
"Siapa yang pangeran Aki? Sadayana hanya orang biasa. Aki mah jangan mengada-ada atuh", ujar lelaki muda itu sambil menatap heran pada Ki Buyut Permana.
Laki laki sepuh itu hanya tersenyum saja. Dengan perlahan tangan nya menunjuk pada Panji Watugunung.
"Dia adalah pangeran, Surawisesa. Kau mungkin bisa tertipu dengan penampilan nya, tapi tidak dengan mata tua ini", Ki Buyut Permana tersenyum simpul.
Surawisesa terbelalak lebar mendengar ucapan kakek tua itu. Perlahan dia mulai menatap ke arah Panji Watugunung yang hanya diam tanpa bicara apa apa.
"Saya tidak bisa berbohong pada mu Ki, benar ini adalah seorang pangeran dari kerajaan timur. Tapi Ki Buyut tidak perlu repot-repot untuk bersikap sopan terhadap kami. Toh kami hanya semalam disini, sebelum melanjutkan perjalanan ke Kawali", ujar Trajutrisna dengan sopan.
"Tidak bisa begitu, seorang bangsawan berhak atas penghormatan lebih dari masyarakat biasa..
Surawisesa,
Kau ke belakang sana. Potong ayam untuk tamu agung kita", perintah Ki Buyut Permana pada Surawisesa. Laki laki muda itu segera mundur dari serambi menuju ke arah dapur.
"Terimakasih atas kebaikan hati mu, Ki Buyut.
Budi baik ini aku tidak akan melupakannya", ujar Panji Watugunung segera.
"Hehehehe, pangeran muda kau terlalu rendah hati.
Sesudah urusan mu di Kawali selesai, aku minta kalian mampir lagi kesini. Ada sesuatu yang akan ku berikan padamu", laki laki sepuh itu tersenyum penuh arti.
Malam itu, Panji Watugunung dan rombongannya mendapat jamuan makan terhormat dari Ki Buyut Permana. Pelbagai jenis masakan mulai ayam bakar, pepes ikan mas, panggang ikan mas dan lainnya terhidang di meja. Benar benar menggugah selera masing masing orang.
Pagi menjelang tiba di Wanua Karang Kamulyan. Ayam jantan berkokok bersahutan, burung burung berkicau riuh rendah bersahutan membangunkan semua orang penghuni wanua di tepi sungai Citanduy itu.
"Ingatlah untuk mampir kesini lagi, pangeran muda", pesan Ki Buyut Permana saat Panji Watugunung dan rombongannya melompat ke atas kuda mereka.
"Aku pasti kembali lagi Ki", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.
Trajutrisna yang menjadi pemandu perjalanan langsung menggebrak kudanya diikuti Panji Watugunung dan keempat pengiringnya.
Setelah menyeberang sungai Citanduy, mereka terus memacu kudanya menuju Kawali.
Kawali adalah ibukota kerajaan Galuh Pakuan sejak masa pemerintahan raja Galuh Pakuan pertama, Maharaja Tarusbawa. Kota yang terletak di hulu sungai Cipakancilan ini menjadi pusat kegiatan pemerintahan selama berabad-abad.
Sebelum tengah hari, rombongan Panji Watugunung sudah memasuki wilayah pinggiran kota Kawali. Begitu memasuki alun alun istana Kawali, keramaian besar sedang terjadi. Ribuan orang berpakaian mewah layaknya bangsawan sedang menyaksikan keramaian itu. Nampak nya mereka adalah putra para penguasa daerah dan pendekar di wilayah Galuh.
Rombongan Panji Watugunung segera melompat turun dari kudanya.
"Punten Akang,
Ada apa ya? Kog ramai begini", tanya Trajutrisna pada seorang lelaki muda yang sedang berdiri di samping nya.
"Eta kang, Gusti Prabu Darmaraja sedang mengadakan sayembara. Hadiahnya adalah menikahi putri bungsu nya yang bernama Dewi Naganingrum.
Itu orang nya sedang bertanding di arena pertandingan. Sudah puluhan anak Adipati dan Akuwu yang ikut, tapi setiap tidak ada yang mampu melawan, Dewi Naganingrum turun untuk bertarung. Nah hasilnya, mereka dihajar habis-habisan sama Dewi Naganingrum.
