
Ranggawangsa mendengus panjang.
Lelaki tua itu menatap wajah Panji Watugunung dengan kilatan penuh kebencian. Dari awal Panji Watugunung memimpin pasukan Garuda Panjalu, dia sudah tidak suka dengan putra Bupati Gelang-gelang itu. Semua pertimbangan nya dari dulu mulai menikahkan Panji Watugunung dengan Ayu Galuh, juga merupakan bentuk kebencian nya.
Waktu itu dia berharap Panji Watugunung menolak untuk menikah dengan Ayu Galuh agar Panji Watugunung dicap pemberontak terhadap kekuasaan Prabu Samarawijaya. Namun ternyata Panji Watugunung menerima dan malah menjadi kesayangan Prabu Samarawijaya karena berhasil merubah sifat Ayu Galuh yang berandalan menjadi lebih baik.
Saat Panji Watugunung menghadapi pasukan Jenggala yang dipimpin Senopati Socawarma, dia yang mengusulkan untuk mengirimkan hanya sedikit prajurit dengan alasan untuk menjaga keselamatan wilayah lain. Dia berharap Panji Watugunung kalah dan mati dalam perang itu, namun ternyata Panji Watugunung malah pulang dengan membawa kemenangan.
Ketika Senopati Mpu Tandi menaklukkan Lasem, dia menghalangi usulan Mapatih Jayakerti agar Panji Watugunung yang berangkat memimpin pasukan Daha. Namun Senopati Ganggadara yang memimpin pasukan malah terbunuh dan Jenggala memperoleh kemenangan. Dengan sangat terpaksa, dia menyetujui usulan Mapatih Jayakerti, dan benar saja Panji Watugunung berhasil mengusir prajurit Jenggala setelah senopati berpengalaman macam Mpu Tandi harus tewas saat berhadapan dengan Panji Watugunung.
Dan saat pemberontakan Adipati Gandakusuma, dia menolak Balapati keponakan nya yang diutus dengan berbagai alasan. Dia yang mengusulkan Panji Watugunung berangkat ke Kawali semata-mata hanya karena ingin Panji Watugunung terbunuh disana. Namun bukannya terbunuh, Panji Watugunung justru mampu membuat ikatan politik dengan Prabu Darmaraja lewat pernikahan dengan Dewi Naganingrum.
Pun saat pasukan Daha berangkat ke Paguhan, dia pula yang membuat Prabu Samarawijaya hanya memberangkatkan 5300 prajurit dengan alasan keamanan wilayah Kotaraja.
Dan kini setelah pulang dan berhasil menumpas pemberontakan Adipati Gandakusuma, Panji Watugunung mendapat tiga Pakuwon terpenting di wilayah putra mahkota kerajaan Panjalu. Itu sama saja dengan pengangkatan Panji Watugunung sebagai Yuwaraja atau raja muda di Daha walaupun belum diumumkan kepada seluruh masyarakat Daha. Dia akan semakin sulit untuk di kalahkan dengan kedudukan sebagai Yuwaraja ini.
Prabu Samarawijaya dulu sangat mendengarkan segala nasehat dari Ranggawangsa, namun kini Prabu Samarawijaya mulai menggunakan pemikiran nya sendiri untuk menjalankan roda pemerintahan Panjalu.
Mempengaruhi Mapatih Jayakerti jelas tidak mungkin, karena salah satu saudara Jayakerti diambil selir oleh Prabu Samarawijaya.
Dengan tak sabar Ranggawangsa menunggu paseban agung ini selesai.
Panji Watugunung tersenyum saat Prabu Samarawijaya memakaikan mahkota Yuwaraja kepada sang menantu. Tidak ada yang pantas menjadi Yuwaraja selain Panji Watugunung diantara keempat menantunya.
Prabu Samarawijaya hanya mempunyai putri dan tidak memiliki putra, maka hak atas takhta jelas akan jatuh ke tangan putra mantu nya yang paling berbakat.
Permaisuri Daha dari Lasem, Dyah Kirana tidak memiliki anak. Sedangkan dari para selir, hanya putri yang lahir. Dan Ayu Galuh adalah putri sulung yang diangkat anak oleh Dyah Kirana.
Suasana paseban agung benar benar membuat perubahan besar dalam istana Daha. Para pembesar istana langsung memikirkan cara untuk menjalin hubungan baik dengan Panji Watugunung dan keluarganya. Bisa menjalin hubungan baik dengan Yuwaraja, berarti mengamankan kedudukan mereka sebagai bangsawan istana Daha.
"Mulai sekarang aku akan memanggil Dhimas Panji dengan panggilan Pangeran Panji Jayengrana.
Mulai pekan depan, Dhimas Pangeran harus menentukan letak istana untuk mu di wilayah kekuasaan mu. Aku tidak mau cucu ku nanti masih tinggal menumpang pada Kakang Gunungsari di Gelang-gelang", ujar Prabu Samarawijaya sambil tersenyum tipis.
