Warigalit memutar Tombak Angin diatas kepala nya dengan cepat. Angin kencang berseliweran dari putaran Tombak Angin seakan membawa angin kematian dari neraka.


Whuuussshh!


Dengan cepat, putaran angin menderu kearah Pangeran Alas Larangan. Pemimpin Padepokan Alas Larangan itu segera melompat menghindari angin menderu yang datang kearahnya.


Warigalit segera melesat cepat dengan bantuan Ajian Sepi Angin sambil mengayunkan mata Tombak Angin yang berupa bilah tipis yang sangat tajam kearah leher Pangeran Alas Larangan.


Sreeeetttt...


Pria tampan itu sedikit berkelit saat bilah tajam mata tombak mengarah ke leher nya. Hanya terlambat beberapa kejap mata, bilah tajam mata Tombak Angin melukai pipi kiri nya.


Mata Pangeran Alas Larangan membeliak marah karena pipinya terluka. Dia segera menghantamkan tangan kiri nya ke arah Warigalit yang dengan cepat melompat mundur beberapa langkah.


Dengan murka, Pangeran Alas Larangan mengusap darah yang menetes dari luka di wajah tampan nya.


"Keparat!


Kau merusak wajah ku bajingan! Akan ku hancurkan wajah mu", teriak Pangeran Alas Larangan dengan cepat.


Lelaki tampan itu segera menancapkan Golok Iblis Air ke tanah. Tangan kiri nya segera menekuk di depan dada.


Tiba-tiba seberkas sinar biru kehijauan melingkupi tangan kiri Pangeran Alas Larangan.


Itulah Ajian Tapak Beku tingkat akhir yang bernama Ajian Pembeku Neraka.


Melihat lawan nya sudah menyiapkan ajian andalan, Warigalit merapal Ajian Tapak Dewa Api tingkat akhir. Tangan kiri Warigalit segera berubah warna menjadi merah menyala seperti api yang berhawa panas.


Dari pintu gerbang istana, muncul Dewi Srimpi dan Ratna Pitaloka yang sedang mencari Panji Watugunung untuk membicarakan sesuatu. Mereka yang mendapat laporan dari prajurit tentang keributan di luar tembok istana segera bergegas menuju ke tempat itu.


Begitu mereka hendak maju, Panji Watugunung yang masih mengamati jalannya pertarungan memberi isyarat kepada mereka berdua untuk tetap diam di tempat.


Pangeran Alas Larangan segera menghantamkan tangan kiri nya yang sudah di lapisi Ajian Pembeku Neraka. Sinar biru pekat meluncur cepat kearah Warigalit.


'Ajian Pembeku Neraka..


Chiyyyaaaattttt!!!!!'


Shiiiuuuuuuutttt...


Blammmmm!!!


Ledakan keras terjadi saat dua ajian pamungkas berbeda unsur itu bertemu.Perbedaan tingkat tenaga dalam antara Warigalit dan Pangeran Alas Larangan membuat Warigalit terlempar jauh ke belakang dan jatuh menghantam tanah.


Huuoogghh!!


Senopati Kadiri itu muntah darah segar akibat luka dalam yang di deritanya.


Pangeran Alas Larangan yang merasakan sesak nafas segera melesat cepat ke arah Warigalit yang baru saja bangun dari tempat jatuhnya.


Pria tampan itu bermaksud menghabisi nyawa Warigalit dengan pukulan tangan kanannya.


"Mampus kau!", teriak Pangeran Alas Larangan dengan penuh keyakinan.


Saat yang kritis itu, Gumbreg yang baru menggebuk kepala seorang anggota Padepokan Alas Larangan segera menubruk tubuh Warigalit. Hantaman tangan kanan Pangeran Alas Larangan menghajar bahu kiri Gumbreg yang berlemak.


Blammmmm!


Tubuh Gumbreg dan Warigalit terpental ke belakang akibat hantaman pukulan Pangeran Alas Larangan. Nyawa Warigalit selamat akibat pertolongan Gumbreg, namun Demung bertubuh tambun itu muntah darah segar.


Panji Watugunung, Dewi Srimpi dan Ratna Pitaloka segera menghampiri mereka berdua.


"Gumbreg,


Kau tidak apa-apa?", tanya Panji Watugunung yang segera mendekati Gumbreg. Lelaki bertubuh tambun itu segera tersenyum kecut, kemudian pingsan dengan darah segar mengalir dari sudut bibirnya.


"Kakang,


Biar Kakang Warigalit dan Gumbreg kami yang menolong. Kau hajar saja laki laki itu", ujar Ratna Pitaloka dengan cepat.


Mendengar ucapan Ratna Pitaloka, Panji Watugunung segera menoleh ke arah Pangeran Alas Larangan. Sorot mata Yuwaraja Panjalu itu seperti mata Dewa Yama yang hendak mencabut nyawa manusia. Segera dia berdiri tegak sambil mencabut Pedang Naga Api dari punggung nya.


Hawa panas menyengat segera melingkupi seluruh udara disekitar tempat itu.


Pangeran Alas Larangan terkejut melihat senjata di tangan kanan Panji Watugunung. Bersama Golok Iblis Air, Pedang Naga Api adalah salah satu 7 pusaka terampuh di dunia persilatan. Selain dua pusaka itu, masih ada Tombak Kahyangan, Pisau Dewa Terbang, Gada Wesi Kuning, Cambuk Api Angin, dan Pedang Tulang Iblis. Pemegang salah satu pusaka itu bisa dipastikan adalah seorang yang sakti mandraguna. Dan yang menempati urutan pertama dari pusaka ampuh itu adalah Pedang Naga Api.