Ini teh sudah hari ketiga Kang, tapi belum satupun orang yang bisa mengalahkan Dewi Naganingrum", ujar si lelaki muda itu menjelaskan.
"Nah sekarang yang jadi lawannya itu, putra Adipati Saunggalah, Somawikarta. Kelihatannya ilmu nya juga tinggi, tapi aku yakin dia mah pasti kalah lawan Dewi Naganingrum", imbuh si lelaki muda itu sambil tersenyum.
Panji Watugunung dan ketiga selir nya hanya manggut-manggut sambil menonton pertandingan itu.
Di tengah arena pertandingan, Dewi Naganingrum tengah berlaga dengan Somawikarta.
Gerakan lincah dan gesit dari Dewi Naganingrum membuat Somawikarta terkuras tenaganya.
'Brengsek,
Gadis ini seperti nya sengaja membuat aku kelelahan', Putra Adipati Saunggalah itu menggerutu dalam hati.
"Ayo Somawikarta, bukankah kau ingin menikahi ku? Tunjukkan kedigdayaan mu, jangan hanya garang saat melawan orang lemah", ejek Dewi Naganingrum.
Somawikarta tersenyum kecut.
"Baiklah Dewi Naganingrum, sesuai permintaan mu.. Aku akan mengerahkan seluruh kemampuan ku", ujar Somawikarta sambil bersiap untuk melakukan serangan pamungkas.
Tangan kanan Somawikarta seketika diliputi sinar biru kekuningan. Dia merapal Ajian Karang Kobar nya.
Melihat itu, Dewi Naganingrum segera bersiap dengan Ajian Chandra Buana ajaran Resi Buyut Gunung Galunggung.
Para penonton semua menahan nafas. Prabu Darmaraja yang duduk di kursi panggung kehormatan diapit Putra mahkota Galuh Pakuan, Pangeran Langlangbumi dan guru besar Dewi Naganingrum, Resi Buyut Gunung Galunggung menatap seksama ke arah arena pertandingan.
Somawikarta melompat tinggi ke udara dan menghantamkan tangan kanan nya yang diliputi sinar biru kekuningan.
Hyaaaaaaaaatttt!!!
Dewi Naganingrum segera menyambut nya dengan tangan kanan nya yang di liputi sinar kuning kebiruan.
Whiiingggg...
__ADS_1
Blammmm!!!
Somawikarta terpelanting ke belakang dan nyaris menabrak Panji Watugunung namun dengan cepat, tangan kokoh Panji Watugunung menghentikan tubuh Somawikarta.
Somawikarta yang sudah terluka dalam, tidak ingin melanjutkan pertandingan lagi. Dengan licik, Somawikarta mendorong Panji Watugunung ke tengah arena pertandingan.
"Siapa kau? Ingin mencicipi pukulan ku juga?", hardik Dewi Naganingrum segera.
"Maaf Gusti Putri, hamba di dorong oleh orang yang baru Gusti Putri hajar, jadi hamba tidak berniat mengikuti sayembara ini", ujar Panji Watugunung dengan sopan sambil berbalik arah menuju ke tempat dia tadi.
"Huhh bilang saja kalau kau takut,
Dasar lelaki tidak berguna", ejek Dewi Naganingrum segera.
Hati Panji Watugunung seketika panas mendengar ejekan dari putri bungsu Prabu Darmaraja itu. Seketika itu juga, Panji Watugunung memutar tubuhnya.
"Hamba tidak mau ikut bukan karena takut Gusti Putri,
Tapi karena merasa hadiahnya kurang menarik", Panji Watugunung tersenyum tipis.
"Bedebah,
Jadi kau menghina ku kurang cantik? Dasar lelaki kampung, akan ku tampar mulut beracun mu itu", Dewi Naganingrum marah besar.
Selama ini belum pernah sekalipun orang yang merendahkan kecantikan nya. Dia adalah sekar kedaton Kawali yang dipuja oleh para lelaki di seluruh kerajaan Galuh Pakuan, dan hari ini seorang pemuda tampan dengan pakaian kampung menghinanya.