"Perintah Gusti Prabu adalah tugas saya. Terimakasih atas semua kebahagiaan yang sudah Gusti Prabu berikan kepada saya", Panji Watugunung segera menyembah kepada Prabu Samarawijaya.
Raja Panjalu itu segera kembali ke singgasana nya dan Panji Watugunung kembali ke tempat duduknya.
Usai paseban agung di bubarkan, Panji Watugunung segera melangkah menuju ke keputran Daha.
Kelima istri nya menyambut kedatangan Panji Watugunung dengan penuh sukacita. Mereka sudah mendengar kabar bahwa Panji Watugunung akan diangkat sebagai Pangeran Daha. Itu berarti suami mereka akan menjadi raja Panjalu selanjutnya.
"Selamat Kangmas Pangeran,
Permaisuri kedua mu memberi hormat", ujar Ayu Galuh sambil menunduk.
"Bicara apa kau ini Dinda? Aku masih tetap Panji Watugunung yang kemarin", Panji Watugunung tersenyum tipis melihat ulah istri kedua nya itu.
Sementara Panji Watugunung bercengkrama dengan istri istri nya, Ranggawangsa memukul tiang rumah kediaman nya dengan keras.
"Ini tidak bisa di biarkan. Bocah kemarin sore itu akan semakin ngelunjak kalau kita berdiam diri saja", ujar Ranggawangsa geram.
"Tapi Gusti Ranggawangsa,
Sekarang kedudukan Panji Watugunung sudah kuat. Tidak mungkin kita mencelakai nya, apalagi Gusti Putri Ayu Galuh sedang hamil. Mengusik Panji Watugunung saat ini sama dengan cari perkara dengan Gusti Prabu Samarawijaya", Demung Tantripala turut bicara.
"Akan ku cari cara Tantripala, harusnya Wiramukti yang menjadi Yuwaraja tapi bocah itu tidak tahu apa apa. Keponakan ku itu benar benar bodoh", Ranggawangsa duduk di kursi nya dengan kasar. Kakek tua itu benar benar pusing. Jika Wiramukti keponakan nya yang menjadi mantu kedua Prabu Samarawijaya diangkat menjadi Yuwaraja, maka niatnya menguasai Panjalu dari balik layar akan mudah terlaksana. Tapi dengan diangkatnya Panji Watugunung menjadi penguasa Kadri, Watugaluh dan Kunjang maka tujuan nya semakin sulit tercapai.
Dia menggeram penuh kebencian
Setelah tiga hari di istana Daha, Panji Watugunung bermaksud untuk mengunjungi putranya Panji Tejo Laksono di Gelang-gelang sekaligus memenuhi janji kepada Cempluk Rara Sunti sebelum berangkat ke Kawali. Warigalit dan perwira pasukan Garuda Panjalu sudah kembali ke markas besar pasukan di Sanggur.
Pagi menjelang tiba di istana Daha. Suara kokok ayam jantan bersahutan pertanda pagi telah datang. Meski cuaca masih mendung tapi tidak terlampau dingin seperti biasanya.
__ADS_1
Panji Watugunung baru selesai bersiap siap saat Ayu Galuh datang menemuinya. Dia tidak mengenakan mahkota nya dan berdandan layaknya seorang pendekar.
"Kangmas Pangeran,
Aku punya sesuatu untuk anakku Tejo Laksono. Tolong berikan ya", ujar Ayu Galuh sambil memberikan sebuah buntalan kain kepada Panji Watugunung.
"Apa ini Dinda?", tanya Panji Watugunung segera.
"Hanya baju anak anak Kangmas, hasil jahitan ku sendiri. Awas kalau sampai Kangmas tidak memberikan nya untuk putra ku", ancam Ayu Galuh sambil mengepalkan tangannya.
Panji Watugunung segera tersenyum tipis. Dia begitu gembira saat Ayu Galuh menganggap Panji Tejo Laksono sebagai putra nya sendiri.
Dengan penuh perasaan, Panji Watugunung segera mengecup kening putri Daha itu segera.
Dewi Naganingrum, Dewi Srimpi, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang datang dari arah belakang serambi Keputran.
"Kalian berempat,
Jaga baik-baik Kangmas Pangeran Panji. Kalau sampai terjadi apa apa, akan ku kejar kalian semua sampai ke ujung dunia sekalipun", ujar Ayu Galuh dengan lagak putri raja nya.
Cihhh
"Tidak perlu kau perintah kami juga sudah menjaga Kakang Watugunung, Putri Liar", Sekar Mayang melengos kesal.
Panji Watugunung hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kelima istri nya itu.
Usai berpamitan, Panji Watugunung dan keempat istrinya segera melompat ke atas kuda mereka. Perlahan mereka meninggalkan istana Daha menuju ke arah timur.
Seorang prajurit penjaga Keputran didekati oleh seorang prajurit berkumis tebal.
