Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Membersihkan Pengkhianat Negara


__ADS_3

"Senopati Narapraja,


Berapa jumlah pasukan Panjalu yang tersisa sekarang?", tanya Panji Watugunung seraya menatap wajah senopati muda Daha itu. Wajah Narapraja tampak lunglai mendengar pertanyaan Watugunung.


"Ampun Gusti Pangeran,


Hamba sudah menghitung jumlah para prajurit Daha yang kita punya. Jumlah pasukan kita ada 15000 prajurit Gusti Pangeran, kalau ditambah dengan prajurit Gusti Pangeran Panji maka ada sekitar 17 ribu prajurit", Narapraja menghitung jumlah keseluruhan prajurit yang ada di tenda perkemahan.


Hemmmm


"Apa ada yang tau, jumlah pasukan Jenggala yang masih bercokol di istana Kadipaten Lasem?", Panji Watugunung menatap semua wajah perwira di depannya.


"Sekitar 14 ribu prajurit Gusti Pangeran,


Itu berita yang baru telik sandi kirim lewat merpati surat tadi siang", ujar Tumenggung Wasikerta segera.


"Bagaimana tembok istana Kadipaten Lasem? Apa bisa di panjat, atau harus di jebol?", kembali Panji Watugunung menatap wajah Tumenggung Wasikerta.


"Tembok istana Kadipaten Lasem sangat tinggi Gusti Pangeran,


Hanya sisi barat istana yang merupakan tembok terlemah. Tapi kekalahan kemarin karena kita terlalu mengandalkan pemikiran itu Gusti Pangeran", Tumenggung Wasikerta segera menghormat.


Saat mereka sedang asyik berbincang, dari luar tenda, Jarasanda berteriak keras.


"Maaf Gusti Pangeran hamba lancang menyela, Rajegwesi ingin menghadap bersama seorang telik sandi".


"Suruh dia masuk", balas Panji Watugunung segera.


Rajegwesi dan seorang lelaki tua berpakaian hitam langsung masuk ke dalam tenda besar.


"Mohon ampun Gusti Panglima,


Hamba baru mendapat berita penting. 5 ribu prajurit Jenggala di Lwaram, mulai bergerak menuju Lasem. Kemungkinan mereka akan tiba besok sore", ujar si lelaki tua berpakaian hitam itu.


"Baiklah, kembali ke tempat mu. Dan ini hadiah untuk mu", Panji Watugunung mengulurkan sekantong kepeng perak kepada lelaki tua itu.


"Terimakasih Gusti Panglima", ujar lelaki tua berpakaian hitam itu yang segera bergegas keluar dari tenda besar di kawal Rajegwesi.


Panji Watugunung nampak mengerutkan keningnya, dia nampak sedang berfikir keras.


'Jagat Dewa Batara, berikan aku petunjuk mu'


Senja kini telah berganti malam.


Usai makan malam dengan keempat istrinya, Panji Watugunung berjalan menuju ke tenda besar. Saat berjalan, dia dikejutkan oleh suara gonggong anjing liar yang nampak mengerubungi seekor babi hutan di luar perkemahan pasukan Daha.


Panji Watugunung segera melesat cepat menuju ke sumber suara. Dan hinggap di atas cabang pohon besar yang ada diatas suara gaduh itu.


4 ekor anjing liar nampak mengeroyok seekor babi hutan besar yang tengah terluka, sedang 3 ekor anjing liar lainnya menghalangi seekor babi hutan lainnya yang tampak berniat membantu si babi hutan besar yang terluka.


Perlahan tapi pasti, si babi hutan penolong itu mundur, sedang anjing liar akhirnya bisa membunuh babi hutan besar itu.


Panji Watugunung tersenyum tipis. Segera dia melompat turun dari cabang pohon besar itu dan melesat cepat menuju ke arah tenda besar.


Semua perwira tinggi prajurit Daha sudah berkumpul menunggu kedatangan nya.


"Senopati Narapraja,


Aku sudah mendapatkan ide untuk menghadapi mereka.


Dengarkan aku baik-baik.


Pasukan kita pecah menjadi dua kelompok. Satu kelompok besar dan satu kelompok yang lebih kecil.


Kelompok besar terdiri dari Senopati Narapraja, Senopati Maitreya dan semua perwira tinggi dari masing-masing Kadipaten akan mengepung istana Kadipaten Lasem dengan gerakan memutar dengan kekuatan 12 ribu prajurit. Buat pagar betis untuk mengepung mereka, jangan ada celah. Upayakan membuat serangan kecil-kecilan di beberapa sudut tembok dengan pasukan pemanah agar mengacaukan pikiran mereka.


Aku dan saudara Balapati,


Akan menghadang bantuan pasukan Jenggala dari Lwaram di hutan timur kota Lasem. Dengan bantuan dari Tumenggung Bayucandra dari Tanggulangin dan Tumenggung Koncar dari Anjuk Ladang, aku yakin bisa menghadang laju bantuan dari Jenggala dengan sisa pasukan yang ada.