Usai berkata, Dewi Naganingrum menerjang maju ke arah Panji Watugunung. Jurus Cakar Rajawali Galunggung nya berayun mengincar leher sang putra Bupati Gelang-gelang.
Dengan sigap, Panji Watugunung berkelit ke samping. Melihat lawan berhasil menghindar, Dewi Naganingrum segera memutar tubuhnya sambil mengayunkan cakar tangan kiri nya.
Sreeetttttt
Lagi lagi, Panji Watugunung mampu menghindari serangan cakar Dewi Naganingrum. Perempuan itu lantas melayangkan tendangan keras ke arah perut Panji Watugunung. Pria itu melompat tinggi ke udara dan bersalto dua kali kemudian mendarat sejauh 2 tombak di belakang Dewi Naganingrum.
Dewi Naganingrum terus memburu Panji Watugunung dengan silat Cakar Rajawali Galunggung nya. Pangeran Daha itu meladeni permainan silat putri bungsu Prabu Darmaraja itu dengan ilmu silat Padas Putih.
Semua penonton menahan nafas melihat pertarungan sengit itu.
Somawikarta yang sempoyongan berdiri, menatap takjub pertarungan di arena. Dia tidak pernah menduga bahwa pemuda tampan yang di dorong nya ternyata berilmu tinggi.
Di kursi panggung kehormatan, Resi Buyut Gunung Galunggung tersenyum simpul. Melihat raut wajah sang guru yang tenang, Pangeran Langlangbumi tak tahan untuk bertanya.
"Guru,
"Gusti Pangeran,
Seperti nya orang yang akan menjadi ipar mu sudah datang", jawab Resi Buyut Gunung Galunggung sambil tersenyum penuh arti.
"Apa dia bisa mengalahkan adik ku, Guru? Aku lihat dari tadi dia hanya menghindar dan bertahan saja dari serangan Naganingrum", ujar Pangeran Langlangbumi sambil memandang kearah arena pertandingan.
"Gusti Pangeran lihat saja nanti", ujar kakek tua berjenggot putih itu dengan tenang.
Sedang Prabu Darmaraja tetap diam sambil terus memperhatikan jalannya pertandingan.
Dewi Naganingrum semakin marah. Serangan demi serangan yang dilancarkan nya bisa di hadapi dengan mudah oleh lawannya itu. Usai jurus ke 30 silat Cakar Rajawali Galunggung, dia melompat mundur dua tombak.
Tangan nya segera diliputi sinar kuning kebiruan tanda Ajian Chandra Buana. Setelah menjejak tanah dengan keras, tubuh ramping Dewi Naganingrum melenting tinggi ke udara dan mengayunkan tangan nya yang di liputi sinar kuning kebiruan.
Siuuuttttt
Sinar kuning kebiruan menerabas cepat kearah Panji Watugunung.
Putra Bupati Gelang-gelang itu segera bersiap untuk menghadapi serangan Dewi Naganingrum dengan Ajian Tameng Waja. Tubuh pemuda tampan itu segera diliputi sinar kuning keemasan.
Sinar kuning kebiruan menghajar telak tubuh Panji Watugunung.
Dhuarrrr!!!
Ledakan dahsyat terjadi. Asap mengepul dari tubuh Panji Watugunung. Semua orang mengira Panji Watugunung sudah tewas. Hanya ketiga selir, Lawana dan Trajutrisna saja yang masih tetap tenang.
Saat asap mulai menghilang, nampak Panji Watugunung tersenyum tipis. Tubuhnya diliputi oleh sinar kuning keemasan. Jangankan terluka dalam, kulit nya pun sama sekali tidak tergores.
Semua orang melotot tak percaya.
Melihat lawan nya baik baik saja, Dewi Naganingrum segera melompat sambil mengayunkan cakar nya. Panji Watugunung menunduk sedikit lalu tapak tangan kiri nya menghantam bahu kanan Dewi Naganingrum.
Deshhhhh
Naganingrum menjerit keras saat terpental ke belakang. Melihat lawan nya terluka, dengan Ajian Sepi Angin, Panji Watugunung segera mendahului tubuh Naganingrum dan menangkap nya. Gadis cantik itu yang tak menyangka akan di tolong Panji Watugunung, jantung nya langsung berdebar kencang.