"Jadi kau pemegang pusaka itu?


Pantas saja bisa menghabisi para sesepuh Padepokan Alas Larangan. Ayo kita tentukan, siapa yang lebih pantas disebut raja pendekar dunia persilatan, Watugunung", teriak Pangeran Alas Larangan dengan lantang.


"Banyak cakap!


Majulah, jangan membuang waktu ku", balas Panji Watugunung yang segera merapal Ajian Tameng Waja. Tubuh Pangeran Daha itu segera diliputi oleh sinar kuning keemasan.


Segera Panji Watugunung melompat ke udara dan membabatkan Pedang Naga Api pada Pangeran Alas Larangan.


Dengan cepat Pangeran Alas Larangan menangkis sabetan Pedang Naga Api di tangan Panji Watugunung.


Tringgggg!!!


Blarrrr!!!

__ADS_1


Hawa panas dan dingin berbenturan dengan keras menciptakan gelombang kejut yang membuat dua orang itu terdorong mundur beberapa langkah.


Dengan bantuan Ajian Sepi Angin, Panji Watugunung melesat cepat kearah Pangeran Alas Larangan sambil mengayunkan pedangnya dengan cepat.


Tringgggg!


Tringggg!


Blarrrr!!


Blammmmm!!


Serangan Panji Watugunung yang bertubi-tubi membuat Pangeran Alas Larangan harus cepat menangkis dan bertahan dari serangan Panji Watugunung yang datang dari segala arah.


Semua orang menahan nafas melihat pertarungan mereka. Warigalit dan Gumbreg segera di gotong ke depan pintu gerbang istana oleh beberapa prajurit. Dewi Srimpi segera mengobati Gumbreg, sedang Ratna Pitaloka menyalurkan tenaga dalam pada Warigalit.


Puluhan jurus telah berlalu. Panji Watugunung terus menggempur pertahanan Pangeran Alas Larangan yang mulai goyah akibat cepat nya gerakan dan serangan Panji Watugunung.


Tringgggg!!


Blammmmm!


Pangeran Alas Larangan yang baru saja menangkis sabetan Pedang Naga Api yang diayunkan ke leher nya, tak menduga kalau itu hanya pengalihan perhatian dari Panji Watugunung.


Tangan kiri Panji Watugunung yang sudah berubah warna menjadi merah menyala seperti api menghantam dada Pangeran Alas Larangan.


Pemimpin Padepokan Alas Larangan itu segera menyongsong dengan tapak tangan kirinya.


Dhuaarr!!!


Pangeran Alas Larangan terlempar ke belakang namun masih sempat menghantamkan tangan kiri nya yang sudah di lapisi sinar biru pekat Ajian Pembeku Neraka ke arah dada Panji Watugunung.


Blammmmm!!


Tubuh Panji Watugunung yang terhantam Ajian Pembeku Neraka dengan telak sama sekali tidak lecet sekalipun karena Ajian Tameng Waja melindunginya. Pangeran Daha itu hanya tersenyum tipis sedangkan Pangeran Alas Larangan melotot melihat itu semua.


Segera pemimpin Padepokan Alas Larangan itu mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Rupanya benturan tadi membuat nya terluka dalam.


Dengan cepat, Panji Watugunung melesat cepat kearah Pangeran Alas Larangan sambil mengayunkan pedangnya. Pangeran Alas Larangan segera menangkis nya.


Tringgggg!!


Namun kuatnya tenaga dalam Panji Watugunung membuat Pangeran Alas Larangan harus sampai menekuk lutut kirinya untuk menahan Pedang Naga Api yang menekan Golok Iblis Air.


Panji Watugunung segera melayangkan tendangan keras kearah dada Pangeran Alas Larangan.


Deshhhh!!!


Ougghhh!


Tubuh Pangeran Alas Larangan terpelanting ke belakang. Panji Watugunung segera melesat mendahului tubuh Pangeran Alas Larangan dan menebas leher sang pemimpin tertinggi Padepokan Alas Larangan itu.


Crrrraaaaasshhhhh!!


Pedang Naga Api memisahkan kepala dan tubuh Pangeran Alas Larangan. Saat mayat pria itu jatuh ke tanah, tubuh nya berubah menjadi keriput seperti kakek tua yang berumur ratusan tahun. Malam itu menjadi ajal dari pemimpin Padepokan Alas Larangan. Dia tewas bersimbah darah di tangan Panji Watugunung.


Tak butuh waktu lama, seluruh anggota Padepokan Alas Larangan tewas terbunuh malam itu.


Panji Watugunung segera menyarungkan Pedang Naga Api di punggungnya, mengambil Golok Iblis Air yang tergeletak di tanah dan berjalan menuju ke arah Patih Saketi yang baru saja menghabisi lelaki bertubuh gempal yang menjadi lawannya.


"Paman Patih Saketi,


Bersihkan semua kekacauan ini dengan cepat. Besok pagi aku minta semua pembesar istana berkumpul di Balai paseban Agung", perintah Panji Watugunung. Patih Saketi segera menghormat pada Panji Watugunung.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya.


Selamat membaca 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2