
Udawara adalah Senopati baru Jenggala. Lelaki bertubuh tegap dengan kumis tipis itu baru menjadi Senopati Jenggala setelah adanya perekrutan besar besaran yang di lakukan oleh pemerintah Istana Kahuripan usai kekalahan pertama mereka dalam upaya menyatukan dua wilayah Kahuripan.
Sepak terjangnya di dunia persilatan sangat diakui oleh pemerintah Istana Kahuripan karena dia adalah murid Resi Mpu Badra dari Gunung Mahameru. Di wilayah Lamajang, Udawara dikenal sebagai pendekar aliran putih dengan gelar Pendekar Naga Biru karena Ajian Tapak Naga Biru nya yang terkenal ampuh membantai lawan.
Dyah Bayunata, Mapatih Jenggala sangat memuja kemampuan beladiri Udawara. Begitu ada pengumpulan kekuatan baru untuk memperkuat angkatan perang Jenggala, Dyah Bayunata segera mengirimkan pesan kepada Resi Mpu Badra agar mau memberikan murid kesayangannya itu untuk dijadikan perwira prajurit Jenggala. Meski berat hati, Resi Mpu Badra memerintahkan Udawara untuk berangkat ke istana Kahuripan. Dia sebenarnya tidak ingin Udawara bernasib sama dengan adik seperguruan nya, Socawarma yang tewas setelah menjadi Senopati Jenggala.
Di istana Kahuripan, Udawara di adu ilmu beladiri nya dengan beberapa calon perwira prajurit yang akan menjadi tulang punggung angkatan perang Kerajaan Jenggala. Hanya Udawara dan Jambuwana dari Keling yang terpilih.
Meski tanpa bekal pembelajaran ilmu keprajuritan yang cukup, Udawara langsung di tempatkan di posisi puncak perwira prajurit Jenggala bersama Jambuwana.
Godaan dan pengaruh kemewahan istana Kahuripan perlahan merubah Udawara dari pendekar aliran putih menjadi senjata perang yang haus darah. Dia tidak segan segan menghabisi nyawa orang hanya karena hal sepele. Kemampuan kanuragan nya yang tinggi membuat para bawahannya hanya bisa diam melihat ulah Udawara. Akibat kekejaman nya, dia mendapat julukan baru sebagai "Naga Iblis dari Kahuripan".
Udawara terus membabatkan pedang nya kearah para prajurit Panjalu yang berusaha menghalang-halangi tujuan nya untuk mendekati Senopati Narapraja.
Crasshhh!!
Untuk kesekian kalinya, satu kepala prajurit Panjalu menggelinding ke tanah setelah pedang Udawara menebas batang leher nya. Si prajurit Panjalu yang naas langsung roboh bersimbah darah.
Melihat itu, Senopati Narapraja segera menyambar sebuah tombak yang menancap di samping kudanya dan dengan cepat melempar tombak itu kearah Senopati Udawara sekuat tenaga.
Whhhuuuggghhhh!
Tombak meluncur cepat kearah Senopati Udawara yang berusaha merangsek maju. Melihat serangan itu, pemimpin tertinggi prajurit Jenggala segera memutar pedangnya dan membabat gagang tombak yang terbuat dari kayu setelah sedikit memiringkan badannya ke samping.
Tranggg traakk!!
Gagang tombak langsung patah terkena sabetan pedang Senopati Udawara yang memang memiliki tenaga dalam tinggi.
Usai mendapat serangan itu, mata Senopati Udawara berkilat penuh amarah dan menatap tajam ke arah Senopati Narapraja.
Dengan berpijak pada punggung kudanya, Senopati Udawara melompat tinggi ke udara dan melesat turun dengan cepat ke arah Senopati Narapraja sambil mengayunkan pedangnya kearah leher sang pemimpin tertinggi pasukan Daha.
Whuuuuttt!!
Demi menghindari sabetan pedang Senopati Udawara, Narapraja segera menjejak tubuh kudanya dan melompat turun dari tunggangan nya itu dengan cepat.
Setelah Senopati Udawara mendarat di tanah, dia segera membalik badan nya dan menyeringai lebar ke arah Senopati Narapraja.
"Lumayan juga kemampuan mu, hai wong Panjalu..
Tidak ku duga tampang mu yang klemar-klemer punya isi juga. Baguslah, ini akan menjadi hiburan tersendiri bagi ku", ujar Senopati Jenggala itu dengan pongahnya.
"Jadi seperti inikah sikap para pembesar Istana Kahuripan? Pantas saja rakyat Jenggala begitu banyak yang menderita.