Cihhhhh
'Dasar perempuan ular', gerutu Sekar Mayang dalam hati.
__ADS_1
Bende sebagai tanda akhir pertandingan berakhir berbunyi.
Prabu Darmaraja segera berdiri dari tempat duduknya.
"Hari ini,
Sayembara pencarian jodoh untuk putri ku, Dewi Naganingrum telah selesai. Aku, Maharaja Galuh Pakuan mengucapkan terima kasih atas perhatian dan keikutsertaan warga Galuh dalam acara ini.
Semoga Sang Hyang Tunggal memberikan berkah dan karunia nya kepada kita semua", ujar Prabu Darmaraja menutup acara sayembara.
Panji Watugunung yang hendak meninggalkan arena, langsung di hadang para prajurit Galuh.
"Mau kemana kau pendekar muda? Jangan kira kau bisa pergi seenaknya setelah mengalahkan adik ku", ujar Pangeran Langlangbumi sambil tersenyum tipis.
"Aku hanya ingin mengajak teman teman ku untuk menemani ku di istana Kawali", Panji Watugunung tersenyum kecut.
"Mana teman dari pendekar muda ini? Cepat kemari", teriak Pangeran Langlangbumi menoleh ke penonton segera.
Trajutrisna, Lawana dan ketiga selir Panji Watugunung segera mendekat. Dengan kawalan ketat dari prajurit Galuh, Panji Watugunung digiring menuju ke Puri pribadi Raja di belakang balai paseban agung.
"Sekarang terangkan jati diri mu anak muda. Siapa kau dan darimana asal usul mu? Seperti nya kau bukan orang Tatar Pasundan", tanya Prabu Darmaraja sambil memandang kearah Panji Watugunung. Di sekelilingnya sudah ada Resi Buyut Gunung Galunggung, Pangeran Langlangbumi, Dewi Naganingrum dan Patih Ranawijaya.
"Hamba memang bukan penduduk sini Gusti Prabu. Nama hamba adalah Panji Watugunung, utusan dari Daha untuk menyampaikan nawala ini kepada Gusti Prabu", jawab Watugunung sambil mengulurkan surat dari daun lontar yang baru diberikan oleh Sekar Mayang.
Segera Prabu Darmaraja membaca surat itu. Mukanya masam seketika.
"Kami dari Galuh Pakuan tidak tahu menahu soal rencana Adipati Gandakusuma, tapi dia masih saudara jauh ku", ujar Prabu Darmaraja sambil menggenggam erat surat di tangan nya.
"Lupakan dulu masalah ini,
Sekarang yang lebih penting, kau harus menikahi putri ku", imbuh Prabu Darmaraja. Seorang gadis yang disayembarakan harus menikah dengan sang pemenang. Jika tidak seumur hidupnya, dia tidak akan bisa menikah. Begitu aturan adat yang berlaku di masyarakat Galuh Pakuan.
"Maaf Gusti Prabu, bukan hamba menolaknya tapi hamba sudah menikah. Apa Gusti Prabu yakin akan menikahkan hamba dengan Gusti Putri?", mendengar jawaban Panji Watugunung, Prabu Darmaraja segera menoleh kearah Dewi Naganingrum.
"Saya tidak keberadaan Ayahanda", ujar Dewi Naganingrum segera. Gadis itu langsung tersenyum malu-malu.
"Kau sudah dengar sendiri bukan jawaban nya?", Prabu Darmaraja tersenyum tipis.
Hemmmm
"Baik, hamba bersedia menikahi Dewi Naganingrum tapi hamba punya sebuah syarat Gusti Prabu", Panji Watugunung menghela nafas panjang. Tak di duga dia akan terjebak di situasi seperti ini. Ramalan keempat Mpu Soma dari Ranja ternyata benar-benar terbukti.
"Apa syaratnya? Katakan saja. Aku pasti akan mengabulkannya", ujar Prabu Darmaraja segera.
Panji Watugunung tersenyum tipis sambil berkata,
"Hamba minta Gusti Prabu tidak ikut campur dalam urusan Paguhan"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak😁😁
Jangan lupa sedekah like,vote, favorit dan komentar nya ya 👍☝️❤️🗣️
Selamat membaca guys 😁😁😁😁
__ADS_1