Apa ada pertanyaan? Silahkan utarakan", Panji Watugunung tersenyum tipis.


"Mengapa tidak kita gempur langsung saja istana Lasem Gusti Pangeran?


Bukankah itu lebih cepat kita tundukkan mereka?", tanya Tumenggung Wasikerta segera.


"Bukankah kalian kemarin sudah kalah dengan cara pertarungan seperti itu, Tumenggung Wasikerta?", Panji Watugunung tersenyum tipis.


Tumenggung Wasikerta langsung terdiam seketika.


"Dengar semuanya,


Kita tidak tahu jebakan yang di buat oleh para pasukan Jenggala di dalam istana Lasem.


Jika kita menerobos masuk tanpa memikirkan korban di pihak kita, maka hanya kekalahan kemarin yang akan terulang lagi", Panji Watugunung menatap wajah para perwira tinggi prajurit Daha.


Seorang lelaki bertubuh kurus dengan tahi lalat besar di pipi kiri nya tampak mengendap endap menuju ke tenda besar tempat pertemuan para perwira prajurit. Dialah Waseso, teman Gondho yang kemarin sudah berhasil menikam Senopati Ganggadara.


Gerakan lincah dan gesit membuat nya nyaris tidak terlihat. Dia memanfaatkan gelap malam hari untuk bersembunyi di antara tenda tenda prajurit Daha.


Jarasanda yang curiga dengan seorang berpakaian prajurit Daha yang mendekat ke tenda besar langsung menghardiknya.


"Berhenti kau!


Mau apa kau disini?".


Karena kaget, orang itu tidak menjawab tapi langsung berlari menuju keluar perkemahan.

__ADS_1


Jarasanda langsung berteriak lantang.


"Penyusup, ada penyusup masuk!".


Jarasanda langsung mengejar Waseso yang berlari cepat. Para prajurit penjaga langsung mengikuti langkah Jarasanda yang memburu sang penyusup.


Mereka berupaya mengepung Waseso namun gerakan lincah nya membuatnya lolos dari kepungan.


Saat Waseso sudah mendekati batas perkemahan, sebuah anak panah melesat cepat mengincar punggungnya.


Singggg...


Creeppp


Aughhhhh


Rajegwesi tersenyum tipis saat melihat anak panah nya menghajar telak punggung Waseso.


Waseso roboh menyusruk tanah dengan anak panah menancap di punggung nya. Jarasanda langsung menangkapnya. Waseso masih bernafas rupanya.


Tubuh kurus lelaki itu segera di gelandang ke depan tenda besar. Panji Watugunung dan para perwira prajurit langsung berdiri dan berjalan keluar dari dalam tenda besar, saat Jarasanda berteriak lantang.


Saat Panji Watugunung dan para perwira sudah keluar, Jarasanda dan seorang prajurit sudah menggelandang Waseso yang mulai muntah darah. Rupanya anak panah dari Rajegwesi melukai organ dalam nya.


"Katakan siapa teman mu di pasukan kami?


Kalau kau jujur, akan ku ampuni nyawa mu", Panji Watugunung mendelik tajam kearah Waseso.


"Hahahaha..


Phuihhh!!


Kalian semua orang orang Daha. Sebentar lagi kalian semua akan mampus. Gusti Mpu Tandi akan menghancurkan kalian semua", teriak Waseso yang tak takut mati.


"Seberapa besar kekuatan tempur Mpu Tandi aku sudah tau, kupastikan besok Lasem akan kembali ke wilayah Daha", Panji Watugunung berkata dengan nada dingin.


"Bedebah!!


Kau yang akan mampus keparat!


Bunuh dia, kawan kawan!", teriak Waseso lantang.


Tiga orang berpakaian prajurit Daha di belakang Jarasanda langsung melompat maju sambil menusukkan keris nya kearah Panji Watugunung. Pangeran Daha itu dengan cepat merapalkan Ajian Tameng Waja.


Sinar kuning keemasan segera melingkupi seluruh tubuh nya.


Cranggg!!!


Keris para penyusup itu seperti menghujam pada logam baja yang keras. Semua orang terkejut melihat kejadian yang begitu cepat.


Warigalit yang ada di samping Panji Watugunung segera menghantamkan tangan kanan nya ke dada salah satu penyusup yang menyerang Panji Watugunung.


Si penyusup langsung tewas seketika dengan dada gosong akibat Ajian Tapak Dewa Api Warigalit. Senopati muda Narapraja langsung menyabetkan pedang nya kearah leher salah satu penyusup dan...


Trassssshhh..


Leher sang penyusup itu terpenggal. Dia tewas bersimbah darah.


Maitreya langsung mencabut kerisnya dengan cepat dan menusuk perut salah satu penyusup setelah mengunci lehernya lebih dulu.


Creeppp


Oughhh


Sang penyusup tewas setelah keris Maitreya langsung menembus ulu hati nya.