Kau tidak pantas menjadi pemimpin jika sikap mu suka merendahkan orang lain", ucap Senopati Narapraja dengan tenang nya.
Phuihhh
"Tak pantas orang yang akan segera mampus menceramahi ku tentang sikap.
Bersiaplah untuk mati, hai wong Panjalu!", teriak Senopati Udawara dengan lantang.
"Mati hidup seseorang bukan ada ditangan manusia, wong Jenggala.
Kau bukan Dewa Yama, jadi berhentilah bersikap jumawa terhadap sesama manusia", jawab Senopati Narapraja yang diam diam mempersiapkan diri untuk bertarung melawan Senopati Udawara.
"Banyak omong!
Ku bunuh kau bangsat", usai berkata demikian Senopati Udawara segera melesat cepat kearah Narapraja dengan mengayunkan pedangnya kearah leher sang pemimpin tertinggi pasukan Daha.
Whuuuummmm..
Dengan cepat, Senopati Narapraja segera menangkis sabetan pedang Senopati Udawara.
Tringgggg!!
Bunga api kecil tercipta dari benturan dua pedang para pemimpin pasukan itu. Bunyi nya nyaring memekakkan telinga. Melihat lawan bisa menangkis sabetan pedang nya, Senopati Udawara segera menyapu kaki Narapraja yang segera mengangkat kaki kanan nya dan melompat mundur beberapa langkah.
Merasa lawan sedikit takut, Senopati Udawara kembali memburu Senopati Narapraja dengan sabetan pedang nya ke arah dada Narapraja.
Tranggg!!
Kembali bunyi nyaring memekakkan telinga terdengar saat pedang Senopati Narapraja menangkis sabetan pedang Udawara. Pria bertubuh tegap itu segera menghantamkan tangan kiri nya ke arah perut Narapraja. Namun sebelum serangan itu menyentuh perut, Narapraja segera memutar tubuhnya dan dengan cepat menyikut pinggang Senopati Udawara saat tubuhnya memunggunginya.
Bukkkkk
Senopati Udawara nyaris terjungkal ke depan jika pedangnya tidak di gunakan untuk menyangga tubuhnya. Pemimpin pasukan Jenggala itu segera melompat mundur selangkah. Pinggang sakit bukan main.
Senopati Narapraja yang melihat lawannya sedikit lengah, melesat cepat kearah Senopati Udawara sambil membabatkan pedang nya ke arah paha pria bertubuh tegap itu.
Whuuussshh...
Merasa kakinya terancam, Senopati Udawara jejak tanah dengan keras dan melenting tinggi ke udara menjauhi Senopati Narapraja yang ingin memotong kakinya.
Setelah mendarat cukup jauh, Senopati Udawara segera memutar tubuhnya dan menatap tajam ke arah Senopati Narapraja.
"Rupanya kau tidak bisa diremehkan.
Baik,
Kita lihat sampai di mana kau mampu bertahan dari ajian andalan ku", ucap Senopati Udawara sambil menyarungkan pedang nya.
Kedua tangan Senopati bertubuh tegap itu segera merentang dengan gerakan kaku ke kanan dan kiri tubuh nya. Dengan cepat tangan mengepal kuat kemudian kedua tangan terangkat ke atas kepala dan turun ke depan dada dengan sikap mudra. Sinar biru terang segera menyelimuti seluruh lengan kiri dan kanan Senopati Udawara. Rupanya dia merapal mantra Ajian Tapak Naga Biru yang terkenal.
__ADS_1
Hawa panas segera tercipta di sekitar tubuh Senopati Udawara.
Melihat lawan menggunakan ilmu kanuragan andalannya, Senopati Narapraja pun segera bersiap. Pimpinan pasukan Daha itu segera menyilangkan kedua tangan di depan dada. Kedua telapak tangan segera memutar kemudian menangkup di depan dada. Sinar putih kebiruan seperti petir kecil tercipta dari telapak tangan yang menangkup. Senopati Narapraja merapal Ajian Bledek Sewu yang menjadi andalannya.
Usai Ajian Tapak Naga Biru mencapai kesempurnaan, Senopati Udawara segera melebarkan kuda-kuda kakinya. Lalu dengan berteriak lantang, dia menghantamkan telapak tangan kanannya ke arah Senopati Narapraja.
'Tapak Naga Biru.....'
Chiyyyaaaattttt!!!!
Sinar biru terang berbentuk telapak tangan melesat cepat kearah Senopati Narapraja.
Pemimpin Pasukan Daha itu segera menyongsong sinar biru terang dengan menghantamkan tangan kanannya ke arah sinar biru terang.