"Mau kemana Gusti Pangeran?", tanya si prajurit berkumis tebal itu sambil menatap kearah perginya Panji Watugunung dan keempat istri nya.
"Gak tau, tapi tadi aku dengar katanya mau mengunjungi putranya di Gelang-gelang", jawab si prajurit penjaga. Si kumis tebal itu langsung manggut-manggut mendengar ucapan si prajurit penjaga.
Kakek tua berambut putih itu sedang duduk di kursi kayu rumahnya saat si prajurit berkumis tebal itu datang.
"Sudah ku bilang, jangan kemari kalau tidak ada berita penting", ujar Ranggawangsa ketus.
"Ampun Gusti Penasehat,
Gusti Pangeran Panji Jayengrana dan keempat istrinya meninggalkan Keputran. Mereka menuju ke timur. Penjaga bilang, mereka akan ke Gelang-gelang", si prajurit berkumis tebal itu menghormat.
Hemmmm
"Bagus kerja mu. Terus laporkan jika ada hal penting yang terjadi di seputar keputran", ujar Ranggawangsa sambil merogoh kantong bajunya lalu melempar sekantong kecil kepeng perak kepada si prajurit berkumis tebal. Mata mata itu tersenyum tipis, terbayang sebentar lagi dia akan menyabung ayam. Dia membutuhkan uang untuk berjudi. Segera si prajurit berkumis tebal itu menghormat pada Ranggawangsa dan mundur dari kediaman Penasehat Istana Dahanapura.
Ranggawangsa segera melompat ke atas kuda, dan menggebrak kudanya menuju pinggiran kota Dahanapura.
Di sebuah rumah kayu yang dekat dengan hutan kecil, dia berhenti. Setelah menambatkan kuda nya, dia masuk ke dalam.
Seorang lelaki paruh baya berbadan besar dengan kumis tebal dan jenggot panjang nampak sedang asyik duduk sambil menikmati arak beras ketan. Di sekitar nya puluhan orang berbaju hitam sedang asyik dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang asyik main judi, ada yang sedang memandikan ayam jago, ada yang asyik minum arak beras, ada pula yang sedang asyik main perempuan di dalam kamar.
Begitu Ranggawangsa masuk, pria paruh baya itu segera berdiri.
"Kerja kalian hanya bermalas-malasan saja", teriak Ranggawangsa sambil berkacak pinggang.
"Hehehehe,
Kan tidak ada pekerjaan Gusti. Jadi apa salahnya jika kami sedikit bersenang senang?", ujar si pria paruh baya itu sambil terkekeh.
"Dasar sampah..
Dengar aku punya tugas penting untuk kalian, hai Serigala Hitam.
__ADS_1
Tugas kalian ada di Gelang-gelang, jangan sampai gagal. Kalaupun gagal, kalian tahu sendiri tahu apa akibatnya. Jangan pernah sebut namaku jika sampai kalian tertangkap.
Bayaran kalian 100 kepeng emas", ujar Ranggawangsa sambil melemparkan sekantong beras kepeng emas kepada lelaki yang merupakan pemimpin kelompok Serigala Hitam, Ki Samba.
Ki Samba menimang-nimang kepeng emas dalam kantong kain itu. Tugas sebesar ini pasti mempertaruhkan nyawanya.
"Maaf Gusti, apa tugas kami sebenarnya?", tanya Ki Samba sambil terus menimang-nimang kepeng emas itu.
"Bunuh Pangeran Jayengrana", jawab Ranggawangsa dengan dingin.
Kepeng emas langsung jatuh dari tangan Ki Samba. Pria paruh baya itu langsung hilang mabuknya mendengar ucapan Ranggawangsa. Tugas itu sangat berbahaya. Jika berhasill, mereka pasti jadi buronan Istana Dahanapura. Jika gagal, mereka pasti akan mampus.
"Tugas ini sangat berbahaya Gusti. Kalau hanya 100 kepeng emas, lebih baik Gusti mencari orang lain untuk melakukan nya", ujar Ki Samba segera.
"Baik,
Ku lipat gandakan hadiahnya. Anggap itu yang muka untuk upah kalian. Jika berhasil, kalian akan ku beri 300 kepeng emas untuk mu", Ranggawangsa tersenyum sinis.
Mendengar jawaban Ranggawangsa, Ki Samba dan Kelompok Serigala Hitam langsung tersenyum lebar.
"Kapan kami harus berangkat Gusti?", tanya Ki Samba sambil menenggak lagi arak beras nya.
Ranggawangsa segera berbalik arah menuju pintu rumah dan berkata,
"Besok aku mau mendengar kabar kematian Pangeran Jayengrana"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya
Mulai besok author ada sedikit kerepotan ya kak, mohon maaf jika update nya tidak tentu jamnya 🙏🙏
__ADS_1
Selamat membaca kak 😁😁