Melihat teman temannya tewas, Waseso mulai ketakutan.


"Cepaaatt katakan!!


Siapa teman teman mu?", teriak Senopati muda Narapraja dengan keras.


Waseso melirik ke sekitar tempat itu, namun orang yang dia cari tidak ada.


Plakkk


Tamparan keras dari Jarasanda langsung membuat kepala Waseso pusing. Dengan terbata-bata dia menjawab pertanyaan Senopati Narapraja.


"Tumenggung Ranji dari Muria adalah teman kami".


Semua orang terkejut mendengar ucapan Waseso.


"Apa dia orang nya?", teriak Rajegwesi sambil menyeret seorang lelaki tua yang menderita luka tusukan anak panah pada bahu kiri nya.


"Benar sekali, ya dia orang nya dia orangnya", ujar Waseso yang langsung gembira melihat Tumenggung Ranji dari Muria tertangkap. Ada binar harapan hidup pada mata Waseso.


"Maaf Gusti Pangeran, hamba melihat nya berlari keluar dari perkemahan pasukan Daha saat mata mata itu di seret Jarasanda ke tenda besar.


Sesuai perintah, siapapun yang mencoba keluar dari perkemahan pasukan Daha boleh kami tangkap", ujar Rajegwesi kemudian.


"Bagus Rajegwesi, kau memang bisa diandalkan.


Siapa lagi yang terlibat? Katakan saja terus terang", hardik Panji Watugunung segera pada Waseso dan Tumenggung Ranji.


"Hanya kami yang terlibat. Tidak ada orang lain lagi Gusti. Sesuai janji Gusti akan mengampuni nyawa ku jika sudah berterus-terang bukan?", ucap Waseso dengan bergetar hebat.


Balapati yang merasa malu dengan kelakuan Tumenggung Ranji. Sebagai sesama prajurit dari Muria, dia benar tidak menduga bahwa bawahan ayahnya berkhianat kepada negara. Dia langsung mencabut kerisnya dan segera melompat lalu mencoblos perut pimpinan pasukan Muria itu.

__ADS_1


Clepp


Arghhhhh


Tumenggung Ranji menjerit keras saat keris Balapati menembus lambung nya. Pria paruh baya itu melotot sesaat sebelum tewas dengan usus terburai.


"Itu hukuman buat para pengkhianat negara.


Phuihhh


Kau mempermalukan ku Ranji", Balapati meludah ke arah mayat Tumenggung Ranji dengan geram.


Waseso semakin ketakutan saat melihat Tumenggung Ranji tewas di tangan Balapati.


Tiba-tiba


Creeppp


Aarrgghhh!!


Keris Kyai Pamegat Nyawa Senopati Narapraja menusuk perut Waseso.


"Ke-kenapaaaa...?", tubuh kurus Waseso limbung dan roboh ke tanah. Dari mulut lelaki itu darah mengalir.


"Gusti Pangeran Panji memang berjanji melepaskan kau tapi tidak dengan aku", ujar Narapraja sambil mengoleskan kerisnya yang berlumuran darah pada pakaian Waseso.


Waseso melotot sesaat sebelum akhirnya meregang nyawa.


Balapati segera berlutut di hadapan Panji Watugunung.


"Gusti Pangeran Panji,


Mohon ampuni para prajurit Kadipaten Muria. Mereka tidak bersalah. Hanya Tumenggung Ranji saja yang berkhianat kepada negara.


Mohon ampunan nya".


Seluruh anggota pasukan prajurit dari kadipaten Muria langsung berlutut kepada Panji Watugunung.


"Akan ku ampuni kalian semua, jika kalian sanggup bersumpah setia pada Panjalu", ucap Panji Watugunung sambil memandang kearah para prajurit dari kadipaten Muria.


"Kami bersumpah untuk setia dan patuh kepada Negeri Panjalu dan Gusti Pangeran Panji", ucap para prajurit dari kadipaten Muria bersama sama.


"Berdirilah,


Aku tidak meragukan kesetiaan kalian semua pada Daha. Tapi jika ada yang berani berkhianat kepada negara, jangan salahkan aku bila bertindak kejam", ucap Panji Watugunung segera.


"Hidup Gusti Pangeran Panji..


Hidup Gusti Pangeran Panji..


Hidup Panjalu....."


Sorak sorai para prajurit Daha terdengar memenuhi perkemahan pasukan Daha.


Ayu Galuh dari depan tenda peristirahatan nya, tersenyum penuh arti melihat para prajurit Daha yang mengelu-elukan Panji Watugunung.


"Suami ku memang hebat"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


MC kan memang harus hebat ya kak?


😁😁😁😁😁


Author mengucapkan beribu terima kasih atas dukungannya kakak reader tersayang semuanya 👍👍👍👍


Temani terus author semangat menulis sampai tamat ya 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


Selamat membaca guys 😁😁😁😁


__ADS_2