'Ajian Bledek Sewu...'
Hiyyyyaaatttt!
Sinar putih kebiruan langsung memapak serangan Senopati Udawara.
Blllaaaaarrrrr!!!!
Ledakan keras terdengar saat dua ajian andalan itu beradu daya. Senopati Udawara terdorong mundur beberapa langkah kebelakang. Dadanya sesak akibat hempasan gelombang kejut dari ledakan keras itu.
Sedangkan Senopati Narapraja terpental jauh ke belakang dan jatuh menghantam tanah. Pemimpin pasukan Panjalu itu muntah darah segar.
Huoghh!!
Tingkat tenaga dalam Senopati Narapraja yang setingkat lebih rendah membuatnya terluka dalam meski tidak parah. Melihat itu, Senopati Udawara menyeringai lebar. Dengan cepat ia kembali menghantamkan tapak tangan kanan nya ke arah Senopati Narapraja yang berusaha bangkit dari tempat jatuhnya.
Sinar biru terang kembali menerabas cepat kearah Senopati Narapraja. Saat yang mengkhawatirkan itu, sebuah bayangan berkelebat cepat ke depan Senopati Narapraja dan menangkis sinar biru terang yang menuju ke arah pemimpin pasukan Daha.
Chlirrrrrrhhh!!
Sinar biru terang segera berbelok arah saat beradu dengan pedang yang berwarna biru dan memantul ke arah sang pemilik.
"Bangsat!!", umpat Senopati Udawara sambil melompat ke udara menghindari sinar biru terang yang berbalik arah kepadanya.
Blaaammmmmmmm!!!!
Sinar biru terang menghantam kearah dua orang prajurit Jenggala yang sedang mengeroyoknya seorang prajurit Panjalu. Mereka berdua langsung terpelanting jauh dan menghantam tanah dengan keras. Tubuh mereka gosong dengan gambar 5 jari tangan. Dua prajurit sial itu tewas seketika.
Senopati Udawara menatap tajam ke arah si pemegang pedang bersinar biru yang tak lain adalah Senopati Maitreya.
Putra Rakai Warak itu sedang menghabisi beberapa prajurit Jenggala yang mencoba untuk mengeroyoknya saat melihat Senopati Narapraja dalam bahaya. Dengan cepat dia menebas leher seorang prajurit Jenggala dan melesat cepat menghadang serangan Senopati Udawara.
"Rupanya ada satu lagi cecunguk Daha yang ingin mampus.
Jangankan satu, seribu pun aku tidak takut", teriak Senopati Udawara dengan jumawa.
Hanya karena bisa melukai seorang prajurit, kau pikir semua orang akan takut pada mu. Mimpi saja kau!", balas Senopati Maitreya dengan cepat.
Senopati Narapraja yang segera berdiri, mengusap darah yang ada di sudut bibirnya. Meski dadanya masih sesak, tapi pemimpin pasukan Daha itu masih mampu melanjutkan pertarungan.
"Terima kasih atas bantuannya Adhi Maitreya. Hutang budi ini suatu saat akan ku balas", ujar Senopati Narapraja sambil menepuk pundak Maitreya.
"Kita hadapi dia bersama-sama, Kakang.
Aku yakin dia pasti bisa kita kalahkan", ucap Senopati Maitreya yang segera membuat Senopati Udawara mencibir pada mereka berdua.
"Kau pikir aku takut menghadapi kalian?
Majulah,
Akan ku kirim nyawamu ke neraka bersamaan", kata Senopati Udawara yang segera memusatkan tenaga dalam nya. Tangan kanannya kembali memancarkan sinar biru terang pertanda Ajian Tapak Naga Biru dia gunakan.
Telapak tangan kanan Senopati Udawara segera menghantam kearah Senopati Narapraja dan Maitreya.
Whuuussshh!
Sinar biru terang segera menerabas cepat kearah dua orang perwira tinggi prajurit Daha itu.
Senopati Maitreya dengan Ilmu Pedang Kahyangan nya dengan cepat membabatkan pedang nya ke sinar biru terang Ajian Tapak Naga Biru. Kembali sinar memantul ke arah lain.
Whummmm...
Blammmmm!!
Senopati Narapraja yang di belakang segera menghantamkan tangan kanannya setelah merapal Ajian Bledek Sewu nya.
Sinar putih kebiruan seperti petir menyambar ke arah Senopati Udawara.
Plasshhhh!!!!
Dengan mengumpat keras, Senopati Udawara menghindari sinar putih kebiruan seperti petir yang menyambar kearah nya dengan melompat ke samping kanan. Kerjasama antara Narapraja dan Maitreya membuat nya kelabakan.
Jleddaaaarrrrr!!!
Sinar putih kebiruan menghantam tanah dan menciptakan lobang besar yang menganga lebar setelah meledak dengan keras.
Narapraja segera mengedipkan matanya pada Maitreya. Senopati Daha itu mengangguk mengerti.
Saat Senopati Udawara kembali menghantamkan Ajian Tapak Naga Biru, Maitreya dengan cepat menangkisnya dengan Ilmu Pedang Kahyangan namun dengan sudut berbeda. Akibatnya pantulan sinar biru terang itu kembali menyasar ke arah sang pemilik ajian.
__ADS_1
Senopati Udawara melompat tinggi ke udara menghindari serangannya yang memantul. Saat Senopati Jenggala itu baru saja melompat, Senopati Narapraja segera melesat cepat sambil menghantamkan tangan kanannya yang diliputi Ajian Bledek Sewu nya ke arah Udawara.
Jlarr!!!
Aaaarrrggghhhh!
Senopati Udawara menjerit keras. Dia sempat menahan sinar putih kebiruan itu namun karena sedikit tak siap, imbas ajian itu masih membuat terpental ke belakang.
Maitreya yang tidak menyia-nyiakan kesempatan ini langsung melesat cepat kearah Senopati Udawara yang mendarat tidak sempurna di tanah. Bilah tajam pedang Senopati Maitreya langsung menebas leher sang pemimpin tertinggi pasukan Jenggala.
Crasshhh!!
Kepala Naga Iblis dari Kahuripan itu langsung menggelinding ke tanah. Tubuhnya roboh bersimbah darah.
Melihat pemimpin mereka tewas, nyali tempur para prajurit Jenggala langsung runtuh.
Tumenggung Kandiwara yang melihat sang pemimpin tewas, segera memerintahkan kepada para prajurit Jenggala untuk mundur.
"Mundur!
Ayo kita mundur!!", teriak Tumenggung Kandiwara sambil memutar kudanya dan memimpin sisa pasukan Jenggala yang tinggal 4 ribu prajurit bergerak menuju ke arah perbatasan antara Jenggala dan Panjalu.
Karena matahari mulai memerah di ufuk barat, Senopati Narapraja memerintahkan kepada para prajurit Panjalu untuk tidak mengejar pasukan Jenggala.
"Tidak perlu di kejar!
Hari ini kita sudah terlalu lelah berperang. Besok pagi kita buru mereka", ucap Senopati Narapraja yang membuat semua prajurit Panjalu berhenti bergerak.
Mereka semua kembali ke arah tenda perkemahan. Hari itu mereka kehilangan 2000 prajurit, lebih dari 500 prajurit luka berat dan ringan. Beristirahat sejenak untuk bersiap mengejar pasukan Jenggala akan sangat membantu memulihkan kondisi tubuh mereka.
**
Panji Watugunung menatap ke arah Ludaka yang baru kembali dari tugas pengintaian mereka.
"Jadi mereka berkemah di tepi hutan itu?", tanya Panji Watugunung sambil mengelus dagunya.
"Benar Gusti Pangeran,
Sepertinya mereka sudah lama berkemah di situ. Beberapa tumpukan besar sampah merupakan bukti bahwa mereka sudah cukup lama tinggal di wilayah itu", jawab Tumenggung Ludaka sambil menghormat pada Panji Watugunung.
Hemmmm
"Kalau mereka telah lama tinggal disitu, bukankah mereka membutuhkan bahan makanan yang banyak?
Apa kalian melihat ada tenda perbekalan di perkemahan mereka? Atau pedati yang mengangkut padi?", tanya Panji Watugunung seraya menatap ke arah Rajegwesi dan Ludaka yang duduk bersila di hadapannya.
"Sejauh kami melihat, tidak ada tenda perbekalan besar di antara perkemahan itu Gusti Pangeran", ujar Demung Rajegwesi dengan cepat.
"Benar dugaan ku,
Ada yang mengirimi bahan makanan pada prajurit Jenggala.
Ludaka,
Cepat sebar telik sandi mu juga para pengintai di sekitar perkemahan mereka", perintah Panji Watugunung segera.
"Untuk apa Gusti Pangeran kalau saya boleh tau?", tanya Tumenggung Ludaka yang sedikit kebingungan dengan maksud ucapan Panji Watugunung.
"Cari gudang penyimpanan makanan mereka.
Jika ketemu, bakar!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
__ADS_1
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍 vote ☝️ favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya
Selamat membaca 🙏🙏🙏